Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
241. Macan dan mangsa


__ADS_3

Sebut saja macan, ia melahap habis mangsanya dengan rakus, mangsanya tak bisa berkutik lagi hingga ia pun pasrah dengan serangan mendadak itu seperti menyayat desiran darahnya. Terkaman ini begitu sangat mengerikan hingga si mangsa hanya pasrah pada perlakuan si macan.


Alunan indah terdengar di gendang telinga sang macam, ia tersenyum mendengar alunan itu yang begitu syahdu dan manisnya santapan siangnya. Macan masih belum puas, ia bergerilia kesana kemari, menikmati santapan siang yang begitu menggiurkan dan sangat mewanggi hingga ia meninggalkan bekas darah disekujur leher mangsanya. Si mangsa bergeliat, merasakan geli pada posisi itu. Macan berhenti sebentar, menatap wajah si mangsa yang begitu sangat terbawa arus dalam sensasi yang ia berikan.


"Kenapa berhenti?"


"Sudah ku duga kau akan menyukainya" ucap si macan segera membuka benang-benang yang meliputi sekujur tubuhnya, setelahnya menarik benang yang dikenakan si mangsa ke atas tubuhnya sebab si mangsa memakai benang yang simple dan praktis. Macan melihat tongkatnya, begitu sangat keras dan berurat. Ini entah tongkat atau bakso urat? entahlah yang penting bisa mengeluarkan pasukan kecebong yang siap memasuki bilik tersembunyi didalam sana. Bersiap-siap ia pagutkan tongkat kedalam tempat yang memiliki lubang itu, memasukinya dengan perlahan dan mengobrak-abrik tempat itu hingga hancur. eeeits, tapi ini tidak hancur namun tempat itu semakin kuat hingga sedikit demi sedikit mengeluarkan lavanya yang berwarna putih.


Suara merdu pun kembali berkumandang, menggema diruangan itu, tempat panggung mereka menjadi saksi atas si tongkat dan tempat hutan yang sedang berkolaburasi diatas panggung itu hingga si pemilik mengeluarkan alunan suara merdu nan indah yang membuat pendengar begitu terlena. Tapi kali ini tidak ada pendengar, mereka mengenakan panggung ditempat yang tertutup dan berkedap suara.


Permainan itu pun semakin menjadi, si pemilik mempercepat volumenya hingga mengeluarkan susu kental manis rasa vanilla diatas hutan lebat. Macan, si pemilik tongkat pun merasa lega, nafasnya kembali beraturan setelah mencapai kemenangan mengeluarkan susu itu. begitu pun si mangsa, ia tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


"Kau ingin diatas?" tanyanya lalu menyedot anak gunung dengan sekali tarikkan. Ia mengangguk, pertanda ia ingin. Segera Macan membalikkan tubuh mereka dan membiarkan mangsanya yang bermain.


"Ini tiada tandingan" gumamnya dengan nada indah. Mangsa begitu hebat, bermain dengan lihai dan lincah membuat Macan bangga pada si mangsa yang sangat pintar memanjakannya.


Hingga pertempuran diatas panggung pun selesai, keduanya sudah merasa sangat lelah hingga keduanya tertidur.


**


"Ammi.....!!" teriakan dua orang bocah terdengar sangat kuat diluar sana. Mereka terus memanggil amminya hingga tersentak membuat Lulu terbangun dari tidur pulasnya. Dilihatnya kamar, mulai gelap hingga Lulu mengkucek kedua matanya. Lulu menoleh ke arah jendela, langit sudah gelap dari awan berwarna biru muda kini telah berangsur menjadi biru tua.


"Ammi......" sekali teriakkan lagi membuat Lulu menoleh pada pintu.


"Iya tunggu sayang" teriak Lulu segera mengambil baju yang berserakan dan dengan cepat mengenakannya. Lulu menyalakan kontak lampu hinggaa lampu pun menyala menampakkan wajah sang suami yang begitu pulas tertidur.


"Astaga, sudah pukul enam sore" gumam Lulu terkejut. Ia pun membuka pintu, tampak dua bocah tengah merengut, wajah yang ditekuk menandakan dua bocah sangat kesal.


"Kalian sudah bangun?" tanya Lulu.

__ADS_1


"Dari tadi!" ketus Fio.


