
Galang begitu kaget melihat luka lebam di kening Luri saat gadis desa itu keluar dari mobil. Dia yang saat itu tengah menunggu di tempat biasa pun segera datang menghampiri. Tak lupa juga Galang memeriksa bodi mobil untuk mencari tahu apakah Luri mengalami kecelakaan atau tidak.
"Luri, keningmu kenapa bisa lebam begitu? Apa yang terjadi?" cecar Galang sambil menahan keinginan hati agar tidak menyentuh luka tersebut.
"Hah? Lebam?" tanya Luri kaget.
Segera Luri berbalik ke arah mobil kemudian berkaca di kaca spion setelah mendengar pertanyaan Galang. Tidak di sangka ternyata akibat benturan tadi membuat keningnya menjadi lebam. Sadar kalau perbuatannya kembali membuat pak sopir merasa khawatir, Luri segera menjelaskan ketika melihat sopirnya hendak keluar dari dalam mobil.
"Tidak apa-apa, Pak. Ini hanya luka lebam biasa, nanti juga sembuh sendiri."
"Nona Luri, apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja? Tuan Gleen bisa memecat saya nanti jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Nona," ucap pak sopir cemas. Pekerjaannya sedang di pertaruhkan akibat kelalaian yang tidak sengaja dia lakukan setelah mendengar kata mimpi basah yang keluar dari mulut si nona kecil Nania.
"Tidak usah, Pak. Aku baik-baik saja. Sungguh!" sahut Luri memahami ketakutan yang tengah di rasakan oleh sopirnya. "Tenang saja. Nanti jika Kak Gleen marah, biar aku yang menjelaskan. Semua ini terjadi karena ketidaksengajaan, jadi Bapak tidak perlu merasa takut akan di pecat olehnya."
"Apakah benar tidak apa-apa, Nona?"
Luri mengangguk. Dia kemudian meminta sopirnya untuk kembali saja ke rumah. Sesaat setelah itu, Luri berbalik menatap ke arah Nania yang tengah berdiri sambil menggigit jari. Luri menghela nafas. Gara-gara gadis nakal inilah sopir mereka sampai ketakutan seperti tadi.
"Kak Luri, maaf. Aku benar-benar tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Sungguh," ucap Nania merasa bersalah melihat kening kakaknya yang terluka.
Galang yang sejak tadi di acuhkan oleh Luri dan Nania pun merasa heran. Dia kemudian mulai menebak-nebak kalau luka yang di alami Luri di sebabkan oleh Nania ketika mendengarnya yang tiba-tiba meminta maaf. Sambil memendam kekesalan, Galang berjalan mendekati Luri untuk memastikan keadaannya. Dia benar-benar sangat khawatir sekarang.
__ADS_1
"Mau kuantar ke ruang UKS tidak?" tanya Galang. "Keningmu bisa membengkak jika tidak segera di obati."
"Terima kasih, Lang. Tadi di mobil kepalaku tidak sengaja membentur kursi saat pak sopir mengerem mobil secara tiba-tiba. Dan aku rasa luka ini bukan luka yang parah, jadi biarlah. Kau tidak perlu mengantarkan aku ke ruang UKS," jawab Luri tanggap akan kekhawatiran teman sekelasnya ini.
"Memangnya apa yang terjadi sampai-sampai sopir kalian mengerem mendadak? Apakah ada kendaraan lain yang menyalip mobil kalian?"
Sembari bertanya, Galang melirik tajam ke arah Nania. Gadis ini, pasti adalah penyebabnya. Entah apa yang sudah dia lakukan. Rasanya sungguh geram, tapi Galang tak berani menunjukkan. Dia takut Luri akan tersinggung jika Galang memarahi Nania sekarang.
"Hahh ... Yang namanya orang berkendara itu wajar jika melakukan kesalahan kecil, Lang. Saat mobil kami baru akan keluar dari pekarangan rumah, tiba-tiba saja ada seekor anak kucing yang muncul di bagian depan. Pak sopir kaget, kemudian mengerem mendadak untuk menghindari agar mobil kami tidak menabrak anak kucing tersebut. Karena saat itu aku belum memakai seatbelt, kepalaku jadi terdorong ke depan dan keningku tidak sengaja terantuk bagian kursi. Tapi untunglah kami dan anak kucing itu semuanya selamat," jawab Luri berbohong. Dia tidak mungkin memberitahu Galang tentang insiden mimpi basah yang sudah membuat keningnya jadi lebam begini.
Eh, kenapa Kak Luri bicara bohong pada Kak Galang ya? Keningnya lebam begitu kan gara-gara pak sopir yang kaget setelah mendengar pertanyaanku. Kenapa Kak Luri malah menyalahkan anak kucing yang tidak tahu apa-apa? Aneh sekali, batin Nania keheranan.
