
Satu harian Lulu dan Daffa menghabiskan waktu hanya dikamar untuk memadu kasih, kini keduanya tengah terkapar diatas ranjang sebab merasa lelah dengan aktivitas mereka yang mengguncang ranjang tersebut. hanya dengan berbalut selimut yang dikenakan, Lulu tertiidur dengan pulas.
Tidak terasa hari pun sudah sore, Lulu dan Daffa terbangun dari tidurnya menatap luar jendela tampak langit yang sudah tidak terik lagi.
"Sudah sore ya yang?" tanya Lulu pada suaminya. Daffa melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Iya, masih lelah?" tanya Daffa dan diangguki oleh Lulu.
"Istirahatlah yang untuk kumpulin tenagamu nanti malam" ujar Daffa tersenyum jahil.
"Ah aku gak mau" tolak Lulu.
"Lihat saja nanti" ucap Daffa berlalu pergi ke kamar mandi. Lulu menduduki dirinya, menatap tubuhnya yang sangat polos. melihatnya saja membuat dirinya sangat malu apalagi Daffa yang melihat tubuhnya. tidak bisa dibayangkan. Lulu beranjak, mengenakan kimono dan berjalan menghampiri balkon.
Malam hari telah tiba, Lulu memohon untuk pergi jalan-jalan menikmati pemandangan malam dikota Paris. Daffa pun menurutinya, kini mereka telah berada di Place De La Concorde, yaitu tempat wisata yang akan menyajikan pemandangan perancis yang khas. ada Alun-alun yang berbentuk oktagon yang berada di antara Tuiliries Gardens dan jalan Champs Elysees ini dirancang cantik dengan keberadaan ornamen taman, air mancur, hingga lampu-lampu taman yang indah, terutama saat malam hari.
Tak jauh dari tempat wisata ini, terdapat kincir raksasa yang memungkinkanmu menikmati pemandangan kota dari ketinggian.
Kini Lulu dan Daffa tengah berada didalam kincir angin tersebut, menikmati pemandangan kota yang sangat indah dan memukau.
"Lihat deh yang, disini pemandangannya indah banget" ucap Lulu terpukau.
"Sangat indah, tapi lebih indah kamu" goda Daffa menatap istrinya.
"Bisa saja deh, jadi kembang ntar hidungku" ucap Lulu memegang hidungnya.
"Gak digoda pun hidung kamu juga kembang. hahahah" ledek Daffa tertawa.
"Menyebalkan!" gumam Lulu kesal hingga ia lebih memilih diam membuang wajahnya kearah lain.
"Yaa gitu aja merajuk sayangku ini" ucap Daffa mengacak-acak rambut Lulu.
"Dont touch me!" teriak Lulu menepiskan tangan Daffa. Daffa pun segera memeluk istrinya, sesekali mengecup leher Lulu membuat Lulu tampak sedikit geli.
__ADS_1
Setelah puas menaiki kincir angin, keduanya sudah mulai merasakan lapar. kini Lulu dan Daffa tengah makan malam disebuah restoran mewah yang tidak jauh dari sana. Lulu sangat menikmati, hingga ia memilih pesan lagi dan lagi.
"Awas gendut yang" peringat Daffa.
"Emang kenapa kalau gendut?" tanya Lulu yang sedang mengunyah.
"Makin gemas, bisa ku jadikan bantal tubuhmu itu" jawab Daffa.
"Sebelum kau jadikan bantal, ku tendang dulu tubuhmu ke bawah karna tubuhku yang gendut tidak muat tidur berdua" ujar Lulu membuat Daffa kalah telak hingga ia pun terdiam menelan salivanya dengan susah.
"Sadis amat yang" ucapnya.
Perut kenyang hati pun senang, begitulah sekiranya kata orang kalau kita sudah makan makanan yang lezat. seperti itulah Lulu, merasa kekenyangan hingga ia pun bersemangat untuk berkeliling lagi. Lulu yang antusiasnya ingin melihat petasan dan kembang api didekat menara eiffel, ia berjalan merentangkan kedua tangan dan memutari tubuhnya membuat Daffa tersenyum melihat istrinya yang ceria. namun, Lulu sangat ceroboh hingga ia tidak melihat jalanan yang cukup ramai dan mobil yang melaju kencang berusaha untuk menghindar.