"Uluh uluh, anak ammi cemberut. peluk ammi dong" pinta Lulu merentangkan kedua tangannya, namun si kembar hanya menggeleng dengan bibir manyun kedepan.


"Ngambek yaa? maaf deh, ammi tadi tertidur sama appi" ucap Lulu mengatupkan kedua tangannya.


"Appi sudah pulang mi???" sekejap secercah senyuman pun kembali menghiasi wajah kedua bocah itu. Lulu pun mengangguk cepat dan tanpa sadar kedua bocah itu langsung berlari memasuki kamar dan menaiki tubuh Daffa.


"Appi..........!!!" sorak mereka lalu menaiki tubuh Daffa, bergenjotan diatas sana.


"Astaga, bagaimana kalau mereka malah membuka selimut itu?" gumam Lulu merasa was-was. Segera ia berdirii dan berjalan menghampiri bocah itu.


Daffa mengerjapkan kedua matanya dan langsung terkejut melihat sang anak sudah berada diatas tubuhnya. Daffa semakin melotot, tubuhnya meregang saat tongkat saktinya dipegang oleh Fio dari luar selimut.


"Lu, anu..." ucap Daffa terbata-bata melihat Lulu berjalan ke arahnya. Lulu yang mengerti pun langsunng menggendong Fio yang berani sekali memegang benda terlarang itu.


"Ammi, didalam sana ada yang kenyal-kenyal dan panjang gitu" adunya pada Lulu dengan tangan yang seperti sedang meremas.


"Lio, kejar ammi yaa.. appi mau mandi" ucap Daffa.


"Lio ikut, pengen main air" ucap bocah itu.


"No! Lio kan sudah mandi, nanti masuk angin lho mandi jam segini" ucap Daffa pada sang putra.


"Lalu kenapa appi mandi jam segini? nanti masuk angin juga" ujarnya bingung.


"Karna appi sudah besar dan kuat" ucap Daffa menunjuk otot lengannya.


"Waaah, besar sekali" puji Lio memegang otot appinya.

__ADS_1


"Iya dong, besok tangan Lio juga sebesar ini. asalkan sekarang Lio kejar ammi, oke?" ujar Daffa dan diangguki oleh Lio. Lio pun segera berlari dengan secepat kilat mengejar sang ammi yang sudah memasuki ruang bermain anaknya.


"Astaga, pusakaku.... dasar bocah" gumam Daffa mengintip pusakanya dari dalam selimut. Daffa pun segera beranjak, mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.


Di ruang bermain, Lulu membuka box berisi mainan anak-anaknya. Fio dan Lio tengah menunggu, menatap sang ammi yang begitu serius. Akhirnya Lulu telah berhasil membuka box tersebut dan mengeluarkan mainan anaknya yang begitu banyak.


"Nah ini diaa...." ucap Lulu.


"Yeaaaay.... barbie" girang Fio segera membuka kotak boneka itu dengan tangannya yang mungil. Ia pun tampak kesusahan dan menyuruh Lulu untuk membukanya.


"Ammi, susah sekali" gerutu Fio.


"Sini ammi bukakan" ucap Lulu lalu membuka kotak mainan itu dan memberikannya pada Fio. begitu pun yang lainnya, Lulu membuka satu per satu dan tersenyum melihat anaknya yang gembira memainkan mainan barunya.


"Saatnya power rangers menaiki mobil!" sorak Lio menaruh power rangers berwarna merah diatas mobil remotenya. Lio memainkan mobil itu dengan tangan yang memegang remote. Lio hanya memberi arahan dan menjalaninya.


"Lio, jangan turunii tangga yaa!!" teriak Lulu.


"Ya mii" sahutnya masih fokus mengendarai mobil itu. Lio terus memainkannya dengan hati-hati dan mengingat perkataan Lulu bahwa ia tidak boleh menuruni tangga. Dan tanpa sengaja, mobilnya berlaju dengan sangat cepat hingga mendekati tangga.


"Tidak, tidak! jangan sampai jatuh" gumam Lio panik namun na'as mobil pun terjatuh.


"Ah syukur aja" gumam Lio.


°


°


°

__ADS_1


Syukur kenapa? mobil jatuh ke tangga kok bilang syukur? apa yang terjadi?


__ADS_2