Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
220. Welcome baby


__ADS_3

"Kok kamu tau semua tentang kak Karin??" tanya Lulu penasaran.


"Ya tau, orang dia temanku dari SMA kok. Aku, Roni, dan Karin itu sahabatan dari sekolah, ya jelaslah ku tau sayang" ucap Daffa mengelus kepala sang istri.


"Ooh gitu, kirain mantan kamu" ucap Lulu sedikit memandang sinis.


"Hahahahaha, ada-ada saja. Roni tu yang suka sama sahabat sendiri" ledek Daffa terkekeh.


"Ya ya ya, ayo ah makan dulu! aku bawa ini" ucap Lulu menunjukkan rantang yang ia bawa.


"Wah sayang, kamu kesini cuma untuk bawa makan siangku?" tanya Daffa terpukau namun ia juga merasa kurang suka bila Lulu ke kantornya dengan perut yang sebesar itu.


"Tentu. aku kangen sama kantor ini. boleh ya aku samperin Rani?" tanya Lulu mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah yang paling imut.


"Tidak. harus dia yang mendatangimu, bukan kamu" tegas Daffa.


"Oke, aku akan menelponnya" ucap Lulu dengan girang lalu merogoh ponsel didalam tas yang ia bawa.


"Eeeeeit! nanti dulu, sekarang kita makan" ucap Daffa. Lulu pun mengangguk dan mulai menyuapi suaminya, begitu pun Daffa menyuapi sang istri dengan penuh kasih sayang.


Selesai makan, Lulu memanggil Rani ke ruangan suaminya. kini kedua wanita itu pun saling berpelukan melepaskan hasrat kerinduan yang begitu membuncah diantara keduanya. tampak sekali wajah-wajah kegirangan, kegembiraan dan kebahagiaan terpancar indah diwajah itu. Daffaa menatap sang istri dengan lekat, melihatnya seperti itu kebahagiaan ikut tertular kepadanya. bagaimana tidak senang, sudah beberapa bulan mereka tak bertemu. Rani juga sesekali mendatangi rumah Lulu hanya untuk mengobrol dan melepas kerinduan. Kini Lulu bahagia bisa bertemu dengan Rani lagi. Rani pun menduduki tubuhnya disofa, memeluk perut Lulu yang begitu besar.


"Cepat keluar dong sayang, tante netijen banyak yang menunggumu" ucap Rani pada sang jabang bayi yang ada didalam.


"Tante do'ain aja detik ini aku keluar" ucap Lulu meniru suara bayi.


"Laah, dido'ain sekarang tapi gak dikabulin lho dek, udah satu detik yang lalu" ujar Rani.


"Hahahahahahahaha, kena kerjain sama anak gue kan" sahut Daffa dari kursi kebesarannya. Rani dan Lulu menoleh ke asal suara, ternyata Daffa yang tengah memerhatikan obrolannya sedari tadi. membuat Rani sedikit malu akan perkataannya yang ditertawakan oleh si bos. Rani pun menatap Lulu, menggigit kecil bibir bawahnya.


"Sayang, jadi kau daritadi menguping?" ucap Lulu menyedekapkan kedua tangannya didada.


"Hihihi, sedikit" ucap Daffa cengengesan.


"Lu, ke meja gue aja yuk" ajak Rani.


"Sini saja deh. nanti singa ngamuk lagi" ucap Lulu menunjuk suaminya.


"Apa tuh bisik-bisik tetangga?" sahut Daffa yang terlalu ingin tau.


"Kepo deh pria!" ujar Lulu menatap sinis.


"Iya deh, gak kepo lagi. ngobrollah, aku akan bekerja" ucap Daffa kembali membetulkan cara duduknya dengan baik lalu menatap laptop dan beberapa kertas yang tersusun rapi diatas meja.


