
Pecahan Vas keramik bunga pun terdengar nyaring dan menggema di ruangan itu. Lulu yang sedang mengobrol dengan Ayu yang dirias anaknya pun seketika terkejut akan suara itu. Mereka pun menoleh ke arah Lio, tampak Lio menggigit jari telunjuknya sembari menatap ammi Lulu yang terlihat terkejut.
"Maaf ammi..." ucap bocah tampan itu dengan getir.
"Kemarilah" perintah Lulu menyuruh anaknya untuk mendekat. Filio pun mengangguk, berlari menghampiri Lulu dan memeluknya. sedangkan Bi Ningsih yang mendengar suara itu segera ke ruang keluarga dan memungut serpihan-serpihan keramik itu.
"Ayolah kak Lio, kena marah ammi" ujar Fio menakuti sang kakak. Lio pun menatap Lulu, Lulu menggeleng sembari memeluk anak keduanya itu.
"Tidak, ammi tidak marah. tapi lain kali jangan ulangi seperti itu ya!" peringat Lulu dengan nada suara yang lembut. Lio pun mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya. Lulu yang gemas pun mencium kedua pipi sang anak dengan begitu gemas.
Fiona melanjutkan aksinya merias suster Ayu. ya, mereka memanggil baby sitter itu dengan sebutan suster. Karna dialah yang merawat, mengawasi tingkah-tingkah ketiga bocah yang berasal dari kecebong Daffa. Suster Ayu hanya pasrah, dan menerima perlakuan itu agar nona-nya enteng.
"Siap! yeeaaay!" sorak Fiona merasa gembira telah membuat Suster Ayu seperti badut. Lulu yang melihatnya pun terkekeh, merasa sangat lucu dengan hasil karya si bungsu.
"Nyonya kenapa tertawa? pasti jelek banget kan?" ujar suster Ayu dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Tidak, kamu sangat cantik." puji Lulu yang jelas saja itu sedikit berbohong. Suster pun tidak percaya, ia mengambil cermin rias mainan milik Fiona lalu mengarahkan cermin yang memantul bayangan seseorang itu ke arah wajahnya dan alangkah terkejutnya suster kalau wajahnya sudah penuh dengan adonan tepung juga pewarna berwarna pelangi.
"Fiiiooooo.... wajah susteer..." rengek suster Ayu kaget melihat wajahnya.
Pffffft.....
"Hahahahahaha, wajah suster teramat cantik ya mi" ledek Fio.
"Kayak monster naga seperti itu! hahaha" timpal Filio menunjuk monster yang berkelahi dengan ultraman cosmos di layar televisinya. Suster Ayu merasa terpojok, ia pun memasang wajah cemberut.
"Dasar kalian anak nakal! Yu, cucilah wajahmu" perintah Lulu merasa kasihan. Fio yang mendengar perintah amminya pun langsung menghentikan langkah susternya yang selalu setia dan baik selama empat tahun ini.
"Tidak boleh dicuci!" gertak Fio segera beranjak bangun dari duduknya lalu meraih tangan suster untuk kembali duduk lagi seperti tadi.
"Boleh ya dibersihin?" tanya suster Ayu.
"No! sampai kakak Yura pulang baru boleh dicuci" tegasnya sembari berkacah pinggang dengan kedua tangannya. Lulu pun menggeleng-gelengkan kepala melihat anak gadisnya yang usil itu. Suster Ayu pun hanya pasrah, dan kembali duduk didekat majikannya itu. entah apa yang akan dilakukan Fiona lagi, ia pun hanya pasrah untuk menerimanya.
__ADS_1
Dreeet.... dreeeet...
Ponsel Lulu berdering yang tergeletak dikarpet itu. Lio yang duduk dipangkuan amminya bergegas mengambil ponsel tersebut dan melihat foto appi dan amminya. seketika Lio tau bahwa yang menelpon adalah sang appi.
"Appi......" soraknya segera mengscroll tombol hijau keatas.
"Mana! mana!!" sahut Fio yang tak kalah heboh. begitu pun Lulu langsung mengambil ponsel dari tangan anak lelakinya.
"Ammi, Lio mau lihat appi" rengeknya menggapai tangan Lulu untuk mengarahkan layar ponsel padanya.
"Hallo anak-anak appi..." Daffa menyapa anak kembar mereka yang tampak tersenyum menatap wajah appinya. Fio yang kurang melihat wajah appinya pun menyempil diantara ammi dan Lio membuat Lulu jengah menghadapi keduanya.
"Appi, cepat pulaaang.... biar kita makan siang!" teriak Lio mnunjukkan wajah imutnya.
"Maafkan appi sayang, hari ini ada rapat mendadak di restaurant, sekalian makan disana." ucap Daffa senbari mengatupkan kedua tangannya.
"Yaaah sayang, berarti gak jemput Yura juga dong?" tanya Lulu.
