
Lulu merasa kelelahan setelah bertempur hebat diruangan yang berair itu. Daffa terus saja menghajarnya hingga Lulu kelelahan dan tidak berdaya. kini Lulu pun duduk disofa sembari mengenakan pakaian yang telah diberikan Daffa padanya. Daffa duduk disamping sang istri lalu membaringkan tubuhnya di paha mulus yang tidak terlalu besar.
"Ah yang, kenapa malah tidur disitu" gerutu Lulu menatap suaminya tengah mencium perut bulat sang istrinya.
"Aku pengen cium ucul, kapan dia keluar ya" ucap Daffa yang begitu berharap untuk melihat anaknya.
"Tiga bulan lagi. sabar dong" ujar Lulu.
"Sayang, kita kasih nama siapa ya anak kita ini?" tanya Daffa menengadahkan kepalanya melihat sang istri yang tengah menyisir rambut basahnya.
"Aku sudah persiapkan, ada nama cewe, ada nama cowo juga. tinggal tunggu si ucul nongol deh" ucap Lulu mengelus perutnya.
"Siapa yang?" tanya Daffa penasaran.
"Ada deh, surprise" ucap Lulu enggan memberitahu. Daffa pun mencebikkan bibirnya, mulai merajuk tidak diberitahu sang istri. Ia pun mengangkat baju Lulu sampai diatas perut sembari memerhatikan perutnya menanti gerak-gerik sang bayi.
"Yang, kamu ngapain sih?" tanya Lulu.
"Perhatiin gerak anak kita. lama sekali dia gak nongol" ujar Daffa yang melihat perut juga tak kunjung gerak.
"Dia juga kelelahan habis kamu kelonin didalam. paling tidur" ucap Lulu. Daffa pun tak mendengarkannya lagi dan fokus menatap perut buncit itu. hingga beberapa menit kemudian, sang ucul yang dinanti datang merespon untuk menyapa sang Appi.
"Sayang, lihat ini! dia bergerak" ucap Daffa dengan girangnya menatap gerakan kecil yang belum tau apakah itu kaki atau tangan mungilnya. Lulu juga tak kalah antusias, melihat perutnya sendiri dan ternyata benar, sang jabang bayi menyapa kedua orang tuanya.
"Hai anak ammi, sedang ngapain sih nendang-nendang ammi, nak" ucap Lulu tersenyum.
"Menyapa appi dong ammi, besok aku mau ajak appi main bola" jawab Daffa dengan menirukan suara bayi.
"Eh jangan, mending naiki punggung appi main kuda-kudaan" ujar Lulu terkekeh.
"Aaaaaih sayang, jangan dong. nanti punggung appi gak kuat lagi gendong ammi ke kamar mandi" ucap Daffa menatap sang istri sambil terkekeh.
"Is apaan sih. mesum deh!" ucap Lulu menyentil kening suaminya. Lulu pun beranjak dari duduk dan keluar kamar untuk ke dapur. terlihat Bi Ningsih dan Bi Tuti tengah menyiapkan bahan masakan. Lulu pun ikut nimbrung menyamperin keduanya.
"Bibi mau masak apa nih?" tanya Lulu mengagetkan mereka.
"Semur ayam, Nyonya" jawab bi Ningsih.
"Hemm, terdengarnya sangat menggiurkan Bi. ohya, ajari Lulu buat brownies dong" ucap Lulu.
"Boleh Nyonya. kapan mau dibuat?" tanya Bi Tuti.
__ADS_1
"Sekarang dong bi. Lulu lagi pengen makan cake buatan sendiri" ucap Lulu cengengesan.
"Ayo deh Nyonya. Bibi juga udah lama gak buat cake" ucap Bi Tuti terkekeh lalu mengambil bahan kue diatas lemari dan mengeluarkannya. Lulu pun kegirangan, ia ambil mixer dan tempatnya lalu menatap satu persatu bahan yang ada diatas meja.
"Bi, ini yang mana dulu dimasukkin?" tanya Lulu bingung.
"Telur, gula dan TBM-nya, Nyonya" ucap Bibi mulai memecahkan telur. namun Lulu menghalanginya dan meminta dirinya untuk melakukan itu semua. sedang Bibi hanya memantaunya saja.
"Eh bi, biar Lulu saja" ucapnya mengambil alih telur dari tangan sang Bibi. ia pun memecahkan telur dengan telatennya tanpa tertumpah sedikit pun. Bibi pun menyuruh Lulu untuk menakarkan gula dengan porsi yang benar hingga akhirnya Mixer mulai bekerja sampai adonan berjejak.
Sembari menunggu adonan berjejak, Lulu pun mulai menyiapkan bahan lainnya seperti tepung, bubuk coklat, coklat batang dan yang lainnya. kini terlebih dahulu untuk mencairkan batang coklat tersebut yang nantinya akan dituangkan dalam adonan.
