Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
158. Mual aroma susu


__ADS_3

Ketukan pintu menghentikan aksi yang dilakukan Daffa dan segera membenarkan penampilan mereka yang acak-acakan. Daffa segera membuka pintu untuk melihat siapa yang tengah mengganggunya.


Ceklek,


"Permisi Tuan, kita harus memeriksa keadaan pasien" ujar Dokter yang berdiri didepan pintu.


"Baik dok, silakan masuk" ucap Daffa. Dokter pun segera masuk dan melihat pasiennya tengah memakan buah diatas sofa.


"Hai Nona, bagaimana keadaanmu?" tanya dokter yang kali ini menggunakan bahasa inggris.


"Sudah baikkan dok, apa saya sudah bisa pulang?" tanya Lulu.


"Tentu boleh, melihat keadaanmu yang sudah baik. Jangan lupa obatnya diminum ya" ujar Dokter setelahnya berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Akhirnya bisa kembali ke hotel" sorak Lulu dengan riangnya.


"Iya tapi tidak bisa pergi jalan-jalan" sambung Daffa. sontak Lulu langsung memanyunkan bibirnya.


"Gak seru! aku sudah bisa berjalan, tenang saja" sahut Lulu yang tidak ingin berdiam diri di hotel.


"Di Belanda nanti kita akan jalan-jalan, oke? seharian ini kita di Hotel dulu" ucap Daffa setelah diam sejenak.


Daffa dan Lulu pun kembali menghabiskan sarapan pagi dan buah yang telah dikupasnya agar saat balik ke hotel nanti semua makanan tidak ada yang terbuang. Lulu menghabiskan sarapannya dengan cepat, tidak sabar untuk pergi dari rumah sakit ini.


"Pelan-pelan! nanti kau tersedak dan anak kita batuk-batuk" ucap Daffa memperingati istrinya.


"Sok tau kamu" ucap Lulu melanjuti sarapannya.


Daffa dan Lulu telah keluar dari rumah sakit tersebut. Daffa menyuruh Lulu untuk menduduki kursi roda. namun Lulu sangat keras kepala, ia tetap kekeh untuk berjalan kaki dengan alasan ia ingin melatih kakinya yang sakit untuk berjalan agar rasa perih itu dapat mereda dengan sendirinya. ya memang benar, saat tubuh kita merasakan sakit apabila kita bawa untuk terus bergerak, rasa sakit itu tidak terasa oleh kita sebab kita sedang fokus dalam satu titik.


Kini mereka telah tiba di Hotel setelah turun dari taksi. dengan langkah tergopoh-gopoh Lulu berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Daffa merasa kasihan, keras kepala istrinya membuatnya tunduk tidak bisa berkutik kembali. tanpa berlama-lama, Daffa segera menggendong Lulu dan berjalan dengan gagahnya menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke kamar hotel yang mereka tempati.


"Aku bisa jalan sendiri!" ucap Lulu meronta-ronta.


"Jalanmu seperti keong, kapan sampainya" ujar Daffa dengan tenang. pintu lift pun terbuka, Daffa dan Lulu saling ternganga melihat sepasang bule tengah berciuman didalam lift dengan liarnya. Daffa menelan salivanya kasar melihat adegan itu, sedang Lulu segera menutup kedua mata suaminya dengan tangan. sepasang bule yang tengah asyik itu baru tersadar bahwa pintu lift telah terbuka dan mereka jadi bahan tontonan gratis Daffa dan Lulu. mereka salah tingkah, segera keluar dengan menundukkan kepalanya menahan malu.


"Sampai kapan berdiri disini? jalanlah! mereka telah pergi" suruh Lulu.


"Bagaimana aku berjalan kalau mataku kamu tutup" sahut Daffa. Lulu menoleh menatap suami, segera ia tarik kembali tangannya yang betah menutupi mata Daffa.

__ADS_1


"Gitu dong, baru kita jalan" sambungnya kembali lalu berjalan memasuki lift.


"Apa kau melihat mereka?" tanya Daffa setelah pintu di tutup.


"Tentu, mereka tidak tau malu" ujar Lulu membayangkan pasangan itu.


"Aku juga ingin" ucap Daffa menatap lekat wajah sang istri.


"Apa urat malumu juga pu....." ucap Lulu terpotong sebab Daffa langsung melahap istrinya.


