Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
174. Wanita yang dirindukan


__ADS_3

Hari telah menunjukkan pukul Dua belas lewat tiga puluh menit, Lulu baru saja selesai mandi setelah terjadi banyak drama di kamar mandi sebab Daffa yang ingin mandi bersama sang istri namun tiba-tiba ia kembali merasa mual hingga mengharuskan mereka untuk mandi secara berganti-gantian.


Kini keduanya telah duduk di kursi meja makan untuk menyantap makan siang keduanya. Lulu terheran kenapa ada gulai pakis ikan tongkol diatas meja? seingatnya Daffa sangat tidak suka dengan makanan yang berminyak dan bersantan. Lulu menyipitkan kedua matanya menatap Daffa yang tengah mengambil nasi dengan porsi yang sangat besar hingga Lulu ternganga dibuatnya.


"Yang, ini lauknya kamu yang minta buatin ke Bibi?" tanya Lulu. Daffa menghentikan mengambil nasi lalu menatap istrinya yang bertanya.


"Iya yang, tentu saja." jawab Daffa dengan singkat, jelas dan padat. Lulu pun manggut-manggut mengerti dan berfikir mungkin saja itu makanan untuk membangkit selera suaminya. Lulu mulai mengambilkan nasi ke piringnya namun niatnya terhenti sebab bunyi bel terdengar ditelinga mereka hingga ke ruang makan.


Bibi segera pergi ke depan untuk melihat siapa yang bertamu hingga beberapa detik kemudian Tari dan Ferdi datang menghampiri mereka membuat Lulu terkejut dan kegirangan.


"Tari???" girang Lulu segera berdiri memeluk sahabatnya.


"Luluku...." sambut Tari memeluk Lulu dengan erat. sedangkan Daffa dan Ferdi bersalaman.


"Hai bro, apa kabar?" tanya Daffa.


"Baik bro. waduh mau makan siang nih yaa" ujar Ferdi menatap hidangan diatas meja makan itu.


"Iya kak, ayo kita makan siang dulu" sahut Lulu menggiring Tari menduduki kursinya disamping Lulu.


"Kok kalian berjauhan sih duduknya?" tanya Tari yang memerhatikan mereka.


"Heeem... Dia mual dekat gue" jawab Lulu.


"Mual??" sahut Ferdi menduduki tubuhnya disamping Daffa.


"Lo hamil ya Lu?" tanya Tari penuh selidik dan Lulu menanggapinya dengan tersenyum sumringah.


"Haaaaaa!!! Lulu!! akhirnya gol juga kecebong Daffa" seru Tari yang ikut kegirangan hingga Lulu menutup mulut Tari dengan tangannya.


"Apa-apaan sih, malu-maluin" gerutu Lulu hingga mengundang Ferdi dan Daffa jadi menertawakan mereka.


"Hahahahahahaha...." tawa mereka meledak diruangan itu.


"Jangan tertawa!" ucap Tari dan Lulu secara serempak. hingga kedua suami itu pun terdiam seketika melihat istri mereka yang berang sambil berkacah pinggang.


"Jangan galak sayang, nanti si ucul juga galak" ucap Daffa.


"Biar saja galak!" ujar Lulu.


"Kamu juga yang, nanti anak kita bisa jadi galak kayak singa lho" ujar Ferdi pada istrinya.


"Galak lebih baik kayak singa, biar kamu dihajarnya terus" ketus Tari membuat tubuh Ferdi bergidik ngeri membayangi anaknya bergelut dengannya lalu mencakar tubuhnya dengan kuku.

__ADS_1


"Aaaaish kejamnya. ayo ah makan lagi lapar nih" ucap Ferdi mengambil centong nasi dan menuangkannya kedalam piring lalu mengambil lauk yang mengugah seleranya itu.


"Yang! gak sopan banget sih, yang punya rumah saja belum ambil lauk lho" ujar Tari melihat suaminya yang duluan mengambil nasi.


"Tidak apa, lanjut saja kak. makan yang banyak seperti Mr. Daffa" suruh Lulu. Ferdi menatap piring Daffa dan terkejut melihat nasi yang setinggi gunung.


"Gila bro, banyak amat makan lo" ucap Ferdi.


"Biar banyak tenaga gue untuk menghajarnya nanti malam" ketus Daffa membuat Lulu menatap tajam padanya.


