Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
120. Melihat Bukti


__ADS_3

Daffa sangat gembira melihat istrinya tersayangnya datang menjenguknya, itu berarti Lulu tidak marah lagi, pikirnya. Daffa pun berjalan menghampirinya dengan terburu-buru ia sangat ingin memeluk istrinya itu. saking terburu dan gembiranya, sontak lengannya begitu nyeri akibat tersenggol oleh tiang infus.


"Lulu sayaang..... aw" rintihnya. Lulu pun refleks langsung mendekati Daffa dan memegang lembut lengannya dengan wajah yang.sangat khawatir. begitupun Mama Sonya dan Papa.


"Aduh daff, ceroboh banget sih. sakit kan.. duduk sini" ucap Lulu cemas dan mengarahkan suaminya untuk duduk diranjang.


"Kamu ini kalau sudah lihat Lulu saja langsung heboh gitu" geram Mama Sonya.


"Hehehe, aku rindu pada istri ku" ucapnya menatap Lulu memegang tangan istrinya.


"Ih apaan sih" ucap Lulu melepaskan tangannya.


"Sayang, jangan sok-sok marah.. kamu saja khawatir denganku" goda Daffa.


"Tidaklah, gue terpaksa diajak Mama tau ga" elak Lulu dan memilih untuk duduk disofa samping Roni yang sedang mengobrol dengan Papa Mahesa tentang kronologis kecelakaan anaknya.


"Kamu jangan percaya, sebenarnya Lulu yang desak kami untuk langsung kesini" bisik Mama ditelinga anaknya. mendengar itu Daffa tersenyum senang tidak ketulungan.


"Benarkah??" tanya Daffa memastikan dan Mama mengangguk tersenyum senang.


Malam sudah begitu larut, Mama Sonya dan Lulu pun tidur karna sudah merasa kelelahan dalam perjalanan tadi. begitupun Roni yang sudah sangat lelah sejak pagi mengurus proyek dan menangani sahabatnya itu. kini tinggallah Papa Mahesa dan Daffa yang belum tidur. karna memang, Papa ingin memberitahu bukti itu pada anaknya.


"Daff, kamu belum tidurkan?" tanya Papa duduk disamping ranjang.


"Eemh pa, hampir tertidur. ada apa pa?" tanya Daffa.


"Papa mau beritahu, kalau kita sudah punya bukti untuk menunjukkannya pada Lulu" jelas Papa Mahesa.


"Benarkah???? bukti darimana?" tanya Daffa dengan sumringah.


"Dari rumahmu sendiri. sekarang kau tidurlah. Papa sudah mengantuk" ucapnya dan segera bangkit.


"Papa jelasin secara detail lah" rengek Daffa.


"Besok kalau kita sudah pulang" ucapny dan membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Daffa pun berfikir bukti apa yang didapat dari rumahnya, hingga yang tadinya sudah mengantuk sekarang pikirannya sedang bergeriliya memikirkan ucapan Papa.


"Papa buat penasaran saja" gumamnya lalu memejamkan mata berharap bisa tidur nyenyak.


Pagi telah tiba, Lulu sudah bangun sejak tadi karna tubuhnya yang sudah sangat rileks beristirahat panjang tadi malam. Lulu terlihat sedang menghirup udara segar dari jendela kamar rawat Daffa. Lulu menikmati udara subuh itu yang masih alami belum bercampur dengan polusi. Lulu juga tidak menyangka, dari atas kamar itu Lulu disuguhkan oleh pemandangan yang begitu indah didepan matanya.


"Keren sekali pemandangannya.. udara disini juga sangat segar" gumam Lulu tersenyum.


"Luuuu..." panggil seseorang. Lulu pun menoleh ke belakang dan melihat Mama Sonya yang sudah terbangun.


"Eh ma, sudah bangun?" tanya Lulu tersenyum.


"Sudah nak, kamu ngapain disitu?" tanya Mama menghampiri Lulu.


"Lihat deh ma, disini pemandangannya indah sekali" suruh Lulu dan mama pun melihat apa yang dilihat menantunya.


"Waah, benar.. indah sekali ya sayang" sahut Mama yang tak kalah senangnya dengan Lulu.


"Ohya ma, Lulu mau ke kantin dulu yaa beli sarapan untuk kita" pamit Lulu.


Sesudah membeli sarapan pagi, Lulu kembali ke kamar suaminya dan ia melihat sudah ada Dokter yang sedang memeriksa Daffa. Lulu pun menyelonong masuk dan duduk disamping Mama Sonya.


