
Di sebuah club malam, terlihat seorang wanita cantik yang sedang berdansa seperti orang gila. Di tangan wanita itu terdapat sebotol minuman yang memiliki kadar alkohol cukup tinggi. Sepertinya wanita itu sedang patah hati sekarang. Dan wanita yang sedang menggila di lantai dansa itu bernama Kanita.
"Hei Nona, tolong hati-hati dengan gerakanmu. Kau bisa melukai tubuh kekasihku nanti!" tegur seorang pria.
Kanita meradang. Dia tidak terima di tegur oleh pria sialan ini. Ya, setelah Fedo pergi meninggalkannya di kamar hotel, Kanita menangis seperti orang gila. Dunianya seperti kiamat, dia hancur luar dalam. Tak kuat menahan tekanan perasaan Kanita memutuskan untuk pergi ke club saja. Dia butuh hiburan untuk menemani malamnya yang penuh luka.
"Kalau aku tidak mau hati-hati kau mau apa, hah! Tubuh kekasihmu itu sangat jelek. Tidak akan ada bedanya mau dia terluka atau tidak. Mengerti tidak!" sahut Kanita sambil menunjuk wanita yang tidak sengaja dia senggol. Entahlah, malam ini dia sangat ingin mencari masalah untuk memelampiaskan kesedihannya.
"Kau ... Kurang ajar. Berani-beraninya ya kau menghina kekasihku. Rasakan ini!" amuk si pria sambil melayangkan tangan hendak memukul Kanita.
Di saat yang bersamaan, ada sebuah tangan yang menghalau pukulan pria tersebut. Kanita yang tadinya sudah memejamkan mata langsung mengernyitkan kening saat tidak merasakan apa-apa di wajahnya. Penasaran dengan apa yang terjadi Kanita akhirnya membuka mata. Dia kaget ketika melihat punggung seorang pria yang sedang berdiri di hadapannya.
"Fedo?" panggil Kanita. Dia lalu mengusap matanya untuk memastikan apakah dia salah mengenali orang atau tidak.
Ternyata pria ini bukan Fedo, hanya pakaiannya saja yang mirip. Hahaha, sepertinya aku benar-benar sudah gila sekarang. Aku bahkan menganggap orang lain sama seperti pria yang baru saja membuangku. Kau sangat kasihan, Kanita. Hidupmu menyedihkan. Batin Kanita miris.
"Tolong jangan berbuat kasar pada wanita, Tuan. Perbuatanmu sudah sangat melanggar hukum!" tegur Ando, pria yang tidak sengaja menolong wanita yang kini tengah berada di belakang tubuhnya.
"Apa kau adalah kekasih dari wanita sialan itu?" tanya si pria seraya menarik tangannya. Dia lalu merengkuh wanitanya dengan sangat posesif.
"Kekasihnya atau bukan aku tetap tidak membenarkan perbuatanmu!" sahut Ando tanpa merasa takut.
"Cihhh, dasar pasangan tidak tahu diri. Katakan pada kekasihmu agar lain kali lebih hati-hati jika sudah mabuk. Ketidakwarasannya itu bisa melukai orang lain. Untung saja aku cepat menyelamatkan kekasihku. Jika tidak, dia pasti sudah berada di rumah sakit sekarang."
Ando menarik nafas. Dia kemudian berbalik, menatap dalam ke arah wanita yang malah asik meneguk minumannya. Dari raut wajah wanita ini, Ando bisa melihat ada sesuatu yang sedang terjadi. Di tambah lagi dengan hidungnya yang memerah dan mata yang membengkak. Semakin Ando merasa yakin kalau wanita ini sedang mengalami suatu tekanan dalam hidupnya.
__ADS_1
"Nona, tolong minta maaf pada mereka. Di sini kau yang salah karena hampir mencelakai kekasih dari Tuan itu," ucap Ando sambil menunjuk pria yang tadi ingin memukul wanita yang sedang dia tolong.
"Aku tidak akan meminta maaf pada sampah seperti mereka. Tidak akan pernah!" sahut Kanita dengan tubuh sempoyongan. Bicaranya juga terdengar tidak jelas karena sekarang dia sudah sangat mabuk.
"Tuan, wanita ini sudah mabuk. Aku rasa tidak ada gunanya mengajak dia untuk bicara. Lebih baik kau lanjut bersenang-senang dengan kekasihmu saja, wanita ini biar aku yang urus!"
Setelah berkata seperti itu Ando langsung menarik tangan Kanita untuk keluar dari lantai dansa. Dia kemudian mengajaknya duduk di salah satu sofa yang berada di pojok ruangan.
"Siapa namamu, Nona?" tanya Ando penasaran. Dia tersenyum melihat wanita ini yang terus mengumpat seperti sedang memaki nama seseorang.
"Kenapa? Apa kau tertarik padaku, hm?" tanya Kanita sambil tertawa. Dia lalu memaki Fedo dengan kata-kata yang sangat kasar. Dia benci, tapi juga sangat mencintainya.
Teringat dengan ucapan Fedo yang meminta untuk melepaskannya, membuat tangis Kanita kembali pecah. Dia terisak-isak sambil sesekali meneguk minuman yang ada di dalam botol.
