Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
93. Mengaku Suami


__ADS_3

Hari telah berganti dari gelap terbitlah terang dan dari dingin berganti sejuk. tadi malam hujan kembali deras turun ke permukaan bumi setelah sore itu sempat mereda. Lulu yang masih bersedekap didalam selimutnya, enggan sekali untuk bangun karna ia telah nyaman dengan sejuknya pagi ini. hingga tak lama kemudian, pintu diketuk berulang-ulang hingga memaksa membangunkan Lulu.


tok tok


"Nyonyaaaa......" tak ada sahutan hingga diketuk berulang kali.


"Aaah bibi mengganggu saja, huaaaaa...." gumamnya yang lalu menguap. dengan malasnya Lulu segera beranjak agar suara bibi tidak meracau ditelinganya.


Ceklek,


"Bibi, ini Ada apa sih?" tanya Lulu setengah sadar.


"Maaf Nyonya, ini sudah siang. Bibi mengantarkan sarapan pagi buat Nyonya" ucap Bibi.


Sontak Lulu kaget mendengar kata siang dari bibi.


"Siang?? jam berapa??" tanya Lulu kotar-katir kesana kemari mencari jam. Lulu yang setengah sadar itu tidak sadar kalau jam ada didinding.


"Aduh nyonya ini.." gumam Bibi dalam hati sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah majikannya itu.


"Nyonya, jam ada didinding" sahut Bibi yang tau apa yang sedang dicari Lulu.


"Astaga, maaf bi. Lulu lupa.. hihii" ucap Lulu cengengesan juga merasa malu. Lulu pun segera melihat jam dan ia ternganga melihatnya. sedangkan Bibi sedang meletakkan sarapan majikannya di meja.


"Saya permisi nyonya" pamit Bibi.


Lulu pun segera mengambil handuknya dan berlari menuju ke kamar mandi. ia membersihkan tubuhnya dengan cepat secepat kilat yang menyambar. setelahnya Lulu segera keluar dan memakai bajunya. Lulu pun segera sarapan dan menghabiskan susunya. Lulu dibuat keteteran karna ia juga memikirkan Rani yang pasti sedang menunggunya. Lulu segera mengambil tas dan memakai sepatu. tak lupa ia mengambil ponselnya yang ada diatas nakas. pas sekali ponsel Lulu nyala dan ia terkejut melihat daftar panggilan dari Rani sebanyak sepuluh kali.


"Astaga Rani, dia menungguku. mampus aku" gumam Lulu dan segera pergi keluar rumahnya dan menuruni tangga. sedangkan Daffa baru keluar dari kamar dan melihat Lulu yang berlari menuruni tangga.


"Lulu, tunggu!" panggil Daffa berteriak dan berlari mengejar Lulu dengan membawa tentengan tas kerjanya. Daffa dengan berlari kencangnya itu akhirnya bisa berpapasan dengan istrinya.


"Sayang, kenapa kamu berlari.. sudahlah kamu tidak ku hukum kok" ucap Daffa saat Lulu membuka pintu mobilnya.


"Sayang-sayang kepalamu peyang! aku bukan takut samamu tapi seseorang menungguku. Mampus" ucap Lulu menepuk jidatnya. Daffa tidak membalas ocehan Lulu, ia segera menggendong Lulu yang ingin masuki mobilnya dan membawanya ke pintu samping kemudi.


"Lepasin aku!!!!" teriak Lulu memukul dada Daffa. tapi Daffa tidak menghiraukannya dan membuka pintu lalu memasuki istrinya. Daffa pun segera berbalik arah dan memasuki pintu belakang kemudi. kini mereka sedang ada didalam satu mobil.


"Kau ngapain disini! keluarlah!!" usir Lulu.

__ADS_1


"Aku suamimu dan kita pergi bersama-sama" ucap Daffa.


"Aku tidak mau! gak akan sudi!" ucap Lulu berang dan mengambil tasnya segera ia membuka pintu mobil tapi sayang, ia tidak bisa membukanya.


"Sial!" gumamnya.


"Duduklah yang manis sayang, kau tak akan bisa keluar" ucap Daffa tersenyum seringai. Lulu pun kesal tak bisa berbuat apa-apa dan lebih memilih membuang mukanya dari Daffa. Daffa segera menekan pedal gas mobil dan melajukannya.


