
Kisah Rina sudah aku publish yaa, ada cerita lain juga bisa kalian cek dengan menekan profilku. Dua novel terbaru yang tak kalah seru π silakan mampir yaa π
Akhirnya Lulu merasa lega tak terkira. Ia telah berhasil turun dan menginjak pekarangan belakang rumahnya berkat bantuan mang Asep yang membawa tangga dari besi untuk majikannya. kini Lulu sangat kelelahan, tulang belulangnya terasa ingin remuk. Lulu pun memasuki rumah dari belakang. tampak Bi Tuti yang sedang menyetrika.
"Bi," panggil Lulu. Bibi pun menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Nyonya-nya itu.
"Nyonya, darimana saja? kenapa tidak pulang? Tuan sangat sedih" ucap Bi Tuti memberi banyak prtanyaan pada Lulu.
"Lulu nginap dirumah teman. ohya Bi, Lulu nginap di kamar Bibi yaa" ucap Lulu.
"Ta-tapi Nyonya--" ucapnya terpotong.
"Sudah deh, nanti saya naikkan gaji Bibi" ucap Lulu menyogok.
"Bukan begitu Nyonya, saya tidak tega pada Tuan" adunya.
"Hanya semalaman ini saja Bi, besok Lulu akan kembali ke kamar" ucap Lulu.
"Baiklah Nyonya" ucap Bibi pasrah.
"Terima kasih bi. satu lagi, jangan beritahu pada Tuan kalau saya sudah tiba di rumah. beritahu juga dengan yang lainnya" peringat Lulu menatap wajah Bi Tuti.
"Baik Nyonya, sekarang Nyonya istirahat dulu. saya akan membawakan makan siang untuk Nyonya" ucap Bibi tersebut dan diangguki oleh Lulu.
Lulu berbaring di ranjang Bi Tuti. kamar pembantu yang cukup besar, ranjang yang lumayan besar dan kamar yang bersih nan rapi, Lulu sangat menyukainya. Lulu pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah bau, apek, dan keringat yang lengket pada tubuhnya itu. selesai mandi, Lulu mengambil pakaian Bibi, hanya menggunakan daster dan itu membuat Lulu nyaman untuk ia kenakan.
Tok tok tok,
"Masuk Bi" sahut Lulu yang tengah menyisir rambut basahnya.
"Ini Nyonya sarapan siangnya dan juga susu hamil" ucap Bi Tuti.
"Eh, terima kasih ya Bi. ohya maaf bi, Lulu seenaknya ambil baju Bibi" ucap Lulu terkekeh.
"Hehehe tidak masalah Nyonya, asal Nyonya nyaman" ujar Bibi menaruh makan siang Lulu diatas meja. Lulu pun hanya terkekeh melihat penampilannya dan beralih pada makanan siang itu.
"Sangat menggiurkan" gumam Lulu.
"Ayo makan Nyonya, Bibi mau lanjuti setrika lagi" ucap Bibi berlalu pergi dan menutup pintunya meninggalkan Lulu sendiri.
Setelah kepergian Bibi, Lulu langsung menyikat hidangan itu dengan begitu lahap. kebetulan Lulu juga sangat lapar dan membutuhkan asupan untuk sang anak yang didalam kandungannya. setelah selesai menghabiskan makan siangnya, Lulu menduduki tubuhnya di ranjang itu sembari menyalakan televisi. ya, kamar Bibi juga memiliki televisi agar para pekerja juga memiliki hiburan dirumah itu. tengah menonton, Lulu teringat akan suaminya. Ia pun mengambil ponsel yang berada di saku bajunya, menyalakan ponsel dan memeriksa aplikasi WhatsApp-nya.
__ADS_1
Drrrrrt drrrrrrt drrrrt drrrrrt drrrrrt..
Begitu banyaknya pesan yang masuk hingga bergetar dengan sangat kencang. untung saja bukan listrik, kalau lstrik pasti Lulu juga ikut bergetar.
"Banyak amat pesan masuk, ya ampun Daff" gumam Lulu membaca satu per satu pesan dari suaminya.
*Kamu dimana?
Aku minta maaf
Kamu salah paham yang
Plis angkat telpon ku
Pulanglah kita bicarakan baik-baik*
Kurang lebih seperti itulah isi pesan dari sang suami. Lulu terenyuh, ia membaca pesan itu hingga akhir. Lulu merasa kasihan pada suaminya apalagi Daffa mengirim fotonya yang tengah tak berdaya dengan kantung mata yang hitam.
