
Daffa dan Lulu melanjutkan perjalanan mereka lagi untuk mencari kebutuhan mereka pada saat Honeymoon di Negeri orang nanti sekalian berliburan menikmati pemandangan alam dan tempat-tempat wisata yang elok nan indah.
Daffa kembali merasa tenang saat istrinya tidak lagi bersedih demi lelaki brengsek yang pernah membuat hati istrinya kembali terkikis. Jujur, Daffa juga merasa cemburu melihat istrinya menangisi pria itu namun ia harus menepisnya dan mengutamakan untuk menenangkan Lulu.
"Sayang, lihat deh. Ada dress yang cocok untuk musim dingin" ujar Lulu tersenyum.
"Yasudah tunggu apalagi, ayo kita kesana" ucap Daffa memegang tangan sang istri. Tibalah mereka di dalam butik itu, Lulu memilih-milih dress yang mana bagus untuknya.
"Waah, ini keren.. Ambil satu" gumamnya dan mengambil beberapa lagi hingga memenuhi tangannya.
Daffa yang sedang menunggu istrinya, tatkala ia melihat benda yang kebetulan dicarinya. Pakaian wanita yang sangat sangat mini, belahan dada yang terlihat, dan tentunya kain itu sangat tipis memperlihatkan kulit putih bersih mulus tanpa noda. Daffa tersenyum seringai, ia mengambil yang bewarna putih, merah muda dan hitam lalu segera membayarnya ke Mbak kasir yang selalu ramah kepada pelanggannya.
"Mbak, bungkus ini buruan" ucap Daffa sambil melirik Lulu yang berjalan ke arahnya.
"Ini Tuan, semuanya satu juta lima ratus ribu" ucapnya Mbak itu. Lalu Daffa mengambil paperbag dan mengumpetnya dibelakang tubuhnya.
"Sayang, kamu ngapain nemplok dekat mbak kasir?" Tanya Lulu menatap tajam suaminya lalu menaruh pelajarannya diatas meja kasir. sedangkan Daffa memberi kode kepada Mbak kasir jangan memberitahu kalau ia membeli lingerie.
"Ini Mbak" ucap Lulu lalu Mbak kasir mulai menghitung barang belanjaan itu dan memasukinya ke dalam paperbag.
"Semuanya tujuh juta" ucap Mbak itu yang tentunya dengan barang belanjaan Daffa.
Daffa memberi unlimited card-nya setelahnya dalam sekejap mbak itu mengembalikannya lagi kepada pemilik kartu itu.
"Sayang, kita beli apalagi?" tanya Lulu.
"Mantel tentunya sayang, punyaku sudah jelek jadi pengen yang baru" ujar Daffa.
"Iya juga yang, ayo buruan" ajak Lulu antusias. Mereka kembali berkeliling untuk mencari kebutuhan mereka satu lagi.
Setelah membeli semua perlengkapan untuk berliburan, Daffa mengajak sang istri untuk makan dulu disebuah foodcourt yang paling enak di Mall ini.
Lulu memilih duduk di paling pojok sembari menatap luar, sedangkan Daffa memesan makanan untuk mereka dan tentunya ia harus mengantri terlebih dahulu.
"Hai, boleh duduk disini gak?" Tanya seorang wanita yang berpenampilan seksi.
"Ya silakan" jawab Lulu sambil mengedarkan pandangan ke seluruh meja. Tampak masih ada yang kosong namun kenapa wanita ini memilih duduk disini, pikir Lulu.
__ADS_1
"Sendiri saja mbak?" Tanya wanita itu.
"Sama suami" jawab Lulu datar dan diangguki olehnya sambil menyeruput minuman yang terdapat boba didalamnya.
Tidak berapa lama Daffa datang menghampiri istrinya sambil membawa nampan. namun diliriknya wanita didepan Lulu yang tengah makan dengan lahap, kemudian Daffa tidak menghiraukannya kembali.
"Ini sayang, pesananmu sudah datang" ucap Daffa tersenyum kepada sang istri.
"Terima kasih sayang" ucap Lulu dengan antusiasnya. Lulu melirik wanita itu menatap tajam mata yang begitu intens menatap suaminya membuat Lulu semakin kesal. ia yakin wanita itu mempunyai maksud tertentu.
"Sayang, ayo makan. perlu aku suapi?" tanya Daffa dan Lulu menggelengkan kepalanya. mereka berdua akhirnya melahap makanan itu sambil mengobrol, tidak menghiraukan wanita yang ada didepan mereka membuat wanita itu sedikit kesal.
"Ehem!" dehemnya. Daffa dan Lulu saling bertatapan dan Lulu memutar bola matanya jengah. tentu saja Lulu sangat tidak menyukai keberadaan wanita itu apalagi melihat penampilannya yang terbuka. membuat Lulu was-was.