Diperjalanan, hening. Lulu hanya diam tanpa kata. Daffa menoleh mencuri pandang pada istrinya membuat Lulu merasa risih. hingga Lulu sadar akan Rani.


"Astaga Rani..." gumamnya.


"Eh eh! belok-belok!!" perintah Lulu. membuat Daffa heran.


"Kantor kita lurus kenapa belok?" tanya Daffa.


"Sudah cepat! belokin!" ucap Lulu geram. Daffa pun segera membelokkan mobilnya.


"Kita mau kemana?? apa ada yang mau kamu beli?" tanya Daffa.


"Tidak. turuti saja apa kataku" suruh Lulu tanpa menatap matanya.


"Oke belok lagi, STOP!!" ucap Lulu. Daffa pun memberhentikan mobilnya. ia celingak celinguk melihat dimana ia berada. ternyata ada diperumahan.


Ceklek,


"Kenapa kau lama sekali! aku terlambat. Gimana kalau ku dipecat oleh Presdir itu" omel Rani tanpa melihat siapa yang ada didalam mobil itu.


"Eh lulu kenapa kau disini?" heran Rani yang hampir mendudukkan dirinya eh ternyata ada Lulu yang duduk disitu diam mendengarkan omelan Rani.


Lulu pun mengarahkan matanya ke arah samping dirinya.


Rani pun melihat arah mata Lulu dan ternganga ternyata ada Presdir.


"Oh astaga, presdir.. ke..na..paa..." ucapnya kaget.


"Kenapa?? kaget?? apa saya sangat kecil sehingga anda tidak melihat?" ucap Daffa santai.


"Eh eh tidak presdir. maaf.. kalau gitu saya cari taksi saja" ucap Rani.

__ADS_1


"Tidak perlu. masuklah" suruh Daffa. Rani pun mengarahkan matanya pada Lulu yang mengangguk. Rani dengan menggigit bibirnya membuka pintu belakang dan segera masuk. akhirnya mobil Lulu yang dikendarai Daffa pun berlalu dari kediaman Rani dan menuju kantornya.


"Astaga, kenapa ada presdir" gumam Rani dalam hati.


Mobil pun telah tiba di gedung perusahaan itu lalu Daffa memarkirkannya dan mereka segera turun. Lulu dan Rani berjalan cepat tapi Rani menghentikannya karna ia ingin mengucapkan terima kasih pada presdirnya itu.


"Eh eh tunggu.. aku belum berterima kasih" ucap Rani yang tangannya ditarik Lulu.


"Tidak perlu. cepatlah.." desak Lulu. Rani pun manggut yang penting sekarang ia harus tiba dimeja kerjanya. Daffa pun menyusul mereka dengan langkah santainya dan berjalan dengan cool membuatnya siapa saja yang melihatnya langsung terpana.


Daffa yang sedang berjalan santai itu pun tiba-tiba memberhentikan langkahnya karna melihat Lulu yang disamperin oleh Gibran di lobi.


"Lulu, kenapa kamu lama sekali?" tanya Gibran.


"Ciyee pak Gibran, kangen ya sama Lulu" timpal Rani membuat Lulu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu tau saja Ran" ucap Gibran.


"Ayo aku antar kalian ke meja kerja dengan selamat" ucap Gibran yang tanpa sadar memegang tangan Lulu.


Daffa yang melihat dari jauh itu pun langsung merapatkan giginya dan menampakkan urat wajahnya. Daffa segera melangkahkan kakinya dengan cepat hingga Lulu, Gibran dan Rani yang hampir memasuki lift pun dibuat terkejut akan serangan mendadak yang dilakukan Presdir menonjok wajah Gibran.


"Kurang ajar!! siapa kau berani menyentuh tangan istriku!!" ucap Daffa berang. Lulu dan Rani pun terkejut akan perbuatan Daffa terlebih lagi Gibran yang habis dipukul olehnya.


"Sudah-sudah!!!" lerai Lulu.


"Apa-apaan kau ini Presdir!!" berang Lulu. Daffa terkesiap karna Lulu membentakinya.


"Lulu, kenapa kau malah membentakku! aku ini suamimu tak pantas kau jalan dengan dia!" bentak Daffa yang tersulut.emosi.


Gibran dan Rani saling menatap dan ternganga.


"SUAMI?????"


°


°


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2