
Di suatu pagi, terlihat seorang gadis cantik tengah berjalan keluar dari dalam hunian yang cukup megah. Di tangannya terdapat sebuah gembor, yaitu alat yang biasa di pakai untuk menyiram tanaman. Gadis itu kemudian berjalan menuju taman yang ada di halaman depan rumah tersebut. Bibirnya yang berwarna merah muda nampak menyunggingkan senyum semringah ketika melihat bunga-bunga yang bermekaran dengan begitu indahnya.
"Waahhhh, kalian cantik sekali. Aku jadi iri melihatnya."
Namanya Luri. Usianya baru delapan belas tahun. Saat ini Luri berstatus sebagai seorang siswi kelas 12 di salah satu sekolah ternama yang ada di kota ini. Jika kalian mengira kalau Luri adalah anak orang kaya, maka kalian salah besar. Luri sebenarnya hanyalah seorang gadis biasa yang tinggal di salah satu pedesaan. Dia dan keluarganya di boyong ke kota ini setelah sang kakak di nikahi oleh pria kaya raya bernama Gleen. Atau anggap saja kalau Luri mendapatkan berkah yang sangat luar biasa karena Tuhan mengirimkan seorang kakak ipar baik hati ke tengah-tengah keluarganya yang sederhana.
Berkat kakak iparnya, sekarang Luri beserta adik dan kedua orangtuanya hidup berkecukupan. Bahkan kakak iparnya yang baik hati itu tak ragu membelikan mereka hunian yang sangat luar biasa megah. Belum lagi dengan biaya sekolah Luri dan adiknya, juga dengan biaya berobat ayah dan ibunya yang kini di tangani oleh masing-masing satu perawat, membuat Luri tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan.
Tinn, tinn, tinn
Suara klakson mobil berhasil mengalihkan perhatian Luri yang sedang sibuk mengagumi kecantikan bunga-bunga yang dia tanam. Dengan raut wajah penasaran, Luri melongok ke arah gerbang dimana ada sebuah mobil mewah tengah terparkir di sana.
"Mobil siapa ya?" gumam Luri bingung.
Saat Luri sedang bertanya-tanya tentang pemilik mobil tersebut, tiba-tiba saja suara klakson kembali terdengar. Sontak saja hal itu membuat Luri berjengit kaget. Belum hilang kekagetan di diri Luri, dia kembali di buat kaget oleh teriakan seorang pria tampan yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut.
"Hei gadis desa!"
Kening Luri mengerut. Dia menatap seksama ke arah pria yang sedang tersenyum sembari melepas kaca mata hitamnya. Seperti tidak asing, pikir Luri. Untuk beberapa saat lamanya dia hanya terdiam bingung. Namun sedetik kemudian barulah Luri menyadari siapa pria tersebut.
"Ya ampun, itu kan Kak Fedo!"
Begitu tahu kalau pemilik mobil tersebut adalah seseorang yang dia kenal, Luri pun bergegas datang menghampiri. Dia tersenyum, memperlihatkan dua lesung pipinya sembari membuka lebar pintu gerbang untuk sang tamu.
"Ah, rasanya hatiku seperti sedang berada di musim semi," ujar Fedo sembari memegangi dadanya yang berdebar kencang.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu, Kak? Sekarang kan sedang musim dingin. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum musim semi datang," sahut Luri sedikit bingung mendengar ucapan Fedo.
Fedo menarik nafas dalam-dalam. Dia gemas sendiri karena si gadis desa ini tidak mengerti kalau itu hanya kata kiasan saja. Padahal tadi itu Fedo bermaksud menggodanya. Tapi ya sudahlah, gadis ini sepertinya masih sangat polos. Pikiran dan hatinya belum terkontaminasi dengan rayuan-rayuan buaya darat yang selalu berkeliaran mencari mangsa. Dia contohnya. Hehe.
"Luri, kau sedang apa?" tanya Fedo mengalihkan pembicaraan.
"Aku sedang menyiram bunga, Kak." Setelah berkata seperti itu Luri mengangkat gembor yang tadi dia gunakan untuk menyiram bunga.
"Kau sedang bercocok tanam?" tanya Fedo lagi.
"Hanya menanam beberapa jenis bunga yang tumbuh di musim dingin saja. Lumayanlah untuk mengisi waktu luang saat sedang libur sekolah."
"Aih gadis desaku, bagaimana kalau kau bercocok tanam denganku saja? Di jamin tanamannya akan tumbuh dengan sangat subur karena aku akan rutin memupuknya setiap malam. Hahaha," batin Fedo.
Otak omes Fedo langsung melayang kemana-mana ketika membayangkan cara bercocok tanam terbaik dengan si gadis desa. Saking asiknya pikiran Fedo berkelana, dia sampai tidak menyadari kalau saat ini Luri tengah memandanginya dengan raut wajah penuh kebingungan.