"Kau ... aku tanya padamu. Apa kurangnya aku? Apa aku jelek? Apa tubuhku gendut? Atau aku terlihat seperti wanita miskin? Tidak kan? Tapi kenapa Fedo tidak mau menerimaku. Apa yang kurang dariku jika di bandingkan dengan gadis ingusan itu? Jahat, kau sangat jahat, Fedo!"
"Hahahaa, kau benar sekali, Tuan. Tidak ada pria yang tidak ketagihan bercinta denganku setelah kami menghabiskan malam bersama. Selain tampan ternyata kau juga sangat pandai menebak, Tuan. Siapa namamu?" jawab Kanita kemudian lanjut menanyakan nama dari pria ini.
Ando tersenyum. Merasa ada celah untuk mendekati wanita cantik ini, dia memberanikan diri untuk berpindah duduk di sebelahnya. Ando kemudian meneguk habis minuman di dalam botol, membiarkan wanita tersebut menatapnya tak berkedip.
"Namaku Ando. Aku sedang mencari hiburan karena di hotel sangat sepi. Lalu siapa namamu, Nona? Kau belum menjawab pertanyaanku sejak tadi."
"Namaku Kanita. Cantik kan?" ucap Kanita. Sedetik kemudian wajahnya terlihat sendu. "Namaku sangat cantik. Tapi sayang, kisah cintaku tidak secantik nama yang di berikan oleh orangtuaku. Sangat menyedihkan bukan?"
"Tidak juga," jawab Ando sambil mengalungkan tangan ke bahu Kanita. "Apa kau sangat mencintai laki-laki itu?"
__ADS_1
Kanita mengangguk. Dia lalu menyeka air mata yang menetes di pipinya. Fedo Eiji, dia amat sangat mencintai pria itu. Teramat cinta sampai membuatnya hampir menjadi gila.
"Kau dengannya apa pernah tidur bersama?" tanya Ando penuh selidik.
"Ya, kami pernah menghabiskan satu malam yang sangat panas di sebuah hotel. Dan malam itu menjadi awal perasaanku terhadapnya. Tapi dia sangat egois, Ando. Dia tidak pernah mau tidur dengan wanita yang sama untuk kedua kali. Dia membuangku begitu saja," jawab Kanita jujur.
Tepat setelah Kanita menjawab Ando mendekatkan mulutnya ke samping telinga Kanita. Dia kemudian berbisik, mencoba bertaruh apakah Kanita akan setuju dengan ucapannya atau tidak.
"Kalau kau mau aku bisa membuatmu merasa jauh lebih panas dari yang pria itu berikan, Kanita. Dan aku jamin kau akan ketagihan bermalam denganku."
"Apa kau sedang mengajakku untuk bercinta?" tanya Kanita kaget. "Aku sedang tidak berselera, Ando. Mood-ku rusak gara-gara dia."
"Ya, aku mengajakmu untuk bercinta denganku. Aku jatuh cinta di pandangan pertama denganmu, Kanita. Aku menginginkanmu."
Untuk beberapa saat Kanita merasa sedikit bimbang. Baginya sudah hal biasa bercinta dengan siapapun asal memenuhi kriteria yang dia suka. Dan Ando, postur tubuh pria ini cukup mirip dengan Fedo. Namun tetap saja ketampanan Fedo tidak bisa di kalahkan. Saat Kanita sedang diam mempertimbangkan, dia di buat meremang oleh godaan Ando yang tidak berhenti berbisik di telinganya. Dan akhirnya lama-kelamaan dada Kanita mulai berdesir. Apalagi sekarang tangan Ando sudah menjalar di bagian pahanya. Membuat pikiran Kanita mulai melayang karena terbakar birahi.
"Bagaimana Kanita. Apa kau bersedia menerima tawaranku? Aku tahu kau sudah sangat panas sekarang. Ayolah, tunggu apalagi. Kita sama-sama menginginkan, jadi tidak perlu menahannya," bisik Ando tak putus asa membujuk Kanita agar mau menuruti keinginannya.
"Ayo kita pergi ke hotel tempat aku menginap. Apa kau membawa mobil?" tanya Kanita sambil memejamkan mata menikmati gerakan tangan Ando yang semakin tidak terkontrol.
"Iya. Dimana hotel tempat kau menginap?"
Kanita membuka mata. Dia lalu berjalan sempoyongan saat ingin mengambil tasnya yang berada tak jauh dari sana. Tak lama kemudian dia datang kembali ke meja Ando lalu menyerahkan alamat hotel padanya.
Ando yang kegirangan karena berhasil mendapatkan Kanita pun tak membuang waktu lagi. Dia segera memapah Kanita untuk keluar dari club. Sambil terus menyunggingkan senyum di bibirnya, Ando membimbing Kanita masuk ke dalam mobil. Dia lalu menelusuri wajah cantik wanita ini yang sudah berada dalam kondisi setengah sadar setengah tidak.
__ADS_1
"Tidak kusangka akan semudah ini mendapatkan wanita yang begitu cantik sepertimu, Kanita. Aku kira kau akan jual mahal. Tapi siapa sangka begitu di sentuh kau langsung luluh. Malam ini benar-benar hoki. Sungguh suatu kejutan karena aku akan menghabiskan malam dengan seorang wanita cantik di hari terakhirku berada di negara ini. Hahahaha!"
*****