
"Kenapa Ran?" tanya Lulu melepas dekapan Daffa dan melirik Gibran yang murung.
"Karna aku..." terdiam sejenak. Gibran dan yang lainnya sedang menunggu jawaban dengan perasaan yang tak karuan.
"Tidak bisa menolak" sambung Rani setelah lama berfikir, mungkin ia sengaja untuk membuat semua orang menunggu lama. Gibran merasa lega, begitupun dengan Lulu dan the geng juga merasa lega disertai mendengus kesal karna Rani yang terlalu berbelit-belit dan berdrama.
"Ah Ran, ribet amat sih bilang iya aja juga" gerutu Lulu memeluk suaminya.
"Hahaha.. biar hati kalian deh deg seer" ucap Rani terkekeh. yang lain hanya bisa memutar bola matanya merasa jengah. Rani memeluk Gibran, disambut hangat olehnya sesekali ia mencium kening Rani sebagai tanda sayang yang mendalam untuknya. Rani seperti mendengar sesuatu di tubuh kekar itu, ditolehnya Gibran, menengadahkan kepalanya, memandang wajah tampan itu.
"Kenapa jantungmu kayak drum Gib, dug dug dug gitu" ocehnya terkekeh.
"Ah tidak, kamu salah dengar. sinilah" elak Gibran yang merasa malu lalu ia mengalihkannya mengajak Rani ke tengah pantai.
Byuuur.... byuuur.....
Mereka bermain air, mencimprat-cimpratkan air ke wajah pasangannya. Daffa dan Lulu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya memandang sepasang yang sedang jatuh cinta, Daffa mengajak Lulu jalan-jalan hanya berdua saja tanpa diikuti Roni dan Karin.
"Kalian jangan ikut-ikut! gue mau berdua dulu sama istri gue, iya kan sayang?" ujar Daffa dan Lulu hanya mengangguk.
"Daaaa Assisten Roni dan polisi cantik" ucap Lulu melambaikan tangannya lalu berlalu untuk pergi entah kemana.
Indahnya lautan, alam yang membentang berwarna biru, ditelusuri oleh pasangan yang sedang hangat-hangatnya bergandeng tangan sesekali memainkan pasir oleh kakinya. Daffa memandang sekelilingnya, mereka sudah sangat jauh berjalan, dan tiba-tiba ia menggendong Lulu memutar tubuh mereka sambil tertawa.
"Sayang, hahaha.. pusing tau" gerutu Lulu namun masih tertawa girang.Daffa menghentikan aksinya, mendorong kepalanya mendekati wajah Lulu, Lulu memejamkan mata merangkul leher dengan kedua tangannya, Daffa langsung menempelkan bibirnya ke bibir mungil itu. melum*tnya, meng*lum, meny*sap lembut dalam mulut itu, lidah mereka mulai menari-nari didalamnya, Daffa mulai kasar ia melahap bibir itu dengan kasar mempercepat volumenya. merasa lelah menggendong Lulu yang terasa sangat berat, ia menaruh pelan tubuh itu dipasir dengan bibir yang masih berpagutan. Daffa menindih tubuh itu menahan kedua tangannya diatas pasir, mereka semakin menggila sudah beberapa menit masih berpagutan, Daffa mulai bosan lalu beralih menelusuri pipi, menjilatnya lalu ke leher milik Lulu menyesapnya kuat memberi tanda merah sebagai tanda kepemilikan. Lulu menggeliat merasa sangat menikmati sensasi yang menjalar ditubuhnya membuat darahnya berdesir hebat ditambah lagi Daffa mulai nakal, bibirnya sudah mulai ke area sensitif yang berada didada milik Lulu. Lulu tersenyum, sangat menikmati area itu. Daffa merasakan sesuatu yang hebat didalam celananya, tongkatnyanya bangun karna ulahnya yang terlalu candu. dibukanya resleting, mengeluarkan tongkat itu, dilihatnya Lulu yang baru membuka mata. tangannya mulai nakal, mengangkat rok itu memasukkan tongkatnya.
"Aaaah sayang" desah Lulu. Daffa semakin mempercepat volumenya. air laut itu menyaksikan cinta mereka, sesekali mengganggu mereka yang sedang memadu kasih. menyentuh kaki mereka hingga basah membuat air pantai itu menjadi jahil.
"Eeemh.. aaah" desah Lulu lagi.
"Sayang, nanti ada yang lihat" lirih Lulu.
__ADS_1
"Tidak ada sayang, disini sangat sepi sekali" ucap Daffa. Lulu kembali diam merasakan sensasi yang begitu nikmat itu.
