Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
172. Dimas terpuruk


__ADS_3

Hingga malam telah tiba, kini tepatnya tengah malam pada pukul satu dinihari. Dimas kembali ke rumah kost yang ia tempati dengan penampilan yang acak-acakkan dan tubuh yang terhoyong-hoyong. ya, Dimas mabuk hingga membuatnya seperti itu.


"Lulu.." gumamnya setengah sadar.


"Vera brengsek!" lanjutnya kembali.


Hingga tibalah didepan rumahnya, Dimas terperangah dan terkejut. ia mengucek-ngucek kedua matanya agar ia lebih sadar apa yang ia lihat. kobaran api membara hingga asapnya mengepul di udara. banyak warga yang terpontang-panting membawa ember beserta air untuk memadamkan kobaran api tersebut.


"Dimas!!" panggil seorang Ibu menepuk pundak Dimas dari belakang.


"I..ibu, kenapa rumah jadi terbakar?" tanyanya.


"Mana saya tau! pokoknya kamu harus ganti rugi rumah saya yang terbakar ini!!" teriak Ibu itu yang ternyata adalah pemilik rumah kost tersebut.


"Ta..tapi.." ucapnya bingung.


"Pokoknya saya tidak mau tau ya!!! setelah ganti rugi, kamu pergi dari sini!!" ucapnya teriak hingga mobil pemadam kebakaran pun tiba. saat rumah sudah habis dilalap api, pemadam kebakaran selalu saja datang terlambat.


Dimas terdiam, terpaku, tiba-tiba ia teringat akan barang-barangnya yang berharga seperti pakaian, surat-surat berharga seperti ijazah sarjananya. tanpa ijazah, pasti ia akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.


"Ya ampun, ijazahku!! terbakar semua!! siapa yang melakukan ini!!" lirihnya terduduk direrumputan.


"Dimas, yang sabar yaa" sahut seseorang mengelus pundak Dimas. Dimas menoleh ke samping ternyata adalah seorang bapak tetangga sebelahnya.


"Ayo istirahatlah dirumah saya dulu" ajaknya menatap kobaran api yang sedang dipadamkan. Dimas hanya mengangguk dan menuruti bapak itu.


Dengan jalannya yang pelan, telah tiba diteras rumah si bapak. Bapak itu pun mengajak Dimas masuk dan menduduki sofanya.


"Kenapa rumah itu bisa terbakar pak?" tanyanya dengan tatapan yang kosong.


"Entahlah nak Dimas, warga sini tidak ada yang tau penyebab kebakaran itu. apa mungkin kamu punya musuh?" tanya Bapak itu. Dimas terdiam sebentar dan berfikir sejenak. namun ia teringat kalau siang tadi ia berkelahi dengan bosnya dan Vera.


"Kini saya tau siapa dalangnya" gumam Dimas mengepalkan kedua tangannya.


"Siapa nak?" tanya Bapak itu yang sayup-sayup mendengar gumaman Dimas.


"Tidak ada pak" jawab Dimas tersenyum kecut.


"Kamu istirahat saja dulu di kamar itu, tidak ada yang pakai kok" ucap Bapak itu dan diangguki oleh Dimas. tiba-tiba istri Bapak datang membawa air putih untuk tetangganya.


"Nak Dimas, minum dulu" ucap Ibu itu.


"Terima kasih bu" ucapnya mengambil gelas itu dan meneguknya dengan cepat.


"Istirahatlah, bapak akan membantu warga memadamkan apinya" ucap Bapak itu berlalu pergi meninggalkan Dimas. sedangkan Dimas segera memasuki kamar tersebut.


"Ini pasti ulah kau Ricko!!" gumam Dimas ingin meninju tembok namun ia urungkan sebab tidak ingin mengganggu pemilik rumah. Dimas segera membuka bajunya dan membaringkan tubuh diatas kasur itu dengan lengan kanan yang ditaruh di kening dan memejamkan matanya.


Keesokan paginya, Dimas terbangun karna mendengar ada keributan dari luar yang memanggil-manggil namanya. Dimas segera keluar dan terlihat pemilik kost ingin memasuki rumah untuk mencari Dimas namun si Bapak menenangkan si Ibu kost.

