Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
211. Gendut 65 kg


__ADS_3

Tanpa berlama-lama, Roni langsung menjahili sahabat sekaligus Tuannya.


"Paaak!! jangan kurang ajar!" gertak Daffa yang sedang fokus dengan batu bata juga semennya. Roni berulah lagi, ia angkat tangannya ke tubuh Daffa bagian belakang lalu menarik celananya hingga si belahan pun terlihat. Daffa menyadarinya, wajahnya memerah dan segera membalikkan badan sembari mengomel.


"Bapak jangan ca*ul yaa! anda sungguh tidak sop--" omel Daffa terhenti sebab ia melihat pak mandor tengah mengambil bungkusan semen disebelahnya. Daffa ternganga, ternyata bukan pak mandor. segera ia melihat ke bawah ternyata Roni yang tengah terkekeh. seketika Daffa langsung menendang pantat sahabatnya.


"Kau rupanya!! kurang ajar!" ujar Daffa berang menendang kecil pantat Roni yang baru saja berdiri.


"Santuy sob, lo butuh hiburan. malang sekali nasibmu" ledek Roni tertawa lebar.


"Sial lo! pergilah! kau membuang waktuku!" ucap Daffa mendorong Roni untuk segera pergi sebelum ia meledeknya lebih jauh lagi.


"Aduh bro, jangan gitu. gue kesini mau kasih ini" ucap Roni menunjukkan beberapa lembar kertas.


"Apa itu?" tanyanya menngernyitkan dahi.


"Berkas penandatangan. cuci dulu tanganmu pak kuli" suruh Roni hingga menekankan kata pak kuli pada Daffa seolah-olah sedang mengejeknya.


"Berani sekali bilang kuli! awas lo gue turunin gaji" ancam Daffa menunjukkan jari telunjuknya pada Roni dengan mata yang tajam. Daffa segera mencuci tangan dengan selang air. lalu menghampiri Roni yang tengah duduk sembari menyesap minuman yang telah diberikan Bi Ningsih.


Daffa menduduki tubuhnya di sebuah kursi samping Roni yang berbatasan dengan meja. kemudian ia mengambil kertas itu dan mulai membacanya hingga akhir.


"Mana pulpen?" pinta Daffa menengadahkan tangan ke samping dengan mata yang masih fokus pada tulisan di kertas penting itu. Roni segera mengambil pulpennya dan memberikan kepada Daffa. Daffa pun langsung menandatanganinya secara bergantian.


"Sudah. pergilah" usir Daffa.


"Tidak, aku akan disini dulu menikmatimu pemandangan langkaku" ujar Roni memakan cemilan.


"Kau hanya pembuat rusuh! pergilah" usir Daffa.


"Ya ya baiklah. berapa gajimu dari Lulu?" tanya Roni tersenyum seringai.


"Kau tidak perlu tau! aku akan menagih bayarannya nanti padanya" ucap Daffa.

__ADS_1


"Berapa? 100 ribu sehari? hahaha" ledek Roni.


"Kau kira uang? uangku sudah banyak. pergilah!" ucap Daffa geram. Roni pun segera pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Daffa. Daffa mengusap wajahnya kasar lalu segera melanjutkan pekerjaannya lagi. beberapa menit kemudian, Roni kembali lagi mengintip Daffa, menduduki dirinya dengan diam-diam sembari terkekeh menahan tawa. Roni terus memerhatikannya hingga sempat-sempatnya ia merekam bosnya itu.


Lulu yang memerhatikan mereka dari layar laptopnya, tak henti-hentinya tertawa. apalagi saat Roni mengerjainya dengan membuka sedikit celana hingga terlihat belahan yang tersembunyi. Lulu tertawa lebar hingga perutnya terasa kebas. ia terus memerhatikan, mereka seperti tontonan yang begitu terhibur. sekarang Roni berpura-pura pergi dan kembali lagi duduk santai menikmati pemandangan langka. Lulu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Roni yang tengah merekam Daffa dengan ponselnya.


"Aduh assisten Roni, sempat-sempatnya merekam. suamiku yang malang" ucap Lulu terkekeh. setengah jam Lulu melihat Roni yang memerhatikan suaminya hingga Daffa menoleh dan terkejut. Daffa pun melempar batu bata pada Roni hingga Roni berlari sembari tertawa lebar. begitu pun Lulu, entah apa yang membuat suaminya menoleh, mungkin saja Roni yang berdehem hingga Daffa terdengar dan terkejut.


