
"Vivi????" gumam Lulu melihat adiknya sedang berjalan menuju luar lobi. Ia pun berjalan lebih cepat lagi untuk menghampiri adiknya tersebut.
"Vivi!" teriak Lulu. seketika Vivi menoleh ke asal suara dan terkejut akan kedatangan kakaknya ke rumah sakit itu.
"Kakak?" gumamnya tercengang.
"Kamu ngapain disini?" tanya Lulu tampak sedikit khawatir.
"Hmm.. haaa.. anu kak, temenin--
"Vivi!" seseorang teriak memanggil namanya membuat Vivi memotong ucapannya. Lulu yang mendengar panggilan itu pun segera melihat ke asal suara, terkejutnya ia bahwa yang memanggil adalah seorang pria yang mengenakan jas berwarna putih. Lulu pun menatap Daffa dengan heran, Daffa mengangkat pundaknya tanda ia juga tak tau akan siapa pria itu.
"Kenapa dia pakai kesini" gumam Vivi kesal didalam hati. hingga seseorang itu pun telah tiba didepan mereka.
"Vi, ponselmu tertinggal sayang" ucap pria itu menyodorkan ponsel pada Vivi. Vivi yang mendengar ia berkata sayang pun menoleh pada kakak dan iparnya, mereka tanpak mengernyitkan dahi seperti menyimpan banyak pertanyaan untuknya nanti.
"Kenapa pakai kata sayang pula!!" gerutu Vivi dalam hati sembari mengambil ponselnya. Pria itu pun tersenyum, dan kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi. Namun langkahnya terhenti sebab Lulu memanggilnya.
"Tunggu!!" lerai Lulu dengan suaranya yang lantang. Pria itu pun berhenti dan kembali menatap Lulu dan Daffa.
"Iya kak, ada apa?" tanyanya.
"Kamu siapanya Vivi?" tanya Lulu yang mulai mengintrogasi pria itu.
"Saya Varrel, kekasihnya Vivi kak" jawab Pria itu. sontak Daffa dan Lulu pun terkejut mendengar pengakuannya. sedangkan Vivi tampak menunduk merasa takut akan dimarahi sang kakak.
"Apaa??? kekasih?? kamu memacari anak-anak?!" teriak Lulu yang tak kenal tempat.
"Sayang, pelankan suaramu" bisik Daffa melihat kearah sekitar. Lulu pun tampak tak mempedulikannya.
"Saya mencintainya kak. lagian umur saya belum tua. kakak siapanya Vivi?" tanya Pria itu ingin tau.
"Saya kakak kandungnya! emang berapa usiamu? sepertinya kau seorang dokter yaa" ucap Lulu menilik pria itu lebih dalam. Vivi yang merasa kakaknya banyak bertanya, ia pun mendekati kakaknya dan membujuknya untuk segera pergi.
"Kakak, udah dong nanyanya. dia mau kerja. kita pergi yaa" ujar Vivi dengan perasaan yang dag dig dug.
"Diam kamu! kakak harus tau siapa pria yang dekat dengan kamu" gertak Lulu pada adiknya.
"Vivi, demi keseriusanku aku akan menmperkenalkan diriku pada kakakmu" ucap pria itu menatap Vivi lalu beralih pada Lulu.
__ADS_1
"Kak, usia saya 21 tahun. saya disini sebagai co-assistent dokter, kak. agar kelak saya akan menjadi dokter" jelasnya. Lulu pun manggut-manggut mengerti.
"Lalu bagaimana kamu mengenal adikku?" tanya Lulu.
"Waktu itu Vivi pernah tersandung hingga ia terjatuh dan saya menangkap tubuhnya. waktu itu gak sengaja di mall. ia bersama temannya. dan kebetulan beberapa hari ini ia menjenguk temannya yang sakit dan saya juga dokterlah yang menangani temannya. hingga saya mulai jatuh hati pada Vivi" jelasnya kembali sembari tersenyum.
"Oh gitu. awas kalau anda berbuat yang tidak-tidak pada adik saya!! setelah umurnya 18 tahun, nikahi dia!!" tegas Lulu dan segera pergi meninggalkan pemuda itu dan menarik tangan Vivi untuk sekalian menemaninya kontrol pada dokter kandungan. Pria itu pun mengangguk sembari tersenyum, hingga ia beryes-ria dibelakang tubuh Lulu dan Daffa. Vivi melihatnya, menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum tipis.
"Sepertinya dia senang sekali diintrogasi kakak. apakah hubungan kami akan bertahan lama hingga ia akan menikahiku?" gumam Vivi dalam hati.
"Kakak, kita mau kemana?" tanya Vivi sembari mengambil Yura dalam dekapan kakak iparnya karna Yura meminta untuk digendong oleh tantenya tersebut.
