Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
252. Masuk jurang


__ADS_3

Anak buah Sheila pun telah berhasil ditangkap dan diborgol. Sedangkan Sheila masih dikejar oleh polisi. Sheila berlari kencang ke dalam semak-semak belukar yang berada di belakang pabrik itu. Semak-semak yang berujung pada pepohonan yang tinggi, jalanan yang tidak rata hingga memiliki jurang di tepinya. Sheila menoleh sekilas ke belakang, matanya melotot melihat polisi itu yang jaraknya hampir dekat dengannya. Pak polisi pun sudah cukup kelelahan mengejar buronan itu, dengan terpaksa ia merogoh pistol yang melekat pada tali pinggangnya.


"Berhenti!! atau kau akan kami tembak!" teriak salah satu dari Polisi tersebut. Sheila tak menggubrisnya, ia tetap berlari secepat mungkin dan tentunya berhati-hati karna jurang yang begitu dalam ada di tepi sebelah kirinya.


Polisi mengarahkan pistol ke arah wanita itu, lantas menarik pelatuknya membuat suara nyaring dengan peluru yang melesat cepat.


DOR! DOR! DOR!


Tepat sasaran! peluru yang melesat cepat pun mengenai betis salah satu kaki milik Sheila. Sheila mendesah, merintih kesakitan hingga rasa perih itu membuat tubuhnya oleng ke kiri dan,


Sreeeet....


Sheila terjatuh ke dalam jurang dengan pekikan suaranya yang begitu nyaring terdengar.


Aaaaa!!!


Pak polisi bergegas berlari mengejar Sheila yang sudah masuk ke dalam jurang, tiada suara teriakan lagi yang terdengar, senyap, hingga pak polisi pun melihat lebih dalam sosok buronannya didalam sana. Mereka melihat Sheila yang tersungkur didalam sana, tampak jelas dan ia tidak bergerak lagi.


"Sepertinya ia meninggal" ucap Polisi pada temannya.


Lulu, Karin, Daffa, Ferdi dan anak-anak tampak sedang berpelukan. Anak-anak menumpahkan deraian air matanya pada pundak orangtua mereka. Apalagi Mira yang merasa shock mengingat wanita itu mengacungkan bambu pada dirinya. Karin mengelus-ngelus pundak sang putri, merasa iba melihatnya yang tampak trauma.


"Sudah, jangan nangis.. orang itu gak ganggu Mira lagi kok" ucap Karin menatap rambut sang putri.

__ADS_1


"Kak, Lulu minta maaf karna masalah pribadi kami, Mira juga ikut terlibat" ucap Lulu merasa tidak enak.


"Gak kok Lu, ini juga ada kaitannya sama aku." ujar Karin seraya memegang pundak Lulu. Tiba-tiba alat komunikasi milik Karin pun berbunyi, alat komunikasi yang saling menghubungkan antar polisi. Karin segera mengangkat panggilan itu hingga ia terkejut mendengar penuturan rekan kerjanya.


"Apa? innalilahi, saya akan kesana" ucap Karin.


"Tidak perlu. sebaiknya pulanglah, Mira lebih membutuhkanmu" ucap pak polisi diseberang sana lalu mematikan panggilannya secara sepihak.


"Ada apa?" tanya Lulu penasaran.


"Sheila masuk jurang. ayo kita pulang" ujar Karin. Mereka pun memasuki mobil bersama-sama.


Didalam mobil Daffa, anak-anak tertidur lelap dipangkuan Ibunya dengan tubuh yang begitu lelah. Lulu turut prihatin pada anak-anak. Karna masalah pribadi orangtuanya, anak-anak yang tak berdosa ini terkena imbas dari masa lalu mereka. Hening, kedua Ibu itu tampak termenung memikiri nasib psikologis sang putri yang begitu trauma dengan kejadian barusan. Namun mereka bersyukur mendengar bahwa Sheila sudah tiada didunia ini alias ia telah meninggal terjatuh ke dalam jurang hingga kepalanya terbentur batu yang besar. Awalnya mendengar kabar itu mereka kaget, setelah dipikir itu lebih baik daripada di penjara dan pastinya akan berencana untuk kabur lagi lalu mengusik kehidupan mereka yang telah tenang dan damai.


