Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
243. Dufan Ancol


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, sesuai janji sang Ayah, Daffa mengajak anak-anaknya untuk berliburan ke Dufan Ancol. Yura dan si kembar begitu euforia sekali, seisi rumah sangat riuh akan sorakan tiga bocah yang kegirangan tersebut. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, hari libur sekolah maupun kantor. Lulu bersiap-siap dandan yang cantik mengenakan jumpsuit berwarna dusty, membuatnya sangat cantik dan elegan. sedangkan Daffa hanya celana pendek dan baju kaos dilapisi oleh kemeja membuatnya sangat tampan dan tampak santai.


"Ammi, Yura cantik gak?" tiba-tiba Ayura datang ke kamar Lulu hingga mengagetkan Lulu yang sedang mengenakan lisptick.


"Ya ampun Ra, apa gak bisa ketuk dulu pintunya?" ucap Lulu menggelengkan kepalanya.


"Gak bisa, Mi. Yura sudah gak sabar mau naik histeria.." ucapnya girang. tampak raut wajah bahagia terpancar didiri gadis itu.


"Appi takut hii anak kecil naik itu" gerutu Daffa yang sedang memakai jam tangannya.


"Ah appi terlalu cemen deh" ucap Yura.


"Tidak usah naik itu, mending biang lala aja" seru Lulu.


"Huh, ammi dan appi sama saja!" gerutunya berdecak kesal. Yura pun segera pergi dari kamar itu dengan langkahnya yang cepat sambil mencebikkan bibirnya. Daffa dan Lulu saling tatap, mengangkat kedua pundak lalu menepuk jidatnya.


"Anakmu itu" ucap Daffa menghampiri sang istri lalu melingkarkan kedua tangan memeluknya.


"Anakmulah. orang dia dari kecebongmu" balas balik Lulu menatap sinis suaminya dari balik cermin.


"Ya yaa... tapi kita yang buat'kan" ucap Daffa menghirup rambut Lulu yang begitu wangi.


"Rambutmu wangi sekali, sayang. pasti badanmu juga wangi" ujar Daffa tersenyum seringai. Lulu menatap suaminya dengan lekat, lalu melepaskan pagutan tangan yang melingkari perutnya.


"Apaan sih! awas ah" elak Lulu mulai merasakan hawa-hawa panas didiri suaminya.


Daffa sekeluarga beserta suster Ayu kini telah tiba di tempat wisata wahana yang bernama Dufan Ancol. dimana orang-orang banyak menghabiskan waktu disana untuk menikmati beragam wahana yang tersedia, melepas segala penat yang ada baik dipikiran maupun bathin.


"Yeaaaay..... sampai juga!!" sorak Fio kegirangan. Daffa memarkirkan mobil ditempat parkiran yang telah tersedia, celingak celinguk kesana kemari untuk melihat apakah ada kendaraan lain yang mau melewatinya. Hingga Daffa pun melihat tempat yang masih kosong lalu memarkirkannya disana.

__ADS_1


Lulu keluar dari mobil, menyambut sang putri yang tampak sangat gembira sekali lalu menggendongnya. Satu keluarga kecil itu melangkahi kakinya memasuki tempat wisata tersebut. tersenyum kepada orang-orang yang menatap mereka dengan ramah. Yura tak berkedip sedikitpun, menatap wahana satu per satu dan ingin mencobanya sekaligus.


"Pi, naik itu yaa" tunjuknya kearah Wahana Halilintar. Daffa melihat wahana itu, sangat menyeramkan bagi sosok Daffa. bagaimana tidak, yang ada ia akan pusing dan mual. Apalagi anaknya yang masih kecil itu, membuat Daffa pusing untuk membayangkannnya saja.


"Janganlah, kora-kora aja yaa" tawar Daffa.


"Iya deh" sahutnya pasrah. Daffa pun tersenyum, segera ia membeli tiket untuk mereka semua. Setelahnya satu keluarga itu menaiki salah satu wahana yang cukup menegangkan itu, membuat Daffa bergidik ngeri melihatnya.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajah pengunjung yang menaiki wahana itu, siapa saja yang menginjakkan kaki diwahana itu pasti akan merasakan kaki menggigil bahkan kaku. Wahana tersebut sudah mulai bergerak dan akan berayun-ayun keatas dan kebawah. Si kembar tidak turut ikut karna Daffa melarangnya, ia tidak ingin si kembar akan kenapa-napa. Daffa memeluk anak dan istrinya dengan erat, mereka terombang-ambing seperti ombak yang akan membawanya hanyut. Daffa menutup matanya, hanya ingin merasakan anginnya saja. sedangkan Lulu dan Yura tengah berteriak, menikmati suasana mencekam itu.


