
📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE KARENA NANTI SORE EMAK CRAZY-UP LAGI 💜
***
Di saat Kanita tengah menahan kekecewaan setelah melihat berita tentang Fedo yang sedang bermesraan dengan Luri, di lain tempat ada Kayo yang tengah menerima telepon dari Jackson. Wajahnya yang cantik terlihat begitu dingin, seolah menyiratkan kalau apa yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka adalah sesuatu yang sangat serius.
"Apa kabar ini sudah pasti, Jack?" tanya Kayo.
"Sudah. Dan lusa Luri akan berangkat ke London," jawab Jackson dari seberang telepon.
"Hmmm, aku jadi penasaran akan seperti apa reaksi Kak Fedo saat tahu kalau Luri akan kuliah di luar negeri. Sepertinya itu akan sangat lucu. Benar tidak?"
Kayo tertawa setelah bicara seperti itu. Di awal tadi Kayo sempat merasa kaget saat Jackson memberitahunya kalau lusa gadis desa itu akan berangkat ke London untuk melanjutkan pendidikan. Namun setelah memastikan kalau kabar tersebut adalah benar, mendadak Kayo jadi tidak tahan untuk tidak tertawa. Dia berani jamin kalau kakaknya pasti akan langsung menangis bombai setelah mengetahui kabar ini. Apalagi kan besok pagi kakaknya diminta untuk datang ke Shanghai oleh Luri. Dan besar kemungkinan kalau gadis itu ingin berpamitan dan meminta maaf karena sudah tak jujur pada kakaknya. Kayo rasanya jadi ingin ikut pergi ke sana supaya bisa menyaksikan bagaimana kakaknya mengalami spot jantung begitu mengetahui kalau calon kekasihnya akan pergi jauh.
"Kakakmu akan melewati badai besar dalam nasib percintaannya tapi kenapa kau malah tertawa begitu bahagia, Kay? Kau tidak takut kalau kakakmu akan menyakiti diri sendiri karena di tinggal pergi oleh Luri?"
"Tentu saja aku sangat takut, Jack. Tapi aku juga bahagia karena akhirnya ada wanita yang bisa membuat Kak Fedo menjadi tidak berdaya. Selama inikan dia yang selalu membuat para wanita menangis, nah sekarang giliran dia yang merasakan. Karma Tuhan benar-benar tidak terduga ya. Siapa yang akan menyangka kalau Kak Fedo akan tunduk pada pesona seorang gadis desa yang umurnya bahkan jauh lebih muda dariku," jawab Kayo masih dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.
Kayo dan Jackson terus saja memperbincangkan kakaknya yang sebentar lagi akan mengalami fase kesepian. Saat mereka sedang asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba saja Jackson menyebutkan kata yang langsung membuat Kayo kembali memasang wajah dinginnya.
"Berita Luri dan kakakmu terus saja menjadi perbincangan hangat orang-orang di negara ini. Aku jadi khawatir kalau berita ini akan menimbulkan suatu masalah. Terutama Kanita. Aku yakin kehamilannya tidak akan membuat Kanita merasa terbatasi untuk tetap mengejar Fedo. Kau harus waspada, Kay. Pastikan kepergian Luri tidak akan membuka celah untuk kakakmu kembali menerima Kanita. Pria kesepian sangat lemah terhadap rayuan manis seorang wanita. Apalagi jika wanita itu tidak keberatan untuk melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Kewaspadaan Fedo sedang terancam, Kay!"
"Kalaupun memang benar Kak Fedo merasa kesepian lalu kembali menerima kehadiran Kanita dalam hidupnya, maka aku akan membuatnya tidak bisa lagi menampakkan batang hidungnya dengan bebas di negara ini. Luri sudah di tandai oleh Ayah dan Ibu sebagai calon menantu mereka. Itu artinya aku mempunyai hak untuk membantu menjaga hubungan tersebut. Jadi tidak semudah itu Kanita bisa kembali mendekati Kak Fedo, Jackson. Dia harus melewatiku lebih dulu karena aku tidak akan tinggal diam!" jawab Kayo dengan mata berkilat marah.
__ADS_1
Entah kenapa setiap kali mendengar nama Kanita emosi Kayo seakan tersulut begitu saja. Kalau saja ayahnya tidak mengutamakan hubungan baik dengan ayah Kanita, Kayo pasti sudah membantainya habis-habisan. Juga dengan sang ibu yang terus melarangnya agar tidak melakukan hal itu. Membuat Kayo jadi memendam emosi tersendiri di dalam hatinya.
"Hmmm, aku suka gayamu, Kay. Kalau begitu aku tutup dulu panggilannya. Sudah waktunya untuk aku kembali bekerja!"