Cukup lama mereka mengobrol, membuat Rani keasyikan sampai lupa dengan pekerjaannya. begitulah wanita kalau sudah berkumpul, pasti akan lupa waktu dan tidak memikirkan aktifitasnya yang lain yang tengah menanti tuannya. Lulu tampak sedikit gusar, namun ia menepisnya demi mengobrol lebih panjang lagi bersama Rani. Rani mengenyitkan dahi, menatap lekat Lulu yang sedari tadi tampak gelisah.

__ADS_1


"Kamu kenapa Lu? kok gelisah gitu?" tanya Rani heran.


"Gue sesak berak. jadi ditahan" ucap polos seorang Lulu.


"Astaga, pergilah ke toilet. gue balik dulu" ucap Rani menyuruh Lulu untuk membuang hajatnya sedangkan ia langsung berdiri menuju pintu.


Lulu pun ke kamar mandi, membuka ****** ******** namun Lulu terkejut ada cairan putih bercampur darah. tiba-tiba perutnya semakin sakit, Lulu mengurungkan niatnya untuk membuang hajat karna Lulu merasa perutnya keram.


"Yaaaang!!!" teriak Lulu dari kamar mandi. keringat Lulu mulai bercucuran, keram perut semakin menjadi, Lulu tak tahan hingga ia berpegangan pada sesuatu yang menahan tubuhnya.


"Daaaaf!!!!" teriak Lulu semakin kuat. Daffa sayup-sayup mendengarnya, segera ia berlari ke kamar mandi dan mendobrak pintu itu.


"Yaaang, sayang, Lulu! kamu kenapa?" tanya Daffa khawatir.


"I...itu.... ce..cepaaat!!!" ucap Lulu terbata-bata menunjukkan air ketubannya sudah memecah. seketika Daffa pucat, langsung menggendong sang istri menuju keluar.


"Bertahanlah sayang" ucap Daffa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Lulu menangis, rasa sakit ini tidak tahan lagi namun Lulu tetap bertahan demi sang jabang bayi yang akan hadir.


"Hei kamu! ikut saya! tolong bantu angkatin istriku" ucap Daffa meminta tolong. semua karyawan nampak pucat, seketika mereka yang duduk jadi berdiri menatap sang Presdir yang tampak cemas. mereka ternganga melihat Nyonya mereka sudah bercucuran darah dipahanya.


"Yaaang, sakit" rengek Lulu menangis. Daffa melihat paha sang istri, membuatnya panik dan ketakutan akan kehilangan keduanya. padahal itu suatu hal biasa terjadi saat detik-detik mau melahirkan.


"Tenang sayang, kita hampir menuju mobil." ucap Daffa menenangkan istrinya.


"Kamu, ambil kunci dijasku. dan cepat ambil mobil!" perintah Daffa pada pegawai yang membantu Daffa menggendong Lulu.


"Lulu, tahan yaa" ucap Rani memegang tangan sahabatnya. Lulu tidak dapat berbicara apapun lagi, ia menarik nafas dan mengeluarkannya hingga sakit itu datang lagi membuatnya kembali merintih.


"Eeeemh... aaaaahk...." rintihnya sedikit mengedan.


"Lu, kamu mengedan?" tanya Rani kemudian ia mengintip dari bawah dress yang dikenakannya. terlihat mulut va**na yang sudah terbuka lebar.


"Gawat pres, ini emang harus waktunya. pembukaannya sudah cukup lebar" teriak Rani.


"Ayo cepatan! ngebut! cari rumah sakit terdekat!" teriak Daffa memukul punggung kursi pengemudi. mobil pun semakin melaju, untung saja pria yang dibawa Daffa pandai menyalip kendaraan lain namun tentunya dengan penuh hati-hati.


"Yaaaang" lirih Lulu menarik kemeja suaminya dengan kuat.


"Iya sayang, bersabar.. tahan. tarik lagi nafasmu dan keluarkan" ucap Daffa lalu menghapus air matanya yang mulai menetes. hingga tibalah dirumah sakit terdekat. Rani langsung memanggil perawat, sedang Daffa dan Pria tadi menggendong Lulu menuju brankar yang baru saja menghampiri mereka.


