
Sejauh beberapa meter Daffa berlari sembari berteriak memanggil sang Istri, membuat Lulu merasa iba padanya. Ia pun menghentikan mobil tepat ditengah jalan yang begitu sepi. Dilihatnya arah belakang melalui spion, dua orang pemuda itu masih tertinggal jauh darinya. Lulu membuka pintu samping, Daffa dengan sigap menaiki tubuhnya memasuki mobil tersebut. jelas sekali nafasnya yang menderu dan terengah-engah seperti orang yang mengikuti perlombaan lari terdengar sangat kuat didalam mobil itu. Daffa mengatur nafasnya agar kembali membaik sembari menatap tajam sang Isteri. terlihat jelas wajah kesalnya pada Lulu yang telah meninggalkannya, Namun Lulu hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lulu sangat tau arti tatapan itu bahwa sang Suami tengah marah padanya. Lulu kembali menekan pedal gas mobil dan melajukannya dengan cepat menuju kediaman mereka.
"Tega!" ujar Daffa yang tengah menghadap kesamping.
"Sorry, sayang. reflek" ucap Lulu menggigit kecil bibir mungilnya. Ia merasa tidak enak pada sang Suami yang telah ia tinggalkan. Daffa masih juga marah, Ia tidak mau menatap ke depan maupun ke arahnya. segera, ia menghentikan mobil membuat Daffa terheran kenapa berhenti ditengah jalan tepatnya ditempat yang gelap dan banyak pepohonan disekelilingnya.
"Kenapa berhenti?" Daffa menoleh sedikit memasang wajah datarnya pada sang Istri. Lulu memiliki ide agar suaminya tidak kembali marah dan memasang wajah datar. dengan sigap Ia pun menaiki tubuh Daffa dan duduk diatas pangkuan suaminya. sontak Daffa kaget melihat Lulu yang langsung ******* bibir tebalnya dengan liar dengan kedua tangan yang menangkup pipinya. Daffa terbawa arus, desiran darah menjalar ditubuhnya, Ia pun juga ikut dalam permainan Lulu yang menarikan lidahnya didalam sana.
"Sudah, jangan marah lagi yaa" ucap Lulu melepaskan pagutannya. Daffa menatap kedua mata sang Istri lalu kembali menatap bibirnya yang merah ranum nan basah, membuat Daffa sekali lagi ingin memainkannya.
Hap!
Rasa menggelora enggan untuk menghentikannya dan Daffa kembali melahap bibir mungil itu dengan buas. Lulu semakin senang, suaminya sangat nakal dan dipastikan Daffa tidak lagi marah padanya. hingga beberapa menit kemudian, aktifitas mereka pun terhenti.
"Minggirlah, aku akan menyetir" imbuh Daffa.
"Tapi tidak marah lagi kan?" tanya Lulu padanya. Daffa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Lulu pun ikut tersenyum, lalu mengangkat tubuhnya sedikit membiarkan Daffa untuk berpindah tempat pada posisi kemudi. Lulu merasa lega, usahanya tidak sia-sia untuk mengambil hati sang Suami.
"Kita kemana lagi?" tanya Daffa disela menyetirnya.
"Nanas muda, sayang." ucap Lulu yang tengah memegang mangga muda itu walaupun hanya satu, setidaknya untuk melepaskan rasa ngidam Ibu beranak satu tersebut.
"Mau cari dimana? itu tidak ada diatas pohon, yang. apa perlu ke semak-semak?" gerutu Daffa merasa bingung akan permintaan satu itu.
"Gampang mah. dirumah mang Asep ada toh buah nanas" ucap Lulu yang masih teringat jelas saat ia mendatangi rumah mang Asep karna ia menginginkan bolu pandan yang dibuat oleh Istrinya. Daffa pun manggut-manggut mengerti dan mempercepat lajuan mobilnya menuju rumah mang Asep tersebut yang tidak begitu jauh dari komplek.
Kini pasangan suami istri yang tengah berbahagia itu telah tiba pada kediaman mereka. Rumah sudah begitu sangat sepi, hanya ada tiga mobil yang menginjaki pekarangan rumahnya. Daffa menghentikan mobilnya, dan menuruni mobil bersama sang Istri.
"Ternyata sudah cukup lama kita meninggalkan pesta Ayura" ucap Lulu menggandeng tangan suaminya.
"Semoga Ayura tidak marah." ucap Daffa. Rumah begitu sepi, hanya terdengar tawa anak-anak yang sepertinya berada dilantai atas tepatnya dikamar Ayura. Lulu dan Daffa pun segera ke atas untuk menghampiri sang putri yang sudah cukup lama ia tinggali.
Dari balik pintu terlihat jelas Ayura tengah bermain boneka dan alek-alek bersama Shera dan Aamira. sedangkan Sakha tengah memainkan rambut yang dikucir kuda milik Aamira hingga membuat Mira menatapnya sinis dan cemberut.
"Kak Sakha jangan pegang-pegang rambutku!!" teriak Aamira kesal.
"Hahaha, rambutmu jelek sekali" ucap Sakha padanya.
