
"Pria itu kan yang... astaga! pucuk dicinta ulam pun tiba" gumam wanita berambut panjang nan berwarna pirang tersebut. tubuhnya yang seperti bak gitar spanyol sungguh membuat siapapun akan tergoda. Namun tidak bagi Daffa dan Roni yang sama sekali bersikap biasa saja dan fokus akan berkas dokumen serta pendiskusian mereka.
"Pria itu terlalu fokus akan pekerjaan ini dan tidak menoleh padaku sedikitpun" sambungnya membathin.
"Prisila, kenapa kau melamun? mana dokumen kita" buyar Tuan Santoso yaitu Presdir Santoso grup. Wanita yang bernama Prisila itu pun terkaget dan segera merogoh dokumen didalam tas yang ia bawa.
"Oh maaf-maaf, Ini Tuan" ucapnya merasa tidak enak dan memberikan dokumen itu pada Tuannya.
"Terima kasih. ohiya, sebelumnya perkenalkan ini Sekretaris saya Prisila" ujar Tuan Santoso yang berumur sekitar 40 tahunan. Daffa menatap wanita itu, tersenyum simpul sembari memberi tangannya.
"Daffa" ucap Daffa menyalimi tangan wanita itu yang begitu lembut nan halus.
"Prisila" ucapnya tersenyum tanpa berkedip sedikit pun.
"Senyumnya manis sekali, lesung pipitnyaa" gumam Prisila merasa terpesona dengan klien Presdirnya itu.
"Hai Nona, saya Roni" sahut Roni menjabat tangannya pada wanita itu. namun ia tersenyum kecut menatap Roni.
"Baiklah sekarang kita mulai diskusinya Tuan Daffa" ucap Tuan Santoso yang memulai penjelasan kepada Kliennya, Daffa. Daffa dan Roni begitu menyimak ungkapan Tuan tersebut, sedangkan Prisila merasa kagum kepada Daffa hingga ia tidak terlalu mendengarkan penjelasan Presdirnya. dan kini beralih kepada Daffa yang memulai menjelaskan kelebihan perusahaannya sehingga Tuan Santoso begitu salut dengan kelebihan perusahaan Daffa dan mulai yakin dengan keputusannya.
"Bagaimana Tuan, bagus bukan?" tanya Daffa menatap pria itu.
"Very good. aku sangat menyukainya, kalau begitu saya setuju dengan kerja sama ini" ucap Tuan Santoso dengan semangat.
"Ron, mana surat perjanjiannya?" tanya Daffa pada Roni.
"Sebentar, ku cari dulu" ucapnya merogoh tas yang dipegangnya.
"Aduh sial, sesak pipis lagi" gumam Roni.
"Aduh Tuan, saya permisi dulu ke toilet ya, gak tahan" pamit Roni segera pergi ke toilet.
"Eh tapi------" ucap Daffa terpotong sebab Roni yang telah pergi meninggalkannya.
"Tidak apa Tuan Daffa, santai saja. kita bisa mengobrol dulu" ucap Tuan Santoso dengan santai lalu melirik sekretarisnya yang terus memandang Daffa.
"Kamu menyukainya?" bisik Tuan itu ditelinga Prisila. Prisila pun hanya mengangguk sembari tersenyum. sedangkan Daffa ia tengah membuka WhatsApp-nya, berniat ingin menghubungi Lulu.
Jangan kemana-ma----------
__ADS_1
"Tuan Daffa" sahut Tuan Santoso, sehingga Isi pesan yang ingin diketik Daffa pun terpotong sebab Tuan Santoso memanggilnya.
Daffa pun menengadahkan kepalanya, menatap Tuan itu dan beralih pada Prisila.
"Ya Tuan?" ucap Daffa.
"Saya permisi dulu yaa mau ke toilet" ucapnya tersenyum.
"Baik Tuan, silakan" ucap Daffa hingga Tuan Santoso pun beranjak berdiri dan mengedipkan sebelah matanya pada Prisila. setelah kepergian Tuan Santoso, Daffa kembali melanjuti mengetik sebuah pesan untuk sang istri namun terurung kembali saat Prisilla memanggilnya.
"Tuan, kemana istrimu?" tanya Prisila memulai pembicaraan.
"Kamu tau istriku?" tanya balik Daffa menyipitkan sebelah matanya.
"Tentu saja, apa kamu tidak ingat kalau sebelumnya kita pernah bertemu di Foodcourt saat aku menumpang duduk di meja kalian?" tanya Prisilla mengingatkan Daffa akan waktu itu.
"Oh iya, aku baru ingat Nona, ternyata kamu bekerja bersama Tuan Santoso ya" ucap Daffa setelah mengingat kejadian itu.
"Hehe, iya Tuan. senang bertemu kembali denganmu" ucap Prisila dengan ramah. Namun Daffa hanya tersenyum.
