
Seseorang kembali menelpon, Lulu menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan mertuanya dan Lulu pun mengangkat telepon itu sembari berjalan keluar dari gudang.
"Hallo kak Fer" ternyata itu adalah telepon dari Ferdi.
"Hallo Lu, Sakha dan Shera ada di rumahmu?" tanya Ferdi dengan tenang.
"Jadi Sakha dan Shera tidak sama kak Fer?" bukannya menjawab, Lulu pun malah bertanya.
"Tidak Lu, makanya kak tanya samamu" ujarnya. Sontak Lulu pun langsung berfikir buruk tentang anak mereka.
"Gawat kak, kita harus bertemu sekarang! tunggu aku di sekolah!" ucap Lulu terburu-buru lalu segera mematikan panggilan telepon secara sepihak.
"Hallo Lu, Lu..." namun tak ada jawaban. Lulu kembali masuk kedalam gudang, dengan langkah cepatnya ia menghampiri kawalan penjahat itu. Lulu bertanya dimana tempat perencanaan mereka untuk menyembunyikan anak-anaknya. Mereka pun bungkam, enggan menjawab namun Lulu berteriak keras hingga membuat mereka itu terkejut. Lulu pun memiliki akal, mengimingi mereka akan dibebas dan tidak berurusan dengan polisi. Hingga akhirnya mereka mau menjawab pertanyaan Lulu.
Setelah mengetahui keberadaan anaknya, Lulu berlarian dengan sangat cepat. meraih kunci mobil lalu membuka pintu jok depan dengan segera. Hingga Lulu tidak mempedulikan kedatangan mertua dan orangtuanya.
"Lu, mau kemana?" teriak mama Sarah.
"Pokoknya mama dan papa di rumah saja" teriak Lulu dari ambang pintu mobil.
"Hei kalian! kawal Lulu!" teriak papa Mahesa menyuruh pengawalnya. Mereka pun manggut dan membawa mobil milik Lulu hingga Lulu berpindah tempat ke bangku sebelah. Dengan mendesak, Lulu menyuruh si kribo untuk segera melajukan mobil.
Kini Lulu telah tiba di sekolah sang putri, terlihat Ferdi yang gelisah bersama Daffa yang sedang memarahi pengawalnya.
"Dari mana saja kalian! kawal anak segitu saja gak becus!" erang Daffa menampar anak buahnya.
"Maafkan kami Tuan, tadi saya sesak berak" ucap si gondrong.
__ADS_1
"Lalu kau, apa saja kerja kau haaa botak!!" berangnya memukul kepala si botak.
"Saya.. saya beli jajanan sd, Tuan" jawabnya jujur. Daffa mendesah kesal, meneloyor kepala mereka satu persatu. Lulu berlari ke arah Daffa dan Ferdi dengan wajahnya yang tampak cemas.
"Kalian tidak berguna!! aku tau dimana mereka menyembunyikan anak-anak kita. tapi sepertinya kita harus hubungi Karin untuk menangkap penjahat itu" ujar Lulu yang begitu sigap dalam urusan anaknya.
"Ide bagus. Ayo kita pergi" sahut Daffa. Mereka bertiga pun menaiki mobil milik Daffa, sedangkan dua pengawal yang gak becus itu menaiki mobil Ferdi serta pengawal yang bersama Lulu menaiki mobil Nyonya-nya.
Daffa menyetir dengan sangat cepat, tidak mempedulikan kendaraan lainnya dan lebih memikirkan nyawa anak-anak mereka. Sedangkan Lulu menelpon Karin untuk menggerebek pabrik yang tidak dipakai lagi, sekitar hampir satu jam dari sekolah itu. Karin tak kalah kaget, Anak perempuannya ikut terlibat dalam penculikan itu. dengan segera, Karin menyuruh polisi lainnya untuk ikut bersamanya dan memikirkan cara jitu untuk menangkap penjahat tersebut. Apalagi mendengar nama Sheila, buronan yang beberapa hari ini sedang dicari.
Di bekas pabrik yang sudah usang dan gelap, Sheila dan anak buah lainnya sedang menyekap anak Lulu, Ferdi dan Karin. Apalagi Sheila mengetahui kalau Aamira adalah putri sang polwan membuat amarahnya semakin menggebu-gebu dan berkesempatan untuk membalas dendam lewat sang anak. tampak anak buah Sheila sedang mengikat tangan Ayura, dengan piciknya Ayura langsung menggigit tangan penjahat itu.
"Aaaaw!!" rintihnya kesakitan. Yura pun langsung menendang junior sang penjahat lalu melihat sebilah kayu dan mengambilnya dengan cepat. dengan sigap, ia memukul punggung penjahat lainnya. Namun na'as, Yura yang sendirian tidak bisa melawan mereka berempat.
