PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Berjanji Tak Akan Menyentuh


__ADS_3

Setelah menemui kedua mempelai pengantin, Fedo dengan tidak sabaran mengajak Luri untuk menikmati jamuan yang ada di pesta. Dia tidak henti-hentinya tersenyum ketika tadi tidak sengaja mendengar pujian dari keluarganya saat sang ibu mengenalkan Luri sebagai calon menantunya. Sungguh, tidak ada kabar yang jauh lebih menggembirakan lagi selain pengakuan tersebut. Karena secara tidak langsung sang ibu sudah membantu Fedo memberitahukan pada semua orang kalau Luri adalah miliknya. Ya, Luri adalah wanita yang akan menemaninya di masa depan nanti.


"Kenapa tersenyum terus sih, Kak? Ada apa?" tanya Luri penasaran. Dia bertanya sambil mengaduk-aduk minuman yang ada di gelasnya.


"Aku sedang sangat bahagia sekali, sayang. Kau tahu tidak kalau tadi Ibu memberitahu semua keluargaku kalau kau adalah calon menantunya. Tahu kan itu artinya apa?" jawab Fedo dengan sangat menggebu-gebu. "Itu artinya keberadaanmu sudah di akui oleh Ibu. Ini kabar yang sangat menggembirakan sekali bukan?"


Minuman yang ada di tangan Luri hampir saja tumpah kalau Fedo tidak sigap membantu memegangnya. Saking kagetnya Luri mendengar perkataan Fedo tangannya menjadi sangat lemas seperti tak memiliki tulang. Sungguh, Luri sangat amat tidak menyangka kalau Bibi Abigail akan berkata seperti itu pada keluarga besarnya. Ini benar-benar sangat mengejutkan.


Ya Tuhan, apakah ini tidak terlalu cepat untuk Bibi Abigail mengakui siapa aku di depan semua keluarganya? Bagaimana jika di kemudian hari aku dan Kak Fedo ternyata tidak berjodoh? Bukankah hal ini akan membuatnya merasa sangat malu ya? batin Luri resah.


Kening Fedo mengerut melihat Luri yang malah terdiam seperti orang bingung. Fedo heran, padahal tadi dia tidak mengatakan sesuatu yang salah. Tapi kenapa reaksi Luri bisa seperti ini. Aneh.


"Sayang, kau kenapa? Apa kau tidak senang dengan tindakan yang sudah dilakukan Ibu?" tanya Fedo mencoba untuk menebak arti dari raut kebingungan di wajah gadisnya.


"Aku tidak kenapa-napa, Kak Fedo. Aku hanya sedang berpikir apakah tidak terlalu cepat dengan memberitahukan kalau aku ini adalah calon menantu di keluargamu? Bukannya aku tidak senang, aku hanya cemas saja. Tidak ada yang tahu akan seperti apa nasib yang terjadi di masa depan kita nanti. Aku hanya merasa khawatir saja jika seandainya kita berdua itu ... tidak berjodoh," jawab Luri dengan suara merendah di akhir kata. Lidahnya terasa kelu saat akan mengatakan kata tersebut.


"Ya ampun, sayang. Kenapa kau bisa sampai terfikir ke arah sana sih?" kaget Fedo. "Sayang, memang benar kalau kita tidak ada yang tahu dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Akan tetapi wajib hukumnya untuk kita terus berpikiran positif. Kita harus sama-sama yakin kalau di masa depan nanti kita berdua pasti bisa bersama. Sekarang buang pikiran itu jauh-jauh. Aku sangat amat yakin kalau Tuhan sudah menakdirkanmu sebagai jodohku. Kau harus percaya itu."


Untuk beberapa saat lamanya Luri hanya diam sambil mencerna perkataan Fedo. Luri mulai merasa kalau apa yang dia pikirkan sedikit berlebihan. Fedo benar kalau dia itu harusnya berpikiran yang baik-baik saja, bukan malah memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Bisa saja kan dengan kita berpikiran positif maka hal yang negatif akan tertutup? Luri salah pemikiran ternyata.

__ADS_1


"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Aku maklum kenapa kau bisa berkata seperti itu, aku sangat paham maksudmu. Tapi karena sekarang kita sedang dalam suasana yang bahagia, ada baiknya kalau kita tidak membicarakan sesuatu yang bisa mendatangkan beban pikiran. Kita bicara yang indah-indah saja ya?" ucap Fedo menahan keinginan hati untuk tidak mencium pipi gadisnya.


Ya Tuhan, sampai kapan aku harus bertahan seperti ini? Rasanya sangat tidak enak tidak menyentuh gadis cantik yang sudah menjadi milikku, Tuhan. Tolong luluhkan hati Luri supaya dia bersedia untuk menjadi istriku besok pagi, batin Fedo penuh harap.


