
Setelah makan, Daffa kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya yang sudah lengket dan bau. ia pun berendam didalam bathup untuk merilekskan tubuhnya sambil memikirkan Lulu. disela-sela memikirkan istrinya itu, Sheila hadir dipikirannya.
"Perempuan tidak tau diri! aku sudah menolong hingga mencintainya tulus tapi dibalas dengan air tuba. entah berapa lelaki yang sudah ia tiduri. Oh ya ampun" gumam Daffa bicara sendiri dan itu membuatnya pusing. ingin rasanya Daffa menenggelamkan kepalanya didalam air bathup itu.
Setelah mandi, Daffa memakai baju santainya dan pergi keruang kerjanya. walaupun belum sepenuhnya konsentrasi, tapi ia akan tetap usaha mengembalikan kepintarannya.
Ditempat Sheila, mereka sedang tertidur pulas setelah bermain beberapa ronde. Nathan sangat menyukai permainan Sheila. Sheila sangat lihai sekali dalam urusan ranjang walaupun didalam hatinya terlintas pikiran negatif tentang Sheila.
"Wanita ini sangat hebat pasti sudah sering menjajakan tubuhnya pada semua pria. Ya ampun" gumam Nathan saat sedang menikmati posisinya dibawah tadi sedangkan Sheila bergoyang ria diatasnya.
Sheila pun terbangun dari tidurnya dan melihat kearah sampingnya yaitu Nathan yang sedang tidur pulas. Sheila mengelus pipinya dan beralih kebawah hingga dadanya juga ia elus.
"Tampan sekali" gumam Sheila lalu ia turun dari ranjang dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lengket dengan keringat mereka yang tercampur saat bermain tadi. Sheila pun berendam didalam bathup dan terlintas dipikirannya siapa Istri Daffa.
"Daffa hanya mencintaiku, kenapa bisa ia sudah beristri?" gumam Sheila sambil memainkan busa ditangannya.
"Siapa ya istrinya??? aku tidak sabar untuk bermain" gumamnya kembali dan tersenyum seringai seakan siap membunuh sasarannya.
Setelah mandi, Sheila keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya.
"Eiiyyyyuuuu..... kurang ajar sekali Daffa ini memberikanku tas buluk ini. ini kan punya bibi, ya ampun" gumam Sheila memegang tas itu dengan dua jarinya seakan sangat jijik memegang tas kusam itu. Sheila pun segera membuka resleting tas dan ia menganga melihat baju-bajunya yang hanya baju tidur dan kaus.
"Astaga Daffa!!!!" ucapnya berteriak lalu sadar disini ada Nathan, ia tidak mau Nathan melihat isi tasnya dan menurunkan volume suaranya.
"Apa-apaan pria itu!! kemana baju seksiku! Astagaaaa.... aku harus pakai apa" gumamnya kembali mengigit jari. Sheila pun termenung sejenak memikirkan gimana caranya ia bisa mendapatkan Dress nya kembali.
Seketika Sheila pun ada ide, ia mengambil kunci mobil Nathan untuk membawanya pulang kerumah yang telah diberikan Daffa dulu untuknya. Sheila akan mengambil baju itu kembali. dipikirnya pasti masih ada Bibi disana.
"Ahaaaa.... aku akan memakai mobil Nathan dulu untuk kesana mengambil bajuku" ucap Sheila tersenyum devil.
"Nathan sayang, aku pinjam dulu yaa.. nanti aku kasih jatah lagi" ucapnya seolah bicara pada Nathan yang sedang terlelap.
Sheila segera memakai baju kaus dan celena pendeknya. dan buru-buru keluar lift lalu mengambil mobil Nathan. Sheila mengemudikannya dengan sangat cepat hingga ia telah tiba dirumahnya yang biasa ia tempati. Sheila melihat Roni sedang membakar sesuatu tapi ia tidak tau itu apa. Sheila pun segera turun dan menghampiri Roni.
"Hai Assisten Roni sedang apa kau disini?" tanya Sheila.
"Bukan urusanmu Nona. pergilah untuk apa kemari lagi" tanya Roni.
"Ya mengambil barangku dong" ucap Sheila santai dan berjalan menuju pintu sedangkan Roni hanya tersenyum devil hingga mengeluarkan tawanya.
__ADS_1
"Sial kenapa tidak bisa dibuka!" gumam Sheila dan menoleh pada Roni.
"Hei Assisten Roni berhentilah tertawa! mana kuncinya!" teriak Sheila.
Roni pun menghentikan tawanya seketika,
"Kau tidak perlu masuk nona, apa yang kau cari sudah tidak ada" ucap Roni dengan gelak tawanya yang tidak sebesar tadi. Sheila pun mengerutkan keningnya dan berjalan menuju Roni.
"Apa maksud kau?!" tanya Sheila.
"Lihatlah.. itu yang kau cari" ucap Roni menunjuk api yang mengeluarkan asap itu. sayup-sayup Sheila dapat melihat baju-bajunya ada didalam api itu, Sheila pun mengerti dan menatap tajam pada Roni.