__ADS_1


"Dimas! kau harus mengganti rumahku!" teriaknya setelah melihat Dimas berdiri diambang pintu. Dimas berjalan menuju Ibu itu.


"Baik bu, izinkan Dimas mengambil uang di Bank dulu" ucapnya.


"Ayo kita kesana! kau harus dikawal atau kau akan lari!" seru Ibu itu. Dimas pun mengangguk dan langsung pergi tanpa mencuci wajah terlebih dahulu.


"Dimas, sebaiknya sarapan dulu" pinta Bapak itu.


"Tidak perlu pak, Terima kasih sudah mengizinkan Dimas menumpang disini. siang ini Dimas akan kembali ke Jakarta" ucapnya menyalimi punggung tangan Bapak dan Ibu tersebut.


Setiba di Bank, Dimas mengambil semua uangnya tanpa tersisa sedikitpun. ada sekitar Dua Ratus Lima Puluh Juta yang ia pegang setelahnya kembali ke dalam mobil bersama anak buah Ibu kost tersebut. Mobil melajukan rodanya dengan cepat menuju rumah Ibu kost, setiba disana Dimas segera turun dan menghampiri rumah itu. Ibu kost sedang duduk manis diterasnya sembari mengipas wajahnya.


"Bagus!! mana uangnya!" pinta Ibu itu menengadahkan tangannya.


"Ini bu, dua ratus juta" ucap Dimas memberikan uang itu.


"Hanya segini??" ucapnya lagi.


"Maaf bu, uang saya hanya segitu. lebihnya untuk saya kembali ke Jakarta" ucap Dimas menundukkan kepalanya.


"Pergilah!" usirnya dan Dimas pun pergi meninggalkan rumah itu tapi sebelum pergi, ia kembali dulu ke rumah kos yang telah menjadi butiran debu tersebut. Dimas memasukinya, mencari barang-barangnya yang sekiranya masih utuh. namun sayang, semuanya sudah lenyap tanpa tersisa. Dimas teringat akan Ricko dan Vera, tanpa berlama-lama ia segera pergi ke perusahaan itu.


Tepat sekali, kebetulan Riko dan Vera baru mendatangi gedung itu. tampak mereka berdua baru turun dari mobil sembari tertawa cekikikan. Dimas segera menghampiri mereka dan langsung menonjok wajah Ricko hingga babak belur.


"Ricko biadap!! dan kau jalang! berani sekali kalian membakar rumahku!!" teriak Dimas mengangkat kerah baju Ricko dan menoleh menatap Vera yang menutup mulut dengan kedua tangannya merasa kaget akan serangan mendadak dari Dimas.


"Apa-apaan kau ini! jangan fitnah kami yang tidak-tidak ya!" ucap Ricko menunjukkan jari telunjuknya ke depan wajah Dimas. Security tiba dan langsung menahan kedua tangan Dimas.


"Sayang, kau tidak apa?" tanya Vera.


"Tidak, ayo kita masuk" ajak Riko menggandeng tangan Vera dan menoleh sekejap pada Dimas yang menatapnya tajam dari jauh.


"Itu akibatnya kau menyentuh calon istriku"


Dimas berjalan kaki menelusuri jalanan dengan pakaiannya yang lusuh dan rambut yang berantakan. hingga ia melihat ada sebuah toko pakaian pria, Dimas segera memasuki toko tersebut dan membeli beberapa baju dan celana.


"Mbak, saya beli ini" ucapnya menyerahkan dua kemeja, tiga kaos dan tiga celana jeans.


"Semuanya sembilan ratus ribu" ucap pelayan kasir memberi paperbag pada Dimas. Dimas mengeluarkan uangnya dan memberikan pada kasir itu.


"Boleh saya menumpang toilet?" tanyanya dan diangguki oleh pelayan kasir tersebut.


Dimas menyirami tubuhnya dengan guyuran air untuk merilekskan tubuhnya setelahnya memakai pakaian yang ia beli barusan.