"Ternyata Nyonya juga pandai membuat kue" puji Bibi.
"Eh, enggak kok bi. toh ini atas petunjuk Bibi. Lulu cuma jalani aja" ucap Lulu tersenyum.
"Iya, tapi Nyonya lihai banget dalam mengerjakannya" jelas Bibi.
"Bibi bisa aja sih. lihat deh itu, tepung saja berserakan saat Lulu mulai menakarnya" ucap Lulu terkekeh sembari mengaduk coklat batang yang sedikit demi sedikit mulai mencair. Tiba-tiba saat sedang mengobrol, seseorang pun datang mengejutkan mereka bertiga.
"Baaaaaaa!!" kejutnya mengagetkan Lulu dan kedua Bibi.
"Ih Daff, mengagetkan saja. datang itu assalamualaikum bukan baaaaa!" ujar Lulu memutar bola matanya.
"Ditunggu-tunggu gak datang. rupanya disini ya gangguin bibi masak" ucap Daffa memasuki dapur lalu mendekati istrinya.
"Gak ganggu Tuan, Nyonya kepengen buat brownies jadi Bibi ikut bantuin" ucap Bibi.
"Sama saja. jadi menyusahkan Bibi. tapi seru sih, istriku sudah mulai belajar untuk memanjakan lidah suami yaa" ledek Daffa menatap istrinya.
"Ih pede amat. ini bukan untuk kamu tapi untuk ucul" ucap Lulu dengan pandangan sinisnya.
"Gak mau tau, pokoknya untukku juga" ucap Daffa.
"Tenang aja Tuan, nanti Bibi buat satu lagi khusus untuk Tuan" timpal Bi Tuti tersenyum.
"Hm, lihat itu yang. brownies untukku bakal lebih enak daripada buatanmu" ucap Daffa meledek sang istri. Lulu mendengkus kesal, dan membuang wajah dari suaminya.
"Pergi deh keluar, mengganggu saja" usir Lulu enggan menatap suaminya.
"Iya-iya, bawel" turut Daffa segera pergi meninggalkan dapur. Kini Lulu pun kembali fokus dalam membuat cake kesukaannya. hingga akhirnya adonan mulai berjejak dan Bibi turut membantu memasuki tepung, coklat, hingga mentega cair.
__ADS_1
"Bibi, biar Lulu saja" ucap Lulu.
"Bibi saja Nyonya. Nyonya sudah cukup lama berdiri" ucap Bi Tuti.
"Benar Nyonya, lebih baik duduk dulu. hasil akhir biar mbak Tuti" timpal Bi Ningsih yang sedang memasak.
"Iya deh. Lulu duduk disini saja" ucap Lulu menduduki tubuhnya dilantai.
"Aduh Nyonya, kenapa dilantai. kotor lho" ucap Bi Ningsih melihat Nyonya-nya duduk dilantai itu.
"Tidak apa bi, Lulu sudah nyaman" ucap Lulu terkekeh. Bibi pun menggelengkan kepala melihat tingkah lugu sang Nyonya.
"Nyonya ini unik sekali. dimana-mana mana ada majikan mau duduk dilantai apalagi ikut nimbrung ke dapur" gumam Bi Ningsih tersenyum lalu memasuki ayam ke dalam wajan.
Lulu mendengkus setelah aroma wangi menyeruak masuk kedalam permukaan hidungnya. Ia pun bangkit berdiri dengan sedikit kesusahan lalu melihat Bi Ningsih yang sedang mengaduk ayam yang bercampur kuah berwarna coklat kehitaman. Lulu semakin mendengkus, menikmati aroma yang begitu wangi itu.
"Hem Bi, ini wangi sekali" puji Lulu.
"Eh iya Nyonya. biar Nyonya dan Tuan lahap makannya" ucap Bi Ningsih.
"Kami selalu lahap kok bi. malah porsi nasi nambah terus saking nikmatnya masakan Bibi" puji Lulu tersenyum.
"Nyonya bisa saja. oya, Nyonya gak sholat? sudah setengah tujuh" ucap Bi Ningsih memperingati Nyonya-nya.
"Ya ampun. saking senangnya disini sampai lupa waktu" ucap Lulu cengengesan. segera ia pergi meninggalkan dapur untuk menuju kamarnya berada. Bi Ningsih pun semakin gemas dengan majikannya itu.
"Selesai! Ningsih, titip cakenya dulu ya.. mbak juga mau sholat nanti kita gantian" ucap Bi Tuti.
"Siap mbak"
Lulu pun telah tiba didepan kamar, saat membuka pintu tiba-tiba kepalanya kejedug oleh sesuatu.
"Aaaaaw......."
Β°
Β°
Eh kejedug apaan ya saat membuka pintu? gak mungkin kan setelah pintu ada tembok π
Jangan lupa Like, Koment, dan hadiah bunganya yaa ππ
__ADS_1