"Periksa kehamilan kakak" ucap Lulu. sontak Vivi pun tersenyum semringah mendengarnya.
"Apaa?????! kakak hamil lagi?" tanya Vivi tak kalah girang.
"Tentu saja. do'a Yura terkabulkan Allah, iya kan nak?" ujar Lulu mengelus rambut anaknya.
"Allah baik sama Yura. langsung dikabulkan doa Yura" ucap gadis tengil itu.
"Alhamdulillah" sahut Vivi mengecup pipi gembul keponakannya.
"Hihi, iya sayang" jawab Vivi tersenyum kecut.
"Ammi nyebelin ya tante, banyak tanya" gerutu Yura menatap amminya.
"Itu belum seberapa Yura. besok giliran kamu akan ammi jaga ketat kalian" ucap Lulu membuat Vivi merinding.
"Emangnya Yura tahanan? appi, ammi jahat" adunya pada Daffa.
"Makanya besok kalau sudah besar jangan berpacaran dulu. sekolah yang benar" sahut Daffa seolah menyindir adik iparnya.
"Kak Daffa nyindir Vivi ya?" bisik Vivi pada kakak iparnya itu.
"Ya! biar kamu juga lebih utamakan belajar agar citamu tercapai. jangan terlalu pikirkan pria itu" nasihat Daffa pada adik iparnya tersebut.
"Setuju! dengerin apa kata kakak iparmu" sahut Lulu. hingga mereka pun telah tiba di poli kandungan. kebetulan tampak sepi, tidak banyak pasien yang ikut control hingga Lulu menduduki tubuhnya dikursi tersebut.
"Ah capeknya" gerutu Vivi menduduki bokongnya pada kursi itu.
__ADS_1
"Tante, Yura gak sabar ingin lihat adik" ucap Yura memainkan rambut panjang tantenya.
"Nanti kalau perut ammi sudah besar, baru bisa lihat adik. sekarang adik masih keciiiiil.....sekali" ucap Vivi memberi arahan pada keponakannya.
"Yaaaach gak bisa lihat wajahnya dong" gerutu Yura mencebikkan bibir bawahnya.
"Sabar ya sayang, seiring waktu adek akan besar" ucap Vivi memeluk Ayura.
Mereka pun menunggu dan menunggu sesuai antrian. hampir satu jam kemudian pun akhirnya nama Lulu dipanggil oleh assistent dokter itu. Lulu pun segera berdiri dan memasuki ruangan itu untuk memulai pemeriksaan.
"Selamat siang, dok" ucap Lulu tersenyum.
"Siang, Nona, Tuan. mari duduk" ucapnya mempersilakan.
"Apa ada keluhan lain, Nona Luthfiana?" tanya dokter wanita itu.
"Hanya sesekali mual, dok" jawab Lulu.
"Baiklah, pada trimester awal emang biasanya seperti itu. seiring waktu nanti juga akan berhenti dengan sendirinya. saya akan beri resep seperti waktu itu ya. baiklah, ayo lakukan USG" jelas dokter tersebut lalu menyuruh Lulu untuk berbaring dengan bajunya yang disingkap kedada. Dokter pun mulai mengolesi cairan diatas perut pasiennya, dan menggerakkan sebuah alat untuk memperlihatkan isi rahim Lulu yang terlihat ada sebuah makhluk kecil yang sangat jelas.
"Adeknya mana tante?" tanya Yura pada tantenya.
"Ssssst... adeknya bobo" sahut Daffa mendiamkan anaknya itu.
"Sepertinya ini ada dua yaa.. tapi ini belum pasti apakah terdapat dua janin atau hanya satu. karna ini masih terlalu muda jadi belum teridentifikasi hasilnya. detak jantungnya bagus dan normal. untuk hasil lebih jelasnya kita control tiga bulan lagi dan dari situ kita bisa lihat apakah janinnya ada dua atau hanya satu." jelas dokter itu sembari tersenyum.
"Ya allah, dok. semoga saja benaran ada 2 janin" ucap Lulu terharu.
"Kita berdoa saja yaa Tuan, Nona. diusia ketiga bulan pasti akan tau hasilnya. saya juga berdoa semoga terdapat dua janin dan dalam keadaan sehat dan sempurna" ujar dokter itu tersenyum. Lalu Dokter itu pun membersihkan gel diperut Lulu dan beranjak dari duduknya menghampiri kursi kebesarannya. Dokter itu pun menulis resep untuk Lulu lalu memberikannya.
"Ini resepnya, jaga kandungannya ya Nona, jangan terlalu kelelahan dan untuk berhubungan biasakan jangan terlalu sering" jelas Dokter tersebut dan diangguki oleh Lulu dan Daffa. hingga mereka pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan senang tak terkira.
"Jadi Yura bakal punya dua adek??" tanya gadis mungil itu.
"Hmmm,--
°
°
__ADS_1
°