
Daffa menaruh istrinya diatas ranjang, mama semakin panik kenapa anak dan menantunya tiba-tiba pucat dan pingsan. begitu pun Daffa, mengusap wajahnya kasar melihat keadaan istrinya. Tari, Rani dan Karin pun memasuki kamar dengan menyelonong, melihat keadaan Lulu yang terbaring lemah.
"Tante, berikan ini pada Lulu" usul Rani memberikan minyak angin pada temannya. sedangkan Daffa bergegas keluar untuk mengambil air putih sekalian menemui bibi untuk menjaga anak-anak.
"Bi Tuti, tolong lihatin anak-anak" perintah Daffa saat melihat Bibi tengah membawa minuman untuk para tamunya.
"Baik Tuan" sahutnya segera pergi. sedangkan Daffa melanjuti langkahnya ke dapur. setelahnya ia pun kembali ke kamar untuk melihat istri tercintanya itu.
"Bagaimana? apa Lulu sudah bangun?" tanya Daffa dari ambang pintu. semuanya menoleh, termasuk Lulu dengan menunjukkan wajah lelahnya.
"Sudah nak" sahut mama Sarah. Daffa pun langsung memberikan air putih pada sang istri.
"Minumlah" ucap Daffa menyodorkan gelas itu. Lulu pun mengambilnya dan segera meneguk hingga habis.
"Anak-anak mana?" tanya Lulu dengan suara lesunya yang langsung memikirkan anak-anak dibawah.
"Tidak usah memikirkan mereka. mereka baik saja. kamu kenapa? demam?" tanya Daffa khawatir lalu menempelkan punggung tangannya pada dahi sang istri.
"Tidak, tiba-tiba mual" ucap Lulu, matanya mulai sayu kembali dan ingin rasanya membaringkan tubuh.
"Baringlah nak" ucap mama Sonya membaringkan menantunya diatas ranjang itu. mendengar keluhan Lulu, ketiga emak muda itu pun saling bertatapan, tampak sekali mereka mengerti akan kondisi yang Lulu alami, hingga dengan serempaknya mereka mengatakan,
"HAMIL!!!!!" seru emak muda dengan serempak. sontak saja Daffa, kedua Mama cantik dan juga Lulu menoleh pada ketiga emak muda tersebut.
"Apa??? hamil??" tanya Daffa mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja. biar aku menelpon dokter kandungan, kebetulan ia juga membantu persalinan Shera" ucap Tari segera merogoh ponselnya didalam tas dan mulai menghubungi dokter tersebut.
Lulu tampak sangat senang mendengar penuturan Tari, ia pun juga merasakan bahwa dirahimnya juga mengandung bayi mungil seperti empat tahun lalu. ia menatap mama Sarah dan mama Sonya, memegang tangan mereka dengan erat berharap apa yang diimpikannya tercapai.
"Semoga kamu benaran hamil sayang" seru mama Sarah dan diangguki oleh Lulu.
Beberapa menit kemudian, dokter panggilan dari Tari pun datang dengan membawa peralatan medisnya.
"Permisi" ucapnya mengetuk pintu kamar yang terbuka.
"Ah, dok, ayo masuk" ajak Tari hingga mereka pun saling bersalaman.
"Dok, coba periksa kondisi istri saya apakah benar hamil?" desak Daffa menyilahkan dokter wanita itu untuk memeriksa Lulu. Dokter itu pun mulai memeriksa detak jantung Lulu hingga ke perutnya, ia pun tersenyum senang dengan pemeriksaanya.
"Benar sekali. Nyonya sedang mengandung 2 minggu" tuturnya membuat semua orang tercengang sembari tersenyum mendengar kabar itu.
__ADS_1
"Sungguh dok?" tanya Daffa kembali.
"Sungguh. selamat ya Tuan, Nyonya" ucap dokter itu tersenyum lalu mengambil buku resepnya dan menulis beberapa resep yang harus Lulu konsumsi.
"Ini resep dari saya berupa vitamin dan pereda mual. bila berkenan, silakan melakukan USG dirumah sakit ini tempat saya bekerja" ucap bu dokter tersebut sembari memberikan kertas resepnya.
"Baik dok, terima kasih banyak" ucap Daffa tersenyum. hingga dokter itu pun keluar dari kamar Daffa dan kembali ke rumah sakit.
Rasa bahagia bercampur haru untuk semuanya yang berada dikamar itu, Lulu memeluk kedua mamanya dengan perasaan yang begitu senang sembari mengelus perut datarnya hingga ia pun merentangkan tangan untuk ketiga emak muda tersebut.
"Luluuu... selamat yaa, akhirnya punya junior lagi" ucap Tari memeluk sahabatnya.
"Ah Lulu, udah dua aja. selamat yaa" timpal Rani memeluknya.
"Hehe kamu juga gas lagi dong" ucap Lulu terkekeh.
