
Gibran dan Rani saling menatap dan ternganga
"SUAMI??"
"Ya saya suami Lulu, kami telah menikah. dan kau???? Jangan pernah mendekati istriku lagi!" tegas Daffa mengakui dan menunjukkan jarinya ke arah Gibran. Gibran dan Rani hanya menunduk, mereka merasa tegang sekali.
"Apa-apaan anda! terserah saya mau bergaul dengan siapa, saya sudah nyaman bersama Gibran" ucap Lulu lalu segera masuk ke dalam lift menarik tangan Rani untuk menuju meja kerja mereka.
"Saya permisi presdir" pamit Gibran menuju ruangannya.
Kini tinggal Daffa sendiri yang terpaku didepan pintu lift itu kini ia tampak frustasi apalagi orang-orang pada melihatnya. Daffa pun segera memencet tombol lift untuk ia masuki dan membawanya ke lantai yang ia tempati. setelah kepergian Daffa sang Presdir perusahaan itu, Orang yang ada dilobi sudah saling berbisik.
"Kenapa presdir sampai segitunya memukul pak Gibran?" bisik mereka.
"Entahlah, yang gue lihat dia tidak suka perempuan rambut pendek tadi didekati pak Gibran" sahutnya.
"Apa itu kekasihnya?? tidak mungkin." ucap temannya.
"Sepertinya gue ada mendengar sebutan istri, ASTAGA" ucap mereka kaget menutup mulutnya dengan tangan.
Seperti itulah bisik-bisik tetangga atas kegaduhan barusan. mereka semua tampak kaget melihat kejadian itu.
Ditempat Lulu, Rani jadi merasa lebih kalem padanya setelah mendengar penuturan itu. ia jadi merasa segan berdekat dengan nyonya perusahaan ini. Rani pun segera menuju meja kerjanya dan berpamitan pada Lulu.
"Nyonya, sa..saya permisi dulu" ucap Rani.
Mendengar sebutan itu Lulu menyipitkan matanya heran,
"Nyonya?? maksudmu?" tanya Lulu.
"Anda Nyonya presdir jadi sepatutnya saya menyebut Nyonya" jelas Rani tanpa menatap mata temannya itu.
"Astaga..... jangan anggap aku seperti itu. kita ini sama, tidak ada yang beda.
a..aku terpaksa menikah dengannya" ucap Lulu.
"Tapi tetap saja saya harus panggil Nyonya" kekeh Rani.
"Panggil aku Lulu, ran. aku tak suka panggilan itu. lagian Daffa tidak mempermasalahkannya. kita tetap berteman. ayolaaaah.... kau sahabatku" ucap Lulu lalu memeluk Rani. Lulu tidak mau teman dekatnya akan menjauh darinya. tidak ada yang menghiburnya nanti dan Lulu butuh seorang Rani dan Gibran.
"Baiklah." ucap Rani melepas pelukan itu dan melihat mata Lulu yang berkaca-kaca.
"Kenapa kau menangis... aku tak akan meninggalkanmu Lulu sahabatku nyonya presdir" ucap Rani menghapus air mata Lulu yang hampir tumpah.
"Gini dong, aku suka kau bersikap seperti biasanya" ucap Lulu terkekeh.
__ADS_1
"Hehe, yaudah lo jangan nangis lagi. gue ke meja gue dulu sebelum presdir nongol" ucap Rani dan berlalu pergi.
Lulu sudah merasa lega, menurutnya pagi-pagi begini begitu banyak drama yang terjadi karena ulah Daffa yang seenaknya itu. Lulu tidak mau kehilangan sahabatnya. baginya, hanya sahabat yang bisa membuatnya tegar dan melupakan masalah.
Lulu kini sudah duduk dimeja kerjanya dan menyalakan komputer. Lulu harus fokus pada pekerjaannya dan bersikap profesional. dari kejauhan, Daffa sudah keluar dari lift dan menuju ruangannya. sebelum itu, ia menyamperin dulu sang istri.
"Hai sayang" sapa Daffa. Lulu hanya diam menganggap suara itu tidak ada.
"Hemm... kamu terlihat sibuk yaa.. kalau gitu, aku buatin kopi untuk kamu" ucap Daffa dengan manisnya. mendengar kata kopi, Lulu jadi tersentak dan menatap mata suaminya.