Pertanyaan Luri sukses membuyarkan fantasi Fedo yang sedang melayang ke atas langit biru. Dia kemudian berdehem, sedikit kikuk karena ternyata Luri sedang memandangnya lekat.
"Ekhm, aku tidak apa-apa, Luri. Otakku tiba-tiba saja sedikit konslet saat memikirkan caramu bercocok tanam."
Luri terdiam. Sedetik kemudian dia tersenyum, kembali menampilkan kedua lesung pipinya yang lumayan dalam. Namun, yang tidak di sadari oleh Luri adalah...
"Astaga, tolong jangan tersenyum seperti itu, Luri. Kau sadar tidak kalau senyummu itu membuat juniorku mengamuk. Ahh Ibu, aku mau gadis desa ini. Tolong culik dia untukku, Bu," ujar Fedo kembali membatin.
Wajah Fedo merah padam. Bibirnya sampai bergetar kuat saat gelenyar aneh membakar jiwanya dengan begitu hebat. Sungguh, pesona gadis desa ini tidak main-main. Hanya dengan menampilkan satu senyuman saja sudah berhasil membuat junior Fedo berdiri dengan begitu gagahnya. Apa jadinya nanti jika Luri sampai membuka seluruh pakaiannya di hadapan Fedo? Bisa-bisa Fedo mati mimisan gara-gara ulah si gadis desa ini.
__ADS_1
"Memangnya ada yang salah ya Kak kalau aku menanam bunga? Kenapa otak Kakak bisa sampai konslet hanya karena memikirkan caraku bercocok tanam?" tanya Luri merasa tergelitik dengan cara Fedo berpikir.
Salah. Sangat salah, Luri. Karena di dalam pikiran Fedo, bercocok tanam adalah suatu adegan kontak fisik yang mengeluarkan banyak keringat. Dan tentunya kegiatan itu sangat di sukai oleh seekor buaya darat sepertinya.
"Tidak ada yang salah kok. Otakku saja yang sudah rusak!" kilah Fedo sembari menelan ludah.
"Kau ini ada-ada saja si, Kak."
Luri mengelus lengannya yang meremang saat angin dingin datang berhembus. Fedo yang melihat gadis pujaannya kedinginan pun segera mengambil kesempatan. Dengan gaya sok cool-nya Fedo melepaskan jaket yang dia pakai kemudian memasangkannya ke tubuh Luri.
"Harusnya tadi itu kau memakai baju yang tebal jika ingin keluar rumah. Kulitmu bisa menjadi keriput kalau di biarkan kedinginan seperti ini," ucap Fedo penuh perhatian.
"Terima kasih banyak untuk jaketnya, Kak," sahut Luri sopan. "Di luar sangat dingin, bagaimana kalau kita mengobrol di dalam rumah saja? Ayah dan Ibu bilang kalau mereka sangat suka berbincang dengan Kakak. Kebetulan juga semalam aku dan Naina membuat cemilan. Siapa tahu Kakak ingin mencicipi cemilan buatan kami."
Mendapat ajakan yang begitu menggiurkan tentu saja tidak akan di sia-siakan oleh seorang Fedo Eiji. Dia dengan senangnya menerima tawaran tersebut, lalu dengan tidak tahu malunya menggandeng tangan Luri kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Luri yang di gandeng seperti itu tiba-tiba saja merasa aneh. Dia malu, tentu saja. Fedo adalah laki-laki pertama yang begitu gencar mendekatinya. Meski berasal dari desa, Luri sangat paham kalau pria tampan ini memiliki perasaan lebih terhadapnya. Namun dia selalu berusaha untuk menepis perasaan tersebut karena sadar kalau status mereka berdua sangat berbeda. Fedo adalah seorang pewaris dari keluarga Eiji. Yang mana keluarga itu adalah salah satu kerabat dari mantan majikan kakaknya. Sementara Luri, dia hanyalah seorang gadis desa yang tidak memiliki apa-apa.
"Luri, tanganmu kenapa halus sekali sih? Kau sering perawatan di salon ya?" goda Fedo.
"Tidak, Kak. Aku datang ke salon hanya untuk merapihkan rambut saja," jawab Luri tanpa memahami kalau pria di sampingnya tengah mengirim serangan batin.
"Kalau ingin perawatan telfon aku saja ya. Gratis!"
"Memangnya Kak Fedo bisa melakukan perawatan seperti para karyawan salon?" tanya Luri kaget.
__ADS_1
Satu seringai muncul di bibir Fedo. Perawatan yang di maksud oleh buaya jantan ini tentu saja bukan perawatan seperti yang dilakukan oleh para karyawan salon. Melainkan perawatan yang di sertai dengan sentuhan lembut dan juga pijit ples-ples. Kalian pasti pahamlah dengan perawatan jenis ini. Hehehe....
****