__ADS_1
"Sakha, tidak boleh berkata seperti itu!" berang Tari sembari melirik Karin yang tersenyum menatap mereka.
"Tidak apa lho, Tar. namanya anak-anak ya suka nakal" ucap Karin terkekeh.
"Anakku itu memang begitu kak, suka usil deh" adu Tari menggelengkan kepalanya.
"Bunda, cuma becanda aja. lucu sih rambutnya" ujar Sakha cengengesan. Mereka belum sadar si Tuan rumah sudah berada diambang pintu sedang memerhatikan mereka. hingga keduanya berdehem agar mereka melihat ke arah pintu.
"Ehem!!" Lulu berdehem terlebih dahulu hingga semua orang yang berada didalam ruang bermain itu menoleh kepadanya.
"Aah Tuan rumah sudah pulang rupanya" ucap Roni.
"Yeeeeeay appi, ammi!!" sorak Ayura yang langsung berlari menghampiri kedua orangtuanya. Ia pun langsung memeluk Lulu dan Daffa dengan tangan mungilnya itu.
"Appi, Ammi, kemana aja?" tanya gadis mungil itu menengadahkan kepala menatap wajah orangtuanya. Lulu pun menjongkokkan tubuhnya, mensejajarkan tubuhnya pada sang putri. Lulu mengelus rambut panjang Ayura dengan tersenyum lalu menggapai tangan gadis mungil itu dan menaruhnya diatas perut.
"Ammi cari makanan buat adek" ucap Lulu tersenyum. Yura terpaku, tercengang, menatap mata Ibunya dan beralih pada perut yang ia pegang.
"Adek? Ammi udah punya anak lagi?" girang Yura tersenyum lebar. Lulu menganggukinya dengan cepat sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya.
"Yeeeeeeeaaaaay!!!!! Yura mau punya adek!" teriaknya begitu gembira hingga Yura berloncat-loncat kegirangan lalu memeluk amminya dan beralih mencium perut datar Lulu.
"Untuk apa appi dipeluk? appi kan gak punya adek" ketus Yura.
"Adek ada, karna appi yang buat. appi yang terus mengobrak-abrik tempat dedek berada" ujar Daffa menatap lekat putrinya.
"Haaaa??" Ayura tampak bingung sekali dengan ungkapan yang Daffa katakan.
"Daff, apa yang kamu katakan? buat malu saja!" gerutu Lulu menonjok lengan suaminya.
"Daffa-daffa, tak ada akhlak. seenak jidat ngomong gitu didepan putrinya" gerutu Mama Sonya menggelengkan kepalanya.
Ppfffft....
Hahahahahaha..
"Benar tante, mulut gak bisa direm. perlu dijahit tuh" timpal Roni terkekeh.
__ADS_1
"Assisten jahanam!! pulang sana!" usir Daffa kesal.
"Wedeeew..... sang bos marah yaa.. ayolah kita pulang" sahut Ferdi terkekeh.
"Yaa om, kok pulang? masih pengen main sama Shera dan Mira" gerutu Yura cemberut menekuk wajahnya yang begitu tidak senang.
"Besok Shera main lagi kesini yaa" ucap Ferdi tersenyum.
"Iya, Shera dan kak Sakha harus pulang dulu karna sudah malam" jelas Tari dan diangguki oleh gadis mungil yang cemberut itu.
Ferdi pun mengangkat putrinya yang juga ikut cemberut. namun Ferdi juga memberikan arahan bahwa ini sudah sangat malam. hingga semua orang pun meninggalkan kediaman Daffa dan Lulu dengan membawa anak-anak mereka. begitu pun Mama dan Papa, juga turut serta meninggalkan kediaman anak mereka.
"Lulu, jaga kondisi kamu yaa.. besok mama akan kemari lagi. katakan apa yang kamu mau biar mama buatkan, oke?" ujar mama Sarah pada anaknya itu.
"Yura mau cupcake!" celetuk Yura yang berada digendongan Daffa.
"Baiklah cucu omma, besok omma akan beli apapun yang Yura mau" ucap Mama mengelus rambut cucunya.
"Yeaaay, terima kasih oma" girang Yura memeluk omanya. hingga mereka semua pun melambaikan tangan pada Daffa, Lulu dan Yura. beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendarai itu pun menghilang dari pandangannya.
"Sekarang tugas kamu kupas mangga dan nanasnya!" perintah Lulu mengambil alih sang putri.
"Haaa??" Daffa terpaku akan perintah Lulu.
"Buah? Yura mau" pinta bocah itu.
"No, sayang. itu sangat asam. sekarang kita buka kado dari teman kamu dan biarkan appi yang melakukan tugas dari ammi" ucap Lulu dan diangguki oleh Yura dengan tersenyum lebar.
"Yeaaaay buka kado!! appi, pergilah ke dapur. byeeeee" ucap Yura melambaikan tangan pada appinya yang masih terdiam diambang pintu. Lulu dan Yura pun berlari menuju tangga, meninggalkan Daffa seorang diri.
"Kupas??----
Β°
Β°
Β°
__ADS_1
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa ππ