Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
89. Memeluk baju


__ADS_3

Daffa menyuruh Bibi untuk memungut baju-baju tidur dan kaos Sheila yang ada didalam lemari dan menaruhnya didalam tas.


Sheila pun baru tiba dirumahnya dan keluar taksi dengan perasaan sedihnya. Ia pun segera menerobos masuk dan melihat Daffa dan Bibi berdiri di pintu kamar Sheila.


"Daf, jangan usir aku, plis" ucap Sheila memohon.


"Sini kau!" ucap Daffa menarik paksa tangan Sheila dan membawanya keluar rumah lalu melemparnya direrumputan halaman rumah Sheila.


"Mana bi?" pinta Daffa mengulurkan tangannya meminta tas untuk Sheila.


"Ini den.." serah Bibi memberikan tasnya. Daffa pun mengambilnya dan melemparkan tas itu ke wajah Sheila.


"Bawa barang-barang mu itu dan pergi dari sini!! jangan pernah kembali dan ingat rumah ini bukan punya kamu!" ucap Daffa marah.


Sheila pun menangis dan merangkak hingga memeluk kaki Daffa,


"Aku mohon Daf, aku akan berubah.. jangan usir aku. hiks hiks" pinta Sheila memohon.


"Bahkan aku jijik melihat tubuh mu! Pergilah!!" usir Daffa menendang wajah Sheila hingga ia terdorong ke belakang. Sheila pun terpaksa pergi dengan menenteng tasnya.


Setelah Sheila pergi, Daffa pun bisa bernafas lega. ia pun terduduk dibangku teras rumah itu sambil mengusap kepalanya.


"Den, maaf.. Bibi buatkan minum yaaa" ucap Bibi yang melihat tuannya itu merasa kecapekan.


"Tidak perlu bi. Oyah bi, Maafkan Daffa tidak bisa memperkerjakan bibi lagi" ucap Daffa.


"Tidak apa den, Bibi juga mau ke kampung lagi dan bersawah disana" ucap Bibi.


"Baiklah bi, tapi Bibi tunggu dulu disini sebentar jangan kemana-mana. Daffa akan segera kembali" ucap Daffa buru-buru lalu menuju mobilnya. Daffa pun segera melajukan mobilnya ke sebuah ATM terdekat untuk mengambil duit. setelah sampai ia pun turun dari mobil dan menuju mesin itu. Daffa menekan tombol mesin untuk mengambil uangnya, lembaran uang itu pun keluar dengan jumlah yang sangat banyak. lalu Daffa kembali ke dalam mobilnya dan menuju rumah dimana bibi berada.


Dalam waktu singkat Daffa pun telah kembali dan menghampiri Bibi,


"Sudah balik den? cepat sekali" ucap Bibi.


"Iya bi, Ini bi buat bibi. cuma ini yang bisa Daffa berikan buat Bibi" ucap Daffa menyerahkan amplop berisi uang itu.


"Jangan den, ini sangat banyak. Bibi ada ongkos kok untuk pulang" tolak Bibi.


"Ambil lah bi, untuk tabungan Bibi. bibi bisa membuat usaha dikampung nanti" pinta Daffa memaksa.


"Aduh den, Terima kasih banyak den" ucap Bibi.


"Baiklah bi, Daffa pulang dulu.. kalau bibi sudah mau pulang, hubungi Roni untuk mengambil kuncinya yaa" ucap Daffa.


"Baik den, hati-hati" pesan Bibi. Daffa pun segera menuju mobilnya dan kembali ke rumah karna hari ini Daffa tidak jadi kekantor.

__ADS_1


Di kantor, Lulu merasa heran kenapa Daffa tidak datang hari ini. padahal rapat akan segera dimulai terpaksa Lulu dan Roni yang menghadiri. Lulu bersyukur rapat berjalan dengan lancar. Lulu pun bertanya pada Assisten Roni kemana Daffa hingga tidak masuk.


"Ron, Daffa kenapa tidak masuk hari ini?" tanya Lulu. membuat Roni mengernyitkan dahinya.


"Sekretaris Lulu, anda merasa lucu sekali. hahahah" tawa Roni.


"Kenapa?? apa ada yang salah?" tanya Lulu heran.


"Sekarang aku tanya, bagaimana hubunganmu dengan Daffa?" tanya Roni.


"Biasa saja seperti pasangan pada umumnya" jawab Lulu santai.


