
Suara deru mobil memecahkan keheningan jalanan Ibukota yang tidak terlalu padat pada menjelang siang itu. di dalam mobil yang dinaiki Lulu, Lulu asyik memandang jendela sembari tersenyum. entah apa yang ia lihat, yang jelas Lulu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan air pantai. kedua Bibi hanya diam tanpa kata, tidak berani mengobrol dan hanya menyimpan kebingungan diantara mereka. hingga satu jam kemudian, mobil telah tiba di pantai yang kini tengah ramai pengunjung.
"Kita ke pantai?" bisik bi Ningsih.
"Sepertinya iya" jawab Bi Tuti dengan berbisik pula.
"Aku takut air mbak, nanti tenggelam gimana" gerutu Ningsih dengan wajahnya yang mulai gusar.
Mobil yang dikendarai Daffa telah terparkir. mereka pun turun dengan tangan kosong yang tidak membawa apapun kecuali kunci mobil dan dompet yang ada disaku Daffa. Bibi hanya terdiam, merasa was-was bila berada disana. Lulu menoleh ke belakang dan melihat Bi Ningsih yang terpaku.
"Bi, ayo.. kita main air dulu" ajak Lulu.
"Bibi takut Nyonya" adunya. seketika membuat Lulu heran lalu mendekatinya.
"Takut kenapa bi? gak ada apa-apa kok" ucap Lulu.
"Takut air. nanti tenggelam gimana, ombaknya besar lagi" gerutunya. Lulu pun terkekeh mendengar penuturan itu membuatnya sangat gemas dan ingin tertawa tapi takut dosa.
"Ah Bibi, kita mainnya di tepi air aja. jangan ketengah-tengah atuh. gak akan tenggelam yakin deh sama Lulu" ucap Lulu menenangi Bi Ningsih.
"Baiklah Nyonya" pasrahnya hingga mereka pun melangkahkan kaki menuju pantai itu.
Lulu menyuruh suaminya untuk bermain Skiboard seperti waktu itu. rasanya cukup menyenangkan melihatnya namun Lulu tidak mau bila Daffa bermain terlalu jauh karna ia takut ombak yang sangat tinggi akan menhantamnya dan menenggelamkan suaminya hingga kedasar. Daffa pun menurutinya, lagian ia juga ingin bermain Skiboard.
"Lihat yang, aku bermain dengan sangat lihai" ucapnya bangga.
"Ohya? coba deh lebih lihai dari waktu itu" sahut Lulu.
"Oke. lihat ini" ucapnya hingga Daffa pun mulai melakukan aksinya. Bibi yang melihat itu pun kakinya gemetaran. Bi Tuti melihatnya dan mengajaknya untuk duduk.
"Ning, kok gemetar? ayo duduklah" ajak Bi Tuti.
"Takut aku lihatnya mbak" ucapnya.
__ADS_1
"Daffa sangat lihai kok Bi. tenang saja. itu tidak terlalu membahayakan" ucap Lulu sembari memijat kaki bi Ningsih.
"Eh Nyonya, apa yang Nyonya lakukan?" ucap Bibi kaget lalu menarik kakinya kembali.
"Biar kaki Bibi kembali rileks" ucap Lulu.
"Sudah gak lagi kok Nyonya. ayo kita main air" ajak Bi Ningsih yang mencoba untuk mencairkan suasana walau ia takut akan bayangannya namun perkataan Lulu membuatnya penasaran dan ingin mencoba.
"Nah gitu dong bi. kita disini itu untuk merilekskan pikiran. jangan pikirkan pekerjaan lagi, cobalah memanjakan diri dengan berada disini" ucap Lulu menggandeng tangan Bi Ningsih untuk menggiringnya berdiri di tepi air. hingga Bibi pun merasakan nyaman ada ditepi air yang melantakkan kakinya itu. hingga senyum indah pun terukir, ia tidak menyangka akan seenak ini berada disitu.
"Bagaimana? serukan?" tanya Lulu.
"Seru banget Nyonya" ucapnya girang lalu sedikit demi sedikit ia berjalan menelusuri air itu hingga Bibi pun meloncat kegirangan.
"Mbak, Nyonya, ayo kita main air" ucapnya mencimpratkan air ke arah Lulu dan Bi Tuti. Bi Tuti menggelengkan kepala melihat tingkah temannya hingga Lulu pun tersenyum akan antusias yang terpancar diwajah sang Bibi yang baru pertama kali ke pantai. hingga mereka bertiga pun bermain air saling mencimpratkan air ke wajah sasarannya. tubuh yang sudah basah dan mulai merasa lelah. ketiga wanita itu pun menduduki tubuh di bibir pantai itu dan membiarkan ombak yang menabrak tubuh mereka.