Di saat yang bersamaan, mobil Jovan bergerak masuk melewati gerbang sekolah. Nania yang melihat musuh bebuyutannya datang segera menempel pada kakaknya. Dia malas jika harus berurusan dengan Jovan, kakak kelasnya yang mendadak berubah jadi parasit yang suka menguntit.
"Pagi juga, Jo!" sahut Luri dan Galang bersamaan.
"Nania, kenapa kau tidak membalas sapaanku?" tanya Jovan iseng. Dia bersiul sambil memasukkan kunci mobil ke dalam tas.
"Malas. Nanti mulutku jamuran," sahut Nania dengan cetus. "Kak Jovan, kenapa sih kau itu selalu saja bersikap seperti ini padaku. Kau pikir kau itu Casanova yang kaya raya dan juga tampan apa?"
Pertanyaan Nania sukses membuat mulut Jovan ternganga lebar. Dan tidak hanya dia, Galang dan Luri pun sama. Mereka heran darimana anak kecil ini mendapatkan kata-kata tersebut. Belum hilang keterkejutan di diri tiga orang itu, Nania kembali melontarkan kata-kata yang membuat mereka semua seperti berhenti bernafas.
__ADS_1
"Kau tahu tidak, Kak Jovan. Temanku bilang Casanova itu tubuhnya tegap dan juga kekar. Sedangkan kau? Hih, otot-otot di tubuhmu terlihat seperti cacing yang kepanasan. Sudah ya, cukup sampai hari ini saja kau mencari perhatian dariku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik pada pesona Casanova palsu sepertimu."
Setelah berkata seperti itu Nania langsung berlari pergi menuju kelasnya. Meninggalkan kakak beserta dua kakak kelasnya yang kini tengah berdiri dengan raut wajah yang terlihat seperti orang bodoh.
"Jo, setelah di hina seperti ini apa kau masih berminat untuk mengejar adikku?" tanya Luri sambil menatap ke arah Jovan yang masih ternganga. Dia merasa tak enak hati akan perkataan adiknya barusan.
"Tekadku sudah sangat bulat, Luri. Tak peduli seperti apa tanggapan Nania nantinya, aku akan tetap mengejarnya. Dia bicara seperti itu kan karena tidak tahu seperti apa bentuk tubuhku yang sebenarnya. Jadi ya sudah, aku sama sekali tidak masalah di katai sebagai Casanova palsu," jawab Jovan sambil menelan ludah.
Tapi ngomong-ngomong, Casanova palsu itu apa ya? Setahuku Casanova itu adalah pria yang sangat suka bergonta-ganti wanita. Kenapa Nania bisa menyebutku seperti itu ya? Aku kan masih sangat original, dan orang pertama yang ingin aku dekati adalah dia. Tapi kenapa dia bicara begitu? Apa iya aku harus menjadi Casanova sungguhan supaya Nania bisa jatuh cinta padaku? Aneh, batin Jovan heran.
"Kalau memang benar tidak apa-apa, lalu kenapa ekspresimu terlihat sangat kaget saat Nania menyebutmu Casanova palsu?" ledek Galang. Sesekali dia melirik ke arah luka lebam yang ada di keningnya Luri. Galang masih khawatir.
"Wajarlah kalau aku kaget, Lang. Secara, Nania itu kan masih kecil dan juga polos. Aku hanya heran saja darimana dia bisa menemukan kata-kata seperti itu. Casanova sangat identik dengan pria pemain hati wanita. Masa iya Nania mengenal pria yang seperti itu," sahut Jovan menerka-nerka.
Luri terdiam lama saat Jovan menyebutkan tentang perangai si Casanova. Pikirannya langsung tertuju pada Fedo. Ya, Luri tentu saja tahu kalau pria yang di sukainya itu adalah mantan seorang Casanova yang selalu bergonta-ganti wanita di setiap malamnya. Akan tetapi itu dulu, jauh sebelum mereka saling mengenal.
"Kau seperti tidak tahu Nania saja, Jo. Dia itukan gadis yang memiliki pikiran bercabang-cabang. Kita mana mungkin bisa memahami cara berpikirnya yang sangat luar biasa itu!"
"Karena itulah, Lang. Tapi ya sudahlah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Yang penting aku masih bisa melihat senyumnya untuk menjalani hari di sekolah. Hehehe!"
Galang langsung bergidik geli melihat betapa bucinnya Jovan pada Nania. Setelah itu dia mengajak Luri dan Jovan untuk masuk ke kelas. Mereka bertiga berjalan beriringan sembari saling melempar canda. Membuat beberapa siswi wanita menatap penuh iri ke arah Luri yang bisa berteman akrab dengan dua orang siswa terpopuler di sekolah mereka.
__ADS_1
*****