Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
116. Menelpon mang Asep


__ADS_3

Tari dan Ferdi pun keluar ruangan tanpa menoleh pada Daffa, Daffa pun mengikuti mereka dan menghentikannya.


"Tunggu!!" henti Daffa. mereka pun berhenti dan menoleh ke belakang menatap Daffa.


"Apa yang dibilang Lulu salah, dia salah paham. sebenarnya Sheila menjebakku seolah olah kami sedang bermain" jelas Daffa.


"Gue percaya sama lo bro, tenang saja gue dukung lo" ucap Ferdi menepuk bahu suami sahabat istrinya. Tari memandang sinis dan menatap heran pada suaminya.


"Syukurlah, terima kasih yaa.. gue harus cari bukti untuk meyakinkan Lulu" ucapnya memandang lurus.


"Kalau gitu kalian pergilah pasti harus cek kandungan kan?" sambung Daffa lagi.


"Ya, ayo sayang" ajak Tari langsung meninggalkan Daffa.


"Sayang, kenapa kau mempercayainya???" tanya Tari kesal.


"Aku bisa merasakan yang, dia itu jujur dari sorot matanya" jawab Ferdi. ya mungkin karna sesama lelaki jadi Ferdi bisa merasakan mana yang benar dan yang tidak walaupun ia bukan peramal yang bisa tau isi hati orang tetapi Ferdi bisa merasakan dan melihat sisi tulus seorang lelaki.


"Tapi aku tidak, semua lelaki itu pengkhianat!" ketus Tari.


"Tidak semua. contohnya saja aku gak pernah berkhianat" ucap Ferdi merangkul bahu istrinya.


"Awas kalau iya, ku potong barangmu" ancam Tari.


"Sadis"


~


~


~


~


Sudah dua hari Lulu berada dirumah sakit ia telah merasa jenuh apalagi tiap detik melihat suaminya itu tidak ada keceriaan didalam wajahnya. untung saja Rani dan Gibran menjenguknya diwaktu senggang. Lulu lihat kini Rani dan Gibran sudah terlihat akrab, mungkin tanda-tanda akan terjadi sebentar lagi.


"Ma, beberapa hari ini Lulu nginap dirumah mama saja yaa" pinta Lulu.


"Kenapa sayang? suamimu bagaimana?" tanya Mama Sarah.


"Lulu malas ma, Lulu gak mau lihat dia dulu" ucap Lulu melihat kamar mandi karna didalam sana Daffa sedang membersihkan badannya.


"Baiklah sayang, tapi jangan lama-lama kasihan suami kamu" ucap Mama melihat anaknya. sedangkan Lulu hanya diam saja tidak menjawab.


"Kasihan apanya... wanita itu kan ada" gumam Lulu dalam hati.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, dokter datang untung memeriksa Lulu lebih detail. dan Lulu menjawab ia sudah sangat baik-baik saja tanpa keluhan. Dokter pun yakin kalau pasiennya itu sudah dibolehkan pulang.


"Kamu jangan banyak mengangkat beban dulu yaa.. harus dipastikan kondisi kamu stabil" ucap Dokter itu.


"Baik dok" jawab Lulu.


"Baiklah, saya permisi dulu yaa" pamit Dokter itu dan berlalu pergi.


Papa Adi pun datang ke ruang kamar anaknya. kebetulan Papa Adi sudah pulang dari kantor karna tugasnya yang menumpuk. sedangkan Daffa hari ini sedang tidak banyak pekerjaan dan selebihnya diurus oleh Assisten Roni.


"Ma, apa Lulu pulang sekarang?" tanya Papa Adi.


"Iya pa, ayooo..." ajak Mama memegang anaknya sedangkan Daffa membawa tas istrinya.


Diperjalanan, Lulu memeluk Mama Sarah dengan manjanya, Mama mengelus ngelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang. Daffa menoleh kebelakang dan tersenyum melihat istrinya yang manja. Papa telah tiba di pekarangan rumah Lulu dan Daffa, Lulu bangun dari pelukan mamanya dan melihat ke sekeliling.


"Kita sudah dirumah Lulu ya pa?" tanya Lulu pada Papanya.


"Iya sayang" jawab Papa.


"Ma, suruh dong dia turun.. Lulu kan tinggal sama Mama" pinta Lulu dengan suara kecilnya.


