
"Tidak ada wanita yang merayumu kan?" tanya Lulu disela minumnya.
"Ada, ----" ucap Daffa terpotong
"Apa!!!!" teriak Lulu hingga mengagetkan Bi Ningsih dan Bi Tuti yang tengah menyesap air kelapa mudanya.
"Kamu ini ya! aku belum selesai ngomong langsung disahut duluan" gerutu Daffa menepuk jidat sang Istri.
"Lalu gimana? pasti kau ladeni kan?" tanya Lulu gemas. Daffa menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar.
"Ada, tapi aku cuma cuek aja gak ladeni mereka. tadi mereka ajak kenalan, untung saja si bapak penjual langsung manggil aku" jelas Daffa.
"Siip-siip! harus gitu" ucap Lulu mengacungkan jempol pada suaminya.
"Tapi itu tidak gratis sayang" bisik Daffa dengan nada sensual lalu menghembus telinga Lulu. Lulu melotot mendengar ujaran itu, sedangkan Daffa langsung mengerlingkan sebelah matanya.
"Dasar suami mesum! malah minta tagihan" gerutu Lulu dalam hati.
Tidak terasa hari sudah semakin siang, Daffa dan rombongannya baru saja keluar dari mushola yang letaknya tak jauh dari pantai. Kini Daffa dan kedua Bibi tengah mengangkut barang bawaan mereka berupa wadah nasi dan lauk pauk, tak lupa juga tikar yang mengalaskan duduk mereka. seperti bertamasya, makan ditepi pantai sangatlah syahdu. Namun Daffa mengajak mereka duduk sedikit berjauhan dari pantai karna takut akan merasa tidak nyaman berada dekat-dekat mereka yang tengah bermain.
"Yaaaaa kita duduk disini saja ya" ucap Daffa membentangkan tikar itu. setelahnya acara makan siang pun dimulai, melahap santapan siang yang sedikit telat dengan begitu nikmat apalagi disuguhi dengan pemandangan alam biru yang membentang luas. Nikmat yang berkali-kali lipat bagi mereka berempat.
"Eeeeek......... alhamdulillah, kenyang" ucap Lulu bersendewa sembari cengengesan.
Hari sudah semakin sore, Lulu mengajak suaminya untuk pulang karna ia sudah mulai kelelahan dan mengantuk. bagaimana tidak, dikehamilan tua sangatlah rentan untuk merasa kelelahan. Daffa menurutinya, mereka pun kembali ke mobil untuk mengantarkan mereka pada kediaman anak dan menantu Mahesa.
Daffa mulai menyalakan mesin setelah semuanyaa masuk ke mobil dengan pasti. Ia pun menekan pedal gas dan melajukannya dengan pelan penuh hati-hati. Baru saja mobil melaju, tidak ada celotehan dari sang istri. Daffa pun melirik kesamping, ternyata si tukang ribut tengah mengunjungi alam mimpi didalam tidurnya. Daffa tersenyum, mengelus rambut sang istri dengan begitu sayangnya ia pada Lulu.
"Baru jalan sudah tidur ya Bi" ucap Daffa pada Bibi yang tidak sengaja juga melihat majikannya tertidur.
"Iya Tuan. Nyonya kelelahan itu apalagi di masa hamil tua" ujar Bi Tuti.
"Daffa gak sabar nunggu dedek. perkiraan dokter sekitar dua minggu lagi" ucapnya.
"Sabar Tuan, hari berlalu dengan cepat" ucap Bi Ningsih. Daffa pun hanya tersenyum, tidak sabar menunggu si ucul untuk melihat Ammi dan Appinya di dunia.
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Daffa akhirnya telah tiba dikediaman mereka. Daffa menggendong sang istri yang masih tertidur dalam dekapannya. Daffa sudah tidak kuat mengangkatnya, terpaksa ia menaruh Lulu disofa ruang keluarga dengan hati-hati.
__ADS_1
"Yang-yang, berat amat badanmu. taruh disini saja ya dari pada kita jatuh saat menaiki tangga" ucap Daffa menatap wajah pulas nan nyenyak itu. Daffa menduduki tubuhnya disamping sang istri, menyalakan tv untuk menemaninya menjaga Lulu agar tidak jatuh.
*
*
Satu minggu kemudian, Lulu mulai merasa suntuk dirumah. ia pun berinisiatif untuk membawa makan siang untuk suaminya yang tengah bekerja dikantor. Lulu mendatangi Bibi di dapur, sedikit lagi masakan sudah selesai. Lulu juga meminta buatin brownies rainbow dan cokelat untuk cemilannya.
