
Malam pun telah tiba, matahari sudah meninggalkan bumi yang telah setia ia sinari selama dua belas jam lamanya tanpa sedikitpun mendung yang menerpa. kini gelap pun menerpa dan diterangi oleh lampu-lampu rumah, jalanan dan sudut mana pun yang mengalami kegelapan.
Kini keluarga besar itu telah menghadiri acara makan malam hanya sebatas di ruang makan kediaman Daffa dan Lulu. Vivi yang sepulang dari les private tadi sore segera lekas menemui orang tua dan kakaknya yang baru tiba dikediamannya. Vivi tidak sabar lagi menemui kakak kandungnya tersebut apalagi untuk menagih janji album BTS yang sudah Lulu janjikan pada adiknya.
"Makan yang banyak sayang" seru mama Sarah.
"Gak dibilangi pun makannya juga banyak kok ma" ledek Daffa menatap istrinya yang menatap Daffa dengan tajam.
"Tidak perlu gitu matamu! terima saja akan kebenaran yang ada" sambung Daffa lagi dengan terkekeh.
"Kalian ini lucu sekali" timpal mama Sonya menggeleng-gelengkan kepala. melihat anak dan menantunya seperti itu membuat mama semakin gemas. walau cinta datang terlambat, namun ia bersyukur kedua insan itu saling dekat, akur terkadang ribut tapi itu hanyalah sebatas candaan semata untuk mewarnai kehidupan rumah tangga mereka.
"Slalu ada bumbu-bumbu yang melekat dalam rumah tangga itu, hingga semakin kuat ikatan cinta mereka" gumam Mama Sonya dalam hati. berharap cinta keduanya semakin kuat walau nanti badai akan menerpa keduanya.
Makan malam yang dipenuhi drama yang diciptakan oleh Daffa, akhirnya telah selesai. Lulu segera meminum susu hamilnya dengan rasa yang berbeda disetiap waktu. sebab Daffa tidak ingin bila Lulu merasakan bosan dengan meminum satu rasa. biarlah hanya cinta yang memiliki satu rasa dan tidak boleh mencoba berbagai rasa, sebab hakikatnya mencoba semua rasa akan membuat kita semakin nagih mencoba dan mencoba hingga terjadi penduaan.
"Kakak, oleh-oleh untukku mana?" tanya Vivi yang baru memulai membuka suara.
"Kamu ini dek, sekali ngomong langsung minta oleh-oleh ya" ujar Lulu menggelengkan kepalanya.
"Hehehe sebab itulah aku ingin kesini kakakku sayang nan cantik" ujar Vivi dengan senyum imutnya. Lulu memutar bola matanya, entah dari siapa yang ajari adiknya dengan bahasa rayuan tersebut. Lulu segera berdiri, dan mengajak Vivi untuk membuka bingkisan yang berada dikamar.
"Vivi, biarkan kakakmu duduk dulu, baru selesai makan juga" ujar papa Adi.
"Tidak apa, pa. dari pada anak bungsu papa ini merengek terus" ujar Lulu. lalu Vivi dan Lulu pun berjalan menuju kamar, dengan girangnya Vivi segera berlari menaiki tangga.
"Jalan bukan berlari! kau terjatuh nanti tidak akan ku beri hadiah" ujar Lulu sedikit berteriak melihat adiknya yang sudah tiba ditengah tangga.
"Iya deh, kakak sih lamban banget" ketus Vivi melipatkan tangan didadanya.
Kakak beradik itu telah tiba dikamar, Lulu melihat bingkisan dan segera membukanya. Lulu sengaja semua oleh-oleh yang ia bawa dari berbagai negara ditaruh didalam kotak dan dibuat seperti bingkisan agar tidak berserakan dan mudah untuk di angkut. Vivi tidak bersabar lagi, Lulu mengeluarkan isinya dengan hati-hati.
"Ini untukmu" ujar Lulu memberikan kotak yang berisi album beserta foto-foto personil tersebut. Vivi segera membukanya dan alangkah girangnya dia melihat oleh-oleh yang ia inginkan itu.
"Aaah kakak, terima kasih.. kakak yang terbaik dari segala yang baik" ucap Vivi mencium kakaknya.
__ADS_1
"Duh duh udah dong" gerutu Lulu.
"Habisnya Vivi senang sih" ucap Vivi melihat foto tersebut.