Tit tit tit!!
Haaaaa.........
Daffa yang sedang membeli gulali mendengar teriakan Lulu hingga mengharuskannya untuk berlari menemui Lulu yang berteriak. seketika gulali yang dipegangnya terjatuh, Daffa shock melihat Lulu yang telah terkapar di tengah jalan.
"Lulu!! bangun!!" teriak Daffa mengguncang istrinya. Lulu tak kunjung bangun, Daffa memerhatikan seluruh tubuh istrinya. terdapat betis dan lututnya terluka hingga mengeluarkan banyak darah. Daffa menatap mobil yang berhenti tepat didepan Lulu, ya pasti itu mobil yang menabrak istri tercintanya.
"Saya Tuan, istri anda yang bersalah. berjalan tidak melihat jalanan yang ramai" ucapnya dengan tenang.
"Kau melihat istriku tapi kenapa kau menabraknya!" teriak Daffa hingga meneteskan air mata.
"Saya sudah mengklakson, kebetulan saya sedang terburu-buru. mohon maaf, saya bersedia mengantarkan istri anda kerumah sakit" ujarnya bertanggung jawab walaupun pria itu merasa tidak bersalah. Daffa pun tidak punya cara lagi, ia harus menyelamatkan istrinya. Daffa pun segera melangkahkan kakinya menuju mobil si penabrak.
Mobil pun melaju kencang namun tetap berhati-hati, hingga mereka pun telah tiba di Rumah sakit terdekat.
"Tuan, maaf saya cuma bisa mengantarkan sampai sini, ini sedikit uang untuk administrasinya sebagai rasa tanggung jawab saya" ujarnya memberikan uang berlembar-lembar kepada Daffa.
Daffa melihat uang itu dan berbalik menatap pria itu, sejenak ia terdiam seolah sedang berfikir.
"Tidak perlu. istriku yang bersalah, terima kasih sudah mengantarkan sampai sini" ucap Daffa segera turun dari mobil itu. si penabrak pun tercengang, ia kembali memasuki uangnya ke dalam dompet dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit sebab ia juga terburu-buru.
__ADS_1
Dengan langkahnya yang terburu-buru, Daffa memasuki lobi rumah sakit dan berteriak minta tolong.
"Dokter, suster, tolong istri saya" teriak Daffa mengundang mata menatap dirinya. para suster pun datang dengan membawa brankar, dengan segera Daffa menaruh istrinya diatas sana. Brankar pun didorong ke ruang Unit Gawat Darurat.
"Tuan disini dulu, pasien akan kami tangani" ucap suster tersebut.
Daffa menduduki dirinya diatas kursi depan ruang UGD, menunggu sang istri sambil mengusap rambutnya kasar.
"Lulu, seharusnya aku tidak membiarkanmu dijalanan itu" gumamnya frustasi.
Setengah jam kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Daffa segera berdiri untuk menanyakan keadaan istrinya.
"Bagaimana istri saya dok?" tanya Daffa.
"Tidak ada luka dalam, hanya saja ia shock hingga pingsan. kakinya juga sudah saya obati" ucapnya dengan ramah.
"Alhamdulillah" gumam Daffa.
"Ohiya, saya bersyukur janin yang dikandungnya tidak terjadi apa-apa. kalau sampai pasien terluka disekujur tubuh, akan berdampak pada janinnya" ujar dokter kembali menjelaskan. Daffa tercengang, ia menatap lekat dokter itu dan sangat kaget mendengar nama janin yang disebut.
"Janin?? istri saya hamil?" tanya Daffa.
"Ya Tuan, apa anda tidak tau? beliau telah mengandung lima minggu" ucapnya heran.
"Lima minggu?" gumam Daffa.
"Kalau anda penasaran, kita bisa ke dokter kandungan untuk memeriksa lebih detailnya" ujar Dokter itu yang tau apa yang dipikirkan Daffa.
"Iya dok saya mau" ucap Daffa yang tampak senang membuat dokter itu tersenyum.
"Baiklah, kita tunggu pasien kembali siuman" ucap dokter itu dan berlalu pergi. sedang Lulu mau dibawa ke ruang rawat inap dengan diikuti oleh Daffa.
"*Anakku.... Lulu..."
°
__ADS_1
°
°*