
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, semua pegawai berbondong-bondong menjajakan kaki mereka melangkah keluar meninggalkan gedung perusahaan. begitu pun dengan dua insan itu, bergegas memasuki lift setelah pekerjaan mereka terselesaikan dengan baik dan rapi membuat Daffa begitu lega dengan urusannya yang telah kelar sebab bantuan oleh sang istri yang turut membantunya mengerjakan tumpukan tugas itu.
"Lega ya yang, kalau sudah kelar" ucap Lulu.
"Lega banget yang, itu berkat kamu. terima kasih ya" ujar Daffa tersenyum merangkul sang istri.
"Sudah pekerjaanku kok" ucap Lulu memeluk suaminya. mereka keluar dari lift setelah pintu lift terbuka, tak sengaja mereka berpapasan dengan Rani dan Gibran yang sedang bergandengan tangan dan bercanda ria.
"Wah yang, lihatlah mereka semakin nempel saja" ucap Lulu menunjuk Rani dengan jarinya. lalu berlari mengejar pasangan yang baru jadian itu.
"Ehem-ehem!! yang lagi kasmaran" goda Lulu berdehem, berjalan dibelakang mereka. Rani menoleh ke asal suara, menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat Lulu yang menyapanya.
"Hehe iya dong, emang lo saja" ucap Rani terkekeh.
"Ih Gibran, halalin dong cepat" desak Lulu menatap Gibran, Daffa datang menghampiri lalu merangkul bahu istrinya.
"Tenang saja, minggu depan aku akan melamarnya bersama orang tuaku" sahut Gibran dengan bangganya. sontak Rani menganga, terkejut akan penuturan itu.
"Apa??? semingu lagi?" tanya Rani menatap kekasihnya dan diangguki oleh Gibran dengan senyum lebarnya.
"Waw wah, sigap amat ya main gas" timpal Daffa.
"Hehe, tentulah pres.. gak baik berlama-lama" ucap Gibran.
"Tapi cepat amat lho" gerutu Rani.
"Bagus dong Ran, biar anak kita nanti bisa gede bareng" ucap Lulu yang setuju dengan niat Gibran yang akan melamar sahabatnya.
"Betul itu" timpal Gibran, hingga mereka telah tiba di parkiran, dan memisahkan diri menuju mobil masing-masing.
"Duluan ya, byeee" pamit Lulu melambaikan tangannya pada pasangan belum halal itu.
Lulu dan Daffa telah dalam perjalanan pulang, Daffa tampak fokus dengan menyetirnya sedangkan Lulu menatap luar sebelah kiri memandang jalanan ibukota yang padat akibat banyaknya para pekerja yang berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. hingga dipertigaan jalan, tampak dari jauh banyak mobil-mobil menepi dan juga sepeda motor. Lulu penasaran ada apa disana?.
"Yang, ada apaan ya kok banyak kendaraan yang berhenti?" tanya Lulu.
__ADS_1
"Tidak tau yang" jawab Daffa.
"Kita lihat yuk, penasaran deh" ajak Lulu dan dituruti oleh suaminya.
Lulu membuka kaca jendelanya, menatap punggung orang-orang yang berdiri sejejeran sambil bertepuk tangan. Lulu penasaran, ia segera turun setelah menyuruh Daffa berhenti. Daffa menepikan mobilnya agar kendaraan lain lebih leluasa melewati jalanan yang tampak sempit akibat banyaknya kendaraan yang terparkir. Daffa berjalan ketempat Lulu berada, terlihat Lulu yang tertawa entah memerhatikan apa. Daffa segera menghampiri istrinya, ternyata Lulu tengah menyaksikan pertunjukan topeng monyet. pantasan saja jalanan begitu ramai dan menyebabkan jalanan menjadi sempit akibat pertunjukan itu.
"Sayang, lihatlah monyetnya pintar sekali" ucap Lulu tersenyum.
"Pulang saja yuk, panas" ajak Daffa menatap matahari yang masih terik.
"Nanti saja setelah selesai" tolak Lulu menyunggingkan bibirnya merasa sedikit kesal. lalu beralih kepada monyet yang berlalu lalang menuruti perintah majikannya.
"Si bobi melajukan sepeda motor, ting ting ting"
Bruuuuuum.....
Lulu ternganga melihat monyet itu melajukan motor mini miliknya, tampak Lulu begitu girang dan senangnya melihat monyet itu mengendarai motor dengan laju, mengingatkan masa kecilnya dulu yang sering diajak Papa Adi menonton topeng monyet.
