PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Cantik Jelita


__ADS_3

Luri tak henti-hentinya mematut diri di depan cermin setelah memakai gaun pemberian Fedo. Dia tersenyum, merasa senang karena pria itu memilihkan gaun yang menurutnya sangat sopan dan juga cantik. Saking senangnya Luri mengagumi gaun tersebut, dia sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang tengah mengintipnya dari celah pintu yang kebetulan memang tidak tertutup rapat. Seseorang tersebut berjumlah tiga orang, yang mana ketiganya tengah terkikik pelan melihat apa yang dia lakukan di dalam kamar.


"Gaun ini sangat cantik dan pas di tubuhku. Kira-kira harganya mahal tidak ya?" gumam Luri seraya mengelus pelan gaun berwarna hitam yang melekat indah di tubuhnya.


"Mahal ataupun murah kalau yang memakainya adalah gadis secantik dirimu sudah pasti gaun itu akan terlihat mewah dan juga elegan. Kau cantik sekali dengan gaun itu, Luri."


Tak tahan melihat betapa cantiknya sang adik mengenakan gaun indah itu Lusi memutuskan untuk tak lagi mengintai. Dia melangkah masuk ke dalam kamar yang mana langsung di ikuti oleh ibu dan juga adik bungsunya. Mereka bertiga kemudian sama-sama terkekeh melihat Luri yang tersipu malu setelah tahu kalau sejak tadi ada yang diam-diam mengawasinya.


"Kak Lusi, Ibu, Nania. Sejak kapan kalian ada di sini?" tanya Luri dengan pipi merona. Dia benar-benar sangat malu sekarang.


"Kami semua ada di sini sejak kau keluar dari kamar mandi dengan memakai gaun indah itu, sayang," jawab Nita seraya menatap penuh kagum ke arah putrinya yang terlihat sangat cantik bak bidadari. "Tidak di sangka ternyata Ibu mempunyai putri-putri yang cantik jelita. Bahkan kecantikan Ibu saja tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan kecantikan kalian bertiga. Sungguh."


"Aih, Ibu ini kenapa lah. Bagaimana mungkin kami bisa secantik ini kalau tidak mewarisi gen kecantikan dari Ibu? Benarkan, Kak?" sahut Luri sambil melihat ke arah sang kakak.


"Luri benar, Bu. Kami bertiga bisa memiliki rupa seperti ini berkat gen yang di turunkan oleh Ibu. Sayangnya kami tidak memiliki saudara laki-laki. Jika ada, dia pasti yang akan mewarisi semua ketampanan yang ada di diri Ayah," jawab Lusi.


"Aku tidak mau memiliki saudara laki-laki, Kak. Temanku bilang itu akan sangat merepotkan!" celetuk Nania tak terima.


Nania acuh saja ketika ibu dan kedua kakaknya melayangkan tatapan aneh kepadanya. Sambil memegang gaun yang di pakai oleh kakak keduanya, Nania menjelaskan alasan kenapa dia tidak menginginkan saudara laki-laki dalam hidupnya.

__ADS_1


"Jika aku mempunyai saudara laki-laki itu artinya aku tidak akan menjadi anak bungsu lagi. Temanku juga bilang kalau saudara laki-laki itu akan jauh lebih di sayang oleh kedua orangtua kita karena mereka di anggap sebagai penerus marga keluarga. Ishhh, pokoknya aku tidak mau posisiku sebagai anak bungsu di geser olehnya. Aku tidak rela kalau perhatian Ayah, Ibu, Kak Lusi dan Kak Luri jadi terbagi untuknya. Aku tidak rela!"


"Astaga, Nania. Siapa juga yang bilang kalau kau akan mempunyai saudara laki-laki, hm? Tadi itu Kakak hanya berandai-andai saja, tidak serius. Lagipula Ibu juga sudah tua. Akan sangat berbahaya jika Ibu sampai mengandung di usia seperti sekarang!" jelas Lusi sambil menahan tawa. Ada-ada saja adik bungsunya ini. Melakukan protes hanya karena tidak mau berebut kasih sayang dari orangtua dan juga kakak-kakaknya. Sungguh menggemaskan.


Nita hanya menggelengkan kepala melihat kecemburuan di diri putri bungsunya. Setelah itu dia beralih menatap putri keduanya. Nita kembali di buat terkagum-kagum akan kecantikan alami yang melekat di diri anak gadisnya ini.


Terima kasih Tuhan karena Engkau telah mengirimkan sesosok bidadari yang sangat cantik sebagai putriku. Jika di kabulkan, tolong limpahi putri keduaku dengan banyak kebahagiaan. Restui tujuannya, dan jauhkanlah dia dari hal-hal yang salah, batin Nita dengan tulus memanjatkan doa untuk putrinya.


