Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
175. Mengobrol dengan wanita dirindukan


__ADS_3

Lulu dan Tari sangat gembira sekali bisa melihat wajah Rina yang tersenyum walaupun sebenarnya ia tengah menutupi luka. Rina tampak semakin cantik walau mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja namun kecantikannya masih alami, masih sama seperti yang dulu walau kulitnya sedikit menggelap. begitupun Rina, bahagia tak terkira bisa memandang wajah kedua sahabat yang slama ini ia rindukan. Rina bersyukur masih menyimpan nomor keduanya dalam buku diary yang ia tulis. Rina slalu menumpahkan kisah hidupnya ke dalam buku tersebut. Rina yang malang, berharap akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi suatu saat nanti walaupun tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan Agus namun ia berharap Agus akan berubah demi anak mereka.


"Rina, apa kabar?" tanya Lulu.


"Alhamdulillah baik banget Lu" jawabnya yang sesungguhnya ia tidak merasakan itu. Lulu menyipitkan matanya, sekilas menoleh pada Tari.


"Gue juga berharap lo baik-baik saja Rin" ujar Lulu.


"Walau gue tau lo sebenarnya dalam kesusahan tapi lo menutupinya" gumam Lulu dalam hati.


Rina menunjukkan senyum manisnya.


"Bagaimana kalian berdua? sudah nikahkan? pasti sudah mengandung?" tanya Rina penasaran.


"Sudah. lihat ini perut kami membuncitkan? hahaha" ucap Lulu mengarahkan kamera pada perut mereka yang sedikit menonjol.


"Wah, itu usianya pasti sama ya?" seru Rina dengan girang.


"Iya Rin, gue sudah delapan minggu, Lulunya enam minggu" seru Tari dengan senyumnya.


"Kalau lo Rin, pasti sudah hamil dong" timpal Lulu.


"Alhamdulillah, ini lihatlah, sudah sembilan bulan" ujar Rina menunjukkan perutnya.


"Waduh, bentar lagi dong. tapi kenapa masih kerja? gak ambil cuti?" tanya Tari gelisah.


"Tidaklah, aku juga gak apa-apa kok. lagian bosan banget dirumah pengen kerja tau" ujar Rina. Lulu dan Tari pun manggut-manggut mengerti.


"Yang penting lo jaga kandungan jangan sampai kelelahan ya" ujar Lulu menasihati sahabatnya.


"Tentu saja" ucapnya tersenyum.


"Ohya Rin, alamat rumah lo dimana? kok gak pernah hubungi kita?" tanya Lulu.


"Tempat tinggalku gak ada jaringannya, jadi susah buat hubungi kalian. aw... aduuh...." jelas Rina lalu mulai merasakan perutnya mulas.


"Kenapa Rin? perut lo sakit?" tanya Tari ketakutan. begitu pun dengan Lulu yang langsung khawatir.


"Aaah... tidak.. Rumahku di.. aaaw..." ucap Rina terpotong hingga Rina duduk menggeliat, sedang ponselnya ditaruh diatas meja dengan kamera mengarahkan langit-langit ruangan.

__ADS_1


"Rina!! lo kenapa?!" sorak Lulu dan Tari.


"Mbak, ayo kita kerumah sakit. mbak mau melahirkan" sayup-sayup mendengar tuturan pemilik ponsel yaitu rekan kerjanya Rina.


"Astaga, Rina mau melahirkan" ucap Lulu pada Tari dengan mulut yang menganga.


"Hallo mbak, sudah dulu ya.. mbak Rina mau melahirkan" ujar pemilik ponsel itu lalu mematikan panggilannya.


"Ya ampun Rina, semoga dia baik-baik saja" ujar Tari.


Lulu dan Tari pun terduduk kemudian, memikirkan Rina yang tengah ingin melahirkan. Lulu berharap Rina akan baik-baik saja dan selamat hingga persalinan bersama sang bayi. seseorang memhampiri mereka hingga membuat keduanya sadar dari lamunan.


"Dooooor!!!! ayo mikirin apa?" ujar Daffa mengejutkan Lulu.


"Apaan sih! kenapa kesini? bukannya mual dekat aku?" ketus Lulu.


"Enggak lagi yang, si ucil sudah baikkan sama appinya" ujar Daffa mengada-ngada lalu memeluk istrinya dari belakang yang hanya berbatasan dengan batasan kursi. begitupun dengan Ferdi, berjongkok didepan Tari dan mengecup perut sang istri.


"Aah geli tau" ujar Tari merasa tidak nyaman sang suami mengecup perutnya.


"Aku kangen sama anak kita, kapan keluarnya yaa" ujar Ferdi yang tampak tidak sabar.