"Maaf yang, kamu yang jemput ya.. janji deh selesai rapat aku pulang. seperti biasa, mira titip sama kamu ya" ucap Daffa.
"Appi ih, menyebalkan! tinggalkan saja kantor itu. appi asyik kerja terus" gerutu Fio. tampak disana Daffa menghela nafas panjang mendengar keluhan sang putri.
"Appi kerja untukmu manis, hari minggu besok kita jalan-jalan kemana saja Fio mau yaa nak" ujar Daffa membujuk anaknya agar tidak merajuk lagi.
"Yeaaaaay!! kita ke dufan ya pi," pinta Lio.
"Siap bos!! sekarang appi lanjut kerja lagi ya, byeeee.. emmuach" pamit Daffa.
"Byeee.... emmuah emmuach emmmuaaach! sayang appi" ujar Lio hingga ia pun mengecup ponsel Lulu sampai sedikit basah meninggalkan bekas liur anaknya. panggilan video call pun telah terhenti, Lulu membersihkan ponselnya dengan tissu dan menyimpannya didalam saku baju. ponsel sangat tidak dianjurkan dimainin oleh anak-anaknya. biarlah memberi beberapa mainan agar mereka menciptakan imajinasi dan kreasi dari pada bermain ponsel yang nantinya akan merusak sel otak ketiga sang anak yang masih kecil. sebagai gantinya, Lulu dan Daffa juga memberi audio speaker alqur'an agar mereka dapat mendengarnya dan menikmati alunan ayat-ayat suci tersebut. sejauh ini pun, Yura yang paling sulung juga tidak pernah memegang ponsel orangtuanya, hanya saja ia tau cara mengangkat telpon seperti yang dilakukan Lio tadi.
Lulu melihat jam didinding, sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Ia pun segera bangkit untuk bersiap-siap menjemput Ayura yang pulang pada pukul dua belas.
"Fio dan Lio dirumah saja yaa sama suster, ammi mau jemput kakak" ucap Lulu. si kembar pun terdiam sebentar, tampak Lio memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Lio mau ikut. pengen beli mainan power rangers" ucapnya tersenyum semringah.
"Fio juga! pengen barbie yang paling cantik sama pangerannya" ujar Fio yang tak mau kalah.
"Baiklah, berarti suster harus ikut dan wajahnya harus di.......??" ucap Lulu mengajak anaknya menyambung kata.
"Cuci!!" teriak Lio dengan suaranya yang cempreng.
"Nooooo!!" teriak Fio yang keras kepala.
"Suster kayak gitu aja. pakai masker dan topi" sambungnya kembali.
"Yaaah non, tega amat sih" gerutu suster Ayu.
"Sabar Yu, tapi masih kelihatan cantik kok" ujar Lulu tersenyum.
"Ah Nyonya, ngejek terus. ayolah kita ganti baju dulu pakai yang cantik" ujar suster Ayu meraih ketiak Fio dan menggendongnya. mereka pun ke kamar atas, bersiap-siap mengganti baju untuk menjemput kakak-kakak mereka yang sedang belajar disekolah.
Fio tampak cantik mengenakan dressnya berwarna hijau tosca, sedangkan Lio hanya baju kaos dan celana pendek dengan bahan levis. kini mereka berempat pun memasuki mobil yang masih berada didalam garasi. Suster Ayu membuka pintu garasi agar mobil segera keluar dari persemayamannya. setelah itu, Lulu pun menekan pedal gas mobil dan melajukan mobilnya dengan pelan hingga gerbang pun dibuka oleh mang Fais dengan segera. Mobil melaju kencang memecah jalanan sepi sekitar kompleks hingga akhirnya mobil menginjakkan aspal jalan raya yang berisik dengan suara kendaraan lainnya. sekolah Yura tidak begitu jauh, hanya sekitar dua kilometer dari rumah mereka.
"Sus, buka jendelanya sedikit, ini sangat keras" perintah Fio yang duduk dibelakang menyuruh suster membuka jendela mobil miliknya. Suster pun menuruti, membuka sedikit celah agar angin masuk dan menghembus poni gadis itu.
"Segarnyaaaa........." gumam Fio. Lio yang duduk disisi sebelah kanan suster pun ingin ikut merasakan semilir angin namun Lulu melarangnya agar suster tidak kewalahan memegang mereka yang sedang berdiri menikmati angin itu. Lio mencebikkan bibirnya, dan berjalan melewati suster dan ikut merasakan angin ditempat Fio.
"Kak Lio is menyempit saja!" gerutu Fio.
"Kakak mau rasain angin juga!" gertak Lio. Lulu yang mendengar pun hanya mengelus pelipis miliknya. sedangkan suster memegang mereka agar tidak terjatuh sembari memberi wejangan.
"Kalian boleh merasakan anginnya, tapi harus___
°
°
__ADS_1
°