"Sayang, aaaak..." ucap Lulu memegang dagu Daffa mengarahkan padanya. Lulu sengaja berbuat seperti itu agar suaminya tidak melirik wanita itu.
"Hm, maaf sebelumnya kalau kehadiran saya disini tidak mengenakkan" ucapnya melirik Lulu lalu menatap pria didepannya dengan intens.
"Ya, kalau kau sudah selesai silakan pergi" ketus Lulu dengan nada tak suka. wanita itu tersenyum seringai, kemudian ia berdiri dan berjalan namun kakinya tersandung oleh kaki meja hingga membuatnya terhuyung ke dalam pangkuan Daffa.
"Eh, eh, aduuh.. maaf Tuan" ucapnya merangkul bahu Daffa, menatap mata pria itu dengan lekat hingga ia tersenyum mengeluarkan senyuman yang paling manis. begitupun Daffa menatap mata wanita itu lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Sayang, dia tidak sengaja. ia tersandung" ucap Daffa memegang tangan istrinya. sedangkan Lulu membuang muka tidak ingin melihat suaminya. wanita itu tersenyum puas melihat mereka bertengkar setelahnya ia berlalu pergi.
"Sayang, jangan marah dong. aku kan tidak ngapa-ngapain" ucap Daffa memegang pundak istrinya.
"Tapi kau memerhatikannya dengan lekat!" ujar Lulu melipatkan tangannya didada sambil melihat arah luar.
"Hanya menatapnya sekilas. sudahlah lagian dia tidak sengaja" ucap Daffa berusaha membujuk istrinya untuk tidak marah lagi.
"Aku hafal dari tatapannya, dia sengaja menjatuhkan dirinya" ucap Lulu menatap suaminya dengan wajah yang ditekuk.
"Tapi sekarang dia sudah pergi kan? tenang saja, aku tidak akan tergoda pada siapapun" ucap Daffa memeluk istrinya.
"Awas kau bermain dibelakangku! akan ku iris-iris tongkat saktimu sampai hancur!" ancam Lulu membuat bulu kudu Daffa merinding.
"Ih sayang, serem amat sih" gerutu Daffa membayangkan tongkatnya diiris-iris seperti bawang.
__ADS_1
"Itu makanya! jangan berani macam-macam!!!" ucap Lulu kemudian melanjuti makannya dengan cepat.
"Banyak sekali pelakor di dunia ini!!" gumam Lulu mengunyah makanannya.
Setelah selesai makan, Lulu mengajak Daffa untuk pulang karna ia juga sangat lelah. tetapi Daffa masih enggan pulang dan ingin mengajak istrinya untuk pergi ke bioskop.
"Sayang, aku kita pulang" ajak Lulu beranjak dari duduknya.
"Nonton dulu yuk, ada film seru nih" ajak Daffa.
"Gak mau! ntar ada perempuan kecentilan lagi!" ucapnya kesal.
"Yasudah ayo kita pulang" ajak Daffa memegang tangan istrinya. Lulu pun tersenyum karna Daffa mau menurutinya.
"Yang, ke rumah Tari yuk, aku kangen padanya" ajak Lulu sambil berjalan dengan tentengan paperbag.
"Baiklah, terserah kamu saja asal tidak marah lagi" ucap Daffa merangkul pundak istrinya.
"Asyiiiiiik...... terima kasih" girang Lulu lalu mencium pipi suaminya. walau ada yang melihat tingkah Lulu mencium pipi suaminya, Lulu tidak peduli karna saking girangnya ingin menjumpai sahabatnya itu yang telah lama tidak ia temui.
"Kamu jangan nakal, lihatlah mereka tadi melihat kita" bisik Daffa.
"Biarin saja, emang gue pikirin" ucap Lulu tak peduli.
"Awas nanti di rumah" ancamnya kemudian. hingga tibalah diparkiran, Daffa segera membuka pintu untuk istri tercinta lalu menaruh paperbag dikursi belakang. setelahnya ia memutari mobil untuk masuk ke dalam mobil.
Daffa menekan pedal gas mobil, melajukan kendaraan itu dengan cepat memecahi jalanan ibukota yang padat. tidak terasa mereka telah tiba di kediaman Tari dan Ferdi, penjaga rumah pun menghampiri mereka.
"Cari siapa Tuan?" tanyanya.
"Tari pak, ada di rumah kan?" tanya Lulu balik.
"Eh, non Lulu ya.. ada-ada. ayo masuk" ucap bapak itu lalu segera membuka gerbang dengan lebar. mobil pun memasuki perkarangan rumah Tari. Lulu segera turun dengan perasaan tidak sabarnya. berlari ke arah pintu meninggalkan sang suami.
ting tong.. ting tong..
°
__ADS_1
°
°