
Keesokan harinya, hari pertama Lulu menjabat sebagai CEO hanya untuk sementara waktu sampai pekerjaan Daffa yang ia berikan telah selesai. Kini Lulu tengah bersiap-siap, tampak ia sedang mengenakan pakaian kerja. sedangkan Daffa tengah berada ditempat proyeknya yaitu disamping rumah tepatnya ditepi kolam senang. Lulu mengintip suaminya dari atas balkon kamar, mencondongkan sedikit badannya ke depan sembari memegang pembatas agar ia tidak terjatuh. tampak terlihat bahwa Daffa tengah mengaduk semen sembari menunggu pak Mandor hingga yang ditunggu pun tiba.
"Selamat pagi Tuan, maaf telat" ucapnya.
"Pagi juga pak, tidak apa. ayo kita mulai lagi" ajak Daffa dan diangguki olehnya. sekilas Daffa menoleh menatap balkon kamarnya, tampak Lulu yang tengah memerhatikannya. Lulu pun mengacungkan jempol tersenyum pada suaminya dari jarak kejauhan.
"Ingaaaat!!! tidak boleh dibantu!" teriak Lulu dari atas sana.
"Apaaaa????????" teriak Daffa sembari memicingkan matanya akibat silaunya sinar mentari pagi itu.
"Ti-dak bo-leh di-ban-tu!" teriak Lulu yang kali ini dengan suara yang sangat jelas dan pelan.
"Apa ni????" sahut Daffa lagi yang masih tidak mendengarnya. Lulu berdecak kesal dan meninggalkan balkon sambil berkomat kamit.
"Sial! itu saja gak dengar" gerutu Lulu. lalu mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Sedangkan Daffa yang berada dibawah, tengah terkekeh merasa senang membuat istrinya kesal. sebenarnya Daffa mendengar, namun ia sengaja untuk berpura-pura tidak dengar. Daffa pun kembali pada pekerjaannya, kali ini ia fokus untuk membangun gazebo sesuai design yang Lulu lihat di Google. Gazebo yang cukup bagus dan menarik baginya.
Setelah berdandan, Lulu pun segera pergi ke kantor meninggalkan kediamannya. Lulu membawa mobil sendiri kali ini. untung saja sebelum bersiap-siap ia sudah sarapan dan kini semangat empat limanya untuk bekerja sangat membara. Ia pun menekan pedal gas mobil dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang dan penuh hati-hati.
Jalanan yang padat, hari yang begitu panas dan terik dipagi ini. Lulu menyalakan AC mobil sembari menikmati kemacetan. padahal hari sudah hampir siang namun kemacetan masih ada ditengah-tengah jalanan Ibukota itu. beberapa menit kemudian, Lulu kembali menjalani kendaraanya lagi.
"Ada yang kecelakaan? pantasan macet. innalilah" gumam Lulu melihat ada mobil ambulance yang sedang membawa korban kedalam mobil.
Hingga tibalah di gedung yang menjulang tinggi itu, tampak sepi dan tentu saja mereka tengah bekerja. Lulu memarkirkan mobilnya di basement, kemudian ia berjalan dengan anggunnya memasuki lobi. pegawai yang melihatnya menunduk hormat sembari mengucapkan selamat pagi. Lulu pun ikut membalasnya sembari tersenyum melewati mereka yang menyapanya. Kini Lulu telah berada diruang presdir, menduduki tubuhnya lalu membuka laptop milik sang suami. Lulu kembali bekerja, sesuai dengan kemampuannya.
Tok tok tok
"Masuk" sahut Lulu dari dalam. seseorang masuk keruangan itu, ternyata Rani yang tengah membawa susu coklat untuknya.
"Wah Ran, baik amat sih buatin gue susu" ucap Lulu tersenyum.
"Supaya lo lebih semangat menjabat sebagai presdir. ini minumlah, ada donat dan gorengan juga" ujar Rani menaruh nampan diatas meja kerja.
"Makin sedap nih, terima kasih ya Dan" ucap Lulu.
__ADS_1
"Sama-sama pres, gue balik dulu" ucap Rani.
"Jangan panggil Pres, macam orang lain saja" gerutu Lulu. sedangkan Rani hanya cengengesan melihatnya. Rani pun keluar meninggalkan ruangan Presdir tersebut. Lulu menyesap susunya sembari memandang luar jendela, hanya gedung-gedung tetangga yang menyapanya, tidak ada pepohohonan apalagi mantan . hahah
Lulu pun membuka sedikit jendela, menikmati semilir angin yang merasuki kulit wajahnya, sangat sejuk dan menentreramkan jiwa. sambil memakan donat, membuatnya nyaman berada ditepi jendela itu.