"Baiklah. Hati-hati, jangan lupa pikirkan tentang pernikahan kita juga, Jack. Jangan hanya memikirkan pasienmu yang tidak ada habisnya itu," sahut Kayo meminta untuk di prioritaskan.
"Cemburu, hm?"
"Anggaplah seperti itu jika bisa membuatmu merasa senang."
Setelah berkata seperti itu Kayo langsung memutuskan panggilan. Dia tidak marah, tapi memang seperti inilah cara Kayo berbicara dengan Jackson.
"Sebaiknya aku pergi menemui Ibu saja. Siapa tahu di sana ada hal menarik yang bisa aku lakukan," gumam Kayo merasa kebosanan setelah mengobrol dengan calon suaminya. Setelah itu dia bergegas keluar dari dalam kamar kemudian pergi mencari keberadaan sang ibu.
Tok tok tok
"Permisi. Apa aku mengganggu?" tanya Kayo sembari menyembulkan kepala dari balik pintu.
"Mengganggu apa. Cepat kemari lalu temani Ibu duduk dan membaca majalah," sahut Abigail sambil tersenyum ke arah putrinya.
Segera Kayo masuk ke dalam ruangan kemudian duduk di samping sang ibu. Tujuan Kayo menemui ibunya bukan hanya untuk mencari hiburan saja. Akan tetapi ada maksud lain di baliknya.
"Bu?"
__ADS_1
"Hm? Ada apa?" sahut Abigail kemudian menoleh.
"Foto Luri yang sedang bersama Kak Fedo muncul di mana-mana. Aku khawatir hal ini akan menimbulkan suatu masalah," ucap Kayo dengan pandangan lurus ke depan.
Abigail menghela nafas. Dia meletakkan majalah yang di sedang di bacanya kemudian menyender ke sofa. Sambil mengelus lengan Kayo, Abigail mengajaknya bicara tentang kemungkinan masalah apa yang akan muncul.
"Selain amukan dari para wanita yang pernah tidur dengan kakakmu, apa ada hal lain yang membuatmu cemas?"
"Kanita. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam setelah melihat foto itu, Bu. Sebelumnya Kanita sudah pernah bertemu dengan Luri, Kanita pasti tahu kalau gadis yang bersama Kak Fedo adalah dia."
"Lalu? Di mana letak kekhawatiranmu, Kay? Bukankah Jackson sudah pernah mengancam Kanita kalau dia akan menghabisinya jika Kanita nekad menginjakkan kaki di Shanghai. Lagipun sekarang Luri itu sudah mendapat pengawasan ketat dari Bibimu, mustahil ada orang yang bisa menyentuhnya sembarangan!" ucap Abigail mencoba untuk meyakinkan putrinya.
"Fakta itu memang benar, Bu. Akan tetapi aku merasa kalau hal ini akan sedikit berbuntut panjang."
Kayo menoleh menatap wajah ibunya. Kalau saja bukan rencananya untuk tetap merahasiakan kepergian Luri ke London, Kayo pasti akan memberitahukannya. Sayangnya hal ini terlalu menyenangkan untuk usai begitu saja. Kayo tidak rela melewatkan kesempatan lucu di mana dia bisa menyaksikan kakaknya menangis bombai karena di tinggal pergi oleh si gadis desa. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Kayo ingin tertawa terbahak-bahak, apalagi jika hal ini sampai benar-benar terjadi. Kayo rasa dia akan menjadi adik terjahat yang ada di dunia karena berani menertawakan kesengsaraan kakaknya sendiri.
"Kay, kita positif thinking saja. Yang terpenting kita tetap berusaha menjaga segala sesuatunya agar tetap berjalan dengan baik. Selama hal itu tidak membahayakan keselamatan Luri dan kakakmu, maka kita hanya perlu menonton saja. Lagipula rasanya tidak akan seru lagi jika dalam suatu hubungan tidak ada badai yang bisa membuat hubungan mereka semakin menguat. Benar 'kan?" tanya Abigail seraya menarik nafas pelan. Dia sendiri sedang berjuang mengendalikan ketidaktenangan yang sudah dia rasa sejak tadi. Abigail bersikap tenang karena tidak ingin menambah kegelisahan di diri putrinya.
"Hmmm, ya sudahlah kalau memang begitu yang Ibu mau. Aku patuh saja," sahut Kayo yang akhirnya memilih untuk mengikuti saran sang ibu.
Setelah itu Kayo mengajak ibunya untuk keluar. Dia sedang ingin pergi jalan-jalan untuk mengisi waktu luangnya. Sekalian untuk mengawasi keadaan kalau-kalau ada orang yang ingin mencari masalah dengan keluarganya.
***
__ADS_1