"Kamu tau Vi? keponakanmu sudah ada" ujar Lulu. Vivi pun menengadahkan kepalanya, menatap wajah Lulu lalu beralih pada perut kakaknya.
"Sungguh kak?" tanya Vivi tak kalah girang. Lulu pun mengangguk sambil memegang perutnya.
"Aaah keponakan sayang, kenalin ini aunty Vivi" ucap Vivi bicara pada janin yang berada didalam perut Lulu.
"Hai juga aunty jelek" ucap Lulu menatap wajah Vivi yang mulai manyun.
"Menyebalkan!" gerutu Vivi lalu bergegas berdiri meninggalkan kakaknya didalam kamar. Lulu menatap kepergian adiknya, lalu menyusun oleh-oleh tersebut untuk siapa saja yang akan ia bagikan nanti.
Setelah selesai, Lulu menyimpannya didalam paperbag. untuk Rani, Tari, dan yang lainnya kecuali Rina yang tidak tau akan kabarnya.
"Hanya Rina yang tidak mendapati ini, gimana kabarnya yaa? dia tidak lagi menghubungiku, apa mungkin.... astaga" gumam Lulu memikirkan keadaan Rina di Desanya. apalagi ia menikah dengan pria yang tidak baik, pasti langsung terbayangkan bagaimana keadaan Rina yang pastinya tidak baik-baik saja.
Lulu meraih ponselnya, mencoba untuk menelpon Tari sahabat dekatnya sejak ospek pertama kalinya.
"Hallo Lu, tumbenan nelpon? sudah balik dari honeymoon?" sahut Tari dari dalam ponsel.
"Baiklah, besok malam aku kerumahmu. ada kan oleh-oleh dari sana?" tanya Tari.
"Eh gak ada nih, aku gak sempat sih" ucap Lulu sengaja berbohong pada sahabatnya.
"Is gitu deh ya, mentang asyik dikamar terus jadi lupa buatku" gerutu Tari.
"Is apaan sih, pokoknya besok harus main kerumahku, byeee muach" ucap Lulu lalu segera mematikan panggilan teleponnya.
Lulu segera turun ke bawah dengan pelan, dilihatnya dari jauh, sepertinya orang tua dan mertuanya akan segera pamit dari kediamannya. Lulu mempercepatkan langkahnya, hingga ia pun menghampiri Mama Sarah dan memeluknya.
"Mama mau kemana?" tanya Lulu
"Mau pulang sayang, hari sudah malam pasti kamu kelelahan bukan?" ucap Mama Sarah dan diangguki oleh Lulu.
__ADS_1
"Sebaiknya istirahat, jaga kandungan kamu jangan sampai kelelahan. dan kau Daffa?" nasihat mama Sonya hingga beralih pada anak lelakinya.
"Ya ma?" sahut Daffa.
"Kamu jangan hajar istrimu terus, break sembilan bulan ini" ujar mama Sonya.
"Ah Mama ini, itu kelamaan. bisa berkarat nanti tongkat saktiku" ketus Daffa yang tidak tau malunya omongi hal seperti itu. Lulu sangat geram, suaminya tidak tau malu. mendengar itu, Lulu segera menginjak kakinya.
"Aaaaw.... sakit tau yang" rintih Daffa.
"Jangan ngomong begitu, gak tau malu" ujar Lulu menatap sengit mata suaminya.
"Daffa daffa, ngomong gak tau tempat" ujar mama Sonya lalu terkekeh bersama mama Sarah.
"Lihatlah jeng, mereka ini slalu bertengkar dalam hal kecil" bisik mama Sonya pada besannya.
"Mereka sangat lucu jeng" sahut mama Sarah yang memerhatikan anak dan menantunya.
Kini kedua orang tua mereka telah pergi meninggalkan kediamannya, Daffa segera menutupi pintu lalu melirik Lulu yang berjalan meninggalkannya.
"Isteri tidak ada akhlak, main pergi sana" ucap Daffa menggendong tubuh istrinya yang berat.
"Aaaah! kau mengagetkanku. lepas ih yaang" pinta Lulu.
"Tidak mau, ayo kita ke kamar sayang" ucap Daffa.
"Baiklah, hanya tidur saja!" ucap Lulu.
"Tentu saja, emang kita mau apa lagi?" ujar Daffa tersenyum seringai.
"Ku kira kau mau buat adonan"
°
°
__ADS_1
°
°