"Apa aku sudah keterlaluan ya?" gumam Lulu menatap foto suaminya.
"Tidak, tidak! cukup hari ini saja. besok aku akan menjumpai suamiku" gumam Lulu kembali.
Huwaaaaaaa.......
"Ngantuknya," gumam Lulu menguap. Lulu pun menekan layar ketik dan mulai mengetikkan sesuatu pada suaminya.
Jangan cemaskan aku. aku baik-baik saja.
Setelahnya Lulu mematikan televisi dan membaringkan tubuhnya yang lemas itu. hingga dalam sekejap Lulu pun tertidur dengan nyenyaknya.
Tidak terasa sudah pukul tiga sore, Daffa terbangun dari tidurnya dan melihat Roni yang tengah bekerja di kursi kebesarannya sambil menatap laptop Daffa yang masih menampilkan CCTV rumahnya. Daffa mendudukkan tubuhnya, meregangkan ototnya yang kaku dan menguap.
"Sudah bangun?" tanya Roni yang fokus pada pekerjaannya.
"Seperti yang kau lihat. bagaimana? apa Lulu sudah pulang?" tanya Daffa.
"Aku tidak melihatnya" ucap Roni.
"Kau saja fokus pada pekerjaanmu bagaimana kau bisa fokus pada pantauan itu" ketus Daffa.
"Aku bisa sambil. tenang saja" ucap Roni menutup laptopnya. Daffa pun tak menghiraukan perkataan Roni lagi, merasa kecewa dengan yang diharapkannya hingga Daffa mencoba membuka ponselnya. alangkah terkejutnya Pria 24 tahun itu melihat ada notifikasi masuk didalam ponselnya. Daffa pun membuka pesan dari sang istri.
__ADS_1
"Akhirnya dia menghubungiku" teriak Daffa dengan girang.
"Bagaimana? apa dia sudah pulang?" tanya Roni yang ikut antusias.
Seketika raut wajah Daffa kembali muram melihat Assistennya.
"Tidak, dia hanya bilang jangan cemaskan aku" adu Daffa.
"Sabar bos,, setidaknya dia memberimu kabar" ujar Roni menepuk pundak sahabatnya.
"Andaikan saja aku tidak menolong Prisila" gumam Daffa yang terdengar oleh Roni.
"Lain kali lo jangan terlalu baik sama perempuan. apalagi lo sudah punya bini, biarin saja tu perempuan urusin dirinya sendiri" nasihat Roni.
"Aku hanya membantu, kulitnya mulai terasa panas. aku tak menyangka Lulu akan menyusul kita. kau juga sih, ke toilet lama sekali!" ucap Daffa yang ujung-ujungnya menyalahkan Roni.
"Aku sesak berak juga bro, jadi kelamaan" ucap Roni yang memang benar adanya.
"Aku membalas apa pesannya ya?" gumam Daffa kembali.
"Pandai-pandaimu lah" ketus Roni. hingga ditatap tajam oleh Daffa lalu beralih pada ponselnya dan mulai mengetik.
Daffa terus menunggu balasan dari sang istri, hanya centang dua namun tak berwarna pertanda Lulu tidak membacanya. hingga tanpa terasa sudah pukul empat sore, Daffa pun bergegas merapikan mejanya dan keluar dari ruangan.
Daffa tiba di kediamannya dan menyuruh mang Asep untuk berkumpul di ruang kerjanya sekarang juga. Daffa pun berlari menuju kamar dan membuang tas kerjanya ke sembarang arah. lalu bergegas menuju ruang kerjanya. Mang Asep telah memanggil para pekerja dirumah itu, mereka berdiri sejejeran menghadap Tuannya. Daffa memperhatikan mereka satu per satu dan mulai memberikan pertanyaan.
"Apa Lulu sudah pulang?" tanya Daffa.
"Kami tidak melihatnya, Tuan" jawab mang Fais dan bi Ningsih. Hanya bi Tuti dan mang Asep yang diam tanpa menjawab.
"Bi Tuti, mang Asep, apa kalian melihat istriku pulang?" tanya Daffa menatap keduanya. Bi Tuti tampak bingung, apakah ia harus menjawabnya secara jujur atau tidak.
"Heeem, Anu Tuan--"
Β°
Β°
Β°
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa kakak ππ
__ADS_1