Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
132. Mujarab


__ADS_3

Keesokan harinya, Lulu dan Daffa masih terlelap dibawah selimut dengan tubuh mereka yang polos. Matahari sudah menyoroti sinarnya agar kedua insan yang sudah memadu kasih itu segera bangun untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. namun saking lelahnya, Lulu enggan untuk bangun walau disorot oleh sang mentari hingga mereka pun tidur hampir kesiangan.


"Duuuh...." rintihnya masih dengan mata terpejam. sekali lagi ia rasakan lagi rintihan yang terasa perih di perutnya hingga Lulu pun terbangun.


Kruyuk kruyuk


Seketika Lulu menoleh ke arah perutnya.


"Pagi-pagi sudah demo gak tau orang lelah apa" gumamnya bicara pada sang perut. dilihatnya ke arah gorden, tampak hari sudah sangat terik Lulu pun terlongo, diliriknya jam sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Sial!" umpatnya.


"Daff... daff.. bangun!!" panggil Lulu menggoyang tubuh suaminya.


"Eeemh... apaaa" ucap Daffa mengerjapkan matanya.


"Bangun.. kita harus kerja sebentar lagi ada pertemuan klien" ucap Lulu memberitahu jadwal suaminya ditambah lagi Roni sedang cuti selama enam hari ini.


"Sial! ayo kita mandi" ajak Daffa terburu-buru.


Hingga dalam sekejap mereka pun telah selesai mandi berjamaah dengan terburu-buru. Kini Lulu tampak sedang menyisir rambutnya, Daffa yang melihat menyuruh Lulu untuk mengikat rambutnya dan tidak memakai riasan sedikitpun.


"Sayang, sebaiknya kamu ikat rambutmu ke belakang" perintah Daffa.


"Haaaa.. kenapa diikat?" tanya Lulu bingung.


"Turut saja apa kataku" tegas Daffa. Lulu pun heran tetapi ia tetap menurut. setelahnya Lulu mengambil bedak tapi Daffa segera melarangnya.


"Eeeeep!! jangan berbedak apalagi berlipstik" suruh Daffa yang sedang memakai dasi.


"Apaa??! tadi suruh ikat rambut sekarang tidak boleh berdandan, peraturan macam apa itu" ucap Lulu mencebikkan bibirnya merasa heran dengan suaminya.


"Menurutlah hai wanita" seru Daffa. setelahnya segera mereka ke bawah untuk sarapan. Lulu yang sedang lapar pun melahap habis semuanya hingga tersisa.


Kini kedua insan itu sedang didalam perjalanan, Lulu menatap luar karna masih kesal dengan suaminya yang melarang ini itu. tanpa sengaja, Lulu melihat seseorang seperti ia mengenalnya sedang berjalan kaki.


"Itu seperti... ah tidak mungkin" gumamnya mengingat seseorang itu namun perasaannya mungkin ia salah lihat.


Tibalah di gedung perusahaan yang menjulang tinggi bila dilihat dari bawah, Daffa dan Lulu berjalan menuju lobi ditengah-tengah semua pegawai yang sedang bekerja. dengan langkah gontainya, mereka segera memasuki lift. Daffa melirik istrinya yang hanya diam, Daffa tau apa penyebabnya.

__ADS_1


"Setelah bertemu klien, berdandanlah tapi jangan seperti kemarin" ucapnya. seketika Lulu menoleh pada suaminya. Lulu baru mengerti mengapa Daffa melarangnya ini itu.


"Oh jadi karna mau bertemu Klien makanya kamu mengaturku?" ucap Lulu sedangkan Daffa hanya tersenyum kecut untuk menjawab pertanyaan itu.


"Dasar!" ucap Lulu meninju perut suaminya.


"Aduh aduh yang, sakit banget" rintih Daffa memegang perutnya padahal Daffa hanya bergurau sesungguhnya tinjuan itu tidak membuat perutnya sakit.


"Yaelah yang, pelan juga. lebay deh" ledek Lulu membuat Daffa langsung malu karna aktingnya gagal. ah Daffa memang tidak jago berakting.


Ting


Pintu lift terbuka, mereka segera keluar untuk menuju meja kerjanya. tampak Lulu sedang mempersiapkan berkas yang akan ia bawa sedangkan Daffa tengah fokus dengan laptopnya.


Hari sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Lulu datang memasuki ruang kerja suaminya dengan membawa beberapa berkas.


