
Tiba-tiba seseorang datang dari dalam ruang kerja CEO, lalu menghampiri meja kerja sekretaris dan ia pun tercengang,
"Kamu kan pelayan baru, kenapa berada disini! sini bukan tempat kamu" ketus Daffa terkejut melihat pelayan baru itu menduduki kursi sekretaris. Lulu yang melihat ekspresi wajah suaminya pun tersenyum seringai didalam hati.
"Sepertinya bagus kalau aku kerjai lagi dia ini" gumam Lulu dalam hati.
"Hai kenapa kamu diam saja! kembalilah ke kantin" usir Daffa kemudian celingak-celinguk yang sepertinya mencari sekretaris cadangan tadi.
"Saya mau disini saja pak, bosan kerja. mending main komputer" ujar Lulu mengarahkan bola matanya menatap suaminya lalu ia pun terkekeh.
"Astaga ini bocah! ini bukan tempat kerja kamu. yang ada kau malah memberantakan pekerjaan ini" ucap Daffa yang mulai geram melihat wanita itu tidak ada rasa takutnya.
"Hei kau! bawa dia keluar" perintah Daffa saat pegawai Pria berjalan melewati meja sekretaris.
"Anu Tuan, sa-saya tidak berani" ucapnya sedikit menundukkan kepala.
"Apa? kau tidak berani sama pelayan baru ini?" ujar Daffa menarik kerah baju pria itu. Lulu memerhatikan mereka dengan seksama, dia terkekeh pelan merasa sangat lucu melihat suaminya seperti itu. Lulu pun mengedarkan pandangan ke arah lain, tampak banyak pegawai yang memerhatikan mereka hingga ikut terkekeh. Ah rasanya hari ini Lulu banyak mengerjai orang.
"Sudah-sudah pak, dia tidak bersalah jadi lepaskan" ujar Lulu melepaskan tangan Daffa dari kerah baju pria itu sembari membenarkan kaca matanya.
"Siapa kau mengatur saya disini? Gibran! keparat sekali dia menerima wanita jelek dan tidak tau sopan ini" imbuh Daffa.
Lulu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami, ia pun berlalu pergi menuju ruang Presdir dan memasukinya. Daffa semakin tercengang dan mengikuti Lulu yang tengah menyamar itu memasuki ruangannya.
"Aah rasanya rindu sekali sama ruangan ini" gumam Lulu merentangkan kedua tangannya sembari menatap ruangan itu. Daffa datang, lalu menarik lengan wanita tidak jelas itu.
"Kamu saya pecat Nona berkaca mata. silakan keluar" ujar Daffa yang berusaha untuk menahan emosinya.
"Tidak mau" ketus Lulu menatap tajam suaminya. lalu berjalan menuju kursi kebesaran sang Presdir, mengetuk-ngetuk meja dengan punggung jarinya sembari menatap kertas dan laptop.
"Kau sudah keterlaluan! pergilah" teriak Daffa menarik tangan wanita itu. Lulu tersenyum lucu melihat wajah suaminya yang memerah. Lulu tidak bisa menahan lagi hingga ia pun tertawa lepas yang sedari tadi ia tahan.
"Hahahahahahaha, kau sungguh lucu sayang" ucap Lulu sembari tertawa ngakak memperlihatkan barisan gigi-giginya. Daffa mengerutkan dahinya merasa kesal dengan wanita itu.
"Sudah jangan marah lagi, kau sepertinya tidak mengenal diriku ya" ucap Lulu sembari membuka kaca mata dan rambut palsunya. Lulu merasa kasihan pada suaminya itu, sangat emosi saat orang yang tidak sopan bertindak seenaknya. Daffa terkejut, ia ternganga menatap wanita itu adalah Lulu, istrinya. Daffa mengusap air mukanya dengan kasar sembari tangan kanan memegang pinggangnya.
"Kau rupanya sayang" ucap Daffa dengan nada yang melembut lalu memeluk sang istri. Lulu masih terkekeh, lalu melepas pelukan itu.
"Bagaimana? baguskan samaranku?" ucap Lulu menduduki tubuhnya di kursi kebesaran itu.
__ADS_1
"Kau membuatku gila dan emosi. untuk apa kau menyamar seperti itu?" tanya Daffa menjongkokkan dirinya dihadapan Lulu sembari mengecup perut sang istri.
"Untuk memberantas nyamuk-nyamuk yang berkeliaran" jawab Lulu memutar rambut palsunya dengan satu jari.
"Maksudmu?" tanya Daffa yang belum mengerti.
