Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
236. Buah jambu air


__ADS_3

Hari semakin cepat berlalu, hari terasa hitungan jam, minggu terasa hitungan hari, bulan terasa hitungan minggu dan tahun terasa seperti hitungan bulan yang teramat cepat berlalu. entah mungkin matahari sudah mulai lelah menerangi makhluk bumi hingga ia memilih cepat pergi dari peraduannya.Kini empat tahun kemudian, Ayura telah menduduki Sekolah Dasar dikelas tiga bersama dengan Reysakha. mereka satu kelas dan duduk sebangku. kedua bocah itu sangat dekat, apalagi Sakha yang humoris membuat Yura begitu betah berteman dengannya, namun Sakha juga jahil. sedangkan Yura, gadis nakal dan suka manjat pohon dibelakang sekolahnya karna ada begitu banyak buah jambu air yang mennggiurkan nan berwarna merah pekat membuat liur siapa saja akan meleleh.


Kini Yura dan Sakha tengah mengerjakan tugas dari Bu guru. tampak Yura tengah menggigit pensil faber castell miliknya sembari membolak-balikkan buku untuk mencari jawaban tugasnya. pensil yang malang, sudah terkelupas akibat gigitan Yura yang teramat tajam. Sakha yang melihat pensil itu selalu digigit membuatnya sangat ngilu.


"Lepaskan pensilmu gadis tengil!" Sakha geram melihatnya hingga ia menarik pensil itu dan terlepas dari cengkraman gigi hiu. ups, maksudnya gigi Yura. Yura memutar bola matanya merasa jengah melihat Sakha yang merampas pensilnya itu.


"Ih kak Sakha! berikan!" teriak Yura hingga mengundang dua mata menatap mereka yang tengah ribut itu. Bu guru, ya Bu guru yang menatap kedua bocah tengil tersebut.


"Ada apa Yura? kerjakan tugasmu" berang bu guru.


"Kak Sakha ngambil pensilku, bu" Yura mengadu kepada Ibu guru karna Sakha yang telah mengambil pensilnya.


"Mana ada! itu pensilmu diatas buku. hooo" soraknya mengerjai Yura yang tengah manyun. begitu kesal pada sahabatnya sedari kecil itu.


"Yura, kerjakan lagi tugasmu. dan Sakha, jangan terus mengganggunya" ujar Bu guru. mereka pun melanjuti tugasnya untuk mengerjakan tugas itu. Yura yang sangat teliti dalam mencari jawaban, seketika ia menemui jawaban yang terdapat didalam bukunya. hingga beberapa menit kemudian, Yura telah selesai mengerjakannya dan berduduk santai sembari melihat Sakha yang tengah menulis.


"Lama sekali" ledek Yura.


"Taulah yang juara satu itu" gerutu Sakha yang masih fokus menulis.


"Yura gitu loh" bangganya pada dirinya sendiri. Yura pun mengedarkan pandangan, menatap teman-teman sekelasnya yang masih menulis dan ada juga yang bermain.


Treeng.... treeeeng..... treeeng....


Bunyi bell menggema keseluruh penjuru sekolah, tak terkecuali kelas yang ditempati Yura. Yura langsung bersorak dan meraih tangan Sakha untuk segera beristirahat diluar kelas.


"Ayo kak, kita ke belakang sekolah" ajak Yura.


"Mau ngapain lagi? mending beli jajan" ujar Sakha yang sudah malas untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Ntar deh. ambil jambu lagi yuk.. nanti malah keburu diambil abang kelas" gerutu Yura. Sakha pun mengangguk dan berjalan lebih dulu dari Yura. Namun Yura bukannya berjalan, tapi malah berlari mendahului Sakha yang berjalan santai.


"Sakha lama amat sih. waduh kan iya, abang kelas udah manjat duluan" gerutu Yura menggaruk kepalanya. Namun ia tak mempedulikan Sakha lagi, Ia pun berjalan menghampiri kerumunan kakak kelasnya yang sekitar tiga orang tengah mengambil jambu yang lebat itu. Yura pun tak ambil pusing, ia segera memanjat dan menikmati jambu air itu sembari duduk diranting pohon yang masih kokoh.


"Woi cewek! kenapa kau terus yang ada disini" ucap kakak kelasnya yang entah siapa namanya, Yura pun tak tau. yang ia tau, lelaki itu badannya lebih tinggi dari dirinya juga Sakha.


"Karna itu pohon milikku" jawab Yura santai, menikmati jambu airnya yang begitu manis.