"Sayang, ayo kita berangkat" ajak Lulu.


"Semuanya sudah dipersiapkan kan?" tanya Daffa pada istrinya.


"Sudah Presdir" jawab Lulu membuat Daffa terkekeh.


"Jangan panggil Presdir seperti aku orang lain saja" ucap Daffa.


**


Ditempat Nathan pun begitu, ia tidak bisa menghajar para penjahat itu kini ia sudah diperbudak oleh mereka termasuk anak buahnya yang dulu, akibat Nathan mereka juga masuk penjara, dan mereka pun justru menjadikan Nathan anak buahnya bukan bosnya lagi.


"Eh Nathan! kau pijitkan aku!" perintah si hulk.


"Tidak, aku sudah lelah" tolaknya.


"Kau mau ku hajar lagi haa?!! karna kau kami masuk kedalam sel ini" ucap si hulk. Nathan tak menghiraukannya dan memilih tidur namun si gondrong datang menghampirinya segera diangkatnya baju Nathan sontak Nathan yang baru terpejam terkejut oleh ulah mantan anak buahnya.


"Enak saja kau tidur-tiduran! kau disini bukan bos kami lagi!!" bentak gondrong.


"Benar, karna uangnya saja yang banyak makanya kita mau menjadi anak buahnya, ya kan bos?" timpal si botak.


"Pintar! kalau bukan uang, ogah sekali" sambung si hulk. ocehan itu membuat Nathan kesal, ia segera meninju wajah si gondrong tapi tidak membuatnya terkapar.

__ADS_1


"Brengsek kalian!! kalian mau uang haaa!! sebebas ini akan aku bayar kalian!" bentak Nathan.


Hahahahahahahahaha.....


Mereka tertawa menggelegar meledek ucapan Nathan, Nathan mengira mantan anak buahnya itu bodoh sehingga bisa ia tipu.


"Dasar bocah ingusan! kau mau membayar dengan apa haa..! kau disini bakal di penjara seumur hidup, dan lagi pasti usaha bar mu telah disegel polisi. orang tuamu??? bahkan tak pernah menjengukmu. hahaha" ujar si hulk. mendengar itu Nathan hanya bisa diam, yang dikatakan Hulk benar, dirinya tidak punya apa-apa lagi.


"Berhentilah menghayal mantan bos! segera kau pijat bos barumu!" suruh si botak membuyarkan lamunan Nathan. Nathan pun menurut, segera ia lakukan perintah mereka.


"Nyesal dulu tidak belajar bela diri, padahal ayah slalu menyuruh ku. aku malah sibuk dengan pacar-pacarku" gumam Nathan dalam hati saat mengingat dulu dirinya berumur dua belas tahun. dulu Nathan tidak pernah menuruti kedua orang tuanya, ia sibuk menghabiskan waktu dengan pacar-pacarnya. maklum pada zaman ABG dirinya ingin memiliki banyak pacar.


"Woooi!! jangan melamun!" gertak Hulk yang merasa Nathan tidak memijitinya.


"Ya" ucap Nathan singkat.


**


Ditempat Lulu, tepatnya disebuah restoran, mereka sedang berdiskusi tentang kerja samanya. Daffa melirik Tuan Vincent yang tengah serius padanya, dalam hati Daffa bersyukur tuan Vincent tidak pernah melirik istrinya.


"Akhirnya mujarab juga, istri ku tidak lagi dipandang" gumam Daffa dalam hati.


"Bagaimana Tuan Daffa?? apa kau bersedia?" tanya tuan Vincent.


"Haaa... apa?" tanya Daffa yang memasang wajah polos. seketika Lulu menginjak kaki suaminya, Lulu sempat melirik suaminya yang tampak tidak serius mendengar penjelasan tuan Vincent.


"Aw" rintihnya menatap Lulu. Lulu hanya cuek dan menjawab pertanyaan Kliennya.


"Tentu kami bersedia tuan, penjelasanmu sangat kami terima" jawab Lulu tersenyum.


"Ah baiklah sekretaris Lulu, kalau begitu kita bisa menandatangani kerja sama ini" ucapnya tersenyum. Daffa segera menandatangani, menahan kakinya yang perih akibat injakan Lulu setelahnya pertemuan selesai, tuan Vincent pun pamit.


"Yang, sakit tau" keluh Daffa.


"Siapa suruh melamun cengar cengir gak jelas" ledek Lulu


°


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2