"Nak Daffa.." panggil Mama.


"Ya ma??" sahut Daffa yang baru membuka pintu.


"Huuh.. baiklah ma" ucap Daffa setelah menarik nafas kasar.


"Kalau gitu Daffa masuk dulu ma, pa" pamit Daffa memasang wajah sendu. Daffa memasuki rumahnya setelah mang Asep membuka gerbang untuk tuannya. Daffa bingung harus bagaimana meyakinkan istrinya. ia berjalan dengan melamun sampai-sampai ia kejedot pintu.


"Aaaaw...sial" gumamnya memegang dahinya yang kejedot.


Setiba di kamar, Daffa berbaring memijit keningnya yang sedikit pusing. Daffa menoleh melihat atap-atap kamar bagian sudutnya tidak mendapatkan apa yang ia cari.


"Andaikan dikamar ada Cctv. Papa bagaimana sih masa rumah sebesar ini tidak ada CCTV" gerutu Daffa. Daffa sudah mengecek seluruh rumahnya dengan perasaan kecewa karna tidak terdapat pengaman di rumahnya.


Tidak terasa Daffa pun tertidur sendiri dikamar utama tanpa sang istri tercinta.


Malam telah tiba, Lulu dan keluarga sedang menikmati makan malam mereka dengan penuh kenikmatan. Lulu yang seperti tidak pernah makan bertahun-tahun sudah tiga kali ia menambahkan nasi dan lauk didalam piringnya.


"Sayang, kamu ini seperti tidak makan berhari-hari saja" ucap Mama Sarah.


"Hehe, Lulu rindu sama masakan Bibi, ma" jawab Lulu yang mulutnya masih dipenuhi oleh makanan.


"Ih kakak, kalau ngomong habisin dulu nasinya dari mulutmu" ucap Vivi yang memerhatikan kakaknya itu.

__ADS_1


"Salahin mama dong yang ajak kakak ngomong" gerutu Lulu pada adiknya.


"Sudah sudah habisin dulu makananmu nak" lerai Papa Adi.


Ditempat Daffa, ia tampak tidak berselera untuk memakan nasinya ia hanya mengaduk-aduk makanan dengan tatapannya yang kosong. Daffa berdiri meninggalkan meja makan dan berlalu ke ruang kerjanya.


"Sangat membosankan, Lulu sedang apa yaa" gumamnya memikirkan Lulu. Daffa pun mengambil ponselnya dan mengajak Roni untuk bermain game online. untung saja kali ini Roni mau diajak untuk bermain karna kasihan pada sahabatnya itu yang sedang didiami oleh istrinya.


Ditempat Lulu, mereka sedang bercengkerama sambil menonton televisi diruang tamu tidak lupa dengan cemilan yang telah dibuat oleh bi sumi untuk menyambut kedatangan Nona mudanya.


"Nak, Apa kamu tidak percaya kalau suamimu dijebak?" tanya Papa Adi.


"Tidak pa, Lulu tau dia masih mencintai mantannya itu" jawab Lulu yang tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca. Lulu kesal sekali Papanya mengungkit hal ini.


"Lulu ke kamar dulu" pamit Lulu dan berlalu pergi.


"Tuh kan papa, kenapa membahas ini lagi sih" gerutu Mama melihat anaknya pergi sedangkan papa merasa serba salah ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Didalam kamar, Lulu berbaring dan memeluk guling berfikir apakah ia harus percaya atau tidak. di satu sisi ia percaya dan disisi lain Lulu tampak tidak percaya. Lulu pun mengambil ponselnya dan menelpon telepon rumah.


dreeet dreeeet..


Tidak ada yang menjawab teleponnya.


"Paling Bibi sudah tidur, bahkan aku lupa" gumamnya. Lulu pun mencari cara, mengscroll layarnya keatas untuk mencari kontak seseorang dan ia pun langsung tersenyum sumringah.


"Akhirnya ada nomor ponsel mamang" ucapnya girang dan menekan kontak itu.


dreeet dreeet..


"Hallo Nyonyaa" sahut mang Asep tak kalah girangnya.


"Hallo mang, Lulu mau bertanya boleh?" tanya Lulu pada mang Asep.


"Tentu Nyonya, nyonya mau nanya apa?" tanya balik mang Asep.


"Begini mang..


°


°


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2