"Baiklah, kondisinya sudah stabil. Daffa sudah boleh pulang yaa.. nanti saya kasih resep obat untuk kamu makan sampai sehat kembali" jelas Dokter itu pada pasiennya.


"Baik dok terima kasih" ucapnya. Dokter pun berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Ayo kita makan dulu setelah itu kita pulang" ajak Papa. semuanya pun tampak senang mendengar akan pulang. apalagi Daffa yang tidak sabar untuk melihat bukti itu.


~


~


Kini mereka telah tiba di jet pribadi Papa Mahesa, satu persatu masuk kedalamnya dan duduk dikursi yang telah disediakan. jet elite begitupun didalamnya bernuansa elite membuat Lulu bisa berbaring seperti kasur dikamarnya. Daffa pun menyelonong disamping istrinya, tetapi Lulu tidak menghiraukan suaminya itu dan lebih memilih melihat pemandangan kota Surabaya.


"Sayang, jangan cuekin aku dong" ucap Daffa memegang tangan Lulu.

__ADS_1


"Apaan sih yang.. ups, maksudku Daff" ucap Lulu yang tiba-tiba gugup sudah keceplosan memanggil sayang.


"Ciyeee manggil yang, jangan sok marah gitu dong" goda Daffa kembali. Lulu jengah mendengarnya dan segera bangkit menuju tempat yang tidak bisa diganggu.


"Awas ah, mau lewat" pinta Lulu menyenggol kaki suaminya dan segera pergi ke kamar dan diikuti oleh Daffa. Daffa menekan gagang pintu berniat untuk masuk tapi sayang, Lulu langsung menguncinya dari dalam.


"Sabar daf, sabar.. menaklukkan perempuan keras kepala itu emang susah" gumamnya menasihati diri sendiri. Daffa pun memilih untuk berbaring dikamar sebelahnya bersama Roni yang telah ada disana.


Hingga tibalah mereka di kota Jakarta kota metropolitan yang terdapat banyak gedung menjulang tinggi. Papa Mahesa langsung menyuruh supirnya untuk segera kerumah Daffa untuk menyampaikan bukti itu. Daffa sudah tidak sabar, ia akan menyebloskan Sheila juga penabrak istrinya ke dalam penjara tentunya dengan tuntutan pasal yang telah berlaku agar mereka mendapat hukuman sesuai pasal undang-undang.


Setiba dikediaman Daffa dan Lulu, mereka semua langsung disambut oleh mang Asep dan kedua Bibi yang turut senang majikannya telah kembali.


Daffa mendesak Papa untuk menunjukkan bukti itu, Papa yang baru mau mendudukkan tubuhnya di sofa pun langsung berdiri kembali menuruti anaknya.


"Daff, biarkan papamu istirahat dulu" ucap Mama Sonya.


"Nanti deh ma, Daffa sudah tidak sabar" ucap Daffa membuat Lulu heran apa yang didesak suaminya itu.


Beberapa menit kemudian, Papa telah tiba diruang tamu bergabung dengan keluarganya. ia membuka laptop dan menyalakan laptopnya. Hingga tibalah yang ditunggu-tunggu, semua orang sedang terkejut melihat mang Asep yang pingsan dan dibawa ke dalam rumah. didalam rumah, Bibi yang sedang memasak pun langsung disergap beberapa orang dengan menutupi hidungnya dengan kain hingga mereka pun pingsan. semuanya pun diseret, dibawa kedalam gudang dan diikat oleh segerombolan orang itu. setelah aman, Sheila masuk kedalam rumah dan menaiki tangga. membuka satu persatu kamar hingga tibalah ia memasuki kamar yang ditempati Daffa. didalam kamar itu juga terdapat Cctv yang memperlihatkan Sheila tersenyum devil dan membuka bajunya hingga tubuhnya polos lalu memasuki kamar mandi. Mama Sonya yang melihatnya langsung menutupi mata suaminya yang terlihat sekali tidak berkedip. Daffa dan Lulu sudah memasang wajah emosi. tangan mereka mengepal dan ingin rasanya meninju wanita itu.


"Kamu lihat kan yang, dia yang menjebak kita" ucap Daffa memasang wajah seriusnya menatap Lulu.


"Ya kamu benar. ternyata benar kata mang Asep" ucap Lulu menahan amarah.


"Mang Asep????????


°


°


°


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2