Tok tok tok,


Pintu ruangan di ketuk, membuyarkan aktivitas Lulu yang tengah senang mengerjai suaminya. lalu ia beralih pada pintu itu.


"Masuuuk" teriaknya. seseorang membuka pintu, lalu berjalan menuju meja kerja Lulu.


"Lu, makan yuk" ajak Rani.


"Emang sudah jam berapa?" tanya Lulu heran lalu melihat jam pada pergelangan tangannya.


"Kau sampai tidak tau jam? astaga" gerutu Rani.


"Lo sih serius banget sama pekerjaan. ayo ah makan gue lapar banget" ajak Rani menarik tangan Lulu untuk bergegas pergi.


"Iya-iya bawel" turut Lulu sembari menutup laptopnya dan beranjak berdiri. Lulu dan Rani pun meninggalkan ruangan presdir dan berjalan menuju lift untuk ke kantin.


Lulu memesan nasi ramas dan bakso juga beberapa cemilan seribuan yang menemaninya menghabiskan waktu di kantin. tidak perlu kaget lagi, Rani sudah biasa melihat pemandangan itu, dimana Nyonya presdir sangat banyak sekali makannya. walaupun tak heran, Lulu juga banyak makan sebelum dirinya berbadan dua. ya walau hanya karena tengah galau ia akan menyikat semua makanan yang ada dihadapannya.


"Lo gak khawatirkan badan lo Lu?" tanya Rani.


"Emang kenapa?" tanya Lulu memakan nasinya.


"Makan lo banyak amat lho. gak takut gendut? lo udah gendut" ujar Rani mencubit pipi chubby Lulu. Rani dapat mengira, pasti kini berat badan Lulu mencapai 65 kg, berbeda dari awal sebelum kehamilan, tampak mencapai 50 kg dengan tubuhnya yang tampak langsing.


"Enggak. selagi anak gue kenyang. lagian tiap malam gue olahraga mulu" ucap Lulu.

__ADS_1


"Ya, olahraga malam kan?" tebak Rani tertawa lebar.


"Yaiyalah, namanya juga olahraga pada malam hari. gue itu Yoga walaupun jarang sih" jelas Lulu. Rani pun mengernyit heran akan kepolosan Lulu.


"Ah busseet, polos amat ya, gue kan ngira olahraga any-anu" gumam Rani dalam hati.


"Sudah ah, kenapa menung lihatin gue yang cantik. makan buruan" ujar Lulu dan diangguki olehnya.


"Selesai lahiran, lo harus urus badan lagi. jangan sampai melar. banyak lho melahirkan anak pertama, badannya jadi melar" nasehat Rani.


"Itu pasti beb" sahut Lulu.


"Ngomong-ngomong lo udah isi?" tanya Lulu disela-sela makannya.


"Belumlah, baru beberapa hari menikah" jawab Rani.


"Siapa tau langsung nembus kecebongnya Gibran" ujar Lulu.


"Berharapnya sih iya, lo do'ain deh gue cepat nyusul" ucap Rani.


"Aamiin, pasti dong gue doain. tapi diselingi dengan rajin-rajin berkuda-kuda" ucap Lulu. membuat Rani hampir tersedak.


"Apaan sih, buat malu saja" gerutu Rani mengedarkan pandangannya takut ada yang mendengar ucapan Lulu.


"Malu dia, hahahaha" gumam Lulu dalam hati.


Makan siang telah selesai, kini kedua wanita itu kembali kedalam gedung untuk melanjutkan pekerjaannya. pekerjaan yang telah banyak tertunda akibat slalu memerhatikan Roni dan Daffa dilayar laptop miliknya. Kini Lulu harus fokus, mengerjakan apa saja yang ia bisa dan menyisihkan yang lain untuk ia bawa pulang dan memberi tugas lembur untuk suaminya.


Suami yang malang, pagi hingga sore nguli, malam lanjut lembur dengan menguras otak. kapan waktu Daffa istirahat netijen???? Daffa akan tepuk jidat tidak bisa menagih bayaran perharinya. Daffa yang malang, tapi demi cinta apapun akan ia lakukan walau harus menyeberang lautan dan mendaki gunung.


Β°


Β°

__ADS_1


Β°


Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2