"Bu, nanti saat Kak Fedo datang menjemput Kak Luri tolong katakan padanya ya kalau dia sudah berlaku tidak adil padaku. Lihat, Kak Fedo memberikan gaun yang begitu indah dan mahal untuk Kak Luri. Sementara aku, sekotak permen pun tidak. Aku kesal, Bu. Aku juga mau di beri hadiah!" protes Nania kembali merasa iri melihat hadiah pemberian Fedo.


"Nania, tidak boleh seperti itu. Gaun ini kakakmu dapatkan karena akan di pakai untuk pergi ke pesta. Kau sendiri kan yang bilang tidak mau pergi? Coba kalau kau ikut, Kakak pasti akan membelikanmu gaun yang sama bagusnya seperti yang di pakai Kak Luri. Jadi tidak boleh iri ya?" ucap Lusi dengan sabar membujuk adiknya yang merajuk.


"Tetap saja aku merasa iri, Kak Lusi. Walaupun tidak ikut pergi ke pesta, setidaknya Kak Fedo kan bisa memberikan hadiah lain untukku," sahut Nania sambil mengerucutkan bibir.


Mata Nania langsung berbinar begitu mendengar tawaran menggiurkan dari sang kakak. Setelah itu dia mengangguk, tersenyum lebar ke arah ibunya yang tengah mengelus kepalanya.


"Dasar gadis nakal!" tegur Nita sembari tersenyum.


"Hehe, nakal pada kakak sendiri kan tidak dosa, Bu," sahut Nania.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau saja. Yang terpenting jangan merajuk lagi. Oke?"


Lusi dan Luri tersenyum melihat adik mereka yang bisa dengan begitu mudah di bujuk agar tak merasa kesal lagi. Setelah itu Lusi berinisiatif mengajari Luri cara berdandan agar penampilannya kian memukau.


"Kak, begini saja sudah. Aku tidak terbiasa memakai make-up, nanti aku malah terlihat aneh," cegah Luri ketika sang kakak hendak memoleskan sesuatu berwarna hitam ke bulu matanya.


"Ya ampun, Luri. Make-up yang kau pakai ini sangat simpel dan sederhana. Kakak jamin kau akan terlihat semakin cantik setelah di rias," sahut Lusi sambil menepis tangan Luri yang menghalangi gerak tangannya. "Percaya pada Kakak. Fedo pasti akan sangat terkejut saat melihat penampilanmu nanti. Selama ini kan dia hanya melihatmu yang tanpa riasan apapun, di jamin nanti dia akan semakin jatuh cinta padamu. Fedo adalah pria yang tampan dan juga mempesona, jadi kau juga harus mempunyai pesona tersendiri agar hatinya makin terpikat padamu. Tahu tidak, hm?"


Nania ikut menimpali dengan menggoda kakaknya yang sebentar lagi akan segera bertemu dengan si pria pujaan hati. Suara gelak tawa pun memenuhi ruangan kamar tersebut ketika Luri tak henti-hentinya memohon agar kakak dan adiknya berhenti menggodanya. Nita yang menyaksikan kebahagiaan sederhana itu nampak mengusap sudut matanya. Kalau saja waktu itu dia dan Luyan tidak segera membebaskan Luri untuk berdekatan dengan Fedo, kebahagiaan seperti ini pasti tidak akan pernah dia lihat. Putri keduanya itu sangat pandai menyembunyikan perasaan, bahkan rela merasa sedih seorang diri demi menjaga perasaan kedua orangtuanya. Untunglah Nita dan Luyan bisa dengan cepat menyadari keegoisan mereka, jadi Luri tidak harus merasa tertekan seperti waktu lalu.


"Nah, ihatlah, Bu. Luri sangat cantik bukan?" tanya Lusi sambil memutar tubuh adiknya agar menghadap ke arah sang ibu. Dia kemudian tersenyum sambil berbisik agar Luri membuka mata.


"Luar biasa. Kau benar-benar sangat cantik dengan riasan seperti itu, sayang. Ibu sampai pangling melihatnya," jawab Nita takjub akan perubahan di diri putri keduanya.


"Kak Luri cantik sekali. Kakak terlihat seperti model-model papan atas yang sering aku lihat di majalah dan televisi!" ucap Nania ikut memuji kecantikan sang kakak.


"Iya. Kakak setuju dengan perkataanmu, Nania," sahut Lusi. "Nah, Luri. Sekarang kau silahkan berbalik untuk melihat sendiri seperti apa penampilanmu sekarang."


Luri mengangguk. Pipinya nampak memerah saat semua keluarga terus saja memuji kecantikannya. Penasaran dengan hasil karya tangan kakaknya, Luri pun berbalik menghadap ke arah cermin. Dia lalu terkesiap kaget begitu melihat perubahan yang terjadi di wajahnya.

__ADS_1


Hah, apa benar ini aku? Kenapa terlihat berbeda sekali ya? Wahhh, luar biasa, batin Luri dalam hati.


*****


__ADS_2