"Anak kurang ajar! berani sekali kau rupanya!" geram Sheila mencengkeram dagu milik Ayura.
"Lepas!!" teriaknya memberontak.
"Kau anaknya Daffa, bukan? siapa namamu hm anak manis?" ujar Sheila menarik rambut panjang Yura kebelakang. Yura memicing matanya menahan sakit saat rambutnya ditarik oleh wanita itu.
Sheila pun melihat tulisan nama anak manis itu didada kanannya.
"Ayura Izzati Mahesa. Huh, Mahesa.. kau keturunan mahesa rupanya" ucapnya kembali lalu beralih mencengkeram dagu milik Yura.
Emh.. emh.. emh...
"Lepaskan!! ammi, appi, kalian kemana?" gumam Yura dalam hati berharap orangtuanya segera menjemput dirinya.
__ADS_1
"Emh, amh, umh, kenapa? sakit yaa cengkeraman tante? seharusnya kau itu tidak ada di dunia ini!!" berang Sheila mendorong jari telunjuknya ke dahi Ayura. Akhirnya Ayura pun menangis merasakan sakit dari siksaan orang jahat itu.
"Kau tau Ayura, seharusnya ibumu yang jalang itu tidak pernah menikah sama ayahmu! ayahmu itu milikku!!!" teriaknya kencang sembari melotot menatap Ayura yang memejamkan matanya. Ayura enggan melihat wajah bengis itu.
"Ibumu hanya parasit! datang disaat kami bersama dan berpura-pura menjadi sepupu ayahmu! seharusnya dia itu mati! dan ayahmu yang menjadi milikku! karna mereka juga aku mendekam dipenjara bertahun-tahun!!" Sheila mengamuk hebat di ruangan yang gelap itu, menggebrak meja yang ada disamping Ayura dengan perasaannya yang menggebu-gebu mengingat masa lalunya.
"Satu lagi, kakekmu Mahesa yang tidak menyukaiku itu pasti mencuci otak ayahmu agar mau bersama ibumu yang jalang itu! Kalian sungguh jahat!!" berangnya sekali lagi dengan wajah yang penuh amarah. Sheila menuangkan curahan hatinya di ruangan itu. Anak-anak itu tak kuat mendengar amukan dan wajahnya yang seram, mereka menutup mata sembari menangis. Kecuali Sakha, yang hanya diam menatap makhluk mengerikan itu sembari mencoba untuk membuka ikatan tali yang meliliti pergelangan tangannya.
Sheila pun beralih pada Aamira yang ia ketahui kalau anak perempuan itu memiliki kemiripan dengan ibunya, Karin, seorang polisi wanita yang menyuruh teman-teman satu sel untuk menyiksanya.
"Kau, pasti anak Karin dan Roni, bukan?" tanya Sheila menunjukkan wajah yang tersenyum manis pada gadis itu. Mira hanya diam menatap wajah itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Jawab!!" teriak Sheila hingga membuat Mira terperanjak ketakutan. Ia pun mengangguk cepat sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Sheila yang melihatnya tersenyum sinis lalu mencengkeram dagu gadis itu.
"Sudah ku duga, Ibumu yang sok jago itu berani-beraninya menyiksaku di penjara. dan sekarang... giliranmu yang akan aku siksa!" berang Sheila lalu mengambil bambu yang telah ia sediakan untuk memukul anak-anak itu. Sheila mengangkat bambu itu, bersiap-siap untuk memukul Aamira. Aamira terkejut, menutup matanya rapat-rapat tidak ingin melihat bambu itu.
"Stop!!!" teriak Lulu dengan lantang lalu mereka berlari menghampiri para penjahat itu. Sheila tidak bisa melihat siapa yang datang, karna silaunya cahaya dari luar. Namun Yura yang mengenal suara ibunya, sontak tersenyum senang dari balik lakban yang menutupi mulutnya itu.
"Lulu, Daffa?" gumam Sheila saat mereka bertiga telah berada didekatnya.
"Berani sekali kau menyekap anakku disini Sheila!" berang Lulu.
"Kalian! hajar mereka!" perintah Sheila yang tak mempeduikan ocehan Lulu. Lulu, Daffa dan Ferdi pun mengeluarkan jurus jitunya dalam menghadapi mereka. Sedangkan Sheila terperangah melihat anak buahnya yang berjatuhan. Dari jauh, beberapa orang memasuki pabrik itu. Sheila yang merasa itu adalah polisi, ia segera kabur melewati belakang pabrik itu.
"Tangkap mereka! dan kalian, kejar wanita itu!" perintah Karin. Kawalan Karin pun siap melaksanakan perintahnya.
°
__ADS_1
°
°