PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Penampakan Aneh


__ADS_3

Nania terus memperhatikan kakaknya yang tidak berhenti tersenyum sambil mengaduk-aduk masakan di atas kompor. Keningnya tampak mengerut, mencoba menerka-nerka perihal apa yang sudah membuat sang kakak jadi seperti ini.


"Apa jangan-jangan Kak Luri sedang memikirkan pria genit itu ya?" batin Nania penuh curiga.


Pria genit yang di maksud oleh Nania adalah Fedo. Dia menjuluki Fedo seperti itu karena tidak suka melihat caranya memandangi sang kakak. Pagi tadi saat pria itu datang ke rumah ini, Nania tidak sengaja melihat sebuah penampakan. Penampakan tersebut berupa gundukan aneh yang muncul di bawah perutnya Fedo. Awalnya Nania tidak mengerti kenapa bisa begitu. Karena penasaran, dia akhirnya mencari tahu melalui mesin pencari. Dan begitu dia mendapat jawabannya, Nania merasa sangat mual. Bagaimana bisa seorang pria terpancing birahi hanya gara-gara melihat seorang wanita? Dan sialnya wanita yang membuat penampakan itu terjadi adalah kakaknya sendiri.


"Ini tidak boleh di biarkan. Aku harus segera menyadarkan Kak Luri supaya dia tidak terjebak oleh akal bulus pria genit itu," gumam Nania sembari berjalan cepat menghampiri sang kakak.


Luri yang tengah asik memasak memekik kaget saat tiba-tiba ada orang yang menoel pinggangnya. Dia kemudian menoleh, menarik nafas dalam-dalam begitu tahu siapa pelakunya.


"Nania, bisa tidak jangan membuat orang lain kaget?"


"Mana ada aku mengageti Kakak," jawab Nania cuek. "Ekhmm, dari tadi aku perhatikan kakak terus saja tersenyum-senyum sendiri. Sedang memikirkan pria genit itu ya?"


"Pria genit siapa?"tanya Luri.


Sambil berbicara, Luri memindahkan makanan yang sudah masak ke dalam piring. Dia lalu mengajak adiknya untuk keluar dari dapur.


"Kita mengobrol di ruang tengah saja ya sambil menunggu Ayah dan Ibu keluar dari kamar."


"Kak Luri, jawab dulu pertanyaanku!" desak Nania sembari membuntuti sang kakak yang sedang berjalan menuju ruang tengah.


"Pertanyaan yang mana?"


Dengan sabar Luri meladeni kerewelan sang adik. Dia bukannya tidak tahu kalau Nania sedang membicarakan Fedo. Hanya saja Luri tak siap jika harus mendengar kata-kata nyeleneh yang akan ditujukan untuk pria tersebut. Luri tentu sangat paham seperti apa tajamnya lidah Nania saat sedang berbicara. Gayanya yang ceplas-ceplos terkadang membuat dia dan orangtuanya sampai mengelus dada.


"Kak Luri, kau tahu tidak. Saat pria genit itu datang ke rumah kita, aku tidak sengaja melihat sebuah penampakan yang sangat mengerikan. Aku yakin sekali jika Kakak mendengarnya, Kakak pasti akan langsung berubah pikiran," ucap Nania dengan raut wajah yang begitu serius.


"Kau ini bicara apa, Nania. Pria genit, penampakan, kosakata macam apa itu, hm?" tanya Luri gemas.

__ADS_1


Sebelum bicara, Nania terlebih dahulu menggenggam tangan kakaknya dengan erat. Dia mencoba mentransfer penglihatan itu melalui mata batin mereka.


"Jangan melawak. Kita ini bukan anak indigo yang bisa membaca pikiran orang lain, Nania. Jadi tolong jangan bersikap konyol seperti ini!" tegur Luri sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan sang adik.


"Yang bilang kita anak indigo itu siapa, Kak."


Nania mendengus pelan saat sang kakak tak juga menyadari apa yang sedang dia pikirkan. Padahal saat ini Nania mencoba untuk memberitahu tentang penampakan mengerikan yang dia lihat di daerah bawah perut si pria genit itu. Entah kenapa Nania merasa sedikit malu saat ingin mengatakannya secara langsung. Harga dirinya tiba-tiba saja merasa ternodai.


"Sekarang coba beritahu Kakak penampakan apa yang sudah kau lihat saat Kak Fedo datang kemari?" tanya Luri.


"Jadi Kakak sudah tahu kalau yang aku maksud pria genit itu adalah Kak Fedo?" tanya Nania kaget.


"Memangnya siapa lagi yang datang kemari selain Kak Fedo?"


