
Disela-sela obrolan mereka, sebuah mobil terdengar di pekarangan rumah tersebut. hingga dua orang mendatangi rumah itu dan membuka sepatu yang ia kenakan.
"Assalamualaikum---" ucapnya menyelonong masuk.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ibu dan Lulu secara serempak. dua orang itu tercengang melihat kehadiran orang yang dikenalnya berada di rumah mereka. Rani berhamburan memeluk sahabatnya sekaligus merasa heran ada seorang Lulu yang memijak lantai rumahnya.
"Kenapa kamu disini, Lu?" tanya Rani menatap wajah itu.
"Pengen nginap disini saja semalam ya" jawab Lulu menoleh pada Ibunya Rani.
"Ada masalah dengan Tuan Daffa? ku lihat dari siang kamu gak nongol" seru Rani mengajak Lulu untuk duduk di atas sofanya.
"Ada masalah sedikit" ucap Lulu yang masih enggan memberitahunya.
"Eh gak deh kayaknya, ini masalah besar. ada apa?" desak Rani. Lulu melihat sekelilingnya, sudah tidak ada siapa-siapa. Ibu pergi ke belakang, sedangkan Gibran langsung ke kamar. Lulu pun menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan uneg-nya yang sedari tadi terpendam dihatinya.
Lulu menceritakan sedetailnya pada Rani, Rani mengerti dan ingin mengeluarkan bisanya.
"Kurang ajar sekali pelakor itu! laki lo juga gampangan banget" geram Rani meninju sofanya.
"Maka dari itu gue pengen hajar Daffa untuk tinggal disini semalam aja" pinta Lulu.
"Tidak masalah, selamanya pun jadi" ucap Rani.
"Ada-ada saja lo. ntar gue embat lagi si Gibran. hahaha" ujar Lulu becanda.
"Sial lo! enak saja embat laki gue" gerutu Rani. sedangkan Lulu hanya cengengesan melihat ekspresi Rani.
"Lo kesini cuma bawa kantong kresek doang?" tanya Rani melihat kresek diatas meja.
"Iya, itu vitamin dari rumah sakit. tas gue masih di kantor untung saja cuma bawa uang recehan" jawab Lulu. Rani pun manggut-manggut mengerti.
"Lo tenang saja ya, kalau gue tau pelakor itu pasti gue bejek-bejek" geram Rani.
"Kebetulan dia klien Daffa, coba besok datang ke kantor langsung gue hajar" geram Lulu.
"Sudah ah, ayo istirahat dulu. Kebetulan ada kamar kosong noh" ajak Rani menggiring Lulu memasuki kamar tamu. Lulu pun membaringkan tubuhnya diatas kasur itu, mengingat kejadian tadi siang yang membuatnya sangat marah hingga tidak terasa Lulu pun tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Di kediaman Daffa, ia tengah mondar-mandir didalam kamar, sesekali mengecek ponselnya apakah ada pesan balasan dari Lulu atau tidak. Daffa bingung, ia menoleh melihat jam sudah pukul enam sore namun Lulu belum juga kunjung pulang. Ingin rasanya menanyakan keberadaan istrinya pada orang tua dan mertua namun Daffa mengurungkannya sebab akan jadi perkara besar bila mereka mengetahui masalah itu. cukup ini hanya masalah Daffa dan Lulu yang tidak perlu diumbar. Daffa menduduki kursi yang ada di balkon, tatapannya terus memandang gerbang rumah berharap istrinya akan kembali pulang dan memanggil si mamang untuk membukanya.
"Pulanglah Lu, kamu dimana?" gumam Daffa dengan matanya yang mulai sayu dan masih mengenakan pakaian kantor.
Tok tok tok
"Tuan..." panggil Bibi dari luar kamar. Daffa tersentak dan menoleh ke arah pintu.
"Tuan, makan malamnyaa sudah siap" ujar Bibi sedikit mengeraskan suaranya.
"Taruh di depan pintu saja!" teriak Daffa. entah Bibi dengar atau tidak, yang jelas Daffa tidak peduli dan kembali memandangi gerbang dari jarak jauh.
Hingga hari semakin larut, Lulu belum juga muncul di gerbang itu. Daffa frustasi dan melihat ponselnya sudah pukul sebelas malam. Lulu juga tidak membalas pesannya, membaca pun juga tidak. Daffa kembali berang hingga ia menendang kursi yang berada di sebelah kanannya.