Tring tring tring,
Suara telepon berbunyi, membuyarkan lamunan istri presdir itu. Lulu menggeser kursinya yang memiliki roda lalu menggapai telepon itu dan mengangkatnya.
"Hallo" ucap Lulu.
"Ada yang ingin bertemu Pres" sahut seseorang dari dalam telepon yang diketahui adalah Sekretaris pengganti yang menduduki kursi itu kemarin.
"Suruh dia masuk" ucap Lulu dan menutup telepon secara sepihak.
Tok tok,
"Masuk" sahut Lulu yang menduduki tubuhnya dengan sangat elegant. seseorang memasuki ruangan dengan gaya anggunnya, tampak wanita itu menutup kembali pintu dengan senyum yang mengembang. Lulu memerhatikannyaa lekat, ternyata wanita itu adalah Prisila.
"Hallo Tuan" sapanya yang belum tau kalau itu adalah Istri presdir. Lulu tersenyum seringai dari balik koran lalu melipat kembali koran itu untuk memperlihatkan wajahnya. seketika wanita itu kaget dan shock melihat wanita yang pernah ia temui di Foodcourt tengah menduduki kursi itu.
"Hallo juga Nona Prisila, duduklah" ucap Lulu tersenyum dengan ramahnya.
"Sial!! kenapa jadi wanita ini yang disini " gumamnya dalam hati.
"Hai, kenapa menung? ayo duduklah. kau mau kopi atau susu, akan saya pesankan" ucap Lulu.
"Tidak perlu nona, saya hanya sebentar saja" ucapnya menduduki diri.
"Bagus. ada perlu apa?" tanya Lulu sedikit menyesap susu cokelatnya.
"Sok cantik!" gumamnya menatap Lulu.
__ADS_1
"Saya mau minta tanda tangan atas kerja sama yang sudah kami sepakati tempo lalu. tapi, dimana Presdir, Nona??" tanyanya mengedarkan pandangan ke arah lain.
"Beliau sedang sakit, mari berikan padaku surat perjanjiannya" pinta Lulu.
"Tapi harus beliau, bisakah anda memberikan alamat rumahnya?" pinta Prisila.
"Kurang ajar sekali dia meminta alamat suamiku. apa dia gak sadar aku ini istrinya! dasar pelakor tidak tau malu" gumam Lulu dalam hati menatapnya dengan tajam.
"Kamu tau, saya adalah istrinya. perusahaan ini juga menjadi milikku. jadi atas izinnya, saya berhak menanda tangani surat itu" tegas Lulu yang sudah mulai jengah.
"Wanita ini membuatku jengkel! awas saja suamimu akan ku pikat saat nanti" gumam Prisilla sembari mengambil berkas dari dalam map yang ia bawa.
"Ini Nona" ucapnya memberi surat itu.
"Bisakah memberi berkas tentang kelebihan dan kekurangan perusahaan anda? ah maksud saya, saya juga harus tau kelebihan perusahaan anda" pinta Lulu kembali.
"Baiklah" turut Prisila yang didalam hati mendongkol.
"Bertele-tele. jengah melihat wajahnya" gumam Prisila. sedangkan Lulu tersenyum puas melihat wajah cemberut itu. Prisila pun memberikan berkas yang dipinta Lulu, Lulu meraihnya dan mulai membaca berkas itu dengan penuh teliti sembari tersenyum mengangguk-ngangguk.
"Macam mengerti saja" gumam Prisila menatap sinis.
"Bagus juga kehebatan perusahaan ini, pantasan saja Daffa mau bekerja sama dengannya" gumam Lulu dalam hati lalu menatap Prisila yang tengah menatapnya. Lulu pun memberikan berkas itu kembali dan mulai menandatangani surat itu.
"Oke baiklah, sudah saya tanda tangani. terima kasih atas kunjungan dan kerja samanya. senang bertemu dengan anda" ucap Lulu memberikan surat itu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" ucap Prisila dan diangguki oleh Lulu sembari tersenyum menatap kepergiannya. Prisila membuka pintu dengan kuat, memperlihatkan kekesalannya pada Istri presdir itu.
"Jangan senang dulu atas kerja sama ini Nona" gumam Lulu tersenyum seringai. lalu Lulu pun kembali membuka laptop miliknya semasa kuliah, memperlihatkan sang suami dari layar itu.
"Whaaaaat!!!!!!!----
Β°
__ADS_1
Β°
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa ππ