Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
234. Filio dan Fiona


__ADS_3

Kini semua keluarga sedang berkumpul melihat kedua bayi kembar itu yang sudah pulang ke rumah mereka. Bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. kali ini Daffa yang memberikannya nama kepada anak kedua dan ketiganya itu.


Filio Aiden Mahesa dan Fiona Ariella Mahesa. nama yang sangat bagus dan memiliki arti didalamnya. Lulu merasa beruntung telah berhasil melahirkan putra dan putrinya secara normal walaupun ia merasakan sakit teramat sakit. Apalagi Daffa yang begitu pucat saat menemani sang Istri melahirkan, ia terlihat takut, gelisah, was-was, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Namun saat keduanya telah lahir ke dunia, ia merasa lega bagai air menyiramnya langsung ke seluruh tubuh. Ayura, gadis mungil yang akan berusia 5 tahun, juga ikut serta dalam menyambut kedua adik yang telah lama ia tunggu kehadirannya. Ayura begitu bahagia, senang, gembira melihat kedua adiknya sedang tidur didalam box bayi pada saat itu. Tuhan begitu baik padanya, meminta satu namun diberi dua sekaligus oleh Allah. rasa syukurnya semakin membuncah hingga ia tidak pernah lupa untuk terus berdo'a.


"Ammi, dek Fio haauuuus..." ujar Yura melihat adik perempuannya tampak menggeliat dan menggerakkan bibirnya. Yura pun langsung tau bahwa sang adik tengah kehausan. sedangkan Lio tengah disusui oleh Lulu.


"Iya sayang, sebentar lagi" ucap Lulu menatap anak lelakinya yang sedang menyedot cukup kuat.


Eeeek......


"Sabar ya adek" ucap Yura mengelus kepala adiknya dengan lembut. Lulu pun telah selesai menyusui Filio atau lebih disingkat dengan panggilan Lio. Lulu menaruhnya didalam ranjang kecil yang berwarna biru dan diberi nama sang putra. lalu Lulu pun meraih Fio yang berada digenggaman mama Sonya.


Dua bayi mungil nan berkulit putih, bersih, dan suci tanpa debu itu telah terlelap menghampiri alam mimpi. tiada bergeliat lagi, keduanya diam dengan mata yang terpejam. tubuh yang dibedung tidak membuat mereka lasak hingga tangan dan kaki yang menari-nari sebab seluruh badannya dibaluti oleh kain polos bersegi empat yang membedungi tubuh keduanya. Lulu mengajak mama Sonya dan Yura untuk turun kebawah. Namun Yura enggan, karna ia ingin menjaga adiknya sekaligus melihat keduanya yang terlihat sangat lucu.


"Yura, ayo ih kita makan siang dulu" ajak Lulu.


"Gak ammi. Yura ingin lihat adek" ujar Yura.


"Adek bobo, nanti bangun lho" ucap Lulu.


"Yura gak ribut, janji" ucapnya mengacungkan jari telunjuk dan tengah seperti huruf v.


"Tapi kamu harus makan ya, ditemani bi Tuti" ujar Lulu lagi setelah menghembuskan nafas kasar melihat putrinya itu.


"Siap mi" sahut Yura memberi hormat. membuat Lulu menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum melihat putrinya itu. Lulu pun kembali turun dari kamar, menuruni tangga dengan pelan namun pasti hingga mereka semua pun telah berada diruang makan.


"Bi, suappin Yura dikamar Lulu yaa" perintah Lulu.


"Baik Nyonya" turut Bibi lalu pergi ke dapur untuk menyiapi makan siang nona mudanya.


"Emang Yura gak diajak kesini Lu?" tanya papa Mahesa.

__ADS_1


"Dianya yang gak mau, pa. jaga adik katanya" jawab Lulu yang tengah mengambil nasi untuk suaminya.


"Astaga anak itu" gerutu Daffa terkekeh.


"Dia begitu sayang sama adiknya" sahut mama Sarah ikut terkekeh.


"Begitulah cucu mama, sudah siaga menjadi baby sitter cilik." ucap Lulu terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Kini mereka semua pun menikmati makan siang dengan begitu lahap dan tenang. hanya dentingan sendok yang menggema diruangan itu. tiada percakapan lagi, karna mulut yang tengah menari menikmati sedapnya masakan sang Bibi.


Dikamar Lulu, Yura menyambut suapan demi suapan dari bi Tuti. tidak mau diam, ia terus berjalan menghampiri ranjang adiknya.


"Nona, sebaiknya kalau makan duduk dulu ya, nanti lihat adik lagi." ujar Bi Tuti.