"Bi, masakannya lama lagi? Lulu takut Daffa malah makan diluar" ucap Lulu mulai mengambil wadah untuk brownies.
"Sedikit lagi Nyonya. bibi bantu dulu siapin nasi dan lauk lainnya ya" ujar Bi Ningsih.
"Iya bi" ucap Lulu sembari menatap jam didinding dapur sudah menunjukkan pukul 11:30 WIB. hingga sepuluh menit kemudian, masakan terakhir pun telah selesai. segera Bibi memasukinya kedalam wadah rantang. Lulu pun tersenyum puas, semuanya sudah selesai dan ia pun membawanya bersama mang Asep yang akan mengantarkannya.
"Nyonya yakin mau ke kantor? sebentar lagi Nyonya mau lahiran lho, bibi takut kenapa-napa" ucap Bi Ningsih.
"Tenang saja bi. tidak apa kok" ucap Lulu yakin. Bibi pun mengangguk mengerti.
"Hati-hati Nyonya" ucap Bibi.
"Mang, ayo dong" pinta Lulu.
"Maaf nyonya, kali ini tidak bisa. jalanan cukup ramai" ucap mang Asep.
"Yasudah, tiba disana belok. kita lewat motong biar cepat. disana juga sepi" ujar Lulu mencebikkan bibirnya.
"Baik Nyonya" turut mang Asep.
Tibalah mobil didepan gedung Mahesa 2 yang menjulang tinggi hingga beberapa lantai. gedung yang diyakini adalah anak atau cabang dari perusahaan Mahesa yang dikelola oleh papa Mahesa. Lulu pun segera turun dengan hati-hati, meninggalkan mobil sembari berjalan memasuki gedung itu.
"Nyonya, selamat siang" sapa salah seorang pegawai wanita.
"Siang juga" sahut Lulu tersenyum. Lulu selalu memberikan senyumannya pada mereka yang menyapa ataupun hanya sekedaar menatap. Lulu mengedarkan pandangan, merasa rindu dengan gedung yang cukup lama ia tempati ini.
Lulu pun memasuki lift, menenteng rantang yang ia bawa dan tangan satu lagi menahap beban si ucul yang menempati perut Lulu yang sudah sangat membesar.
Ting,
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Lulu kembali melangkah dengan pelan namun pasti, menuju ruang suaminya tercinta. Lulu menyelonong masuk, tanpa mengetuk terlebih dahulu ruangan itu. tampak Daffa yang baru saja menutup laptopnya lalu meregangkan otot-ototnya yang kaku. ia pun berdiri, alangkah terkejutnya Daffa menatap sang istri yang langsung ada didepan matanya.
"Sayang, sejak kapan masuk?" tanya Daffa bingung lalu mendekati Lulu.
"Baru saja. kau tampak kelelahan ya" ucap Lulu yang sedari tadi memperhatikan suaminya.
"Sangat. aku harus kerja ekstra agar bisa cuti untuk menemanimu. lagian aku gak mau terlalu menyusahkan Roni karna ngidamnya Karin bermacam-macam dan harus diturutinya" jelas Daffa.
"Tunggu-tunggu. kak Karin udah hamil?" tanya Lulu tersenyum.
"Sudah. baru dua bulan" ucap Daffa menggiring Lulu untuk menduduki sofa.
"Alhamdulillah, akhirnya dikasih rejeki juga setelah menunggu beberapa bulan" ucap Lulu teramat senang.
"Iya yang. tapi kasihan Roni, ngidam istrinya aneh-aneh" ucap Daffa.
"Emangnya apa?" tanya Lulu penasaran lalu menaruh rantang diatas meja. kini keduanya malah lupa untuk makan siang.
"Minta tanda tangan aktor india yang bernama Arjun Bijlani kalau gak salah ya, terpaksa Roni sekarang terbang ke India pakai jet papa" ujar Daffa.
"Astaga, sampai segitunya ngidam kak Karin" ucap Lulu.
"Kemarin juga minta dibuatkan makanan khas India sama Roni" ucap Daffa yang sepertinya mahir sekali dalam mengghibah.π
"Berarti kak Karin doyan India ya" tebak Lulu.
"Yaiya, stock dvd-nya rata-rata serial India kok" ucap Daffa.
"Kok kamu tau semua tentang kak Karin??" tanya Lulu penasaran.
"Ya tau, orang dia---
Β°
Β°
Β°
__ADS_1