"Appi....... ammi........." teriak Yura merasakan sensasinya.


"Huuuuuu...... Fiooo, Lioooo...." teriak Lulu menoleh sekilas ke arah anak kembarnya.


"Jangan sampai jatuh, jangan sampai jatuh" gumam Daffa berdoa. Yura menatap sekilas appinya, tersenyum lucu melihat wajah takut itu. Hingga beberapa menit kemudian, wahana itu telah berhenti memanjakan pengunjungnya yang beberapa menit ini ia hibur. Lulu menuruni wahana itu, menyambut Ayura untuk lekas turun. sedangkan Daffa tampak pusing, membuatnya sedikit terhoyong.


"Aduh, appi pusing" gerutu Daffa.


"Appi mah memang gitu." sahut Lulu mengejek.


"Ammi...." panggil Lio berlari menghampiri Lulu.


"Iya sayang.. sekarang giliran Lio lagi yaa yang main?" tanya Lulu.


"Iya dong, Lio mau naik itu" ucapnya menunjuk Wahana Gajah Gledug.


"Oke sayang, kali ini permintaan Lio ammi turuti" ucap Lulu tersenyum, mengecup pipi bocah itu. Lulu pun berjalan kesana bersama suami dan anaknya, tak lupa Ayu yang terus mengekori mereka.


Hingga hari sudah hampir siang, sudah banyak wahana yang mereka coba. Lulu pun berniat mengajak anak-anaknya memasuki Wahana Paddle Pop tapi nanti saat mereka selesai makan siang. Kini mereka berada di sebuah restorant yang letaknya masih di Dufan, banyak makanan yang tersajikan diatas meja itu membuat siapa saja pasti akan tergiur. Termasuk makanan untuk si kembar, khusus balita yang juga tersajikan dimeja itu. Mereka melahap dengan nikmat, makanan western yang cukup menggoda. sesekali Lulu menyuapi Fio, lalu dirinya secara bergantian. Hening, tidak ada yang bersuara. Semuanya dengan hikmat menikmati sajian itu.

__ADS_1


"Ammi, mau coba makanan kakak" ujar Fio. Lulu menggelengkan kepalanya pertanda tidak boleh.


"No! itu sangat pedas. Fio gak boleh makan, nanti sakit perut" ujar Lulu memberi pengertian pada Fio yang cantik dan imut.


"Kakak kok boleh?" tanyanya heran.


"Karna kakak sudah besar" ucap Lulu. tidak ada sahutan lagi dari Fio, ia pun mengerti kalau makanan itu tidak boleh dilahap untuk anak seusianya. Ya, Yura memakan spagethy dengan saos merah yang membaluti mie tersebut. Justru itu Lulu melarangnya untuk disantap si kembar. sedangkan Fio dan Lio hanya memakan soup daging dicampur dengan nasi.


Kini hidangan penutup, yaitu ice cream dan desert yang tak kalah menggiurkan. dengan rakusnya, Fio dan Lio menyantap cepat hingga mulutnya sudah belepotan akan cream rasa cokelat itu.


"Sedaaap" gumam Lio membersihkan area bibir dengan lidahnya.


"Lio, Fio makannya kok celemotan sih sayang" ucap Lulu mengambil tissue, membersikan mulut anaknya.


"Enak mi, dingin" sahut Fio terkekeh. Tiba-tiba suster Ayu datang menghampiri mereka, ia baru saja dari toilet untuk membuang hajat yang dari tadi ia tahan.


"Sudah siap?" tanya Lulu menatap Ayu.


"Sudah Nyonya" jawabnya merasa lega.


"Besok tahan lagi yaa, dasar kamu" ucap Lulu. sedangkan Ayu hanya terkekeh sembari menggaruk kepalanya.


"Ayu ada-ada saja. pipis kok ditahan" sahut Daffa terkekeh.


"Santuy saja suster, serahkan saja adek sama appi" timpal Yura ikut nyambung dalam pembicaraan orang dewasa itu.


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2