Astaga, adiknya ini benar-benar. Dia yang memberi julukan untuk orang lain, dia juga yang kaget saat julukan itu di sebut. Luri sungguh gemas dengan kepolosan adiknya ini.


"Kak, sebaiknya Kakak jangan dekat-dekat dengan pria genit itu. Dia memiliki sebuah senjata yang sangat berbahaya," ucap Nania berusaha meyakinkan sang kakak.


"Luri, Nania. Ada apa ini?"


Nita menatap penuh tanya ke arah kedua putrinya yang terlihat seperti sedang bertengkar. Dia lalu meminta perawat agar mendorong kursi rodanya menuju kedua gadis tersebut.


"Ada apa, hm? Kalian sedang bertengkar?" tanya Nita dengan lembut.


"Tidak Bu, kami tidak bertengkar. Aku dan Nania hanya sedang mengobrol seperti biasa," jawab Luri dengan suara yang tak kalah lembut seperti sang ibu.


Nania mengangguk-anggukkan kepala. Dia ikut membenarkan ucapan sang kakak bahwa memang benar kalau mereka tidak sedang bertengkar.


"Memangnya apa yang sedang kalian obrolkan? Ibu boleh ikut mendengarkan tidak?"

__ADS_1


"Bo ....


"Tidak!" sergah Nania cepat.


Bisa gawat dunia persilatan jika ibunya sampai tahu kalau Nania ingin memberitahu kakaknya tentang penampakan tak wajar yang dia lihat di diri Fedo. Tidak-tidak, masalah ini tidak boleh sampai bocor ke telinga ibunya.


"Nania, kau ini kenapa? Bilangnya tadi ingin memberitahu Kakak tentang penampakan aneh yang kau lihat saat Kak Fedo datang ke rumah kita. Kenapa sekarang kau malah terlihat seperti orang yang kebingungan sih. Kau suka pada Kak Fedo ya?" ledek Luri sambil menahan tawa.


"Sembarangan. Di pukul sampai pantatku bengkak pun aku tidak akan mau menyukai pria genit seperti Kak Fedo, Kak. Dia itu mata keranjang. Kakak pasti tidak tahu kan kalau tadi ada yang berdiri di balik celana Kak Fedo? Iyuhhh, itu benar-benar sangat menjijikkan asal Kakak tahu. Belut listriknya membuatku ingin muntah!" sahut Nania tanpa menyadari kalau dia baru saja membongkar satu rahasia yang sedang coba dia sembunyikan.


Luri dan ibunya terbengang kaget begitu mendengar perkataan Nania. Entah darimana gadis cilik ini mendapat kosakata aneh untuk menjuluki kelelakian Fedo. Sungguh, mulut Nania sangat luar biasa. Lidahnya bagaikan mobil yang tidak memiliki rem.


"Kak, pokoknya Kakak harus hati-hati dengan pria genit itu. Jangan sampai Kakak tersengat belut listrik miliknya karena itu akan sangat membahayakan nyawa Kakak. Perut Kakak bisa membengkak seperti orang busung lapar nanti."


Setelah berkata seperti itu Nania segera kabur ke kamarnya. Wajahnya terlihat merah padam setelah menjelaskan tentang bahaya dari sengatan si belut listrik. Sungguh, ini adalah pertama kalinya Nania merasa malu. Dia di buat tak berdaya gara-gara penampakan mengerikan itu.


"Bu, sebenarnya apa yang salah saat Ibu sedang mengandung Nania? Kenapa bisa dia tumbuh dengan pikiran aneh seperti itu?" tanya Luri yang masih syok dengan kata-kata adiknya.


"Entahlah Luri, Ibu juga bingung. Kau dan kakakmu begitu lemah lembut dan juga penyabar.Tapi kenapa sikap itu tidak menurun pada Nania ya? Padahal tidak ada yang berbeda saat Ibu mengandung kalian bertiga. Kepala Ibu sampai sakit jika memikirkannya," jawab Nita sembari menekan-nekan pinggiran kepalanya.


Luri dan ibunya sama-sama menarik nafas panjang. Sungguh, lidah Nania membuat mereka sakit kepala. Tak terkecuali juga dengan perawat yang saat ini hanya diam membeku dengan wajah memerah menahan malu.


"Em suster, tolong maafkan kata-kata Nania tadi ya. Dia memang suka asal bicara," ucap Luri merasa tak enak hati.


"Oh, tidak apa-apa, Nona Luri. Saya hanya terkejut saat mendengar nama belut listrik," sahut si perawat sambil menahan tawa.


Luri dan ibunya hanya bisa tersenyum malu saat mendengar ucapan si perawat. Lagi-lagi Nania membuat mereka mengelus dada. Gadis itu benar-benar.


*****

__ADS_1


f



__ADS_2