Sudah begitu lama mereka memadu kasih hingga tidak terasa hari sudah mulai gelap. Daffa menghentikan aksinya, menidurkan tubuhnya disamping Lulu yang memandang langit-langit biru yang sudah mulai gelap. diliriknya Daffa, memeluk tubuh itu dengan penuh cinta.
"Sayang, kau ingin melihat sunset bukan?" tanya Daffa mengecup kening itu.
"Iya sayang" jawab Lulu.
Hening, mereka hanya diam mungkin sudah merasa kelelahan. Lulu yang heran tidak suara dari suaminya pun mulai mengangkat kepala untuk melihat wajah itu.
"Tertidur pula" gumam Lulu. Lulu kembali memeluk suaminya, menatap matahari menunggunya untuk segera pergi. Lulu sangat tidak sabar untuk melihat sunset yang mulai meninggalkan bumi dan menggantikannya dengan kegelapan. akhirnya yang ditunggu pun datang, mentari sudah mulai pergi secara perlahan. Lulu meniliknya dalam, memerhatikan dengan intens.
"Yang!" panggil Daffa menepuk bahu istrinya.
"Eh! yang, udah bangun?" tanya Lulu yang terkaget.
"Sudah. udah ada sunsetnya?" tanya Daffa menatap langit.
Kini mereka telah tiba diacara party itu, tampak Karin dan Roni beserta yang lainnya sedang menyalakan lentera. beribu-ribu lentera yang dipesan Daffa untuk menyambut malam yang telah datang sekaligus memberi penerangan untuk mereka semua.
"Kalian kemana saja??" tanya Roni.
"Bermain" jawab Daffa singkat, jelas dan padat lalu mengambil lentera yang lain untuknya dan untuk Lulu, khusus lentera yang sangat besar untuk keduanya.
"Kemana Rani dan Gibran??" tanya Lulu pada Roni.
"Itu mereka, sedang mengobrol tampaknya" ucap Roni menunjuk mereka dengan jari telunjuknya.
"Heem..pasangan yang sedang dimabuk cinta" gumam Lulu tersenyum.
Tibalah saatnya yang ditunggu-tunggu, lentera mulai diangkat ke udara bersiap-siap meninggalkan tuannya dan melayang ke angkasa meninggalkan secercah cahaya untuk penghuninya. Daffa mengambil mikrofon dan mulai mengeluarkan titahnya.
__ADS_1
"Semuanya???? pasti kalian tidak sabarkan untuk melepas lentera ini??" teriak Daffa.
"Iya, ayo mulaaaai" sorak mereka yang tampak antusiasnya.
"Baiklah, kita mulai dengan.. Tiga.. dua.. satuuuuu..." soraknya memberi aba-aba. dan lentera pun mulai dilepaskan, melayang secara perlahan ke atas langit.
"Keren banget yang" puji Lulu pada benda menyala itu.
"Lentera itu akan menerangi cinta kita" ucap Daffa kemudian mencium kening istrinya. mereka semua sangat euforia sekali, kebahagiaan yang sederhana. hanya menghabiskan waktu di tepian pantai, menikmati alam biru yang membentang, tiada penat yang mereka rasakan hanya ada tawa, canda, dan rasa antusiasme yang Daffa lihat dan rasakan. Daffa sangat bersyukur bisa merayakan acara ini untuk seluruh pegawainya. bagaimana tidak, hatinya gembira memiliki istri seperti Lulu dan memiliki sahabat sekaligus Assisten yang selalu setia bersamanya. merayakan pernikahan Roni dan juga mengumumkan pernikahannya kepada seluruh khalayak. Daffa bersyukur, tidak ada yang mencaci istrinya, mereka sangat bahagia bila Daffa memiliki istri seperti Lulu yang ramah, berteman dengan siapa saja tanpa menyuruh mereka memanggilnya Nyonya.
"Terima kasih banyak kalian sudah mau merayakan acara ini, walau dari pagi hingga malam tubuh kalian terasa penat namun saya berterima kasih sekali kalian ikut serta dalam acara ini" ucap Daffa dengan mikrofonnya.
"Malah kami mendambakan ini Pres" ucap salah seorang wanita dengan temannya.
"Benar, gue senang banget dari pagi hingga malam gini disini" sambung temannya tersenyum.
"Saya juga mengumumkan, apabila istri saya sudah mengandung, saya akan menaikkan gaji kalian" ucap Daffa kembali.
"Asyiiiiik...... benarkah pres????" sorak mereka kegirangan, ada yang berloncat-loncat mendengarkan kabar baru itu.
"Ya, tentu. kalian harus doakan semoga Nyonya Lulu segera mengandung keturunan saya" ucap Daffa lagi memeluk istrinya.
"Aamiin.." sorak mereka yang sangat antusias.
°
°
°
__ADS_1
°