
Tak terasa sudah memasuki sembilan bulan masa kehamilan Lulu. Lulu dan Daffa tengah menanti kelahiran anak pertama mereka yang entah kapan akan memberi kode pada sang Ibu. Kini Lulu tengah melakukan jalan pagi disekeliling komplek bersama sang suami. Daffa semakin siaga akan istrinya. bila tidak banyak pekerjaan di kantor, Daffa menyegerakan dirinya untuk melihat sang istri di rumah. keseharian Lulu hanya duduk ditaman dan bermain air ditepi kolam sembari membaca buku novel yang ia beli di toko buku.
Dibawah terik matahari dengan memakai daster sebetis dan kaki yang tidak beralas, Lulu berjalan pelan menikmati jalanan aspal yang menyentuh kakinya. sembari mengobrol dengan Daffa hingga tidak terasa mereka berjalan sudah cukup jauh. Daffa mengelus perut sang istri sembari mengobrol dengan anaknya. Lulu mulai merasa lelah, menduduki tubuhnya disebuah kursi yang terbuat dari kayu.
"Capek yang?" tanya Daffa menjongkokkan dirinya didepan Lulu.
"Capek banget yang. haus juga" ucap Lulu mengelap keringat dengan punggung tangannya.
"Ini minumlah. untung saja ku bawa dari rumah" ucap Daffa membuka botol minuman untuk sang istri. Lulu meraihnya dan langsung meneguk dengan cepat. Daffa tersenyum melihat istrinya, kemudian ia memeluk perut Lulu mencium sang anak yang berada didalam.
"Sayang, nanti dilihatin orang" ujar Lulu.
"Biarkan saja. anggap dunia ini milik kita bertiga" ucap Daffa tidak memperdulikan tatapan orang lain yang melewati mereka. Lulu hanya tersenyum pada orang-orang yang melihat kearahnya.
"Ucul appi jangan nakal ya, kasihan ammi" ucap Daffa pada jabang bayinya. Lulu tersenyum, mengelus rambut suaminya dengan lembut. Setelah cukup lama menduduki tubuhnya, Lulu meminta untuk kembali pulang kerumah karna ia juga sudah letih. Daffa menurutinya, segera ia raih ponsel dan menelpon mang Fais untuk menjemput mereka.
"Hallo mang, jemput kami di komplek gang xxx" perintah Daffa.
"Baik Tuan" sahut mang Fais dari dalam ponsel. Daffa memutuskan panggilannya secara sepihak, memasuki kembali ponsel kedalam sakunya itu dan beralih pada sang Istri yang tengah meminum air putih.
"Sabar ya sayang. sebentar lagi mamang jemput kita" ucap Daffa dan diangguki oleh Lulu. beberapa menit kemudian, yang ditunggu pun datang dengan membawa mobilnya. Mang Fais segera turun untuk membuka pintu belakang agar kedua majikannya lekas masuk. Lulu memasuki mobil dan disusul oleh Daffa. mang Fais pun bersiap untuk melajukan mobilnya kembali.
"Sayang, aku kangen Tari. ke rumahnya yuk" pinta Lulu.
"Iya. pulang dulu ya trus mandi" ucap Daffa.
"Gak mau. maunya sekarang" rengek Lulu merajuk. mencebikkan bibir bawahnya kedepan membuat Daffa tidak bisa untuk menolak permintaan istrinya itu. apalagi semakin hari Lulu semakin manja. apa yang diinginkannya harus dituruti dan tidak ingin dibantah. apabila Daffa bersikeras untuk melarangnya maka Lulu akan menangis dalam diam dan itu dapat diketahui olehnya.
"Mang, kerumah Tari ya" ucap Daffa.
"Siap Tuan" ucapnya menurut. hingga mobil berjalan keluar komplek dan melewati jalan raya yang tidak begitu padat dikarenakan ini adalah hari minggu membuat jalanan tidak terlalu ramai.
Hingga tibalah di kediaman Tari dan Ferdi. Daffa menyuruh mamang untuk pulang dan akan menjemputnya kembali saat nanti. mobil sudah meninggalkan mereka, penjaga rumah Tari langsung membuka gerbang untuk sahabat Nyonya-nya.
__ADS_1
"Nyonya Tari ada kan pak?" tanya Lulu.