"Masih lama, ayo kita kembali ke kantor" ajak Tari.


"Sayang, biarkan saja mereka pergi dan kita akan bersenang-senang" bisik Daffa ditelinga Lulu.


Bruuuuak!!


Lulu meninju pipi sang suami hingga Daffa tersungkur ke lantai, memegang pipinya yang ditonjok.


"Aduuuh yang,, mukul kira-kira dong" gerutu Daffa mengelus pipinya. Lulu memandang Tari dan Ferdi yang tengah menertawakan mereka.


"Hahaha.. yasudah Lu, gue balik dulu" pamit Tari lalu berdiri bersama Ferdi.


"Yaaaaah Taar, gak seru lo. yaudahlah, tunggu sebentar" ucap Lulu memasuki kamarnya. Lulu mengambil dua buah paparbag yang berada didalam lemari, lalu keluar menuju sahabatnya yang masih berada di balkon.


"Ini untuk kalian" ujar Lulu memberikan dua paperbag itu pada Tari dan Ferdi.


"Wah, oleh-oleh dari luar negeri ya?" ujar Tari menyambut hangat paperbag itu.

__ADS_1


"Tentu, semoga kalian suka. untuk dedek, besok aunty susul ya beri hadiah untukmu" ujar Lulu pada perut sahabatnya sembari mengelus lembut perut itu.


"Terima kasih aunty.. mama pasti suka" ucap Tari dengan menirukan suara anak kecil.


"Hahahaha, pergilah. hati-hati" usir Lulu.


"Baiklah, ntar gue main lagi" ujar Tari berjalan menuju pintu keluar dari kamar Lulu bersama Ferdi dan diikuti tuan rumah itu.


Sesampainya di mobil, Ferdi menekan pedal gas untuk menjalankan kendaraannya. sedang Tari, melambaikan tangan pada Lulu.


"Byeee beeeb, emmuaaach" teriak Tari melambaikan tangannya.


"Byeee.. hati-hati" ujar Lulu melambai. hingga mobil itu pun tidak berada dipandangannya lagi, Lulu pun mengajak Daffa untuk memasuki rumah mereka. dengan tersenyum seringainya, Daffa segera menggendong Lulu hingga Lulu terkejut akan serangan mendadak tersebut.


"Dapat kau!!" ujar Daffa menganggut sang istri.


"Aaah sayang! lepas!" teriak Lulu.


"Tidak akan." ujar Daffa segera menaiki tangga dan menuju kamarnya. Daffa segera menutup pintu dengan kakinya dan berjalan menuju ranjang, menaruh Lulu dengan pelan diatas kasur.


"Mau apa lagi, hm?" tanya Lulu meraih bantal dan menutupi tubuhnya.


"Aku ingin bermain sayang. ayolaah.. ulah si ucul kita harus berjauhan. kini kesempatan kita untuk melepas rindu" ujar Daffa memelas.


"Rindu? hedeeeeuh.. aku aja muak melihat tampangmu terus" ketus Lulu memutar bola matanya merasa jengah.


"Sebentar saja sayang, tidak akan lama. seperti biasa, aku akan mengeluarkannya diluar" pinta Daffa namun Lulu pun hanya diam tak menjawab. Daffa segera menenggelamkan wajahnya ditengkuk leher sang istri, bergeliat hingga menyicipnya dengan lidah. Lulu tampak kegelian, namun ia menikmati sampai memejamkan mata. tidak lupa, Daffa meninggalkan bekas kepemilikan hingga beralih pada bibir mungil nan merah cherry tersebut. **********, meny*sap hingga volumenya semakin kuat.


Eeeemh.....


Yang dibawah langsung memberi respon. Daffa merasakannya dan mulai membuka seluruh balutan benang ditubuh mereka dengan segera. Daffa beralih menatap bawahan Lulu hingga ia menenggelamkan wajahnya disana. Lulu bergeliat hebat, desahan demi desahan keluar dari mulutnya hingga akhirnya Daffa memasuki tongkatnya dan bermain didalam sana hingga beberapa kali mencapai puncak, Daffa segera mengeluarkannya dengan perasaan lega tak terkira.


Lulu yang sangat mudah merasa kelelahan, is pun tertidur dengan sendirinya padahal Daffa belum puas dan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar menatap istri tercinta.


"Yaaaa yang, sudah tertidur duluan. ini belum puas juga. terpaksa deh ke kamar mandi dulu" gumam Daffa dengan wajah yang sedu. segera ia tutupi tubuh Lulu dengan selimut dan bergegas menuju kamar mandi.


°


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2