Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
156. Periksa kandungan


__ADS_3

Tampak Daffa sedang memegang tangan dan perut istrinya yang sedikit membuncit, Daffa baru tersadar bahwa ada darah dagingnya didalam sana. padahal setiap hari Daffa slalu memegang perut Lulu saat mandi namun bodohnya ia tidak pernah berfikir bahwa Lulu tengah hamil. Daffa terus tersenyum melihat wajah Lulu yang diam dengan mata yang masih terpejam, Daffa berharap Lulu segera bangun untuk mendengar berita baik ini.


"Sayang, bangunlah.. anak kita sudah didalam sini" ucap Daffa mencium telapak tangan istrinya.


"Kau tidak sabarkan ingin anak? kita sudah bekerja keras dan didalam sini hasilnya yang" ucap Daffa kembali bicara pada sang istri hingga tanpa sadar air mata Daffa turut jatuh meleleh hingga k tangan Lulu.


Lulu mulai siuman, ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan menggerakkan jarinya yang dipegang Daffa. Daffa senang, senyumnya kembali menghiasi bibir akan melihat Lulu yang kembali siuman.


"Sayang, kau sudah bangun? aku akan panggil dokter" ucap Daffa segera memencet tombol yang terletak dekat dengan ranjang rumah sakit.


"Apa yang kau rasakan sayang? kepalamu pusing? kakimu sakit?" tanya Daffa dengan memberi banyak pertanyaan.


"Kepalaku sangat pusing bila melihatmu seperti itu, heheh" ucapnya terkekeh.


Ceklek,


"Permisi, nona Luthfiana apa anda sudah sadar?" tanya Dokter yang baru masuk ke ruang rawat Lulu. Lulu bingung, tidak mengerti apa yang ditanyakan dokter padanya, Lulu menatap suaminya, seolah ingin Daffa yang menjawab karna Lulu tidak mengerti bahasa prancis.


"Sudah dok, maaf istri saya tidak mengerti bahasa prancis" ujar Daffa terkekeh.


"Tidak apa Tuan, anda bisa menjadi penerjemahnya. sekarang tanyakan bagaimana keadaanya?" suruh dokter.


"Sayang, dokter nanya apa yang kamu rasakan?" tanya Daffa.


"Tidak ada, hanya saja kakiku sakit dan jantungku masih berdebar kencang" jawab Daffa.


"Astaga, apa kau jantungan? jangan tinggalkan aku" ucap Daffa sedu memegang kedua tangan Lulu.


"Apaan sih, biasa saja kali. kasih tau dokternya!" perintah Lulu. sedangkan dokter tampak heran apa yang mereka bicarakan hingga Daffa tampak cemas.


"Kakinya masih sakit dan jantungnya berdebar, dok" ucap Daffa memberitahu.


"Oh jadi karna itu anda tampak cemas ya, hehehe" ujar Dokter membuat Daffa salah tingkah hingga ia menggaruk kepalanya. sedangkan Lulu tampak bingung dengan ekspresi suaminya.


"Seperti saya bilang, nona Luthfiana mengalami shock jadi wajar saja jantungnya masih berdebar. Tuan tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. cukup banyak minum air putih, itu sudah cukup membantu dan latih untuk menarik nafas pelan hingga kembali tenang. masalah kakinya, itu wajar saja karna yang terluka adalah kakinya. saya akan memberi obat pereda nyeri" jelas Dokter panjang lebar. Daffa pun manggut merasa bersyukur.


"Jadi kandungannya bagaimana dok? apakah sudah bisa diperiksa?" tanya Daffa kemudian.

__ADS_1


"Bisa, tapi Tuan mesti mendaftar dulu kepada poli kandungan" ucap Dokter itu memberi kertas yang berisi sebuah resep untuk ditebus.


"Baik dok, terima kasih" ucap Daffa menundukkan sedikit kepalanya.


"Sama-sama. saya permisi" ucapnya pamit dan berlalu pergi.


Lulu yang bingung, hanya menatap keduanya yang tengah berbicara panjang lebar. kini dokter telah pergi, Lulu pun meminta penjelasan kepada Daffa.


"Apa yang dokter katakan sampai ngomong panjang lebar gitu?" tanya Lulu penasaran.


"Katanya kamu nanti akan baik-baik saja asal minum air putih, dan tarik nafasmu pelan-pelan. kakimu terluka yang, jadi wajar sakit" jelas Daffa. Lulu pun manggut tanda mengerti lalu menarik nafas pelan dan mengeluarkannya sesuai instruksi dokter.