"Hahahaha.. kalau begitu kenapa bertanya padaku" ucap Roni merasa lucu.


"Astaga, kenapa aku merasa bodoh" gumam Lulu dalam hati.


"Ceritalah lu, apa kalian bertengkar?" tanya Roni serius.


"Anda sungguh kepo" ucap Lulu lalu berlalu pergi keluar ruangan rapat.


"Aku tau lulu, kamu mendiamkan suamimu karna ia dekat dengan sheila. ku rasa kamu sudah melihat ulah mereka. semoga kamu segera dapat kebahagiaan nona lulu" gumam Roni dalam hati. Roni merasa sangat kasihan dengan nona nya itu. Roni sangat penyayang bahkan dengan tunangannya Karin, ia tidak bisa membayangkan apa jadinya Karin bernasib dengan Lulu.


Lulu pun menghampiri Rani untuk mengajaknya makan siang tapi tiba-tiba Gibran ikut menghampiri mereka.


"Benarkah????" ucap Lulu dan Rani serentak dengan senyuman kembang mereka.


"Ya, ayolah tunggu apalagi" ucap Gibran berlalu pergi dan diikuti kedua wanita itu.


"Asyiiiiiiik........." sorak Lulu dan Rani membuat Gibran mengeleng-gelengkan kepalanya.


~


~


Ditempat Sheila, ia sedang didalam taksi entah mau kemana. kini perasaanya tengah marah pada Daffa. ia pun berfikir akan balas dendam pada Daffa dan Istrinya.


"Sial! jadi dia sudah punya istri!" ucap Sheila memukul kursi taksi membuat pak sopir terkejut dan menoleh di spion kemudinya.


"Apa lihat-lihat!! jalan yang benar!" bentak Sheila membuat pak sopir ketakutan.


"Bawa aku ke Bar xx" suruh Sheila


"Ba..ba..baik non" ucap pak sopir gagap. hinga taksi pun disebuah bar itu dan Sheila segera melempar uangnya sembarangan ke wajah bapak itu membuat pak sopir mengelus dadanya.


"Astaghfirullah" gumamnya.

__ADS_1


Sheila pun segera masuk kedalam bar itu dan menuju ruangan Nathan.


Ceklek,


Nathan yang sedang bercumbu dengan perempuan dimeja kerjanya itupun dibuat terkejut.


"Astaga Sheila, kau menganggu ku" ucap Nathan.


"Suruh perempuan itu pergi!" suruh Sheila berlalu masuk menuju sofa.


"Pergilah kau" usir Nathan pada wanita itu. wanita itu pun segera pergi. dan Nathan segera mengunci pintu nya dan menghampiri Sheila yang tengah memasang wajah marah.


"Kau kenapa sayang?" ucap Nathan memegang paha Sheila.


"Aku ikut sama kamu ya sayang, kamu kan tinggal di apartement sekarang kan?" tanya Sheila.


"Memangnya rumahmu kemana?" tanya Nathan heran.


"Aku malas dirumah, orang tuaku slalu ribut" jawab Sheila berbohong.


"Nasib kita sama, yasudah kamu boleh tinggal diapartementku tapi ada syaratnya" ucap Nathan.


"Apa itu?" tanya Sheila mengalungkan tangannya dileher Nathan.


"Kau harus melayaniku setiap malam" ucap Nathan dan menghembuskan nafasnya ditelinga Sheila lalu mengecup leher Sheila hingga membuat Sheila kegelian.


"Baiklah. akan ku lakukan sayang" ucap Sheila lalu mengecup bibir Nathan.


Hingga beberapa lama mereka ber kiss, Nathan pun melepaskan pagutan itu.


"Ayo kita ke apartement dan bermain" ajak Nathan lalu mereka pun keluar dari bar milik Nathan itu dan segera menuju apartement miliknya.


Dirumah, Daffa memasuki kamar Lulu ternyata tidak terkunci. Daffa pun memandangi kamar itu dan berjalan menuju lemari pakaian istrinya. Daffa pun mengambil salah satu baju Lulu dan memeluknya. Daffa pun duduk dikursi samping lemari itu.


"Maafkan aku Lu, aku suami yang berdosa. kini aku sadar aku mencintaimu" ucap Daffa sendiri lalu menghirup baju Lulu. tak terasa air matanya menetes membasahi baju itu. Daffa terus memeluknya hingga tidak terasa ia tertidur dengan memeluk baju Istrinya, Lulu.


°


°


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2