"Adiknya lucu, bi. pengen Yura gigit" ucap Yura menunjukkan ekspresi geram.


"Hehehe nona, kalau digigit entar nangis lho. mending kita nonton spongebob yuk" ajak Bibi.


"Boleh-boleh" ujar Yura tersenyum lalu mengambil remote yang terletak diatas nakas lalu menaiki ranjang sembari menonton spongebob, kartun favorite bocah tengil itu. Bibi pun tersenyum, tidak sulit untuk membujuk Yura. dia anak penurut walau sedikit suka membantah namun Bibi senang kini Yura sudah enteng diatas kasur sembari mengunyah makan siang yang disuappi bibi.


"Minum bi" pinta Yura. Bibi pun langsung memberikannya gelas berisi air putih. Ia pun melanjutkan makannya dengan lahap, mata yang terus menatap layar televisi itu. sesekali ia tertawa hingga nasi pada berjatuhan diatas ranjang milik Daffa dan Lulu.


"Tenang Bi. Nanti kita ganti seprainya" sahut Yura dengan tenang. Bibi pun hanya tersenyum sembari mengelus rambut majikannya.


Diruang makan, semuanya telah selesai menghabiskan hidangan makan siang. Vivi langsung permisi dan berlari menuju kamar sang kakak untuk menemui ketiga keponakannya. Papa Mahesa pun mulai membuka percakapan untuk mereda keheningan diruangan itu.


"Jadi Daf, kamu gak sewa baby sitter aja?" tanya papa Mahesa sembari mengelap mulutnya dengab tissu. Daffa melirik istrinya seolah meminta pendapat.


"Tergantung Lulu, pa. Daffa juga sudah pernah mengusulkan untuk menyewa orang urus si kembar" ujar Daffa.


"Lu, lebih baik sewa saja baby sitter" usul papa Adi.


"Hmm, nanti Lulu pikirkan lagi, pa." jawab Lulu singkat. Lulu pun berfikir apakah ia akan memakai jasa baby sitter atau tidak.

__ADS_1


Satu jam kemudian, orangtua Daffa dan Lulu memutuskan untuk pulang agar Lulu beristirahat. Vivi yang diajak pun enggan, ia memilih untuk tetap dirumah itu karna Yura yang masih ingin bermain bersama tantenya. Kini mereka semua saling melambaikan tangan, menatap dari kejauhan hingga mobil yang membawa orangtua mereka pun hilang seketika.


Drrrrrt..... drrrrrrt....


Dering ponsel milik Vivi berbunyi dari dalam saku celananya. segera ia mengambil ponselnya lalu mengangkat telepon dari seseorang. tampak Vivi tersenyum, membuat Yura yang melihatnya pun merasa penasaran dengan siapa tantenya itu tersenyum. dilihatnya ponsel, tidak ada siapa-siapa, hanya sebuah tulisan. Yura yang sudah pandai membaca pun seketika tau siapa yang menelpon.


"Ammi-ammi!" panggil Yura. Lulu pun menatap anak sulungnya, tampak Yura ingin menyampaikan sesuatu melalui bisikan. Lulu mendekatkan telinganya pada sang putri, mencoba mendengar apa yang ia katakan.


"Cintaku" bisik Yura tersenyum dengan mata yang melirik tantenya tengah berbicara pada seseorang.


"Ssssst.... bocah tengil" ucap Lulu hingga mereka pun terkekeh. Vivi yang merasa kakak dan keponakannya tengah kepo, ia memberikan Yura pada Lulu lalu Vivi pun pergi sedikit menjauh dari mereka hingga ia pun ke tempat mang Asep entah apa yang ia bicarakan. setelahnya Vivi pun kembali berlari menghampiri kakaknya yang menatapnya sangat dalam.


"Siapa yang menelpon hm? trus ngapain ke mang Asep?" tanya Lulu ingin tau.


"Ah kakak, kepo!" ujar Vivi tersenyum malu. segera ia memasuki rumah dan menduduki dirinya di sofa ruang keluarga sembari menonton televisi.


"Tantemu gila" bisik Lulu pada putrinya yang tengah ia gendong.


"Ammi tidak pernah muda" ketus Yura mengejek amminya.


"Apa kamu bilang? dasar bocah tengil" gerutu Lulu gemas lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. tidak sabar untuk melihat si kembar yang tengah tertidur. sedangkan Daffa langsung pergi keruang kerjanya.


Beberapa menit kemudian,


Ting tong..


Vivi yang mendengar segera berlari menghampiri pintu utama,


Ceklek,


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2