
Hari telah berganti, dari malam berganti pagi, semua keluarga telah berkumpul dikediaman Daffa dan Lulu untuk mengantarkan kepergian mereka ke bandar udara jet pribadi Papa Mahesa. tampak Lulu tengah bersiap-siap mengenakan pakaiannya dan juga Daffa yang sedang memakai kemejanya.
Tok tok tok
"Masuuuuuuk..." sahut Lulu yang sedang berdandan.
Ceklek,
Mama Sarah masuk ke kamar anaknya, celingak celinguk mencari keberadaan menantunya namun ia tidak menemuinya diruangan itu.
"Ada apa ma? masuk saja" ucap Lulu yang sedang memakai lipstick.
"Segan Mama kalau ada suamimu" ujar Mama Sarah.
"Ah Mama, masuk saja tidak apa-apa. Daffa lagi buang air besar itu" ucap Lulu. Mama Sarah masuk mengedarkan pandangannyaa menatap kamar sang anak yang didesain dengan sangat bagus antara klasik bercampur modern, dan atap kamar didesain seperti awan berwarna putih dan biru.
"Cantik banget kamarmu sayang" puji Mama Menduduki kasur yang berukuran king size.
"Hehehe iya Ma, tapi Lulu lebih merindukan kamar Lulu dirumah" ucap Lulu memeluk sang Mama.
"Nanti kapan-kapan kamu boleh kok nginap dirumah kita" seru Mama Sarah.
"Nah, sekarang ayo kita kebawah untuk sarapan pagi bersama" sambung Mama kembali.
"Baiklah ma, ayo.." ajak Lulu. kemudian Mama dan anak itu meninggalkan kamar lalu menuruni tangga yang bergaya bak istana kerajaan.
Di ruang makan sudah berkumpul orang tua Daffa, Papa Adi dan Vivi yang tengah membahas tentang bisnis. Vivi hanya diam, tidak mengerti apa yang mereka bahas sesekali Mama Sonya mengajaknya mengobrol. Lulu dan Mama Sarah telah tiba diruang makan, menghentikan obrolan mereka.
"Kakaaaaak......." sorak Vivi segera turun dari tempat duduk dan berlari kearah Lulu.
"Aaah adikku..... kakak kangen" sahut Lulu memeluk Vivi.
"Vivi juga. kakak gak pernah main kerumah lagi mentang sudah punya abang baru" gerutu Vivi cemberut.
"Kalau kakak sudah pulang, kakak akan kerumah dan membawa oleh-oleh untukmu. kau mau album BTS bukan?" ucap Lulu.
"Mau mau, aku mau kak... bawain yaaa" teriak Vivi dengan girang mendengar nama sang idola.
"Tentu saja, asal kau rajin belajar dan tidak menyusahkan Mama" sahut Lulu mencubit hidung adiknya.
"Aah kakak.. iya iya" turut Vivi kemudian mereka duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Daffa mana nak?" tanya Papa Mahesa.
"Lagi buang air besar, pa" jawab Lulu.
"Im coming, pa.. ada apa menanyakanku?" sahut Daffa yang baru masuk keruang makan.
"Kau ini lama sekali, ayo kita sarapan" gerutu Papa Mahesa. hingga mereka pun membalikkan piring dan mengambil nasi juga lauk pauk yang tersedia diatas meja. kali ini Bibi masak besar menyambut kedatangan keluarga majikannya.
Sarapan pagi telah selesai, saatnya kedua insan itu akan pergi meninggalkan kediaman ini hanya untuk beberapa hari. Daffa dan Lulu mengambil koper mereka masing-masing didalam kamar, namun Lulu lupa akan sesuatu setelah daritadi pikirannya berperang untuk mengingat apa yang sedang terlupakan.
"Kau kenapa yang?" tanya Daffa yang menoleh ke arah Lulu yang tampak mematung.
"Aku melupakan sesuatu dan aku baru ingat" jawab Lulu.
"Apa itu?" tanya Daffa melepas kopernya lalu mendekati sang istri.
"Tiket yang diberikan papa. aku menyimpannya disesuatu tempat, tapi dimana ya?" ucap Lulu berfikir.
"Oalah yang, kok sampai lupa. kamu sih gak berikan padaku" gerutu Daffa. kemudian Daffa mencari diseluruh tempat namun tidak menemukannya. Lulu yang termenung, melihat suaminya mulai mencari dan ia pun ikut mencari dimana letak amplop berisi tiket itu.
"Coba ingat lagi dimana, kok gak ada" suruh Daffa yang sudah nyerah.