Pffftt.....


"Bagus juga tuh, gue juga ah isi baterai sebanyak-banyaknya untuk menghajar Nona Tari" seru Ferdi mengedipkan sebelah matanya pada Tari.


"Dasar mesum" gumam Tari.


"Sayang, kamu mau menghajarku?" tanya Lulu pada suaminya.


"Tentu saja" jawab Daffa menyuapi nasi ke mulutnya.


"Kamu saja mual didekatku, bagaimana mau hajar aku dikasur?" ujar Lulu membuat Daffa tidak bisa menjawab.


"Hahahahahaha.... hebat Lu, hebat! mati kutu dia" ledek Tari tertawa hingga Lulu tersenyum seringai menatap suaminya.


"Ayo kita makan" ujar Daffa yang kini kembali tampak bersemangat.


"Habis kau Lu" gumam Daffa dalam hati.


Drama makan siang telah selesai oleh ke empat orang itu, Lulu dan Tari sedang berada di kamar Lulu tepatnya di balkon. mereka asyik mengobrol tentang bulan madu dan kehamilan mereka berdua.


"Asyik banget ya honeymoonnya hingga bisa bertemu dengan BTS" seru Tari.


"Asyik banget tau Tar, sampai kami di undang makan malam gratis sama mereka. ya allah....." ujar Lulu kegirangan memikirkan pertemuan mereka.


"Aaah gue jadi pengen nih" ujar Tari.


"Lihat ini, gue jadikan figura foto lho" ucap Lulu memamerkan foto mereka.


"Ya allah Lu, gue iri banget sumpah" ujar Tari menatap lekat foto itu.


"Entar kalau anak kita udah agak gedean, kita liburan bersama yuk" ajak Lulu hingga Tari langsung menoleh padanya dengan mata yang berbinar-binar.


"Ide bagus!!" seru Tari memeluk sahabatnya.

__ADS_1


"Tapi Taaar.....".ucap Lulu terpotong. Tari melepaskan pelukannya dan menatap Lulu yang berubah sedu.


"Ada apa?" tanya Tari memegang tangan sahabatnya.


"Bagaimana kabar Rina? gue kangen" ujar Lulu tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


"Rina.. astaga! gue melupakan Rina! Lo tau Lu? beberapa hari lalu, Rina menghubungi gue" ucap Tari tersenyum.


"Apa?? Rina menelpon lo?" tanya Lulu dengan girangnya dan diangguki oleh Tari.


"Tapi kenapa dia tidak menghubungi gue juga?" ucap Lulu kembali sedu.


"Katanya dia hubungi lo juga kok, mungkin lo tidak lihat daftar panggilan. coba deh periksa" suruh Tari hingga Lulu mengecek ponselnya ternyata benar, Ada nomor lain yang memanggilnya lewat WhatsApp.


"Cuma nomor ini" tunjuk Lulu.


"Memang itu, Rina jual ponselnya demi kebutuhan mereka yang serba kekurangan. lo tau? suaminya tidak menafkahi Rina. hanya memberi dua puluh ribu sehari" ujar Tari menatap lekat wajah Lulu hingga matanya ikut berkaca-kaca.


"Ya allah Rina.. bagaimana bisa seperti itu?" ucap Lulu termenung.


"Entahlah, gue turut sedih membayangi hidupnya. ingin rasanya gue jodohkan saja dengan abang gue" geram Lulu.


"Kita telpon yuk" ajak Lulu dan diangguki oleh Tari. Lulu menekan nomor itu, menyalakan speaker agar mereka lebih leluasa mendengar suara wanita yang mereka rindukan.


Berdering


"Hallo.." ucap seorang wanita yang asing.


"Halo, ini teman kerja Rina kah?" ucap Tari.


"Ya, ini sahabat mbak Rina ya? Ini mbak Rina sedang duduk mau bicara sama mbak" ujar wanita itu didalam ponsel.


"Baiklah, saya ubah panggilan jadi Video calll ya" ucap Tari lalu menekan tombol Video call itu hingga wajah Rina terpampang didalamnya.


"Luluuu, Tariii!!!!!" sorak Rina merasa kegirangan menatap wajah yang sahabatnya.


"Rinaaaaa.......!!"


°


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2