Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
218. Tampan tapi cuek


__ADS_3

"Aaaww...!" rintih Lulu sedikit merasakan sakit. sontak Daffa tersadar dan terkejut. Ia menoleh melihat sang istri yang tengah merintih.


"Sayang, kenapa? apa mau melahirkan?" tanya Daffa memegang perut sang istri.


"Bukan, ini pundakku sebelah sini terkena lemparan bola itu" ucap Lulu menunjuk bola yang bergelinding hingga ke pantai.


"Astaga, siapa yang melakukan itu!!" berang Daffa beranjak berdiri dan berkacah pinggang mencari si pemain bola itu. hingga Daffa menangkap seseorang yang tengah berlari ke arahnya lalu melewati Daffa dan mengambil bola Volly-nya.


"Pria itu ternyata!" gumam Daffa dalam hati. lalu mendekati orang itu dan meraih kerah bajunya.


"Hai kau!! kau rupanya yang melemparkan bola pada istriku ya!!" bentak Daffa yang sudah emosi.


"Apa Tuan? siapa yang terkena?" ucapnya dengan tenang. Lulu pun beranjak berdiri dan menghampiri sang suami yang tengah berang itu.


"Sayang, hentikan. tidak apa kok" ucap Lulu melepaskan tangan suami dari pria itu.


"Lulu??" ujar Pria itu menatap wajah Lulu dengan heran. sontak Daffa langsung mengernyitkan dahinya menatap heran pria memanggil nama sang istri. Lulu menyipitkan mata menatap pria itu, mencoba untuk mengingat siapakah dirinya.


"Ka-u,, Lukas ya?" tanya Lulu setelah menguras memorinya.


"Ya. kau begitu melupakanku ya?" ucapnya menatap tubuh Lulu dari bawah hingga ke atas.


"Kau? untuk apa juga ku ingat" ujar Lulu. Daffa menatap keduanya secara bergantian, mencoba untuk menyimak obrolan mereka.


"Kenapa kau gendut sekali? apa suamimu memaksa untuk makan terus? malang sekali" ucapnya menatap sinis pada Daffa.


"Jangan berani kau menghina istriku yaa!! dasar bocah gak tau sopan!" berang Daffa memukul wajah pria yang seumuran dengan sang istri.


Bruk!


"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Lulu yang mulai gusar.


"Dia menghinamu! apa kau harus diam saja?!" ucap Daffa sedikit membentak. Lulu pun memilih diam, tak berani menatap sang suami. Pria itu pun kembali berdiri, mencoba untuk memukul kembali lawannya.


"Kurang ajar kau!" geramnya mengangkat tangan yang telah bersiap menghajar Daffa namun Daffa segera menahan tangan pemuda itu.


"Apa! kau mau menghajarku haa!!" bentak Daffa.


"Lukas! pergilah!" perintah Lulu hingga pria itu pun pergi sembari menatap Daffa dengan sinisnya.


"Kenapa kau mengusirnya yang? aku geram pada pria itu. siapa dia hm?" tanya Daffa menatap Lulu dengan lekat.

__ADS_1


"Duduklah dulu. aku lelah berdiri" ajak Lulu menduduki tubuhnya kembali dan diikuti oleh Daffa.


"Dia itu temanku waktu masih SMP. dulu dia pernah menyukaiku dan menyatakan cinta. namun aku menolaknya hingga dia memusuhiku. pernah suatu ketika dia memfitnahku mencuri uang teman yang kehilangan, setelah diperiksa ternyata uang itu ada ditasku. aku yakin pasti dia yang memasukinya lalu memfitnahku" jelas Lulu mengingat masa lalunya dimasa Sekolah Menengah Pertama tersebut.


"Kurang aja sekali! dia emang perlu dihajar!" ucap Daffa menatap kebelakang mencari letak dimana sekelompok orang sedang bermain Volley.


"Disana rupanya" gumam Daffa dalam hati dengan tatapan devil.


"Sayang sudahlah. itu hanya masa lalu" ucap Daffa.


"Ya" sahut Daffa singkat.


"Kau haus? aku akan membeli air kelapa" ucap Daffa.


"Pergilah, aku akan ke tempat Bibi" ucap Lulu beranjak berdiri. Daffa pun langsung berjalan dengan gagahnya,.berniat untuk menghampiri pria tadi. sedangkan Lulu berjalan sembari celingak celinguk mencari keberadaan Bibi. tidak terlalu jauh, Lulu pun berhasil mendapati Bibi yang tengah bermain pasir.


"Wah bibi, seru sekali" ucap Lulu ikut nimbrung.


"Eh Nyonya, ayo kita main pasir. kami sedang buat istana" ucap Bibi.


