Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
250. Lulu menjadi devil


__ADS_3

Sheilla diketahui sudah kabur dari tahanan, entah kenapa Lulu mudah percaya pada informasi yang tertera dari surat milik Nathan. padahal itu belum tentu kebenarannya nyata atau tidak. Namun setelah melewati segerombolan preman yang menyerangnya pada hari lalu membuatnya begitu percaya. Hari ini Yura kembali masuk sekolah pada pagi ini, begitu pun Daffa yang akan ke kantor. Papa Mahesa sudah mengerahkan beberapa pengawal untuk menjaga rumah anaknya. sedangkan Daffa mengerahkan pengawal untuk mengantar jemput Ayura juga Mira hingga terus standby di sekolah itu.


"Jaga anakku!" perintah Daffa pada pengawalnya.


"Siap bos" turutnya hingga Daffa pun pergi meninggalkan pekarangan sekolah itu setelah mengantar sang putri bersama pengawal. Daffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor dengan satu mobil yang mengikutinya dari belakang.


"Om ngapain ikut sih?" tanya Yura melihat pengawalnya berdiri tegap dibelakang tubuhnya.


"Om akan jaga kamu sayang" ujarnya tersenyum. Yura pun manggut-manggut dan berlalu pergi ke kelasnya.


Ditempat seseorang, ia mulai menjalankan aksinya setelah ia bertemu teman masa lalunya. Kebetulan bos temannya itu memiliki anak buah hingga ia meminjamnya dengan upah semacam melayani. Kini mereka berada di rumah Lulu, berencana untuk menculik si kembar yang sempat ia lihat kemarin pagi. Rumah sangat sepi, hanya ada penjaga rumah yang si mamang.


"Bagaimana mau masuk?" tanya temannya.


"Lewat belakang" ucapnya tersenyum seringai lalu mereka mulai melancarkan aksinya. Tibalah di belakang rumah, tembok pagar tampak sangat tinggi, seseorang itu pun menyuruh anak buahnya untuk mencari tangga. Hingga anak buahnya pun mendapati tangga tersebut dari rumah sebelah. Ia menaikinya, tiga orang telah berhasil memasuki pekarangan rumah itu.


"Semoga mereka berhasil menculik anaknya" ucap temannya.


Anak buah pun memasuki rumah dengan cara mengendap-ngendap, melewati pintu samping karna dibagian dapur Bibi tengah memasak untuk makan siang.


"Aman bro, buka pintunya" suruh temannya. temannya yang berada di depan pun segera membuka pintu dengan pelan. Nasib mujur berpihak pada mereka karna pintu itu tidak terkunci. Namun sayang, kemujuran itu hanya bersifat sementara karena anak buah penjahat itu langsung dibekuk hingga mereka tersungkur ke lantai.


Brak!!


"Uuuh.." rintih mereka.


Ternyata dari dalam rumah terdapat dua pengawal milik papa Mahesa, dan dari luar terdapat tiga orang yang sedari tadi mengikuti mereka. Anak buah penjahat itu terlalu bodoh, padahal dibelakang rumah terdapat cctv yang tersembunyi hingga mereka semua tau ada beberapa orang menyelundup masuk ke area rumah anak dan cucu Mahesa. Sedangkan seorang wanita dan temannya yang membuat rencana itu pun langsung kabur saat mereka ketahuan oleh pengawal Mahesa.


"Woi!! jangan kabur!!" teriak pengawal Mahesa.


"Sial!! ayo cepat!" desak wanita yang memakai hoodie. Mereka pun berlari sekencang mungkin menelusuri semak-semak belukar di belakang rumah Daffa itu.


Sedangkan anak buah mereka, dibawa ke gudang rumah dan menyekapnya disana. tidak lupa untuk memborgol tangan dan mengikat kakinya. Lulu yang mengetahui para penjahat sudah memasuki rumahnya, ia pun berlekas turun dari tangga setelah menidurkan kedua anak kembarnya yang baru saja selesai belajar membaca. Lulu berlari kencang namun tetap berhati-hati, Ia pun segera ke gudang untuk menemui penjahat itu.


Ceklek,


"Nyonya, tiga penjahat yang diketahui adalah anak buah seseorang sudah kami bekuk" beritahunya pada Lulu.


"Dimana mereka?" tanya Lulu dengan wajahnya yang dingin.

__ADS_1


"Ayo ikut kami" ucap mereka hingga tibalah ditempat penjahat itu diikat diatas kursi. tampak sekali wajah mereka sudah lebam akibat pukulan dari pengawalnya.


"Ambil air" perintah Lulu. mereka menurutinya, pergi ke dapur untuk mengambil air tiga ember kecil. sembari menunggu, Lulu menatap sinis wajah mereka yang terlelap. Ternyata yang memasuki rumahnya adalah para preman kemarin yang menghalangi jalannya untuk pulang.


"Ternyata mereka lagi" gumam Lulu menarik sudut bibir sebelah ke atas. Lulu melihat wajah mereka dari video yang ia rekam saat melawan preman itu kemarin.