"Roni tau soal ini kak?" tiba-tiba Lulu membuyarkan lamunan Karin.


"Dia sedang sakit lebih baik jangan diberitahu" timpal Daffa yang sedang berkendara. Lulu pun manggut-manggut mengerti. Daffa mengantarkan Karin terlebih dahulu ke rumahnya. sedangkan Ferdi, mengantar para pengawal Daffa ke rumah mereka.


"Ferdi, apa anak-anak sudah ketemu?" tanya mama Sarah yang sedari tadi nunggu di gerbang menanti anak cucunya.


"Alhamdulillah Tan, mereka sedang dalam perjalanan" jawab Ferdi dari dalam mobil.


"Syukurlah" Mama Sarah pun cukup lega mendengarnya.

__ADS_1


"Saya permisi Tan, Assalamualaikum" pamitnya. Mama pun menjawab salam dari Ferdi. Hingga tak berapa lama, Mobil Daffa pun telah tiba di kediaman mereka. Semua yang merasa cemas di rumah itu, akhirnya perasaan pun lega melihat anak cucunya telah kembali dengan selamat tanpa lecet sedikit pun. Lulu mengantarkan Ayura ke kamarnya, mengecup kening itu dengan cukup lama. Lulu menatap putrinya, matanya membengkak kebanyakan menangis pada kejadian tadi.


"Maafkan ammi ya, karna kami kamu yang terkena imbasnya" lirih Lulu pelan sembari mengelus rambut sang putri. Lulu menutupi tubuh itu dengan selimut, keluar kamar lalu menghampiri kamar si kembar. Lulu tersenyum dari balik pintu, tampak mereka masih terlelap dalam tidur.


Lulu kembali ke ruang keluarga, tampak Daffa tengah berbicara serius pada orangtua juga mertuanya. Lulu ikut nimbrung, ternyata Daffa memberitahukan bahwa Sheila sudah meninggal akibat jatuh ke dalam jurang. bukannya turut berduka, semuanya pun begitu senang mendengar kabar kematian itu. Lulu tersenyum seringai, kini tiada lagi musuh yang membingkai kehidupannya kelak. Lulu teringat akan penjahat yang ia sekap, Papa Mahesa mengatakan bahwa mereka telah ditangkap oleh kepolisian. Lulu pun semakin lega, tiada orang jahat lagi yang menghampiri hidupnya walaupun kejahatan emang selalu ada di sekitar. Daffa pun memutuskan, untuk terus mengawal Ayura ketika sekolah ataupun diluar.


"Lebih baik kita makan siang yang sudah telat ini" ajak mama Sonya.


"Mama, papa, belum makan?" tanya Lulu.


"Mana mungkin kami mengisi perut saat kami sedang cemas memikirkan nasib kalian disana" ujar mama Sarah terharu. Lulu pun memeluk ibu kandungnya dengan penuh kasih sayang.


"Vivi mana, ma?" tanya Lulu.


"Kuliah, dia sedang sibuk membuat skripsinya" jawab Mama. Lulu pun manggut-manggut mengerti. tidak terasa Vivi sudah dewasa, ia berumur 21 tahun dan sebentar lagi ia akan lulus dari fakultas ilmu bisnis.


Kini semua keluarga telah berkumpul di meja makan, menikmati makan siang dengan lahap hingga Lulu dan Daffa menambahkan porsi nasinya. Maklum, hari ini begitu menguras tenaga dan pikiran keduanya hingga menepis rasa lapar yang mendera demi memikirkan anak mereka yang berada didalam ancaman orang-orang yang tidak berakhlak sama sekali. Selesai makan siang yang sudah terlambat, kedua papa pun berpamitan untuk menuju kantor. begitu pun Daffa, pekerjaan emang tidak bisa ditinggal kali ini hingga mengharuskannya untuk kembali ke kantor. Daffa mengecup dahi sang istri lalu bersalaman dengan kedua mamanya.


"Hati-hati Daf, Pa, Mas" seru Mama melambaikan tangan pada orang tercintanya, hingga mobil yang mereka kendarai pun telah hilang dari pandangan ketiga wanita cantik tersebut. Mama Sarah pun mengajak anak dan besannya untuk masuk, menghampiri kamar Yura untuk melihat gadis itu yang terlelap.


"Yura yang malang" gumam mama Sarah.


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2