"Cepat sus!!" teriak Daffa.


"Sabar Tuan" ucap suster itu. Daffa terus memegang tangan istrinya. Lulu menarik-narik rambut Daffa, Daffa membiarkannya asalkan rasa sakit itu bisa tertahankan.


Tibalah diruangan persalinan, Daffa enggan untuk pergi dan memilih menemani Lulu dan menyemangatinya.

__ADS_1


Diluar, kedua orang tua Lulu dan Daffa baru saja tiba. Daffa menyempatkan untuk menghubungi kedua orang tuanya saat Rani tengah memeriksa pembukaan Lulu. tampak sekali wajah khawatir mereka, Mama Sarah berdoa semoga persalinan lancar untuk keduanya.


"Nona, dengarkan instruksi saya ya, bila saya bilang mengedan, anda harus mengedan. ingat, jangan diangkat pinggul anda. Pak suami, tolong semaangati istrinya" ucap Bu dokter itu.


"Iya saya tau. ayo cepat tunggu apalagi!" teriak Daffa.


"Baiklah, ayo nona.. tarik nafas lalu mengedan sekuat mungkin" ucapnya menatap va**na pasiennya.


"Eeeeeemh......eeeeemh...eeeeemh... aaaaaahk" rintih Lulu mengedan sembari menarik rambut suaminya.


"Ayo lagi, kuat lagi" ucap Dokter.


"Eeeeemh.... saaaa..kiiiit...." teriak Lulu, sedang tangannya beralih pada tangan Daffa hingga mencakarnya dengan kuat. tampak sekali lengan Daffa langsung berdarah akibat cakaran itu.


"Sedikit lagi ayoo... kepalanya sudah terlihat" ucapnya.


"Daf........faaaaaaaa..... eeeeeeemh....eeeemh.....aaaaaahhhk!!" teriak Lulu mengedan sekuat tenaga.


Oeeek oeeeek oeeeek......


"Alhamdulillah" ucap Dokter merasa lega, begitu pun Daffa dan Lulu langsung bernafas lega setelah mendengar suara bayinya.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih. sayang, terima kasih. hiks hiks" ucap Daffa bersyukur lalu memeluk istrinya menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.


"Selamat ya, anaknya perempuan. saya akan bersihkan dulu" ucap Dokter tersenyum semringah.


"Baik dok" ucap Lulu tersenyum menatap bayi mungilnya lalu dibawa kembali oleh dokter untuk dibersihkan. sedangkan para suster tengah membersihkan darah yang bercucuran diarea milik Lulu.


"Maaf, aku melukai tangan mu" ucap Lulu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ini tidak seberapa sayang. sekali lagi terima kasih" ucap Daffa mengecup kening sang istri dengan cukup lama. Lulu memejamkan mata sembari tersenyum menikmati kecupan itu.


"Aku akan melihat baby kita dimandikan" ucap Daffa segera menyusul dokter yang tengah membersihkan ucul mereka. Daffa memerhatikannya dengan tersenyum, hingga proses menimbang dan membedung. setelahnya Dokter pun memberikan bayi mungil itu kepada ayahnya.


"Ini Tuan, lihatlah dia sangat cantik dan chubby seperti Ibunya" ucap Dokter tersenyum.


"Benar sekali dok" ucap Daffa tersenyum menatap lekat wajah bayi itu.


"Beratnya 3,8 kg. silakan di adzan dulu" ucap Dokter lalu berlalu pergi. Daffa pun mengadzankan anaknya didepan Lulu, Lulu tersenyum mendengar alunan adzan yang syahdu itu. hingga beberapa menit kemudian, Daffa pun selesai mengadzankannya. dan suster menganjurkan untuk disusui setelahnya.


"Jadi siapa namanya yang?" tanya Daffa mengelus kepala bayinya yang tengah mimik.


"Ayura Izzati Mahesa"


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2