"Tidak perlu! saya yang buatin" ucap Lulu tetap dingin tanpa ekspresi
"Tidak usah, kali ini aku yang buat untuk kamu" ucap Daffa menduduki istrinya lagi. dan berlalu pergi meninggalkan Lulu dan menuju ke pantri.
"Apa dia kesambet?" batin Lulu.
Beberapa menit kemudian, Daffa datang membawa kopi untuknya dan Lulu lalu ia meletakkan kopi itu diatas meja istrinya.
"Selamat menikmati" ucap Daffa.
"Pergilah! ini jam kerja" ketus Lulu tanpa menatap Daffa.
"Baiklah, tapi ingat.. jangan dekati lelaki itu" tegas Daffa tapi bernada lembut dan pergi memasuki ruangannya.
"Aaah nikmatnya" gumam Lulu.
~
~
Siang hari telah tiba, dan waktunya untuk makan siang karna perut Lulu yang sudah sangat lapar daritadi. sebelum Daffa keluar, Lulu bergegas ke tempat Rani untuk mengajaknya ke kantin.
"Ran, kantin yuk.. laper nih" ajak Lulu.
"Yasudah yuk" sahut Rani dan mereka pun berjalan menuju lift.
"Lo tidak apa makan dengan gue?? ntar presdir nyariin lho" ucap Rani.
"Tidak apa. jangan pikirkan" ucap Lulu.
Setelah keluar dari lift, bukannya berjalan menuju kantin malah berjalan ke arah lain sambil menggandeng tangan temannya membuat Rani heran Lulu membawanya ke jalan yang berbeda.
"Kita mau kemana?" tanya Rani.
"Tempat Gibran. sekalian kita ajak" ucap Lulu membuat langkah Rani terhenti.
__ADS_1
"Kenapa?" sambungnya.
"Jangan macam-macamlah lu, lo tau kan gibran tidak boleh dekati lo" ucap Rani mengingatkan.
"Justru itu....." ketus Lulu membuat Rani semakin bingung.
"Haaaa????"
Tibalah mereka didepan ruangan Gibran dan Lulu mengetuk pintu itu
tok tok..
"Masuuuuk......" sahut dari dalam. Lulu pun membuka pintu itu dan melihat Gibran yang sedang berberes.
"Gib, makan yuk" ajak Lulu langsung. Gibran menolehnya dan berpaling menoleh Rani, seakan ia tau bahwa Gibran meminta jawaban, Rani pun mengangguk tanda sedia untuk makan bareng.
"Tapi, presdir??" ucap Gibran ragu.
"Yaelah, kenapa harus takut? kita kan hanya sekedar teman" ucap Lulu.
"Hmm,, yasudah ayo" ucap Gibran dan mereka berjalan meninggalkan ruangan HRD itu.
"Sebenarnya gue sudah suka sama lo lu, tapi sayang, gue harus nyerah" gumam Gibran sendu menatap kepala Lulu dari belakang.
Mereka telah tiba dikantin, dan Lulu memesan makanan favorite mereka. semua mata yang melihat ke arah mereka, merasa iri melihat Gibran yang tampan itu diapit oleh dua wanita itu. Mereka jadi merasa sangat ingin pria tampan itu mendekati mereka, mengajak jalan, dinner dan ketempat seru. tapi apalah daya, itu hanya khayalan mereka yang tidak mungkin terjadi. mereka hanya bisa menggigit sendok melihat Gibran yang akur dengan dua wanita yang tampak biasa-biasa itu.
"Ingin rasanya gue angkut tu si pak Gibran dan temani gue makan" ucap salah seorang wanita.
"Iya ni, gue iri bangeet lihat tu dua wanita padahal dandanan mereka biasa saja yaa" sahut teman yang satunya.
"Iya nih geram gue" ucapnya.
Pesanan Lulu, Rani dan Gibran pun telah tiba dan Lulu tampak sangat sumringah sekali menyambutnya. bagaimana tidak, ia sudah sangat keroncongan. melihat antusiasnya wanita itu, Gibran tidak berkedip sedikit pun memandangi Lulu yang ceria. hingga ia tidak sadar dari jauh ada yang memerhatikan gelagat Gibran.
"Berani sekali dia!!!"
°
°
°
°
°
__ADS_1