"Anak pintar, aku akan menebus obatnya dulu sekalian mendaftar" ucap Daffa.


"Mendaftar apa?" tanya Lulu menghentikan langkah suaminya.


"Nanti kamu akan tau" ucapnya tersenyum dan berlalu pergi.


Lulu merasa bingung untuk mendaftar apa, namun ia berfikir positif kalau yang dimaksud adalah mendaftar dirinya yang baru saja mengalami kecelakaan. Dilihatnya kaki, tampak berbalut perban. Lulu mencoba menyentuhnya, hingga ia pun meringis kesakitan.


"Aww perihnya" rintih Lulu.


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Daffa yang baru masuk ke ruang rawat. Dilihatnya Lulu tampak sedang mencoba untuk berjalan.


"Berjalan yang, aku ingin kakiku terbiasa untuk berjalan saat luka begini" ujarnya.


"Ya ampun, itu perih yang! lukamu masih baru. nanti agak kekeringan kau akan bisa berjalan lagi" ucap Daffa menghentikan aksi istrinya.


"Ah yang, aku bisa menahannya" dengkus Lulu.


"Menurutlah sama suamimu" tegas Daffa kemudian menggiring Lulu untuk menduduki kursi roda.


"Kita mau kemana yang?" tanya Lulu menduduki bokongnya dengan hati-hati.


"Ke sesuatu tempat" jawab Daffa tersenyum lalu mendorong kursi roda yang mengangkut istrinya ke ruang kandungan.


"Yang, ini sudah malam bukan? dan kau membawaku berkeliling rumah sakit. sangat menyeramkan" ujar Lulu bergidik ngeri.

__ADS_1


"Jangan berisik yang, atau kau akan membangunkan penghuni rumah sakit ini" ucap Daffa menakutkan sang istri hingga ia pun terkekeh tanpa suara.


"Daffa....!! jangan menakutiku! mending kita balik" rengek Lulu memukul pegangan kursi roda. hingga tibalah ketempat tujuan yaitu poli kandungan. Daffa menghentikan langkah tepat didepan pintu poli tersebut. Lulu semakin bingung, kenapa Daffa membawanya kesini.


"Tuan Daffa dan Nona Luthfiana, silakan masuk" ucap Assisten dokter. Daffa segera mendorong kursi roda istrinya untuk memasuki ruangan itu, sedangkan Lulu tercengang dibuatnya.


"Ayo berbaring dulu" suruh Dokter itu. Lulu menatap Daffa seolah bingung dengan perkataannya.


"Berbaring yang disini" ujar Daffa. Lulu pun manggut walaupun ia masih belum mengerti.


Lulu telah berbaring, menatap benda disekitarnya. alat untuk USG yang membuat Lulu belum mengerti mengapa ia harus berbaring disana. Dokter pun mulai mengolesi gel diatas perut Lulu, lalu mengambil alat pendeteksi yang menjalankannya disekitar perut Lulu.


Daffa tersenyum melihat sesuatu bergerak didalam sana. Lulu tampak sangat meneliti sekali hingga ia pun sadar mengapa Daffa membawanya kesana.


"Apa aku hamil?" gumam Lulu dalam hati sambil memerhatikan pergerakan janin didalam rahimnya.


"Selamat ya, janinnya sehat dan aktif" ucap dokter itu.


"Saya hamil dok?" tanya Lulu tersenyum.


"Ya, kisaran 5-6 minggu usia janinmu. selamat ya Nona Luthfiana" jelas dokter itu kembali lalu mengambil gambar hasil USG yang sudah tercetak lalu memberikannya kepada Lulu. Lulu meraihnya dengan segera, menatap lekat janinnya yang terlihat cukup jelas.


"Yang, anak kita" ucap Lulu menengadahkan kepala menatap Daffa yang terharu.


"Iya sayang, terima kasih ya" ucap Daffa mencium kening sang istri. Daffa pun kembali membantu istrinya menaiki kursi roda, dan menghampiri meja dokter yang sedang menulis sesuatu diatas kertas.


"Dok, saya tidak pernah mual sama sekali, apa itu tidak masalah?" tanya Lulu.


"Tentu tidak, hormon tiap wanita berbeda-beda. ada yang merasakan mual dan muntah saat masih tahap trimester pertama dan ada juga yang tidak. itu masih normal kok" jelas dokter itu.


"Tapi kalau melakukan hubungan badan bolehkan dok?" tanya Daffa. sontak Lulu terkejut dan mencubit tangan suaminya.


"Apa-apaan sih nanya itu segala!" bisik Lulu.


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2