"Sial!! kemana kau Lulu!! di rumah Tari juga tidak ada." gerutunya teriak keras. hingga Daffa pun meninju tembok dengan sangat keras hingga melukai sedikit punggung jemarinya. Daffa menyesal telah membantu wanita itu hingga menjadi kesalah-pahaman antara dia dan sang istri. hingga Daffa pun teringat akan satu wanita yang dekat dengan Lulu. Rani, ya Rani.
"Rani! apa mungkin dia disana? tapi dimana rumahnya? tanya HRD! eh tapi, HRD itu kan Gibran. aku harus menelponnya" gumam Daffa kembali meraih ponselnya untuk menelpon Gibran. namun saat mencari nomor itu, sialnya Daffa tidak memilikinya. Takdir benar-benar mengutuk dirinya yang bodoh itu. hingga Daffa pun mencoba untuk menghubungi sang Assisten.
"Sial, ini sudah malam! semoga Roni belum tidur" gumam Daffa.
"Hallo.." sahut Roni dari dalam ponsel. sangat terjelas ia baru bangun tidur karna suaranya yang serak.
"Ron, kirimkan nomor Gibran atau Rani!" pinta Daffa mendesak.
"Shit!! apa kau tidak ada pekerjaan yang lain? kau mengganggu tidurku!" gerutu Roni mengerutkan keningnya.
"Ayolaaah, Lulu belum juga pulang. cepat berikan!" desak Daffa.
"Apa!! bagaimana bisa?!" ujar Roni terperangah.
"Sial! apa kau tidak bisa langsung menuruti perintahku?!" teriak Daffa yang mulai kesal.
"Baiklah, akan ku send" ucap Roni mematikan panggilan telepon itu dan mulai mencari kontak Gibran.
HRD mahesa 2 (Gibran)
0812123456**
__ADS_1
Send!
Tring
Suara pesan masuk memasuki WhatsApp milik Daffa, pesan dari Roni yang memberikan nomor Gibran. tanpa berlama-lama Daffa pun segera menghubungi HRD Mahesa 2 itu.
Drrrrrt..... drrrrt...
Hanya getaran, Gibran sengaja menggetarkan nada panggilannya. Ia tidak ingin ada yang mengganggu waktu istirahat yang sebentar itu hingga pagi menjelang. Gibran sudah tertidur, begitu pun Rani dan seisi rumah termasuk Lulu.
Daffa semakin kesal, berulang kali ia telepon namun Gibran juga tidak kunjung untuk mengangkatnya. Daffa frustasi dan melempar ponsel itu kesembarang arah.
"Kemana lagi orang satu ini! berani sekali tidak mengangkat telpon ku" gerutu Daffa mengacak rambutnya.
"Lulu-lulu, kemana dikau adinda sayang.. ponsel sudah tidak aktif, Gibran juga tidak mengangkat telponku, apalagi Rani, mereka sama saja. sial!" gerutunya menendang pintu kamar lalu membuka pintu tersebut dan mengambil nampan yang berisi sepiring nasi, segelas air putih dan segelas kopi favorite. Daffa pun mengambilnya, dan kembali menutupi pintu dengan kaki.
Daffa sudah sangat lapar dan tidak berdaya, menyuapi nasi hanya beberapa suap, dan meminum air putih dengan sekali teguk. sedangkan kopi, tidak ia sentuh sama sekali. Daffa sangat frustasi dan gusar, ia menyalakan televisi dan menatap kosong gambar itu hingga matanya sudah sangat sayu dan memerah. hingga Daffa pun tertidur pada pukul empat pagi.
Hari sudah pukul enam pagi, Ibu Rani tengah memasak untuk putri dan menantunya beserta Lulu. Rani menghampiri kamar Lulu, dan terlihat Lulu baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ini baju kerjamu, pakailah" ucap Rani memberikan baju kerjanya.
"Terima kasih. tapi rasanya aku enggan sekali untuk bekerja." ujar Lulu.
"Lalu hari ini kamu mau ngapain?" tanya Rani penuh selidik.
"Sepertinya aku ingin menyamar jadi---------
°
°
°
°
Uppppz, apa rencana Lulu ya???
__ADS_1