Kembali menelusuri jalanan, perut Dimas sudah mulai keroncongan hingga ia melihat warung sarapan pagi dan Dimas segera menghampiri warung tersebut. setelah sarapan, Dimas mencari ojek untuk mengantarkannya ke stasiun bus untuk membawanya ke Jakarta walau nanti akan menyeberangi lautan untuk berganti pulau yang ia pijak.


Tiga hari kemudian, ia telah tiba di Jakarta. kini Dimas telah berada dirumah orang tuanya.


Tok tok tok

__ADS_1


"Iya tunggu" sahut dari dalam yang sepertinya adalah Ibu Dimas.


Ceklek,


"Dimas??" lirih Ibu menatap sang anak.


"Ibu..." ucapnya memeluk sang Ibu hingga air matanya menetes di pundak sang Ibu. Ibu Dimas terperangah akan kedatangan anaknya yang kini telah pulang dari perantauan.


"Masuk dulu, ada apa? kenapa pulang mendadak?" tanya Ibu dengan wajah yang khawatir. Bapak Dimas keluar dari kamar, dan melihat anaknya sudah pulang.


"Dimas, kamu sudah pulang?" tanya Bapak.


"Iya pak, maaf Dimas tidak memghubungi dulu" ucapnya.


"Mana kopermu? kau hanya pulang dengan tangan kosong dan membawa paperbag itu?" tanya Bapak dan Dimas hanya mengangguk.


"Ya pak, Dimas di pecat dan barang Dimas semuanya lenyap dilalap api" jelasnya.


"Apaa?? rumah kost kamu terbakar?" tanya Ibu dan diangguki oleh Dimas.


"Astaghfirullah Dimas.... aaaak...aduuuh" rintih Bapak memegang dada kirinya. Dimas dan Ibu langsung kaget dan menahap tubuh Bapak yang menahan sakit. Bapak memiliki penyakit jantung hingga mendengar kabar itu ia langsung shock hingga Bapak pun terkapar tak berdaya dengan mata yang masih terbuka.


"Bapak!!" teriak Ibu dan Dimas hingga air mata keduanya pun tumpah.


"Bapak, maafkan Dimas! bangun pak!" teriak Dimas dengan deraian air matanya.


Setelah kepergian sang Bapak, Ibu tampak terdiam dan enggan mau bicara. Dimas berusaha membangkitkan sang Ibu dari keterpurukan hingga beberapa hari kemudian, Ibu merespon dan menatap Dimas lalu memeluknya.


"Maafkan Ibu mendiamkanmu nak" lirih Ibu dipelukan sang anak.


"Tidak bu, ini semua salah Dimas. maafkan Dimas , tidak seharusnya Dimas pulang dan mengatakan kebenaran itu" ucap Dimas meneteskan air matanya


Plaaaak!!!


"Jangan berbicara seperti itu! kau tidak salah, emang seharusnya kau pulang" berang Ibu. Dimas kembali memeluknya hingga keterpurukan pun berakhir.


Dimas memulai hidup baru dengan lembaran yang baru, ia mulai mencari pekerjaan dengan sepeda motor sang almarhum Bapak dengan berbekal ijazah SMA yang masih ada dirumah orang tuanya. Dimas mencoba berbagai tempat namun tidak berhasil. hingga ia mendengar dari tetangga bahwa Mall terkenal di Jakarta itu sedang mencari cleaning service. Dimas senang tak terkira, ia kembali bersemangat dan mencoba untuk melamar pekerjaan.


Diwaktu bersamaan, saat sedang lampu merah dijalanan, Lulu sayup-sayup melihat sosok seperti Dimas namun Lulu menepisnya karna tidak mungkin Dimas ada di Jakarta.


#Flashback Off#


Β°


Β°


Β°


Hallo kakak-kakak readers 😊

__ADS_1


terima kasih ya sudah mengikuti ceritaku.. jangan lupa Like, Tanggapan kalian melalui komentar dan VOTE juga HADIAH/poin-nya πŸ˜ŠπŸ™


Love you all😘


__ADS_2