"Kurang ajar sekali kau!! berani-beraninya kau membakar bajuku!!" bentak Sheila marah tapi Roni hanya tersenyum senang.
"Itu perintah nona, jadi pulanglah. tak ada guna kau berdiri dipandanganku. sungguh pemandangan buruk" ucap Roni menghina Sheila diakhir perkataannya.
"Awas kau Ron!" ucap Sheila dan pergi meninggalkan Roni dengan rasa kesalnya karna tak mendapat baju yang ia punya tetapi malah melihat bajunya tengah dibakar oleh Roni atas suruhan Daffa.
Roni pun memandang Sheila yang sudah memasuki mobil membuat Roni heran.
"Pria siapa lagi yang akan ia porotin sampai mobil itu ia kendarai" ucap Roni bicara sendiri dan memandang sinis kepada Sheila yang sudah hilang dipandangannya.
Setelah Api sudah tidak ada lagi dan hanya tersisa bara, Roni segera membersihkannya dan membuang arang itu. setelahnya ia pergi ke toko perhiasan untuk menjual perhiasan milik Sheila. Roni pun menekan pedal gas dan melajukan mobilnya. sesampai di toko perhiasan itu, ia segera turun.
"Permisi mbak" ucap Roni.
"Ya tuan, ada yang bisa dibantu?" ucap pelayan itu.
"Saya mau menjual ini dan ini surat-suratnya" ucap Roni.
"Baiklah, sebentar yaa" ucap pelayan itu. Roni pun menunggu hingga beberapa menit kemudian, pelayan tadi datang menghampiri Roni.
"Semuanya kami bisa beli 500 juta tuan" ucap pelayan itu.
"Yasudah tidak apa-apa" ucap Roni dan pelayan tadi pun mengambil uangnya dan memberikannya pada Roni. bagaimana tidak sebanyak itu uangnya, Selama ini Sheila suka membeli perhiasan dengan harga yang fantastis ditambah lagi dengan pemberian Daffa. Author tidak tau apakah itu harganya pas atau kemurahan π π
Roni segera menyimpan uang itu dan segera pergi menuju rumah bosnya Daffa.
Ditempat Sheila ia baru tiba di apartement dengan menggerutu dan mengomel tidak jelas sampai ia sempat memarahi orang yang menatap heran kearahnya. Sheila segera masuk ke dalam apartement Nathan lalu ia kembali ke kamar dan masih melihat Nathan tengah tidur.
__ADS_1
"Lama sekali tidurnya. tapi tidak apa" gumamnya. Sheila pun mencari dompet milik Nathan setelah mendapatinya, Sheila segera membukanya.
"Cukup lumayan, aku ambil saja dulu" gumam Sheila tersenyum dan mengambil uang milik Nathan setelahnya meletaki kembali dompet itu ke asalnya.
"Aku ambil dulu sebagai bayaran tadi, muach" ucapnya mengecup pipi Nathan. setelahnya ia segera pergi menuju toko baju.
Sheila mengendarai mobilnya dengan cepat sebelum Nathan bangun hingga tibalah ia disebuah butik yang menyediakan dress-drees mini yang sangat seksi. Sheila pun masuk dan mengambil lima buah dress.
"Asyiiik.... akhirnya bisa beli pakaian kesukaanku" gumam Sheila dan segera ke kasir untuk membayar.
"Mbak, saya ambil ini berapa totalnya?" tanya Sheila. si pelayan kasir pun menghitung semua total harganya.
"Semuanya enam juta nona" ucap kasir itu.
"Waduh bagaimana ini, uangnya hanya empat juta. gak ambil, malu dong" gumam Sheila.
"Hm mbak, bisa saya bertemu dengan pemiliknya?" pinta Sheila.
"Untuk apa mbak?" tanya balik mbak kasir itu dengan heran.
"Sudah! panggilkan saja mau dibayar tidak!!" bentak Sheila yang kesal. ia tidak suka orang banyak bertanya disaat ia sedang terburu-buru. Mbak kasir itu pun memanggil pemilik butik dan keluarlah seorang lelaki yang cukup tua sekitar tiga puluhan tahun tapi masih tampan.
"Tampan juga" gumamnya dalam hati.
"Ada apa nona? apa pelayanan kami kurang memuaskan?" tanya pemilik itu.
"Bisakah kita bicara berdua tuan?" tanya Sheila melirik pegawai butik itu.
"Baiklah. kalian pergi dulu kesana" ucap pemilik itu. setelah sekitarnya sepi, Sheila pun menyampaikan sesuatu yang ingin ia katakan.
"Pak, uang saya kurang untuk membayar baju ini.. mau gak saya bayar saja dengan...." ucap Sheila memegang gunungnya. membuat pemilik butik tersebut tercengang dan menelan ludahnya kasar karna melihat punya Sheila yang besar dan montok. Sheila pun mengerlingkan sebelah matanya.
Β°
Β°
Β°
Β°
__ADS_1
Β°