"Ntar deh. Zeyn baru setahun lho masih ASI lagi" ucap Rani menatap putranya yang tengah tertidur dalam dekapannya.
"Iya deh. besarin dulu Zeyn-nya" ucap Lulu mengelus rambut tipis bayi itu.
"Kak Karin ih, udah buncit aja. kapan dedek keluar nih?" ucap Lulu pada Karin.
"Yasudah kita keluar dulu, biarkan Lulu istirahat" ucap Daffa melerai percakapan mereka. Emak muda itu pun mengangguki, melambaikan tangan pada Lulu untuk membiarkannya beristirahat.
"Istirahatlah Lu, kami kebawah dulu jagain anak kita" ucap Karin dan diangguki oleh Lulu.
"Tidurlah, mama juga mau kebawah" ucap mama Sarah hingga mereka semua pun meninggalkan kamar Lulu dan Daffa. setelah semuanya keluar, Daffa pun memeluk sang istri dan mengecup keningnya. tak lupa juga ia mengecup perut datar itu.
"Terima kasih sayang, udah hadir lagi dalam perut ammi" ucap Daffa pada perut itu. Lulu tersenyum, tangannya mengelus rambut suaminya dengan penuh kebahagiaan. baginya ini adalah kado terindah untuk Ayura yang telah lama menginginkan adik.
"Aku bahagia sekali, akhirnya impian Yura terwujud tepat dihari ulang tahunnya" ucap Lulu menatap langit-langit kamarnya.
"Yura pasti bahagia sekali mendengar kabar ini. oh iya, apa kau lapar?" tanya Daffa mengingat bahwa istrinya belum ada memakan apa pun dihidangan yang tersajikan.
"Aku tidak lapar, malah perutku ingin mual mencium aroma makanan" ujar Lulu dengan wajahnya yang lesu.
"Jadi apa yang kamu inginkan? kamu harus makan biar ucul juga sehat didalam sini" ucap Daffa menatap nanar wajah sang istri. Lulu terdiam sejenak, mencoba untuk berfikir.
"Mangga muda dan nanas muda" ucap Lulu tersenyum.
"Malam ini?" tanya Daffa.
__ADS_1
"Yaiya, orang kamu bertanya aku ingin apa malam ini" ucap Lulu menatap sinis.
"Baiklah, aku akan suruh mang Asep untuk membelinya" ucap Daffa lalu berlalu pergi.
"Tunggu!!" langkah Daffa pun terhenti sebab panggilan Lulu menghentikan langkahnya. Daffa pun menoleh,
"Aku mau kamu yang cariin, tidak dibeli. aku akan ikut" ucap Lulu beranjak bangun dari tidurnya.
"Kamu tidur saja. pasti sangat lelah" ucap Daffa.
"Aku sangat kuat. ayo berangkat" ucap Lulu menarik tangan suaminya.
"Apa-apaan dia pakai ikut segala, pingsan bagaimana coba! harus mencari nanas dan mangga muda lagi" gerutu Daffa dalam hati sembari mengikuti langkah istrinya. mereka pun pergi menaiki mobil, melaju pelan sembari mencari pohon mangga yang berbuah disekitaran komplek.
Setengah jam berputar memutari komplek, akhirnya apa yang dicari pun mereka dapati. Daffa menghentikan mobilnya, menatap pohon mangga yang telah berbuah. Lulu tampak tergiur melihatnya, ia pun menyuruh suaminya untuk segera turun.
"Ayo turun, ambilkan!" suruh Lulu.
"Iya, tapi panggil yang punya dulu" ucap Daffa membuka pintu mobilnya lalu ia pun memencet tombol yang terletak di tembok gerbang.
Ting tong, ting tong,
Tidak ada sahutan dari dalam hingga berkali-kali ia memencet tombol itu.Daffa pun mulai frustasi, melihat ke atas tampak ada dua buah yang keluar dari gerbang. Daffa pun memiliki ide, memanjati pagar itu dan meraih mangga yang sedikit lagi bisa ia jangkau.
"Ayo yang, sedikit lagi!" sorak Lulu dengan girang.
"I-iyaaa" sahut Daffa.
"Woooooi!!! pencuri!!!" tampak dua orang pemuda yang tengah bersorak mendapati Daffa yang tengah mengambil mangga muda itu. sontak Lulu dan Daffa terkejut melihat mereka berlari ke arahnya. tanpa berlama-lama, Lulu langsung mengambil alih kemudi dan melajukannya dengan cepat meninggalkan suaminya.
"Shit!!! sayang tunggu!!" teriak Daffa dengan sigap ia ambil mangga tersebut dan bergegas berlari mengejar sang istri yang membawa mobil miliknya.
"Woooii!! jangan lari!!" teriak pemuda itu. Daffa menoleh ke belakang, jarak mereka beberapa meter darinya. Daffa pun menambah kecepatan berlarinya.
"ISTRI TIDAK ADA AKHLAK.....!!!!!!!!!"
°
°
°
__ADS_1