"Aku benaran lupa, waduh bakalan ga jadi ke korea ini" gerutunya. Daffa menilik ke arah kasur, hanya itu yang belum mereka jangkau. Daffa segera mengangkat sedikit kasur itu, merabanya dari sisi ke sisi hingga akhirnya ia merasakan seperti kertas dibawah kasur yang ditempati Lulu. Daffa menarik kertas itu ternyata amplop yang berisi tiket, Daffa pun lega dan menatap tajam ke arah Lulu yang menggigit jarinya.
"Aah sayang, aku benaran lupa. jangan marah" ucap Lulu memeluk suaminya.
"Lain kali jangan main disembunyikan, sudahlah ayo kita ke depan" ucap Daffa kemudian menuju kopernya dan menyimpan tiket itu ke dalam koper.
Kini mereka telah keluar dari kamar dan menuju tangga. mang Asep dan mang Fais yang telah standby didekat tangga pun segera mengambil alih kedua koper itu lalu menuruninya dengan hati-hati menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Mama Sonya yang melihat anak dan menantunya telah berada diruang tamu.
"Ini ma, menantu mama yang cepat amat pikunnya" adu Daffa. seketika mereka semua pun bingung akan maksud Daffa.
"Pikun? pikun apanya?" tanya Mama Sonya.
"Dia sembunyikan tiket yang papa berikan, eh malah lupa" jawab Daffa melirik Lulu yang cengengesan membuat Daffa gemas.
Pffft....
"Ya ampun lu, segitunya ya tiket disembunyiin" ucap Mama Sonya menghampiri menantunya.
__ADS_1
"Hehehe iya ma, ntar takutnya Daffa akan merobek tiket itu. hihi" jelas Lulu dengan senyum kecutnya. mendengar penuturan itu membuat semuanya tertawa kecuali Daffa yang menutup wajahnya.
"Astaga, hahahahahahahahaha" tawa mereka pecah mendengar alasan Lulu yang terlalu jujur. membuat Lulu jadi salah tingkah dan merasa malu.
"Astaga yang, kenapa kau polos sekali. alasanmu terlalu jujur" gumam Daffa dalam hati melirik Lulu dan Lulu pun melirik balik kearah suaminya.
"Aaah aku jadi malu" gumamnya dalam hati.
"Hahahaha ya ya sudahlah, ayo kita berangkat lagi. sudah hampir siang ini" ajak Papa Mahesa meleraikan tawa itu, merasa kasihan melihat menantunya yang ditertawain. Kini semuanya telah berada didalam mobil, begitupun Lulu. namun Daffa merasa enggan menaiki mobil, entah kenapa perasaannya tidak begitu enak.
"Daf, ayoo masuk" suruh Mama Sarah membuyarkan lamunan menantunya.
"Haaa, iya ma" turut Daffa dan menaiki mobil yang didalamnya telah berada Lulu, Mama Sonya dan Papa Mahesa.
Daffa mulai merasakan perutnya tidak nyaman, namun ia segera menepisnya. Sopir pribadi papa menjalankan mobil hingga meninggalkan kediaman itu, diikuti oleh mobil yang berada dibelakangnya yaitu keluarga Lulu.
Ditengah perjalanan, Daffa sudah tidak tahan lagi dengan perutnya. merasa mual, ia pun menyuruh sopir papa untuk menghentikan mobilnya.
"Pak pak, stop dulu!" perintah Daffa menepuk bahu supir pribadi itu.
"Baik Tuan".turutnya.
"Daf, ngapain berhenti disini?" tanya Mama Sonya. Daffa tidak menjawab, segera ia buka pintu mobil dan segera turun.
Uweeeeek...... uweeeeek.....
Daffa memuntahkan semua isi perutnya, Mama dan Lulu tampak cemas, mereka segera turun menghampiri Daffa.
"Yang kamu kenapa?" tanya Lulu yang mulai cemas, menepuk nepuk punggung suaminya dan Mama memberi air putih untuk putranya.
"Entahlah, perutku mual sekali" adu Daffa.
"Apa kau masuk angin nak?" tanya Mama.
"Tidak Ma, hanya saja melihat mobil perutku ingin mual" ujarnya.
"Astaga, kau mabuk kendaraan, biasanya tidak pernah begini Ma" ucap Lulu.
"Ya ampun, Mama akan berikan minyak angin. ayolah kita masuk lagi semoga minyak angin akan membantumu" ucap Mama Sonya segera mengajak anaknya kembali menaiki mobil.
°
__ADS_1
°
°