"Nyonya apa gak merasakan sakit saat main air tadi?" tanya Bi Tuti.
"Tidak bi, malah Lulu enjoy seperti tidak merasakan beban si ucul" jawab Lulu mengelus perutnya.
"Ih Bibi tau aja deh" ujar Lulu terkekeh.
"Aduuh para emak-emak, enak banget ya ngobrolnya" sahut seseorang dari belakang mereka. serempak ketiganya menoleh ternyata Daffa yang baru saja selesai bermain Skiboard.
"Ah yang, mengagetkan saja. kami lagi arisan. cowok minggir ih" ucap Lulu terkekeh.
"Hmmm, gitu yaa usir suami sendiri" ucap Daffa. Bi Tuti dan Bi Ningsih sedang bermain mata, mereka kompak untuk pergi meninggalkan pasangan suami istri itu karna takut akan mengganggu mereka.
"Nyonya, Tuan, kami permisi dulu deh. sepertinya disana lebih seru" pamit mereka.
"Baiklah bi. jangan terlalu jauh ya.. hati-hati" ucap Lulu.
"Siap Nyonya" ucap mereka serempak lalu pergi meninggalkan majikannya. Daffa pun menduduki tubuhnya disamping sang istri yang tengah menikmati semilir angin yang kencang menerpa wajahnya yang bulat nan chubby, membuat siapa saja pasti tergoda untuk mencubit dan menguyel-uyel bakpaw itu. seperti Daffa yang memperhatikan sang istri dari bawah hingga wajahnya, bulat sekali seperti bakpaw namun untung saja belum seperti drum.
__ADS_1
"Istriku yang gendut, kenapa dagingmu makin tebal" ucap Daffa memegang daging lengan sang istri.
"Itu tuntutan anakku. pasti si ucul berat banget nih" ucap Lulu.
"Pasti. makan kamu tak terkontrol tapi untung saja kamu menyempatkan olahraga. aku tidak mau badanmu seperti ini akan membawa penyakit" ucap Daffa menyandarkan kepala dibahu sang istri.
"Tenang saja. ucul lahir aku akan diet kok dan mengubah tubuhku seperti dulu" ujar Lulu sembari membayangi perkataan Rani pada waktu itu di kantin.
"Kamu gak risih melihat badanku yang gembul?" tanya Lulu menatap suaminya.
"Tentu saja tidak. malah aku suka jadi enak dipeluk kayak meluk bantal" ucap Daffa memeluk lengan sang istri.
"Ih itu meledek!" gerutu Lulu.
"Gak deh yang. aku suka. walaupun banyak wanita yang lebih langsing, lebih bohay seperti gitar spanyol tapi aku tetap satu padamu" ucap Daffa mengecup pipi sang istri.
"Gombal kali. mana mungkin tidak tertarik pada mereka" gerutu Lulu.
"Gak percaya? coba ambil pisau dan belah dadaku pasti akan terpancar cahaya yang menyilaukan mata berbentuk hati dan tertulis nama Luthfiana Vannesa" ucap Daffa memasang wajah serius menatap lekat wajah istrinya.
"Dasar!! gak mempan gombalanmu. hahahahaha" ledek Lulu tertawa mendengar ocehan suaminya.
"Aku bersungguh-sungguh cintaku. ucul aja pasti percaya kan nak? nah dia tersenyum tuh" ucap Daffa mengada-ngada.
"Ngaco kamu yang! sudahlah kamu ini bisa aja buatmu tertawa" ucap Lulu terkekeh. Daffa pun tersenyum melihat tawa sang istri hingga ia pun memeluk Lulu dan meninggalkan bekas kecupan dikening sang istri.
"Sungguh, hanya ada kau dan anak kita didalam hatiku. walaupun badanmu gendut seperti itu karna mengandung anakku dan tuntutannya membuatmu banyak makan hingga membuatmu gendut, aku tetap mencintaimu dan tidak ada hati tersisih sedikitpun untuk yang lain walau mereka lebih menggoda. percayalah, aku tak pernah berfikir sedikitpun tentang wanita lain apalagi melihat tubuh mereka yang sempurna. bagiku, kamu yang paling sempurna untukku, Luthfiana" gumam Daffa.
"Aaaaw!!!
°
°
__ADS_1
°