"Waah, kereeen..." puji Lulu hingga monyet memberhentikan kendaraannya tepat didepan kaki Lulu. Lulu berjongkok, mengelus kepala monyet sambil tersenyum.
"Uuk aak....." sahut monyet dalam bahasanya yang kita pun tidak mengerti apa yang dikatakannya. monyet itu bergelayut manja dilengan Lulu hingga semua pengunjung menoleh ke arah Lulu.
"Yang, lepasin monyetnya" suruh Daffa menunduk mensejajarkan kepalanya dan Lulu.
Ting ting ting..
Mendengar musik gendang yang dimainkan sang pawang, monyet yang pintar itu segera pergi dari tangan Lulu dan mengikuti atraksi lainnya. Lulu kembali berdiri, melihat atraksi monyet itu yang sedang membawa keranjang, sangat lucu bagi Lulu. hingga akhirnya pertunjukan pun berakhir, pawang menyuruh monyet untuk meminta sumbangan seikhlas mungkin kepada pengunjungnya. Lulu mengeluarkan uang berwarna biru dan memasukkannya kedalam topi yang dipegang sang monyet.
"Ini untukmu" ucap Lulu tersenyum, menaruh uangnya dan diperhatikan si monyet tampak terpelongo melihat uang biru seolah ia mengerti tentang nilai uang.
"Sayang, ayo pulang" ajak Daffa dan dituruti oleh Lulu. kini mereka berjalan menuju mobil, tampak begitu ramai orang-orang yang turut meninggalkan tempat itu. Daffa dan Lulu telah tiba didalam mobil, Daffa menekan pedal gas dan melajukannya dengan hati-hati sebab jalanan begitu ramai sekali.
"Sayang, cepat amat pertunjukannya.. kitanya yang telat" gerutu Lulu.
"Kita kan tidak tau yang, gak mungkin kita pesan mereka untuk menghiburmu di rumah" ucap Daffa.
__ADS_1
"Eh, boleh juga tu" sahut Lulu tersenyum.
"No no.. gak boleh" tegas Daffa yang tak menginginkan rumahnya menjadi tempat pertunjukan.
"Huh!" decak Lulu.
Hingga dalam beberapa menit mereka telah tiba dikediamannya. dan gerbang sudah dibuka duluan oleh mang Fais, Daffa langsung saja melajukan mobilnya tanpa menunggu lama. Daffa dan Lulu turun dari mobil,memasuki rumah dengan bergandengan tangan, sangat manis sekali. Lulu langsung pergi ke dapur sedangkan Daffa menaiki tangga menuju kamar mereka. Lulu menaruh kotak makan yang kotor ke dalam wastafle, belum terlihat bibi mungkin saja lagi sibuk dengan hal lain.
Lulu melangkahkan kakinya menuju kamar, setiba dikamar ia tidak melihat Daffa mungkin saja lagi mandi. Lulu membuka sepatunya, menaruh tas pada tempatnya dan duduk dibalkon sambil menikmati brownies yang ia bawa dari dapur.
"Ah ya ampun baju putihku, pake terjatuh segala" gumam Lulu yang kaget cake yang ia pegang terjatuh dan menodai baju kerjanya berwarna putih.
"Aduh bisa hilang ga ni yaa?" gumamnya kembali. Lulu membasahi baju itu dengan menuangkan sedikit air putih, ia kucek sudah mulai memudar warnanya namun masih meninggalkan bekas.
"Ah sudahlah, serahkan pada bibi nanti" pasrah Lulu dan kembali melahap cakenya sambil menatap pemandangan dari atas rumahnya.
Daffa baru saja selesai mandi, celingak celinguk tidak terdapat istrinya. menoleh ke arah kiri, ternyata Lulu sedang duduk santai diatas balkon. Daffa mendekatinya, memeluknya dari belakang.
"Kamu sedang ngapain hunny?" tanya Daffa mencium pipi kanan sang istri.
"Lihat cowo" jawab Lulu.
"Apaa??! berani sekali kamu" ucap Daffa berdiri berkacah pinggang didepan Lulu.
"Hedeeeeuh yang, lihat cowo sedang mojok sama perempuan" tukas Lulu. Daffa pun celingak celinguk mencari dimana letak orang yang sedang mojok itu namun ia tidak dapat menemui apa yang dilihat Lulu.
"Dasar bohong, mana ada" tukas Daffa.
"Ada! itu lihatlah" ucap Lulu menunjuk dengan jarinya. Daffa mengikuti arah tunjuk jari itu dan sontak Daffa terkejut melihat sepasang ABG itu.
"Astaga! mojok didalam semak-semak?????!"
°
°
__ADS_1
°