Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
113. Terasuk iblis


__ADS_3

"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Daffa.


"Heem... Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar tuan" jawab dokter itu dengan tersenyum


"Alhamdulillah ya allah" ucap semua orang mengucap syukur atas keselamatan Lulu orang yang mereka sayangi.


"Terima kasih dok, apakah boleh saya menemuinya?" tanya Daffa yang sudah tidak sabar untuk melihat istrinya.


"Boleh, tapi dia harus dipindahkan dulu keruang rawat yaa asal jangan ada yang berisik. saat ini beliau sedang masih dalam pengaruh obat bius" ucap dokter itu menyampaikannya pada Daffa dan yang berada disana.


Setelahnya brankar yang diatasnya ada Lulu sedang didorong oleh perawat untuk dibawa keruang rawat. Daffa dan yang lainnya pun ikut mengikuti dimana Lulu akan ditempati.


Perawat pun pergi, Daffa dan yang lainnya masuk kedalam ruangan Lulu. Lulu tampak terkulai lemas dengan jarum infus ditangannya, mata yang indah tertutup rapat memejamkan sejenak hingga obat bius sudah tidak berpengaruh lagi didalam tubuhnya. Daffa memandangi wajah istrinya dan beralih pada pakaian, Daffa memejamkan matanya sejenak mengingat kejadian pulang kantor dimana Daffa yang mencueki Lulu hanya karna masalah sepele.


"Maafkan aku sayang aku yang buat kamu begini" gumamnya hingga tak terasa air matanya sedikit menetes mengenai punggung tangan istrinya.


"Tenang nak, kamu tidak salah.. setelah Lulu bangun kamu bisa menjelaskannya" ucap Mama Sarah yang sedang mengelus rambut anaknya.


Daffa terdiam, ia teringat akan perbuatan Sheila tadi sore Daffa pun segera berpamitan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan istrinya dengan diikuti oleh Roni.


"Ma, Pa, Daffa pamit dulu keluar sebentar ada urusan" pamitnya.


"Baiklah nak, hati-hati" ucap Papa Mahesa. setelahnya Daffa segera melangkahkan kakinya cepat dengan amarah yang memburu.


"Daf.. daf.." panggil Roni mengikuti langkah kaki sahabatnya.


"Apa?" tanya Daffa.


"Kamu mau kemana? aku ikut" ucap Roni.


"Aku harus menghajar wanita itu" ucap Daffa berang.


Roni langsung merasa heran sebenarnya apa yang sedang terjadi, pikirnya. entah perempuan siapa yang dimaksud Daffa membuat Roni semakin bingung. Roni pun bertanya untuk mencari tahu siapa yg perempuan yang disebut Daffa.


"Daff, perempuan siapa?" tanya Roni.


"Siapa lagi kalau bukan jal*ng itu!" ucapnya marah untung saja mereka kini berada didalam lift jadi tidak ada.yang mendengar amukan Daffa.


"Sheila?? apa yang dilakukannya?" tanya Roni ingin tahu.


"Dia menjebakku Ron, Lulu salah paham padaku. setelahnya dia pergi dari rumah dan berlari hingga..." jelas Daffa berhenti.


"Hingga???" tanya Roni memicingkan matanya menatap Daffa


"Ada mobil yang sengaja menabraknya" ucap Daffa lemas.


"Astaga... pasti si penabrak bekerja sama dengan Sheila" tebak Roni.

__ADS_1


"Betul, tapi aku tidak tahu siapa" ucap Daffa.


"Kau bawa mobilkan?? setirkan untukku" perintahnya.


Hingga mobil yang dikendarai Roni pun meninggalkan pekarangan rumah sakit.


"Apa kau tau dimana sheila berada?" tanya Roni yang daritadi hanya memutar jalanan tidak tau tujuan akan kemana.


"Aku pun tidak tau, astaga.. pikiranku pusing sekali" gerutu Daffa. Roni yang mendengar pun hanya menghembus nafasnya kasar melihat sahabatnya itu main pergi tanpa tujuan.


"Eh eh tunggu tunggu!!" ucap Daffa menilik jauh ke arah seberang.


"Ada apa?" tanya Roni.


"Itu sepertinya mobil yang menabrak Lulu. ayo kita kesana!" perintahnya.


"Lo yakin?? mobil kayak gitu kan banyak" ucap Roni.


Daffa pun semakin geram melihatnya, disaat pikirannya lagi pusing begini Roni malah banyak bacotnya.


"Turuti saja kataku! banyak bacot" berang Daffa.


"Baiklah baiklah santai bos" ucap Roni mencebikkan bibirnya lalu menyeberangkan mobilnya ke arah sebuah bar yang ditunjuk oleh Daffa tadi.


Mereka telah tiba disebuah bar dimana Daffa melihat mobil yang menabrak istrinya, Daffa turun dengan tergesa diikuti oleh Roni.


