Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
182. Jealous


__ADS_3

Daffa tetap memerhatikan istrinya dari jauh, namun saat memerhatikannya Lulu tampak menghampiri seorang pria.


"Siapa itu? apakaah...... astaga!" gumam Daffa berfikir siapa pria itu. seketika Daffa ingat bahwa Mall ini adalah tempat kerja mantan istrinya itu. Daffa segera beranjak dari duduknya dan menaruh barang belanjaan Lulu didekat Gibran.


"Mau kemana tuan?" tanya Gibran.


"Ke tempat Lulu sebentar. jaga barang ini!" perintah Daffa dan segera berjalan cepat dengan gagahnya.


"Sial! aku salah tempat mengajak istriku kesini" gumam Daffa dalam hati.


Ditempat Lulu, ia sedang memanggil pria itu, pria itu pun menoleh dan tersenyum semringah melihat mantan kekasih yang ia sakiti itu datang menghampirinya.


"Dimas!" panggil Lulu, Dimas membalikkan badannya menatap Lulu.


"Eh Lu, sama siapa kesini?" tanya Dimas yang tengah memegang kain pel.


"Suami dan rekan kerja" jawab Lulu. Dimas pun mengangguk mengerti.


"Ini, uang bensin kemarin, terima kasih" ucap Lulu memberi uang itu pada Dimas dengan wajah datar nan dingin, tidak sehangat dulu saat bersamanya.


"Heem, tidak perlu Lu" tolak Dimas mendorong tangan Lulu.


"Ehem!!!!" deheman seseorang membuyarkan percakapan mereka hingga Lulu dan Dimas menatap pemilik suara berdehem itu.


"Sayang.." sahut Lulu.


"Jadi kamu mengajak belanja disini hanya untuk bertemu mantanmu ini hm?" tuduh Daffa menatap tajam istrinya.


"Tidak Tuan, Lulu berniat mengembalikan uang pada saya" sahut Dimas.


"Apakah benar Lu?" tanya Daffa.


"Iya yang. kemarin Dimas menolongku bayarin bensin" ucap Lulu yang mulai ketakutan menatap wajah suaminya.


"Astaga, justru itu kau pulang sangat lama ternyata tengah berduaan dengan mantan!" ucap Daffa menatap sinis Dimas dan istrinya.


"Hanya membantuku ke pertamini yang. itu saja kok setelahnya aku pergi" ucap Lulu memegang tangan suaminya

__ADS_1


"Benar Tuan, kita gak ada apa-apa. saya juga tidak berniat untuk mengganggu Lulu" jelas Dimas.


"Awas saja kalau sekali lagi aku melihat kalian bertemu!" ancam Daffa dan segera mengajak Lulu pergi dari sana. kali ini perasaannya kesal, marah dan pastinya tidak suka melihat istrinya bertemu mantan. apalagi kemarin mereka bertemu, Daffa semakin marah dan memilih untuk menunggu di parkiran.


"Belanjalah cepat! aku tunggu di mobil" ujar Daffa segera pergi meninggalkan Lulu yang terpaku. Daffa berjalan dengan cepat menghampiri Gibran untuk mengambil baraang belanjaan istrinya.


Lulu terdiam, matanya berkaca-kaca menatap kepergian suaminya. Rani menghampiri Lulu yang terlihat tampak sedih. ternyata Rani jugaa memerhatikan mereka sedari tadi.


"Ada apa?" tanya Rani memegang pundak Lulu. Lulu tersadar, segera menghapus air matanya yang hampir menetes.


"Eh haa tidak apa. belanjaanmu sudah banyak ya. tunggu aku sebentar ya" ucap Lulu segera mengambil ini dan itu dengan cepat secara sembarangan. hingga dalam dua menit ia telah selesai belanja. Lulu dan Rani menghampiri kasir, barang belanjaaan mereka sangat sedikit sebab Lulu sudah tidak menginginkan belanja lagi.


Mereka bertiga berjalan keluar dari Hypermart. Lulu berjalan dengan cepat untuk menuju keluar mall. sedangkan Gibran terheran-heran dengan sikap Lulu dan Daffa yang berubah seratus delapan puluh derajat.


"Ada apa dengan mereka?" bisik Gibran pada Rani.


"Tuan Daffa cemburu melihat Lulu bersama mantannya" jawab Rani menatap punggung Lulu yang berjalan sedikit jauh dengannya.


"Astaga.." gumam Gibran.


"Sampai kapan kalian berjalan lama seperti itu!!" gertak Lulu yang tampaknya sangat kesal.


"Ayo cepat.." ajak Rani menarik tangan Gibran.