"Emmmh, rasanya haus sekali." gumam Prisilla sehingga Daffa cukup mendengar gumaman itu.
"Pela-------" ucap Daffa terpotong sebab seorang pelayan yang mendatanginya.
"Permisi, ini pesanan dari Tuan Santoso" ucapnya menaruh makanan diatas meja. Prisila pun tersenyum seringai, ia memiliki ide cemerlang untuk mengambil simpatik dari seorang Daffa. Prisilla memulai aksinya yaitu segera berdiri dan dengan sengaja menyenggol tangan pelayan yang sedang menaruh makanan itu diatas meja.
"Mari saya bantu" ucapnya sontak berdiri lngin mengambil gelas diatas nampan yang dipegang pelayan itu namun pelayan itu terkejut sehingga piring yang dipegangnya tertumpah ke baju Prisila tepatnya diatas dada.
"Aduuuuh, shit!!" umpatnya memegang bajunya yang kotor. melihat itu Daffa segera berdiri dan mengambil tisu yang berada diatas meja.
"Waduh Nona, maaf saya tidak sengaja" ucapnya memohon.
"Kalau kerja hati-hati! saya mau menolong malah kamu tumpahi" bentak Prisila.
"Ampun Nona, ampun" ucapnya yang begitu ketakutan.
"Mbak, tidak apa-apa. silakan pergi" ujar Daffa dengan lembut.
"Maafkan saya Tuan" ucapnya memohon.
__ADS_1
"Tidak apa, kembalilah bekerja" usir Daffa dengan lembut. pelayan itu pun pergi meninggalkan pelanggannya dengan perasaan yang tidak enak.
"Ini, bersihinlah" ucap Daffa memberikan tissu pada Prisila.
"Aduuh, banyak lagi sampai disini" ucapnya menunjuk perut lalu mengambil tisu tersebut dari tangan Daffa dan membersihkan baju yang dibagian dada. Daffa pun merasa bingung, dan mengambil tissu lagi untuk diberikannya kepada Prisila.
"Tuan, bisakah kau membantuku membersihkan ini? bekas saosnya membuat kulitku terasa panas" ucapnya memohon. Daffa pun ragu, namun merasa kasihan juga. Ia pun mencoba untuk membersihkan saus yang tertumpah dibaju wanita itu.
"Baiklah" ucapnya mengambil beberapa tissu dan mulai membantu membersihkannya. wanita itu pun tersenyum seringai menatap Daffa yang mau membantunya. hingga tiba-tiba seseorang menghampiri mereka dan melihat Daffa yang begitu dekat wanita itu dari balik belakang tubuh Prisilla.
"Daffa!!!" teriaknya. sontak Daffa terpaku, mencari sumber suara dan terkejut melihat kedatangan Lulu yang mengeluarkan amarahnya.
"Lulu---" ucap Daffa tertegun. begitu pun dengan Prisila yang terkejut melihat kedatangan Lulu yang diketahui adalah istri dari seorang Daffa.
"Sempurna! istrinya datang dan melihat kejadian ini" gumam Prisila didalam hati sembari tersenyum seringai. Daffa pun segera menghampiri sang istri yang tengah marah dengan perasaan yang mulai takut namun ia menepisnya dan menjelaskan kejadian apa yang dilihat oleh Lulu.
"Sayang, aku--" ucanya terpotong.
"Jadi ini kerjaan kamu? makanya tidak membolehkan aku kemana-mana?!" berang Lulu. Daffa menatap sekitar, untung saja restaurant tidak begitu ramai pengunjung.
"Bukan gitu. kamu sedang hamil besar. dan tadi itu kamu salah paham" ujar Daffa mencoba menjelaskan.
"Alaaaah!! modus! lanjuti saja apa yang mau kau lakukan brengsek!" berang Lulu menatap suaminya dan berpaling pada wanita itu. Lulu pun menyodorkan sebuah kertas didada suaminya dengan kuat, setelahnya ia berlalu pergi dengan perasaan marahnya yang berapi-api.
"Sial!!!" umpatnya membuang kertas itu dan berlalu mengejar sang istri yang berjalan dengan cepat. Roni datang menghampiri meja yang mereka tempati dengan begitu banyak pertanyaan melihat pertengkaran itu. ia melihat sebuah kertas yang tergeletak dilantai dan membaca kertas itu.
"Surat perjanjian? kenapa bisa disini?" gumam Roni lalu melihat Tuannya yang menghilang dari balik pintu keluar.
"Ada apa ini Prisila?" tanya Roni pada wanita itu.
"Ada kesalah pahaman Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. besok kami mendatangi kantor anda" ucapnya membereskan berkas-berkas miliknya. Roni pun tertegun, dan merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Lu! kamu salah paham" ujar Daffa memegang tangan sang istri. Lulu pun menaiki taksi dan berlalu pergi.
"Sial!!!!"
°
°
__ADS_1
°