"Emang bapak kau yang punya?" tanyanya.


"Tentu saja." jawab gadis itu.


"Pembohong kali kau" gerutu pria tengil itu. sedangkan Yura tak menggubrisnya lagi dan asyik melahap jambu itu. Yura pun tak lupa membawa kresek dari rumah, ia kibaskan dan mengambil jambu dari pucuknya lalu memasukinya ke kresek tersebut. walaupun tidak penuh, setidaknya Yura merasa senang bisa mengemil jambu saat belajar nanti.


Sakha tiba-tiba datang bersama Aamira yang menduduki kelas dua walaupun jarak lahir mereka hanya berbeda beberapa bulan. Yura melihatnya dari bawah, tampak Aamira yang sedang memakan siomay yang baru saja ia beli.


"Yura.... mau dong jambunya" teriak Mira dari bawah.


"Kemarilaah..." teriak Yura yang tak kalah besar.


"Gak pandai manjat" gerutu Mira.


"Dasar! pohonnya rendah kok" ucap Yura.


"Oke baik, aku akan coba manjat yaa" teriak Mira lalu memberikan bungkusan siomaynya pada Sakha dan mulai memanjati pohon jambu yang tidak terlalu tinggi itu. Mira memanjatinya dengan pelan, namun semakin lama langkahnya semakin cepat hingga ia tiba pada Yura yang sedang duduk santai diatas sana.


"Wah ternyata gampang manjatinya" heboh Mira terkekeh.


"Apa ku bilang.. kamu sih bandel. ini makanlah" tawar Yura memberikan jambu yang berada didalam kantung kresek tersebut. mereka memakannya berdua. walaupun Yura kurang suka saat Sakha lebih dekat pada Mira, namun ia tidak memendam kebencian pada gadis itu.

__ADS_1


"Manis banget" ujarnya tersenyum.


"Itulah mengapa aku suka disini" ucap Yura tersenyum. Yura pun melihat Sakha ke bawah, tampak sedang memakan siomay milik Mira hingga tinggal sedikit lagi. Mira juga ikut melihatnya dan terkejut melihat bungkusan itu dibuang olehnya.


"Kak Sakha, kenapa dihabisin!" teriak Mira.


"Karna kau memberikannya padaku." jawab Sakha dan bergegas menaiki pohon dengan cepat.


"Menyebalkan!" gerutu Mira sedikit manyun.


"Dia memang seperti itu. pensilku saja dirampas olehnya" adu Yura menggelengkan kepalanya. sedangkan Sakha berada di ranting lain, menikmati buah jambu dengan sendirinya. sedangkan kakak kelas tadi, sudah pergi dengan membawa jambu satu keresek penuh ditangannya.


Dirumah Lulu, ia sedang mengasuh si kembar bersama baby sitternya yang bernama Ayu. masih muda dan sangat tau sopan santun dan tata krama. papa Mahesa yang memilihnya dan membawa wanita itu ke kediaman anak dan menantunya. jangan pikir buruk, Ayu tidak pernah menggoda suami orang apalagi seorang Daffa karna Ayu sangat pemalu pada lelaki. Itulah yang membuat Lulu betah memperkerjakan wanita itu karna Lulu sudah menilai dari sikap juga gerak-geriknya.


"Fio, jangan terlalu tebal beri lipsticknya ya" ucap Ayu si baby sitter. Fiona tengah merias penjaganya dengan alat makeup milik Lulu yang ia bawa dari kamar. Lulu sudah melarang, namun Fiona yang cengeng langsung menangis saat Lulu melarangnya. anaknya itu sangat pintar sekali berdrama, mengeluarkan mata buayanya hingga air matanya pun kembali berhenti saat Lulu mengizinkannya. sedangkan Filio, ia tampak enteng dengan mainan robot dan ultramannya, sesekali ia mencoba gaya ultraman saat ingin melawan monster yang ada di televisi. seperti sekarang ini, Filio menonton ultraman di televisi ruang keluarga, ia beradu silat dengan robot yang hanya diam menatapnya.


"Yeeeh... yeaaah... uyeaaaah..."


Bruaaaak!


Seketika robot yang ia tendang pun tersungkur ke lantai. Filio tidak memperdulikannya dan terus bersilat menirukan gaya ultraman hingga tak sengaja Lio menendang lemari kecil yang diatasnya sebuah keramik, membuat keramik itu bergoyang hingga,


Traaang!!


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2