"Dia kalau marah ngeri juga" bisik Gibran.


Hingga mereka bertiga telah tiba diparkiran. Daffa yang melihat istrinya segera menetralkan perasaannya yang sedang berkecamuk. Gibran membuka pintu untuk Lulu dan membiarkan Nyonya-nya itu memasuki terlebih dahulu dan disusul oleh Rani. Gibran pun memasuki pintu depan dan menduduki tubuhnya dibelakang setir.


Hening, tidak ada yang bercakap satupun. Daffa menatap jendela samping sembari melamun, begitupun dengan Lulu yang merasa kesal akan dirinya yang telah membuat Daffa marah. Lulu terus memandang jalanan sembari berfikir apa yang akan ia lakukan untuk mengembalikan mood Daffa seperti sedia kala.


Rani memerhatikan keduanya, ia bingung harus bersikap seperti apa. ia menatap Gibran dari balik spion depan, kebetulan Gibran juga menoleh padanya. Rani berbicara dengan Gibran lewat sorotan mata dan bahasa isyarat. Rani menunjuk Lulu dan Daffa dengan jari telunjuknya lalu menepuk jidatnya merasa bingung, Gibran hanya membalas dengan mengangkat pundaknya dan menaruh jari telunjuknya didepan bibir seolah-olah menyuruh Rani untuk diam saja. Rani pun menurutinya dan memilih berdiam diri sembari menatap luar jendela.


"Lebih baik diam saja, mereka ini kadang somplak dan sekarang berdiaman" gumam Rani dalam hati.


"Aku harus apa supaya Daffa tidak marah lagi?? ucul, bantu ammi.. maafkan ammi" gumam Lulu dalam hati.


"Bisa-bisanya ketemu mantan tapi tidak bercerita denganku! sekarang pandai main sembunyi!" gumam Daffa dalam hati.

__ADS_1


"Cepatlah tiba, kenapa jalanan ramai sekali. suasana sangat tidak mendukung" gumam Gibran dalam hati.


Kini ke empat orang itu tengah berperang dalam pikiran mereka. ingin rasanya Rani mengajak Lulu untuk berbicara namun mengingat perihal tadi saat Lulu menggertak mereka membuat nyali Rani menciut. ternyata Lulu yang manis nan lembut, apabila marah sangat mengerikan.


Hingga yang ditunggu Gibran pun telah tiba, mereka telah tiba di gedung yang menjulang tinggi itu. ia segera memarkirkan mobil Assistant Roni ke Basement. Daffa segera turun dan pergi meninggalkan Lulu dan yang lainnya. Lulu merasa sedih menatap punggung suaminya itu. dengan nyali yang mendorongnya untuk berani, Rani memegang tangan sahabatnya dengan perasaan gugup. Lulu menoleh menatap Rani sebentar, dan langsung memeluknya karna saat ini Lulu sangat butuh sandaran. Rani terkejut, ia menatap Gibran seolah tak percaya bahwa Lulu gak memarahinya. Gibran tersenyum dan melambaikan tangan pada Rani, setelahnya ia pergi meninggalkan kedua wanita itu.


"Lu, kamu tidak apa-apa?" tanya Rani memegang punggung Lulu.


"Tidak, maaf ya tadi aku membentak kalian" ucap Lulu tersenyum paksa.


"Tidak apa, wajar kok. sekarang mau gak cerita apaa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rani.


"Aku bingung bagaimana caranya membujuk Daffa agar tidak marah lagi" ucap Lulu. Rani berfikir sejenak, solusi apa yang ingin ia berikan.


"Aku ada ide!" ujar Rani tersenyum.


"Apa?" tanya Lulu.


"Ada deh, ayo masuk" ajak Rani yang entah ide apa yang diberikannya. Lulu pun bingung, ide apa yang dibicarakannya.


Kini keduanya telah tiba dilantai tempat mereka bekerja. Rani menyuruh Lulu memberikan kopi untuk Daffa namun tidak memakai gula sedikitpun. Rani segera ke pantri untuk menbuat hasil racikannya. Lulu menunggu, menatap heran sahabatnya itu.


"Kok gak pakai gula sih?" tanya Lulu heran.


"Kalau pakai gula mah, percuma. nanti juga terbuang" ujar Rani mengedipkan sebelah matanya. Lulu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rani benar-benar memberi ide gila padanya.


"Bukannya membujuk, malah dia akan semakin marah padaku membuat kopi tanpa gula"


Β°


Β°


Β°


Apa ya idenya??? hmmmmm....


jangan lupa like, koment, dan hadiah bunganya yaa πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


Love you all 😘😘


__ADS_2