"Eeemh, le..paaas!" berontak Lulu mendorong wajah suaminya. Daffa tetap menahan kepala Lulu agar ia tidak menjauh.


ting,


Daffa melepaskan pagutan mereka, mengedarkan pandangan tidak ada siapa-siapa. hingga tibalah mereka dikamar, Daffa membaringkan tubuh istrinya yang sudah mulai berat itu.


"Istirahatlah, aku akan mandi dulu" ucap Daffa segera memasuki kamar mandi.


Seharian dikamar, nampak sangat membosankan. Lulu meraih kameranya dan duduk dibalkon sambil memotret sisi sudut kota Paris. Daffa sedang keluar sebentar, untuk membeli sesuatu yang diinginkan Lulu.


Daffa telah tiba didepan pintu masuk Hotel, berpapasan dengan seorang wanita yang nampak terburu buru hingga ia tersandung menabrak tubuh Daffa. Daffa segera menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. wanita itu menatap mata Daffa lekat, Daffa segera membantunya berdiri setelahnya ia berlalu pergi.


"Ada apa Nona?" tanya Daffa.


"Ini kartu nama saya, saya siap melayani anda dikamar 202" ujarnya tersenyum centil.


"Maaf saya tidak membutuhkan ini" ucap Daffa mendorong tangan wanita itu.


"Hai Cristella! buruan atau kau tidak aku bayar!" teriak seorang pemuda.sekitar usia tiga puluhan tengah memanggil wanita itu.


"Ambil saja, siapa tau kau butuh. lihatlah bodyku, kau akan candu" ujarnya membanggakan diri lalu berlari menuju pria yang dikejarnya tadi.


Daffa segera berjalan menuju lift namun ia menhentikan langkahnya.sejenak didepan tong sampah lalu membuang kartu nama wanita itu.


"Body istriku lebih cantik dari dirimu. kau sudah longgar sedang istriku masih rapat" gumam Daffa menatap kartu itu lalu membuangnya dan berlalu pergi.


Ting,


Daffa melangkah keluar dari dalam lift dan berjalan beberapa langkah untuk menuju kamar mereka. trlihat Lulu sedang mondar-mandir didepan sofa entah apa yang dipikirkannya. Daffa menaruh barang belanjaannya dan memeluk Lulu dari belakang.

__ADS_1


"Kenapa kamu mondar mandir sayang?" tanya Daffa menaruh dagu diatas pundak Lulu.


"Lepas!" pinta Lulu menatap tajam. Daffa pun bingung dengan tingkah istrinya, melepaskan pelukan dan meraih kresek lalu membukanya.


"Ini makanan yang kamu minta" ucap Daffa memberikan makanan itu.


"Aku gak selera, buang saja" ujar Lulu enggan menatap suaminya.


"Ada apa denganmu yang, tiba-tiba marah." ucap Daffa menghampiri Lulu.


"Kau dekati saja wanita yang dibawah tadi" ketus Lulu membuang wajahnya dari Daffa.


"Astaga, wanita itu? dia terjatuh, aku hanya menolongnya" jelas Daffa.


"Tapi dia mengejarmu dan kau sangat lama!" ujar Lulu membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Dia hanya bilang terima kasih sayang, sudahlah mana mungkin aku mencari wanita lain disini" ucap Daffa lalu memeluk istrinya.


"Hm"


Malam telah tiba, Lulu menikmati makan malamnya bersama Daffa. Daffa sudah berhasil membujuk Lulu hingga Lulu pun percaya dengannya. entah kenapa bila ada wanita lain yang mendekati suaminya, ia langsung tidak suka dan cemburu walaupun hanya sekedar menolong saja. Lulu meminum susu hamilnya yang telah dibuat oleh Daffa. meminumnya hingga habis tanpa sisa.


"Kau kenapa yang?" tanya Lulu menatap suaminya yang bergidik geli.


"Aroma susunya menyengat sekali" ucap Daffa.


"Memangnya bisa tercium aromanya ya?" tanya Lulu heran.


"Aku pun bingung, penciumanku sangat kuat. weeeek!" ucap Daffa kemudian merasakan mual. Daffa pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Uweeek... uweeek!


Lulu segera berlari dengan jalannya yang menyeret kaki, menghampiri Daffa lalu menepuk punggungnya dengan wajah yang cemas.


"Kenapa kau yang muntah yang, yang hamil kan aku?"


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2