"Ayo kita masuk.. mereka berdua pasti disini" ucap Daffa. mereka pun memasuki bar tersebut yang sangat ramai oleh pengunjungnya. Daffa celingak celinguk kesana kemari sambil berjalan mencari Sheila berada. Daffa sangat yakin kalau Sheila pasti sedang bersama pemilik mobil yang menabrak istrinya. begitupun Roni ikut membantu Daffa mencari keberadaan Sheila. pengunjung yang ramai dan asyik berjoget ria membuat Daffa sulit mencari mantan kekasihnya itu. disisi lain, Roni seperti melihat wajah Sheila walau samar-samar.


"Yaaa???" ucap Daffa yang masih serius mencari.


"Ayo ikut aku sepertinya ku melihat Sheila" ucap Roni.


"Ayo, dimana jal*ng itu?!" ucap Daffa. mereka pun berjalan mendekati wanita yang mirip dengan Sheila, semakin dekat dan dekat Daffa dan Roni melihat jelas wajahnya. benar saja, ternyata itu adalah Sheila yang sedang berjoget dengan seorang pria sambil memegang botol minuman keras itu.


Melihat wajahnya saja sudah membuat Daffa semakin murka, ia berjalan cepat menghampiri Sheila yang setengah mabuk dan...


"Aaaaw......" rintihnya memegang rambut yang ditarik oleh Daffa.


"Disini kau rupanya wanita mur*h*n!!" ucap Daffa menarik rambut Sheila kebelakang dengan menggertakkan giginya yang ingin mengeluarkan amarah. Sheila menoleh wajah si pemilik suara dan ia terkekeh melihat wajah Daffa yang ada disampingnya.


"Eh hee.. Daf..faa..." ucapnya terhoyong-hoyong.


"Akhirnya kau menemuiku.. hahaha.. ba..bagaimana is istrimu yang jelek itu?? pasti sudah mati. hahahahaha.." ucapnya tertawa puas. Daffa yang mendengar pun semakin menarik kuat rambut Sheila. kini ia tidak bisa menahan amarahnya lagi, Daffa pun melakukan sesuatu untuk menghajar wanita yang telah melukai istrinya.


Plaaaak!!!!!


"Kurang ajar kau!! beraninya mencelakai istriku!" teriak Daffa.

__ADS_1


Plaaak!!! sekali lagi.


"Ini untuk membayar luka istriku!!"


Plaaaaak!!! plaaaaak!! plaaaaaak!!!!


Hingga Sheila pun tersengkur ke lantai akibat tidak bisa menahan tubuhnya yang terkulai lemas akibat tamparan yang berulang-ulang itu.


"Sial kau!!!!" teriak Sheila memegang pipinya dan mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. kegaduhan mereka membuat semua pengunjung memerhatikan Daffa dan Sheila yang sedang bertengkar. reaksi mereka hanya diam dan tak ada yang menolong Sheila.


Daffa berpaling pada lelaki yang berjoget dengan Sheila tadi, dengan tatapan tajamnya membuat lelaki itu begitu takut.


"Dan kaaau!!!" ucap Daffa menarik kerah baju pria itu.


"Ke..kenapa aku?" tanyanya heran.


"Kau pasti yang sudah menabrak istri ku dan kerja sama dengan jal*ng itu kan???!!!" bentak Daffa.


"Tidak tuan, aku bahkan tak tau apapun. kami bertemu hanya sekali ini" jawabnya lantang. Daffa pun melepaskannya, dari cara bicaranya yang lancar Daffa yakin bukan pria itu yang menabrak istrinya. Daffa pun beralih pada Sheila yang sudah lemas terduduk.


"Siapa yang menabrak istriku, jawab!!!!" bentaknya sekali lagi.


"Aku tidak tau. sudahlah.. ikhlaskan saja dia biarkan istri jelekmu itu dineraka" ucap Sheila ngelantur.


"Kau yang akan ku bawa ke nereka wanita sampah!!!!" bentak Daffa memegang dagu Sheila dan menghentakkannya ke kursi yang dibelakang Sheila.


tuk tuk tuk


Daffa menghentakkannya berkali kali hingga kepala Sheila berdarah tapi untung saja tidak terlalu parah. Orang orang disekitar pun segera menghindar dan menjauh, Roni yang melihat langsung menghentikan sahabatnya itu yang sudah dirasuki iblis.


"Daf sudah.. kau membunuhnya" ucap Roni tak kalah takut.


"Itu lebih baik" ucap Daffa.


"Hei sadar daf!! kalau kau melakukan itu kau akan dipenjara, bagaimana nasib Lulu kalau kau begitu" ucap Roni bicara pelan.


"Baiklah, awas kau!!!" ucapnya lalu melepaskan tangannya dari dagu itu dan berlalu pergi.


"Hai sayang, kenapa pergi.. aku suka permainanmu yang agresif ini" ucap Sheila memegang kepalanya sambil tersenyum lalu ia pun tersungkur dilantai dan terkekeh.


"Wanita aneh" gumam pengunjung lain.


°


°


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2