"Hmmm, Kak Fedo. Dua hari lagi kau bisa datang ke Shanghai tidak? Aku ingin mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikanku," tanya Luri sembari menatap lekat wajah tampan dari pria di hadapannya. Jantung Luri berdegup dengan sangat kuat sekarang.


"Pasti bisa, sayang. Memangnya apa sih yang tidak buatmu?" jawab Fedo kemudian mengerlingkan sebelah mata. Fedo terkekeh saat Luri tersenyum menanggapi godaan kecil yang dia lakukan.


"Harus benar-benar datang ya, Kak. Aku akan sangat kecewa kalau di hari itu kita tidak bertemu. Karena apa yang akan aku katakan adalah sesuatu hal yang sangat amat penting."


Fedo benar-benar tidak mengindahkan keramaian dan juga banyaknya wartawan yang ada di dalam ruangan pesta ketika ada seorang pria yang dengan nekadnya berani menyodorkan tangan hendak mengajak Luri untuk berkenalan. Tanpa berpikir panjang Fedo dengan cepat menarik Luri ke dalam pelukannya kemudian menatap tajam ke arah pria yang sedang berdiri diam di hadapannya.


"She is mine. Dia milikku. Enyah dari hadapanku sebelum aku menghajarmu di sini. Sekarang!" ancam Fedo sebisa mungkin menahan ledakan emosinya.


Luri yang masih kaget dengan tindakan Fedo hanya diam tak berkutik di pelukannya. Dia baru tersadar saat ada sebuah elusan lembut di pipinya.


"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Fedo khawatir.


"Oh, iya. Aku baik-baik saja kok, Kak," sahut Luri kemudian cepat-cepat membebaskan diri dari pelukan Fedo. Segera Luri mengedarkan pandangan untuk memastikan kalau kejadian tadi tidak dilihat oleh wartawan. Bisa gawat jika kedekatan mereka sampai terekspos.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Aku pastikan tidak akan ada majalah atau media yang berani menerbitkan foto adegan aku yang sedang memelukmu, sayang. Takut sekali sih, aku kan jadi gemas melihatnya," ucap Fedo sembari menoel dagu Luri yang terlihat begitu panik.


"Apa kau yakin, Kak? Kalau adegan tadi sampai masuk berita kemudian dilihat oleh Ayah dan Ibu, mereka pasti akan sangat khawatir, Kak. Dan aku sangat tidak mau hal itu sampai terjadi. Aku tidak mau Ayah dan Ibu memiliki beban pikiran, mereka sudah tua dan sakit-sakitan," jawab Luri dengan suara yang sarat akan kecemasan.


Sadar kalau gadisnya benar-benar sedang sangat ketakutan, Fedo memutuskan untuk mengajak Luri keluar dulu dari tempat pesta. Dia tidak boleh egois, Fedo tentu sangat tahu kalau Luri selalu mengutamakan perasaan kedua orangtuanya di atas perasaannya sendiri. Karena itulah dia memilih mengajaknya pergi untuk menenangkannya terlebih dahulu.


"Kita mau pergi kemana, Kak?" tanya Luri bingung ketika tangannya di tarik keluar dari ruangan tempat pesta berlangsung.


"Kita akan pergi ke tempat yang tidak akan ada orang yang bisa melihat kebersamaan kita," jawab Fedo.


Luri menelan ludah. Di dalam kepalanya mulai muncul pikiran yang tidak-tidak. Luri takut kalau Fedo akan mengajaknya pergi ke sebuah tempat yang mana bisa membuat mereka berada dalam situasi yang tidak seharusnya.


"Aku tahu kau pasti sedang memikirkan yang tidak-tidak tentangku kan?" tanya Fedo sesaat setelah mereka memasuki lift. Fedo berniat membawa Luri ke lantai atas hotel ini karena di sana ada sebuah taman indah yang biasanya Fedo datangi bersama dengan sepupunya.


"Hehe, maaf, Kak. Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya. Maklum, aku hanya gadis biasa yang tidak paham dengan kehidupan orang-orang kaya sepertimu," jawab Luri tak mengelak dari pertanyaan yang dilayangkan oleh Fedo.


"Hmm, tenang saja, sayang. Mungkin aku dulunya memang bukan laki-laki yang baik. Akan tetapi sena*fsu apapun aku padamu sekarang, aku bersumpah tidak akan pernah menyentuh sesuatu yang belum menjadi hak milikku. Kau gadisku, calon kekasihku. Dan kesucianmu adalah suatu kehormatan yang harus aku jaga!"


Luri tertegun begitu mendengar perkataan Fedo. Benarkah kata-kata mulia ini keluar dari mulut seorang pria yang dulunya begitu rajin bergonta-ganti wanita? Luri terharu, benar-benar sangat terharu setelah mendengar janji Fedo yang tidak akan merusak kehormatannya.

__ADS_1


Semoga kau menepati janji yang sudah kau ucapkan barusan, Kak, batin Luri dalam hati.


*****


__ADS_2