"Ada Nyonya, silakan masuk" jawabnya. Lulu berjalan menuju pintu yang tertutup itu, membunyikan bell agar siapa saja yang mendengarnya segera membukakan pintu. kebetulan Tari yang sedang menonton diruang keluarga, mendengar bunyi bell. segera ia beranjak untuk membukakan pintu.
Ceklek,
"Lulu.." ucapnya melihat sahabatnya itu dari atas hingga bawah.
"Tari" sahut Lulu memeluk sahabat yang ia rindukan.
"Kamu kenapa begini? kamu diusir Daffa dari rumah?" tanya Tari keheranan. Lulu yang mendengarnya pun tampak lebih heran kenapa Tari berfikir seperti itu. Lulu melihat arah mata sahabatnya, Tari memerhatikan penampilannya yang berkeringat dan hanya memakai daster apalagi tidak bersandal. itulah membuat Tari yang berfikiran seperti itu.
"Kamu kira aku diusir? Hahahaha... bagaimana diusir, kalau pengusirnya ada disebelahku" ucap Lulu tertawa. Tari mencondongkan tubuhnya agak ke depan, tampak ada Daffa yang berdiri di samping Lulu. wajar saja Tari tidak dapat melihatnya karna Daffa berdiri didepan pintu yang tidak dibuka.
Daffa menatap Tari dengan menaikkan sebelah alisnya membuat Tari jadi salah tingkah dan menciut.
"Hem, sorry. ku kira Lulu diusir" ucap Tari cengengasan.
"Astaga, gue lupa! ayo masuk" ajak Tari. Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua bumil tersebut.
"Ayo kita keruang keluarga aja biar bisa sambil nonton" ucap Tari.
"Iya nih, perut kita kembar ya" ucap Lulu melihat perut sahabatnya.
"Hahahaha bener, gak sabar deh menunggu mereka lahir" ucap Tari menduduki tubuhnya disofa.
"Tar, Ferdi mana?" tanya Daffa.
"Di ruang kerja. susuli saja" jawab Tari.
"Hari libur masih kerja? rajin amat lakimu" ujar Daffa terheran. segera ia berjalan menuju ruang kerja Ferdi.
"Lo tau? Ferdi sengaja menyelesaikan pekerjaannya agar gue lahiran ia bisa cuti dulu" jelas Tari.
__ADS_1
"Kebalik banget sama Daffa, malah ia sering bolos demi samperin gue dirumah. akhirnya Assisten yang mengerjakan semua" ucap Lulu menepuk jidat.
"So sweet banget laki lo, tapi begitulah cara mereka berbeda-beda untuk meluangkan waktu buat kita" ujar Tari dan diangguki Lulu.
"Ya ampun, gue lupa suruh bibi buat minum" lanjutnya kembali dan bergegas bangkit untuk ke dapur. di dapur, Tari menyuruh Bibi untuk membuat minuman dingin juga cemilan. satu diantar kepadanya dan satu lagi keruang meja suaminya.
Lulu menunggu Tari sembari memegang perutnya dan menonton upin ipin yang baru saja ia ganti channelnya. Lulu tertawa lebar, hingga akhirnya Tari mendatanginya yang tengah tertawa.
"Nonton apa sampai tertawa gitu?" tanya Tari yang baru saja tiba.
"Itu, Upin ipin. lagi pengen nonton kartun sih gue. kemarin saja nyuruh Daffa beli kaset Barbie dan Teletubbies" ujar Lulu terkekeh. Tari yang mendengarnya pun merasa lucu hingga ia ikut tertawa mendengar guyonan sahabatnya.
"Hahahahaha, fix ni anak pasti perempuan deh" tebak Tari.
"Gak tau. dan kami belum mau tau walaupun beberapa kali di USG namun aku tetap tidak ingin dokter memberitahunya" jelas Lulu.
"Ih Lulu, lucu banget sih sampai tidak ingin tau jenis kelamin anak kalian" ucap Tari mencubit pipi sahabatnya.
"Kalau si dedek, jenis kelaminnya apa?" tanya Lulu penasaran.
"Yang jelas dia kece seperti paduan wajahku dan ayahnya" jawab Tari membuat Lulu sedikit bingung.
"Ih main rahasiaan pula" cemberut Lulu.
"Hahahahahaha, jenis kelaminnya .... C-----" ucap Tari ragu-ragu namun akhirnya sengaja digantung seperti jemuran๐
"C apaan!"
ยฐ
ยฐ
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya ya ๐๐
__ADS_1