"Kalian ajak aku bermain, dan kini tibalah saatnya kita bermain kawan!" gumam Lulu tersenyum seringai sembari memegang erat ponselnya. Tibalah para pengawal Mahesa membawa air yang dipinta oleh Lulu. Mereka menaruhnya tepat didepan Lulu.


"Siram wajah mereka" perintahnya dan melakukan suruhan itu.


Byuuuur!!! byuuuuur!! byuuuur!!!


Seketika mereka pun sadar sembari mencoba mengambil nafas karna air yang memasuki hidungnya. Nafas mereka terengah-engah, mengerjapkan kedua mata untuk melihat sekitarnya yang terdapat dua pengawal juga seorang wanita yang bernama Lulu. sontak mereka pun terkejut melihat Lulu yang mereka hajar kemarin.


"Kenapa? kaget??" ujar Lulu menyedekapkan kedua tangannya didada.


"Saya mohon Nona, lepaskan kami" pinta salah satu dari mereka.


"Lepas??? setelah kau memasuki lubang buaya dengan seenaknya lalu kalian meminta dilepasin dari jeratan itu??? sungguh konyol! bukankah kalian ingin bermain denganku pada tempo lalu hm?" ujar Lulu berteriak. tampak sekali amarah Lulu semakin menggebu setelah mereka mengusik kehidupannya yang telah damai. Lulu memang tidak pernah marah, namun karna hidupnya diusik, Lulu tak segan-segan mengeluarkan wajah sangar nan devil dari balik kelembutannya.


"Tidak, kami tidak mengganggu nona lagi" ucapnya menggeleng. Lulu yang mendengarnya pun hanya mendelik kesal, menatap sinis kearah lain.


"Itu???" Mereka heran ada video mereka didalam ponsel itu.


"Hahahahahaha, permainan kita dimulai sayang" teriak Lulu menggelegar di ruangan itu membuat mereka bergidik ngeri.


"Kalian benar-benar sudah terjerat!!" ucap Lulu lalu memotret diri mereka.


"Kemarin aku merekam diri kalian, dan sekarang.... aku memotret tubuh kalian yang cemen itu! dan.... selanjutnya.... lo, lo dan lo akan mendekam di penjara! Hahahahahaha" Lulu begitu gembira sekali kali ini bisa menjerat para penjahat itu didalam genggamannya. Namun wajahnya yang cantik itu berubah menjadi devil menatap mereka yang mengiba.


"Saya mohon jangan jebloskan kami ke penjara, Nona" ucapnya memohon. Lulu pun berfikir sejenak dengan gaya anggunnya.


"Lebih baik aku tanya keberadaan Sheila, dengan imbalan mereka dibebaskan. oke boleh juga. lagian...... Mereka mana mungkin bebas. hahaha" gumam Lulu sembari tersenyum lalu kembali menatap para preman itu.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk mengganggu kehidupan kami?!" tanya Lulu dengan lantang.


"Hmmm, Sheila" jawabnya ragu. tapi setelah berfikir, Sheila juga bukan siapa-siapa mereka.


"Ooooh, Sheila rupanya, sudah ku duga" gumam Lulu dalam hati.

__ADS_1


"Apa kalian anak buahnya?" tanya Lulu kemudian.


"Ya" jawab mereka serempak. Lulu menyipitkan matanya, merasa gak yakin bila mereka adalah anak buah Sheila, kecuali mereka dibayar.


Lulu pun mulai mengintrogasi mereka layaknya seorang polisi.


"Dia dapat kalian darimana? apa kalian anak buah dari seseorang lalu dia meminjam kalian untuk menggangguku?" tanya Lulu.


"Tidak, dia mendapati kami dari pasar" jawab mereka berbohong. Sebenarnya mereka tidak ingin membawa nama Tuannya. Lulu pun manggut-manggut mengerti.


"Lalu apa rencana dia selanjutnya? katakan! jika kalian ingin lepas dari sini" gertak Lulu.


"Menculik ketiga anakmu, itu saja" jawabnya jujur.


"Kurang ajar!!" gumam Lulu lalu meraih ponsel untuk melihat jam.


"Sudah pukul dua belas, pasti mereka sudah pulang. aku akan menelpon pengawal papa" gumam Lulu mencari kontak pengawalnya.


Drrrt drrrrt...


"Hallo Nyonya" sahutnya dari seberang sana.


"Hallo, apa Yura sudah bersama kalian?" tanya Lulu sembari berjalan menjauh dari mereka. Seketika pintu gudang pun terbuka karna orangtua dan mertuanya memasuki gudang itu.


"Belum, Nyonya. disini sudah hampir sepi tapi Nona belum juga keluar" jawabnya yang mulai risau.


"Apa!! bagaimana bisa dia belum keluar! cari sampai kedalam sekolah cepat!!" perintah Lulu berteriak. Lulu pun mulai cemas dengan anaknya dan mematikan panggilan secara sepihak.


"Lulu, Yura bersama mereka kan?" tanya mama Sonya.


Drrttt.... drrrrt.....


Seseorang kembali menelpon, Lulu menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan mertuanya dan Lulu pun mengangkat telepon itu dan berjalan keluar dari gudang.


"Hallo kak Fer" ternyata itu adalah telepon dari Ferdi.


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2