"Kau tidak perlu tau. bagaimana dengan dirimu? apakah kau masih bertemu dengan wanita itu?" tanya Lulu menatap mata suaminya.
"Tidak, aku ingin bertemu denganmu tapi kau pergi entah kemana" ujar Daffa berubah sedu lalu memeluk paha sang istri.
"Aku tidak kemana-mana. aku berada dekat denganmu." ujar Lulu dengan santainya.
"Maksudmu?" tanya Daffa heran.
"Kau tau baju ini milik siapa?" tanya Lulu menunjuk baju yang ia kenakan.
"Tidak. hanya saja seperti baju nenek-nenek" jawab Daffa.
"Ini baju Bi Tuti" ucap Lulu memberitahu. seketika Daffa terkejut dan menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.
"Apa?? baju bi Tuti? bagaimana bisa" ucap Daffa bingung.
"Kamu mengerjaiku yang?" tatap Daffa dengan tajam.
"Tidak. itu hukuman untukmu" jawab Lulu menatap Daffa dengan tajam lalu membuang wajahnya ke samping.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi. kamu itu salah paham" ujar Daffa.
"Iya aku tau. itu hanya taktiknya saja untuk mengambil simpatik kamu. kau saja yang bodoh" ujar Lulu mendorong dahi suaminya dengan jari telunjuk. Daffa pun terdiam seketika, entah apa yang dipikirkannya.
"Tapi tidak menjauhi jugalah, apalagi ternyata kamu tinggal di kamar Bibi. kamu sudah maafkan aku kan?" tanya Daffa.
"Ada syaratnya kalau mau maaf dariku" ujar Lulu.
"Apa yang??" tanya Daffa.
"Selesaikan pekerjaanmu dirumah buat gazebo itu! sudah. sudah sebulan kau tinggalkan" ucap Lulu memperingatinya.
"Aku tidak ahli dalam bidang itu sayang" ucapnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tau! dan kursi ini akan menjadi milikku sampai pekerjaanmu kelar" ujar Lulu layaknya seperti bos yang memerintah anak buahnya.
"Baiklah, demi si ucul. akan ku lakukan" pasrah Daffa lalu beralih pada perut sang istri yang telah ia rindukan.
"Appi kangen sama kamu nak" ujar Daffa menciumi perut Lulu.
"Aah geli, sudahlah aku mau pulang dulu" ujar Lulu mendirikan tubuhnya.
"Aku ikut. kita makan siang dirumah ya" ajak Daffa memegang pundak sang istri.
"Hem. tapi setelah itu balik lagi ke kantor." ucap Lulu.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Daffa.
"Tidak" ketus Lulu.
"Dasar ratu tega" cebik Daffa lalu membukakan pintu untuk istrinya. mereka keluar ruangan menuju lift, tak henti-hentinya ia memeluk sang istri. bagaimana tidak, Daffa sudah kelewat rindu pada Lulu hingga akhirnya Lulu pun muncul dan mau berbaikkan dengannya. Namun sayang, Daffa harus mematuhi syarat dari sang istri. Lulu sengaja melakukan itu, agar ia bisa mengambil alih posisi Presdir agar tidak ada wanita yang kepincut dengan suaminya.
"Nanti kamu kalau bertemu dengan klien pria, jangan coba-coba untuk macam-macam" ujar Daffa.
"Aku tidak sepertimu." ketus Lulu hingga Daffa menelan salivanya dengan kasar.
"Iya deh" ucap Daffa. Lulu pun mengajak suaminya untuk ke kantin sebentar sebab ia ingin membayar pesanan seblak dan cemilan. setelah itu mereka pun kembali ke basement untuk memasuki mobil. Daffa menekan pedal gas, memundurkan mobilnya dengan pelan lalu melajukannya dengan cukup kencang.
"Kamu tau? aku sangat galau tidak ada dirimu. lihatlah mataku, masih bermata panda" ujar Daffa menunjukkan matanya yang sedikit hitam walau samar-samar.
"Lebih baik dari pada mata buaya" ketus Lulu.
"Kalau mata buaya kenapa?" tanya Daffa ingin menjahili istrinya.
"Akan ku cungkil matamu, dan ku beri pada ayam biar mereka memakan matamu" ketus Lulu. membuat Daffa bergidik ngeri membayangi matanya dipatuk oleh ayam.
"Awaaaaas!!!!!-----
Β°
Β°
Β°
__ADS_1
Jangan lupa Like,.Koment dan Hadiah bunganya yaa ππ