"Tapi kok sepertinya ini rumah Lulu ya bi" ucap Lulu mengamati istana dari pasir itu.


"Ah Nyonya tau saja. kami buat ini karna kami merasa betah tinggal dan bekerja dirumah Nyonya. bagi kami rumah itu sudah seperti istana di khayangan" ujar Bi Ningsih.


Ditempat Daffa, ia telah mendapati pria yang bernama lukas itu, tampak ia merasa menang karna berhasil memenangi permainan olahraga Volly tersebut. Daffa semakin mempercepat langkahnya dan,


Bruk!


Daffa mendorong orang itu hingga ia tersungkur ke tanah.


"Shit!! apa-apaan kau!" teriaknya.


"Kau yang pernah memfitnah isteriku kan?!" tanyanya memegang kerah baju pria itu. Ia pun tersenyum seringai, menaikkan sebelah alis matanya.


Bruk!!


Sekali lagi Daffa meninju wajah itu. tampak aura panas merasuki suasana hatinya, amarah yang menggebu hingga membuatnya murka dan menghajar pria itu. teman pria itu pun membantu lukas untuk berdiri, sedangkan Daffa mengibaskan tangannya yang merasa kotor telah menyentuh bajingan itu.


"Hai! siapa kau datang-datang meninju teman kami!" ujar temannya.


"Karna itu yang harus ia dapatkan!" teriak Daffa. Daffa pun bergegas pergi meninggalkan mereka semuanya.

__ADS_1


"Sialan. lepaskan aku!" pinta pria itu lalu berlari bersiap untuk menendang Daffa dari belakang. namun na'as, Daffa segera menghindar ke samping dan Pria itu malah menendang pengunjung lain.


"Aaaauh" rintih pengunjung itu memegang pinggangnya yang kesakitan. suami seorang wanita itu pun berang, dan mendapati Lukas yang tengah menendang istrinya. ia pun habis dimarahi hingga dihajar. sedangkan Daffa tersenyum seringai melihat pria itu mendapat hukuman dari orang lain. Daffa tak menghiraukannya dan kembali berjalan untuk ke warung membeli kelapa muda.


"Kelapanya empat ya" pinta Daffa lalu menduduki tubuhnya dikursi. Daffa memandang jauh menatap pemuda itu yang tengah dimarahi, ia sangat puas akan apa yang telah ia lakukan. Daffa tidak terima kalau sang istri pernah difitnah hanya karna cinta pria itu ditolak walaupun itu hanya masa lalu. Namun yang membuat amarah Daffa semakin membuncah ialah sang istri yang telah dihina karna tubuhnya yang gembul.


"Permisi, boleh duduk disini?" tanya seorang wanita meminta ijin pada Daffa yang tengah melamun. sontak lamunan Daffa pun terbuyarkan menatap kedua wanita cantik yang mengenakan bikini itu.


"Ya" jawab Daffa singkat nan dingin.


"Ya apa? boleh atau tidak?" tanyanya kembali membuat Daffa jengah.


"Boleh" ucap Daffa memandang sekilas lalu menatap kearah lain. kedua wanita itu pun duduk sembari menunggu pesanannya selesai.


"Tampan tapi cuek" bisik teman sebelahnya.


"Tantangan" ucapnya berbisik. sayup-sayup Daffa dapat mendengarnya.


"Hai, boleh berkenalan?" tanyanya.


"Saya harus pergi dulu" ucap Daffa beranjak berdiri karna pesanannya telah selesai. Daffa pun mengambil dompetnya dari saku celanan dan mengeluarkan uang berwarna biru.


"Dia sombong sekali." bisik teman sebelahnya menatap Daffa dengan sinis.


"Lihatlah, dia mengeluarkan uang lima puluh tanpa kembalian" ucap temannya tersenyum. Daffa pun pergi meninggalkan warung itu ditemani sang Ibu parubaya yang tengah membawa dua kelapa muda milik Daffa. hingga tibalah dimana Lulu dan Bibi berada.


"Sayang, Bibi, ayo kita minum dulu" ajak Daffa menatuh kelapa itu diatas pasir dan disusuli oleh Ibu penjual tersebut.


"Terima kasih bu" ucap Daffa tersenyum. Ibu itu pun pergi meninggalkan mereka dan kembali lagi pada warungnya.


"Kenapa lama sekali yang?" tanya Lulu.


"Karna warungnya ramai sayang" jawab Daffa yang enggan untuk memberitahu kebenarannya.


"Tidak ada wanita yang merayumu kan?" tanya Lulu disela minumnya.


"Ada, ----" ucap Daffa terpotong


"Apa!!!!"


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2